Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Leg 8 & 9 : TANA TORAJA

Tongkonan di Ke’te Kesu’

Mampir ke Toraja. Itulah salah satu tekad & tujuan saya saat memulai perjalanan liburan akhir tahun 2010. Udah sampe ke bagian timur Kalimantan, kenapa gak sekalian nyeberang ke selatan Sulawesi yang cuma sejam penerbangan. Udah sampe ke selatan Sulawesi, kenapa gak sekalian ke Toraja.

Berbekal googling & cek-cek travelog di dunia maya, jadilah saya seorang diri menuju Tana Toraja dengan menempuh perjalanan darat 330 km ke arah utara Makassar dengan bis Manggala Trans.

Perjalanan ke Tana Toraja dimulai pukul 22.00 WITA melewati antara lain Kabupaten Maros, Soppeng, Pangkajene, & Enrekang. Saya mengambil perjalanan malam karena ingin beristirahat di bis setelah seharian bermain di Trans Studio. Sebenarnya, kalo mau menikmati pemandangan sepanjang perjalanan memang disarankan mengambil jadwal siang karena pemandangan di sepanjang perjalanan kita bakal dibuai pemandangan yang bikin ‘nyesek’. Sepanjang rute Maros-Pangkajene-Soppeng-Pare Pare bis melintasi Trans Sulawesi yang letaknya di bibir pantai. Malam hari pun saya bisa mendengar debur-debur ombak dari dalam bis.

Memasuki Enrekang & Mengkendek, pemandangan berubah dari pantai menjadi pengunungan, hutan, & bukit kaarst. Suhu udara beranjak menurun dan lebih dingin di daerah yang termasuk Taman Nasional Bamba Puang yg terkenal dengan Gunung Nona *googling asal mula nama Gunung Nona, kok ya bikin ngikik ironi*. Jalanan mulai berliku-liku & menanjak sehingga bis harus menurunkan kecepatannya.

Plaza Makale

Lakipadada Statue, HoR, & Bukit Sion Church

Sekitar jam 6 pagi saya tiba di Pasar Makale di kota Makale, ibukota Kabupaten Tana Toraja. Kabut tebal masih menggelayut di kota ini. Setelah bersih-bersih di sebuah mesjid, saya berjalan kaki +/- 200 m ke Plaza Makale. Plaza disini bukan shopping center melainkan sebuah piazza atau alun-alun yang mengelilingi sebuah kolam besar di tengah kota Makale. Di tengah kolam tersebut dibangunlah sebuah patung bernama Lakipadada. Plaza Makale ini dikelilingi oleh Gedung DPRD berdesain rumah adat Tongkonan, Gereja Katolik Makale, Toko2 kecil, Bank, sebuah puskesmas, & sekolah SD. Tak jauh dari Plaza Makale terdapat Gereja Protestan Bukit Sion, tempat yang paling bagus untuk melihat Makale. Dan dari sini kita juga bisa melihat guratan keriput bukit kaarst yang mengelilingi Makale.

2 jam di Makale, saya mencegat omprengan berbentuk mobil kijang LGX ber-plat kuning menuju ke Rantepao ( ibukota Kabupaten Tana Toraja Utara), sekitar 17 km dari Makale. Sepanjang perjalanan dihibur oleh aliran sungai, persawahan, & bukit kaarst yg menghampar. Sesampainya di Jl. Pongtiku, daerah Karassik, saya turun dan melanjutkan check in di losmen Pia Poppie’s. Disambut Mr Paul yang ternyata orang aseli Toraja namun punya banyak pengalaman hotelier di Bandung & Bali. Saya kira orang bule yg mengelola penginapan di sini. Abisnya sewaktu nelpon kemari, dia langsung cas-cis-cus ngomong english buat nanya data-data saya.

teras kamar

bath tub (Pia Poppie’s)

Setelah check-in jam 9 pagi, saya langsung tumplek blek di kamar dan baru terbangun sekitar jam 2 siang. pyuh… sebegitu menguras tenaga perjalanan kali ini. Niat menyicil jalan2 ke utara Rantepao jadi pupus. Padahal saya pengen banget ke Batutumonga & Pallawa. Walhasil sore itu saya habiskan keliling jalan kaki keliling kota Rantepao yang kecil sekaligus mesen tiket keberangkatan besok malem ke Makassar.

Di Rantepao saya sedikit kesulitan mencari tempat makan yang halal. Hanya ada 2 Warung Pangkep di dekat pasar. Warung Pangkep ini singkatan dari Pangkajene Kepulauan, kabupaten di utara Maros. Kalau di Indonesia bagian barat terkenal warung padang & warteg, maka di Sulsel yang lebih ngetop Warung Pangkep. Menu utama di warung Pangkep – Rantepao ini adalah Sop Sodara Daging Kerbau.

