Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Leg 10 : Kembali ke Makassar

Anjungan Pantai Losari

Sabtu malem, 11 Desember 2010, saya memutuskan untuk kembali ke Makassar dari Toraja. Pertimbangannya jika saya berangkat hari minggu dari Toraja akan sulit mencari bis yang berangkat.  Adalah sebuah unwritten rule bahwa beberapa bis di Toraja gak beroperasi di hari minggu pagi-siang, dan mulai beroperasi minggu malam. Sementara flight saya Senin pagi, jadi saya ga mau mengambil risiko ketinggalan flight karena hal-hal buruk yang bisa terjadi di jalan dan menunda perjalanan kembali ke Makassar.


Pukul 5 pagi, bis tiba di Makassar tepatnya di depan Makassar Town Square (M-Tos). Saya langsung dihampiri Bosowa Taxi yg membawa saya ke kawasan Datu Mapasseng di depan ajungan Pantai Losari untuk sarapan pagi. Selepas sarapan saya kembali check-in ke Surya Inn buat ngelurusin punggung. Sayangnya, kamar single en-suite yg saya tinggali sebelum berangkat ke Toraja ada yg menggunakan dan saya pun harus merogoh kocek lebih dalam untuk kamar double en-suite di lantai 5… TANPA LIFT.

Rencana saya siang ini mau main ke Ford Rotterdam, tapi apa daya…saya kebablasan tidur dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang. Classic me. hehehehe. Walhasil saya ke siang itu jalan-jalan ke Jl. Sumba Opu buat beli oleh-oleh. Nah, di kawasan Sumba Opu ini kita bisa temukan oleh-oleh dari makanan seperti Kacang Disko, Dodol Markisa, Sirup Markisa, Abon Ikan, dll; juga kita bisa temukan oleh-oleh berupa kerajinan khas Sulawesi Selatan seperti tenun, baju bodo, kain toraja,dll. Nilai lebih dari toko-toko di kawasan ini adalah biarpun ukurannya gak terlalu besar layaknya sebuah ruko, tapi toko disini kebanyakan udah nerima pembayaran lewat kartu debit & kartu kredit loh. Patut diacungi jempol karena memudahkan para pelanggan🙂

Minggu sore saya habiskan di Anjungan Pantai Losari sembari bergalau ria. Rada galau ini disebabkan karena ini sore terakhir saya liburan, tapi ada rasa kangen juga sama rumah di Medan karena 2 minggu ditinggal. Untungnya kegalauan ini janganlah cepat berlalu terobati melihat crowd di Pantai Losari yg asyik. Di tempat publik ini ada yang atraksi Capoeira, main in-line skate, ngamen dengan atraksi unik, orang2 jualan makanan tapi gak rese, permainan bebek-bebekan, dan keluarga yang sekedar duduk-duduk menunggu matahari terbenam. Area publik yang lebih menyenangkan daripada hanya sekedar menghabiskan akhir pekan di mal.

Mie Titi porsi besar

Mie Titi cab Jl. Irian,Makassar

Selepas matahari terbenam yg malu-malu di depan Pantai Losari, saya melipir 20 meter ke seberang anjungan, tepatnya ke kawasan Datu Mapasseng. Kawasan ini digadang-gadang sebagai pusat jajanan dan makanan khas Makassar. Tapi sepenglihatan saya masih kurang tertata rapi & nanggung banget. Baiknya jalan ini ditutup untuk kendaraan bermotor  dan hanya diperuntukkan untuk pedagang & pejalan kaki layaknya Kesawan Square di Medan atau Kia Kia Kembang Jepun.

Di kawasan ini kita bisa menemukan banyak gerobak yang menjual Pisang Epe, warung yang menjual Es Pisang Ijo & Pallubutung, kios kaki lima yang menjual Palubasa (sejenis gulai), cabang Mie Titi Jalan Irian, seafood, dan jenis makanan lainnya yg saya sendiri ampe ga inget. Saya mampir ke Mie Titi cab. Jalan Irian. Mie Titi ini hakikinya adalah mie kering (mirip ifu mi) yang disiram sayuran yg mirip capcay dengan isian udang, ayam, jeroan ayam, bakso, dan kekian. Saya mesen yg porsi besar tapi nyampenya kok rada kecil…sok banget! pas selesai makan baru terasa perut penuh banget. Niat melanjutkan petualangan gastronomi mencari kue Jalangkote & Barongko terpaksa dibatalkan :p

Menjelang Petang

Karena malam berangsur larut sementara saya belum packing sama sekali, terpaksa saya kembali ke penginapan sembari membawa 2 bungkus pisang epe,pisang epe durian & pisang epe keju, sebagai ancang-ancang kelaperan tengah malem.

Hari terakhir di Makassar memang saya rencanakan untuk gak pergi jauh-jauh dan grasak-grusuk kesana kemari, juga sebagai milestones bahwa liburan saya hampir berakhir & memberi kesempatan tubuh istirahat. Walaupun begitu, ‘the art of doing nothing’ di hari terakhir ini cukup menyenangkan karena saya dapet banyak temen untuk diajak ngobrol. Seorang ibu yang menemani 2 buah hatinya bermain sepatu roda, 3 orang sesama pejalan dari Pulau Jawa, seorang Gigolo yg menawarkan ‘produknya’ di tengah adzan maghrib, & seorang ayah yang jauh-jauh dari Kupang menjenguk anaknya yang kuliah di Makassar. Oh, langsung teringat orang tua saya di rumah :’)

HOW TO GET THERE :

Makassar dapat diakses dari/ke sebagian besar kota yg memiliki bandara sedang-besar di wilayah Indonesia bagian timur. Sedangkan dari Indonesia bagian barat dapat diakses dengan pesawat dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, & Balikpapan. Hampir semua armada besar nasional melayani penerbangan ke Bandara International Sultan Hasanuddin, Maros (+/- 25 km dari Makassar)

Perjalanan laut dilayani oleh Pelni & kapal swasta di Pelabuhan Nusantara Soekarno Hatta. Kota yang terhubung dengan Makassar dengan jalur laut antara lain Surabaya, Kupang, Balikpapan, Pare-Pare, Tarkan, Kendari, Nunukan, & Jakarta.

GETTING AROUND

Bis Damri melayani rute Bandara-Karebosi. Sedangkan di dalam kota, angkutan umum yg lebih dikenal dengan Pete-pete melayani trayek berdasarkan alfabet atau warna. Becak dayung banyak terdapat di sekitar daerah wisata, pastikan ditawar dulu ke Daengnya. Kalimat “udah, naik aja. Harga biasa” terkadang bersifat menjebak penumpang.

Taxi sebagai angkutan yg lebih nyaman namun lebih mahal juga tersedia di Makassar. Untuk taksi berargo, penumpang bisa mencari Bosowa Taxi atau Taxi Putra (Putra yg sama dengan di Jakarta).

Bosowa Taxi 0411-454545; Taxi Putra 0411-490088

Info transportasi dalam kota di Makassar bisa dilihat di Web ini.

WHAT TO SEE

Walaupun Makassar berada di garis pantai Pulau Sulawesi, namun kondisinya kurang mumpuni untuk wisata bahari. Namun hal ini disiasati dengan dibangunnya dermaga di daerah Popsa, tak jauh dari Fort Rotterdam. Dermaga ini melayani kapal yg menuju pulau-pulau kecil di lepas pantai Selat Makassar,seperti Pulau Kahyangan dan Pulau Samalona dimana kita bisa snorkeling atau bermain di pantainya yg berpasir putih.

Wisata sejarah diwakili oleh adanya Fort Rotterdam, Makam Pangeran Diponegoro,monumen Mandala(Monas-nya Makassar), Monumen Peringatan Pembantaian Westerling,atau melipir dikit ke menuju Benteng Sumba Opu. Jika ada waktu berlebih bisa sedikit menuju luar kota ke Malino atau Taman Nasional Bantimurung yg terkenal dengan air terjun dan kupu-kupunya.

Tempat yang paling gress di Makassar adalah Trans Studio Indoor Theme Park di kawasan Tanjung Bunga. Theme Park ini terintegrasi dengan upscale mall pertama di Makassar, Trans Studio Walk, & pusat grosir Carrefour.

WHAT TO EAT

Makassar dikenal sebagai salah satu sentra makanan enak di Indonesia. Beberapa makanan khas Makassar sudah menggema menggema menggema..menggema di udara di ranah kuliner nusantara, seperti Es Pisang Ijo, Pisang Epe, Coto Makassar, dan Sup Konro. Di Makassar, kita bisa mencoba memperluas spektrum rasa dengan mencicipi  makanan lokal lainnya seperti jajanan pasar Jalangkote yg mirip dengan pastel, Palubasa (mirip gulai), Mie Kering yang lebih populer dengan sebutan Mie Titi, Sop Sodara yg mirip rawon dengan isi daging sapi atau kerbau, & Songkolo, ketan hitam yang dimakan dengan lauk pauk.

Gapura Jl Sumba Opu & Datu Mapasseng

Nasi Kuning + Ayam Bakar + Abon Sapi buat sarapan (-_-)’

GONO-GINI MAKASSAR part 2 :

Taksi MTos – Datu Mapasseng = IDR 35.000

Becak Datu Mapasseng – Surya Inn = IDR 5.000

Sarapan = IDR 25.000

Oleh-oleh = IDR 200.000

Mie Titi = IDR 20.000

Pisang Epe 2 bungkus = IDR 13.000

Becak Losari – Surya Inn = IDR 5.000

BED & BREAKFAST

Surya Inn (double,1 n) = IDR 180.000

Jl. Daeng Tompo No 3, 0411-311498,0411-327568

Anjungan Pantai Losari (latar belakang Aryaduta Hotel)

Olga?

Mendung di atas Trans Studio

Anjungan Pantai Losari

garis pantai Kota Makassar

4 comments on “Leg 10 : Kembali ke Makassar

  1. dansapar
    February 1, 2011

    poengin ke bantimurung
    nginepnya di aryadut….
    oh tentu tidaakkkk
    bokek2 deh

    • Sy Azhari
      February 2, 2011

      tahun depan yuk,par. waktu pulang dari Togean. eaaaa

  2. dansapar
    February 3, 2011

    hah togean……
    *buka koin untuk sapar ke togean*
    🙂

    • Sy Azhari
      February 7, 2011

      pulang dari Togean, langsung buka “Koin Untuk Ruqyah Sapar”.. biasanya kan pulang liburan pasti ada ‘bawaan’,kan?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 31, 2011 by in Sulawesi, Sulawesi Selatan and tagged , , , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: