Mabuhay, Manila!

Jeepney at Intramuros

LEG 2 : Singapore » Manila

Armada Tiger Airways yg membawa kami berangkat tepat waktu pada pukul 1.15 dini hari dari Singapura dan mendarat 15 menit lebih awal di Manila, yakni sekitar pukul 4.40 pagi. Menempuh penerbangan hampir 4 jam tidak terlalu terasa karena diisi dengan tidur & syukurnya lagi saya duduk di emergency exit row yg notabene lebih luas, jadinya bisa istirahat total sebelum mengubek-ubek pasar Manila di pagi harinya.

Urusan imigrasi dilalui dengan sangat cepat, hanya 2 menit diproses oleh petugas yg kalo di Indonesia saya yakin pasti jadi bintang sinetron peran bapak-bapak karena tampangnya yg komersil. Saat masuk ke Bea-Cukai, saya sempat ditanya oleh sang petugas “Indonesian? Moslem?”, “yes, sir” jawab saya. Dan dia balik berujar kepada saya “Assalamu’alaikum”. Sambutan yg sangat menyenangkan dan jadi mood-booster buat saya selepas menempuh 3 kali penerbangan & 6 kali imigrasi untuk bisa sampai di sini.

Karena lupa menukarkan duit ke Peso, kami pun kebingungan karena bank & penukaran uang di arrival hall masih pada tutup. Para satpam bandara menawarkan jasa penukaran uang berikut komisi untuknya, ketika saya tawarkan penukaran untuk US$ 100 eh dia nolak, maunya duit saya semua ditukerin dia. Saya pun ogah dan beringsut ke departure area dan disana ada money changer yg udah buka. Sayangnya, Terminal 1 Ninoy Aquino Airport ini mirip Terminal 1 bandara Soekarno-Hatta yg hanya bisa dimasuki oleh pemegang tiket keberangkatan, sementara tempat penukaran itu berada di area kebarangkatan. Seorang satpam wanita menyuruh rekan prianya menukarkan duit US$ 100 saya sebagai bekal awal.

Dancing Fountain at Luneta Park

Sabtu Pagi di Rizal Park

Pukul 6 pagi kami baru bisa keluar dari bandara dan segera ke penginapan Makati Apartelle di Makati City. Makati City ini salah satu kota yg membentuk Metro Manila area, jaraknya hanya 7 km dari bandara & hanya selemparan batu dari Makati CBD yg mirip kawasan Mega Kuningan di Jakarta. Karena kamar yg bakal kami tempati siang nanti masih penuh, kami pun gak bisa early check-in namun dikasi tempat buat nitip ransel.

Pak Ricky, supir taksi kami, memberi tahu kalau sekarang di Manila lagi summer break di sekolahan dan suhu disini berkisar 34-36 derajat Celcius. Wuihhh, ngebayangin suhunya saya keder juga mau jalan2 di kota apalagi saya sudah sempet merasakan suhu 36,3 di Medan beberapa hari sebelumnya. Tujuan pertama kami adalah Luneta Park atau lebih dikenal dengan Rizal Park, titik 0 km negara Philippines. Walau jam masih menunjukkan pukul 6.30, suhu udara udah terik aja gitu walaupun masih terasa angin pantai sepoi-sepoi mengingat daerah ini terletak di tepi Manila Bay. Dengan modal air mineral 1 liter, topi, & sunglasses-Ramona Purba-Asep Irama-Deddy Dores-Tukang Pijet-or-whatever you call it-as long as i didn’t get  f*cking teary eyes after my f*cking red eye flight + tremendous sunbeam, kami pun menjelajah taman yg luasnya segede rasa kepo orang yg nyinyir dengan urusan orang lain. *sileeeettt*

Penduduk Manila nampaknya mengoptimalkan fasilitas publik di pusat kota ini. Di satu sisi ada kelompok yg melakukan senam Tai Chi, di satu sisi ada yg latihan bela diri, di sepanjang boulevard ada kios-kios kecil yg menjual cemilan & souvenir, dan gongnya adalah senam massal di dekat Grand Quirino diiringi lagu Katy Perry mulai dari Fireworks sampe California Gurls. Jadi langsung pengen gabung deh :D

Hal yg paling menarik di Rizal Park yg baru kami ketahui disini adalah Dancing Fountain-nya. Kalo biasanya cuma diiringi jingle mal bersangkutan atau national anthem, Dancing Fountain ini agak genit karena lagu pengiringnya hype banget mulai dari Chris Brown, Beyonce, Katy Perry (teuteup!), artis lokal yg udah go-international Agnes Monica Charice, dan gongnya adalah DANCING QUEEN by ABBA… dan si fountain ini bergerak sesuai melodi lagunya. Menggemaskan. Selain itu, Rizal Park diisi dengan beberapa taman edukasi, Chinese Garden, Japanese Garden yg sayangnya kurang terurus, dan taman yg diisi dengan patung-patung diorama eksekusi mati Jose Rizal.

Intramuros south gate

  • Intramuros

Tak jauh dari Rizal Park adalah Intramuros. Intramuros sendiri artinya ‘city within the wall’ dan Intramuros ini adalah cikal bakal kota Manila. Area ini masih dikelilingi oleh tembok tua nan tebal peninggalan Spanyol dan di dalamnya masih banyak tersebar bangunan tua khas Spanyol ataupun yg peranakan (Mestizo) dan sebagian besar masih ditinggali atau digunakan sebagai kantor pemerintah bahkan ada yg masih berfungsi sebagai kampus. Icon dari Intramuros ini adalah St Augustine Church yg masuk sebagai UNESCO Heritage Site, kemudian Plaza de Roma dengan Manila Cathedral di depannya, kemudian Fort Santiago.

Plaza de Roma

Sebenarnya kita masih ingin berlama-lama di Intramuros karena hari belum beranjak terlalu siang, namun keinginan itu luntur gara-gara gusar dengan penarik becak wisata disini. Ada beberapa penarik becak yg menawarkan keliling Intramuros yg emang gede banget namun kita tolak dan mereka berhenti menawarkan, namun ada 1 pengendara becak yg sampe menguntit kemana aja kita pergi bahkan kadang menguntit lewat jalan lain. Terkadang udah kita tinggalin di satu site, eh di site berikutnya udah nongol aja dia. Menyeramkan. Akhirnya kita cabut ke Quirino dan untuk pertama kalinya naik Jeepney yg tarifnya makdikipe murah banget, cuma Php 8 alias Rp 1600 bahkan untuk ujung ke ujung.

Gak sah kalo ke kampung orang gak mencoba transportasi umum layaknya orang lokal. Maka sepulang dari Quirino kita naik LRT Line-1 (Yellow Line) sampe stasiun LRT Taft berganti ke MRT Line-3 (Blue Line) dari stasiun EDSA ke Magallanes. Dan dari Magallanes lanjut naik jeepney lagi sampe ke hotel. Baru hari pertama udah cukup hapal beberapa moda transportasi, rute, dan stasiunnya berkat bekal dari tanah air dan pengamatan selama di jalan.

SM MoA Gate

  • We Do What Locals Do. Going to the Mall :)

Setelah beres-beres dilanjut mandi (akhirnya setelah 30 jam) serta meluruskan punggung, kami beranjak ke SM Mall of Asia yg letaknya di tepi Manila Bay. Jauh jauh ke negeri orang kok ke mall? mungkin banyak yg mencibir demikian. Tapi di Philippines, mal bukan hanya sekedar tempat shopping namun juga sebuah pop culture dimana kita bisa shopping & nonton seperti biasa dan melihat atraksi-atraksi lokal di tamannya. Apalagi di Manila ini mal luasnya keterlaluan banget dan bentuknya gak monoton gedung + tempat parkir. Sebagai gambaran, mal disini kebanyakan bentuknya kayak La Piazza Kelapa Gading, Citos, atau PVJ Bandung namun dengan ukuran yg larger than life menurut saya. SM Mall of Asia salah satunya, dan sebagai 1 dari 20 mall terbesar di dunia saya pun dapet oleh-oleh berupa betis pegal sepulangnya. Dimulai dari melihat sunset di Sunset Avenue di belakang mall. Di area ini ada area tempat melihat matahari terbenam yg mirip dengan Taplau di Kota Padang, juga ada boulevard lebar tempat pengunjung & penjaja keliling berlalu-lalang, kemudian alfresco dining area tempat bersantap beratapkan langit. Untuk bangunan utama terdiri dari 3 bangunan : Main Mall, SM Dept Store, SM Hypermarket dan dikelilingi beberapa annex building seperti Fitness First, IMAX Theatre, bahkan ada Science Center juga. Saking gedenya, mal ini menyediakan fasilitas Trem dengan gratis. Kelar nyari ransel gantinya ransel saya yg rusak, kami pun beristirahat sambil nonton Thor. Menjelang tengah malam, atraksi kembang api di San Miguel by the Bay (Sunset area).

nunggu sunset di San Miguel by the Bay – Sunset Boulevard, Mall of Asia

Malam pertama di Manila ditutup dengan perjuangan mendapatkan taksi hampir 40 menit karena antrian yg sangat panjang di area terminal. Terminal? Oh iya, Di dalam area parkir SM MoA ini juga terdapat TERMINAL.. yess, terminal buat BUS, VAN, JEEPNEY, & TAXI. Mencengangkan. Walaupun antriannya panjang dan lama, orang-orang sini jarang menyerobot atau nyari-nyari di lokasi lain karena si taxi juga bakal dimarahi sekuriti kalau ngambil penumpang di area yg bukan buat menunggu taxi. Manteb. Taat mengantri & Ramah, itu 2 kesan pertama yg saya dapat di hari pertama saya di Manila.

Rizal Park

Calesa at Intramuros

Gn Mariveles yg Mengintip Sunset & Parking Area SM MoA

Casa San Luiz at Intramuros

San Miguel by The Bay area

sunset at Manila Bay

About these ads

11 thoughts on “Mabuhay, Manila!

    • bangettt.. i will tell ya the details. bayangin aja, Airport Tax Laoag Airport sekelas Tarakan (Rp 30.000) disana cuma Php 40 (Rp 8000), ada lagi yg airport tax cuma Php 20 (Rp 4000). MRT atau LRT cuma Php 10-15. enak deh..pengen kesana lagi :(

  1. Hi Sy Azhari, salam kenal… :)

    share info dong, waktu beli tiket ke filipina denga tiger airways tujuannya yang mana ‘Manila-NAIA’ atau ‘Manila-Clarck DMIA’ ? thank’s sebelumnya….

    • Halo, Susan.
      Kemarin kita naik Tiger Airways yg langsung ke NAIA. NAIA gak jauh dari pusat kota kok. Kalo masih di sekitar Makati-Manila-Taguig-Ortigas mungkin sekitar Rp 60ribu-80ribu jatuhnya. Argonya dimulai dari Php 70 (Rp 14000).
      Kalo Diosdado Macapatal Airport itu di luar kota Manila, letaknya di Clark Freezone di Angeles City. 85 km dari Manila, naik bis Philtranco atau Partas yg nunggu di depan terminal sekitar Php 450 (rp 90ribu) kalo ke Manila

  2. hy saya cece, salam kenal ya :)

    mau tanya dong, saat trip ke manila melalui singapore ya ??
    kira2 budget kamu sendiri menghabiskan berapa biaya untuk PP tersebut??
    thanks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s