Menjelang maghrib, Rantepao diguyur hujan deras. Jadilah saya terperangkap di pasar dan mencari tempat berteduh yaitu… WARNET. Udah lama gak online,cing. Sekitar pukul 8 malem baru bisa balik ke penginapan & icip-icip Kopi Kalosi Toraja di lobby penginapan. Ditemani 2 orang Jerman & Mr Paul, jadilah kita ngobral-ngobrol cerita petualangan sampe tengah malem.

Breakfast Diet at Pia Poppie’s

Sop Sodara Kerbau

Di Pia Poppie’s dengan harga yang demikian ekonomis tersebut, saya gak menyangka para tamunya akan mendapatkan sarapan by request & for free. Pemiliknya menyisipkan nilai-nilai lokal di dalam menu sarapan penginapan ini. Setiap tamu akan diberi pilihan jus segar dari buah Markisa atau Tamarilo (Terong Belanda kalo di Sumatera) & satu teko Kopi Kalosi Toraja sebagai pelengkap menu sarapan. Saya sendiri dapat 3 buah toast dilengkapi cold cheese & marmalade jam sebagai menu sarapan.

Setelah menyantap sarapan, Bapak John Rante menjemput dengan sepeda motornya untuk memandu saya keliling Toraja mengunjungi situs-situs mereka yang unik di sisi selatan Rantepao (antara Makale & Rantepao). Situs yang sempat saya kunjungi saat itu adalah Lemo (kuburan batu), Kambira (kuburan bayi di pohon), Suaya (kuburan batu untuk para bangsawan), & Ke’te Kesu’ (kuburan batu, kuburan gantung, & rumah adat Tongkonan). Bapak John Rante pun disini perannya gak cuma sebagai tukang ojek, tapi juga sebagai guide yg informatif. Dia cerita tentang spot-spot yg kami lewati, sejarah singkatnya, & asal usul kenapa ada kuburan batu atau ada yg kuburan gantung.

Kuburan Gantung (Ke’te Kesu’)

Pohon Kuburan Bayi (Kambira)

Kontur dataran Toraja berbukit-bukit, demikian pula akses ke tempat-tempat tersebut. Karenanya, saya ngos-ngosan padahal baru 4 tempat doang. Sekitar pukul 4 saya memutuskan balik ke Pia Poppie’s dan tawaran ke Londa saya tepis. Setelah istirahat sampai maghrib, saya bergegas ke pasar Rantepao untuk makan malam & setelahnya loket bis Manggala Trans untuk mengejar keberangkatan pukul 21.00 kembali ke Makassar. Sayang kunjungan saya kali ini gak nemu perayaan Rambu Solo, acara pemakaman khas Toraja yang unik & larger-than-life itu.

Walaupun cuma 2 hari di Toraja, saya jatuh cinta dengan alamnya yg asri dan keramah-tamahan penduduknya. Andai saja semua tempat wisata di Indonesia didukung oleh sifat yg sama tanpa perlu mengeksploitasi & oportunis terhadap para wisatawan…andai saja.

Peti Mati (Ke’te Kesu)’

Tongkonan (Ke’te Kesu’)

Patung Kuno (suaya)

Patung Modern (Suaya)

Kubur Batu (Lemo)

countryside

7 comments on “Leg 8 & 9 : TANA TORAJA

  1. Pingback: Tweets that mention Leg 8 & 9 : TANA TORAJA « Here, There, & Everywhere -- Topsy.com

  2. dansapar
    January 26, 2011

    Ssalah satu tempat yg pengin dikunjungi
    entah kapan entah kapan
    *lirik dompet tipis*

    ;(

    apa nebeng tmn2 badminton PB Udin aja kali ya yg kebanyakan orang makassar
    *ngirit dot com*

    hahahhahaa

    • Sy Azhari
      January 27, 2011

      seorang sapar gak mungkin gak mampu kesana. puasa belanja midnite sale 2x pasti bisa par :d

      aduh,gue dulu waktu tandang maen badminton ke slipi itu kirain bercanda ngasi nama PB Udin. rupanya beneran😀

  3. Lala
    February 13, 2012

    Mas … boleh tanya kah ? Bp. John Rante itu guide kah ? Ratenya berapa ? Dan apakah saya bisa dikasih kontaknya ? He he he …
    Thanks yaa ^^ maaf nanya2

    • Sy Azhari
      February 14, 2012

      Pak John Rante itu tukang ojek di Toraja. biasanya tukang ojek banyak yg duduk-duduk di depan wisma atau penginapan untuk menawarkan jasa guide. pasarannya sekitar Rp 200ribu untuk seharian sewa motor dan jasa guide

  4. Lala
    March 15, 2012

    Oh, baik, mas, terimakasih. Kalau untuk guide yang bermobil ? Apakah banyak dijumpai juga di sana ?
    Terimakasih sebelumnya

    • Sy Azhari
      March 16, 2012

      kalau mobil saya kurang tahu itu. soalnya kemarin pergi sendirian, Mbak Lala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 26, 2011 by in Sulawesi, Sulawesi Selatan, travel and tagged , , , , , , , , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: