Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Selangkah ke Seberang, ke Pulau Penang (Day 2)

Padang Kota Lama, Town Hall, & City Hall

Hari ke-2

Karena perjalanan kali ini tanpa itenerary yg eksak, jadi ga terburu-buru mau kesana kemari. Bahkan prinsip liburan saya kali ini pengen dibawa santai aja ke mana kaki melangkah & mata tergoda… halah.

Jam 7 pagi disediakan sarapan dari guesthouse yg berisi banana cake, toast, butter, jam, coffee/tea, & juice. Selepasnya, saya memilih untuk menunggu bis 204 atau 203 jurusan Air Itam karena mau liat-liat Kek Lok Si Temple. Bis 204 sebenarnya berakhir di Penang Hill dimana Penang Hill Railway atau yg lebih populer dengan nama Funicular berada. Tapi sayangnya, Funicular belum dibuka karena direnovasi sejak 2010 dan rencananya dibuka mulai Senin 25 April dan untuk umum 1 Mei. Padahal kan iconic banget itu…hiks.

Kek Lok Si Temple, Chinese & Burmese influence…and Thai in between

Kembali ke Kek Lok si Temple, saya sempet pangling karena ga ada tanda yg jelas di bawah menuju ke bukit lokasi kuil itu berada. Ternyata oh ternyata, lidahku bercabang dua kita harus menyusuri tangga yg kanan kirinya sesak dipenuhi toko souvenir. Sebelum masuk kita kuil kita bakal melewati kolam yg dipenuhi ratusan kura-kura yg saling tumpang tindih dan setelah melewati beberapa kios lagi baru kita sampe kesana. Kuilnya baru buka sekitar jam 9 pagi, sementara saya tiba di pintunya jam 8.15…Kepagian! Niat menunggu saya batalkan karena kepala saya pusing banget kebanyakan menghirup aroma dupa dan ditambah sumpeknya jalan menuju kuil, saya memutuskan balik ke Georgetown aja setelah sebelumnya singgah membeli souvenir untuk handai taulan di kampung nan jauh di mato. Sebenarnya kuil ini cocok dikunjungi sore menjelang malam karena lampu-lampunya bakal memperindah pemandangan. Tapi yah, sapa tau ada rezeki kan bisa di mari lagi yak. *Amien dong, pemirsa!*

Pulang ke penginapan untuk beristirahat sejam, pukul 11 saya kembali beraksi mengelilingi Georgetown yg kemarin sempat tertunda karena terik matahari. Berhubung hati hari ini agak mendung, jadilah saya jajal keliling downtown. Dari halte deket Hutton Lodge, saya naik MPPP CAT Free Bus. Bis ini sama dengan Rapid Penang, tapi gratisan dan rutenya mengelilingi Georgetown. Haltenya ditempatkan sedemikian rupa hingga dekat ke places of interest. Untuk menandainya lihat saja screen di atas bis, kalau ada bacaan MPPP berarti itu bis gratisan keliling Georgetown.

Tujuan pertama saya adalah Mesjid Kapitan Keling di jalan yang bernama sama dengan mesjid itu. Sayangnya, mesjid ini lagi direnovasi di beberapa bagian termasuk kubah utama. Mengambil desain Moghul dengan ciri khas satu minaret, mesjid ini dibangun di awal-awal abad ke 19.

Mesjid Kapitan Keling (from georgetown-penang.com)

Dari Mesjid Kapitan Keling, saya berjalan kaki sekitar 200 meter ke arah utara menuju St George’s Church, yang disebut-sebut sebagai Gereja Anglikan pertama di Asia dan dibangun pada tahun 1817-1818. Sedari luar terlihat aktivitas persiapan menyambut perayaan Paskah, jadi segan mau masuk ke dalem.

St George’s Church

Karena letaknya tepat di inti heritage site, gereja ini masih dikelilingi oleh-oleh rumah dan bangunan tua, salah satunya adalah Penang State Museum :

Penang State Museum

Disebut-sebut sebagai well-presented Museum in Malaysia, saya jadi penasaran ingin masuk. Hanya membayar RM 1, saya mengelilingi museum kurang lebih 40 menit bonus pendingin ruangan. Dilihat-lihat, memang museum ini penyajiannya menarik dan membuat saya yg gak hobi ke museum mengikuti alur yg disajikan museum ini. Museum ini terbagi 2 bagian : Lantai 1 tentang penduduk serta budaya Pulau Penang & Seberang Perai dan tentang asal mula wilayah itu, sementara Lantai 2 berfungsi sebagai museum sejarah baik sejarah kuno maupun kontemporer.

Lantai 1 dibagi menjadi beberapa bagian seperti Chinese, Peranakan, India, & Melayu. Selain etnis utama, dibahas juga tentang etnis pendatang minoritas lain seperti Aceh, Minang, Bugis, Srilanka, Armenian, & Yahudi. Sedangkan di lantai atas bisa ditemukan presentasi rempah-rempah, permainan rakyat, sejarah kopitiam, dan lainnya. Gak interaktif juga sih, tapi setidaknya informatif..ditambah lagi pengunjung bisa mencoba beberapa permainan rakyat.

inside Penang State Museum (ada sinema mini juga)

mister, main congklak mister

Selepas keliling-keliling museum, saya menelusuri Jalan Farquhar dan ternyata banyak banget bangunan tua yg masih berfungsi dengan baik  antara lain Eastern & Oriental Hotel yg asalnya adalah bangunan peninggalan orang Armenia, Cathedral of the Assumption, dan komplek sekolahan St Xavier yg dibangun sejak 1852.

Memutar ke arah selatan melewati Love Lane (Lorong Cinta) dimana daerah ini dipenuhi hostel & penginapan yang masih menggunakan bangunan tua yg diperbagus, dan saya lanjut memutar ke Lebuh Chulia untuk makan siang di daerah Little India, tepatnya di restoran Kassim Mustafa yg ternyata punya cabang ampe 10 di penjuru negeri. Nasi Briyani & Chicken Tandoori pun dieksekusi buat menambah tenaga mengitari Georgetown. Sambil nunggu makanan tiba, seorang Tamil di sebelah saya ngajak ngobrol. Obrolan cas-cis-cus beberapa menit itu ditutup dengan segelas es teh gratis yg dia pesan buat saya sembari dia membayar tagihannya. Wow! saya terharu bener ini. Selepas Dzuhur, barulah melanjutkan kembali perjalanan ke barat mencari kitab suci. Tujuan selanjutnya adalah Goddess of Mercy Temple.

Sebenarnya kuil ini sudah saya lewati karena letaknya di antara Mesjid Kapitan Keling & St George’s Church. Tapi saat itu masih rame orang yg beribadah. Kuil kecil ini dikerumini orang-orang yg bersembahyang baik di dalam maupun di luarnya. Juga gak kalah tukang souvenir & peralatan sembahyang di sampingnya. Herannya, disini banyak juga orang-orang tua berkumpul dari berbagai macam etnis dan hanya duduk di pinggir trotoar depan kuil. Jawaban atas keheranan saya ditemukan tak lama karena begitu ada orang yg mengantarkan nasi bungkus ke kuil, orang-orang tua tadi berebutan. Oooohh, entah mereka tuna wisma atau uzur saya gak tau. Yang pasti banyak orang yg bersedekah nasi/makanan silih berganti membawakan untuk kuil ini. Sangat menginspirasi.

Sempet agak lamaan juga di depan kuil karena ada beberapa orang yang mengajak ngobrol, yah standar basa-basi orang lokal tapi untungnya pertanyaannya ndak kepo. Perjalanan dengan sepasang kaki saya lanjutkan ke arah utara menuju Padang Kota Lama (Esplanade) dimana ada 2 icon kondang : Town Hall & City Hall.  Sebenarnya kita bisa berkunjung ke dalamnya dan melihat keindahan yg gak hanya terdapat pada arsitektur kedua bangunan ini, tapi juga interiornya yang masih menunjukkan kejayaan kolonial Inggris di abad 19 saat menguasai pulau ini. Sayangnya karena ada ‘kode alam’, saya buru-buru melipir ke bilik temenung.

Penang Town Hall

Penang City Hall

Sekitar pukul 3 sore ternyata hujan turun lumayan deras, agenda berjalan kaki menyusuri Georgetown saya tunda dan berteduh di halte bis. Untungnya gak lama ada bis jurusan KOMTAR lewat, saya turun di KOMTAR dan mencari bis ke arah Queensbay. Turun di halte depan Queensbay Mall, saya mau nyari titipan ibu saya dan waladalahhh… isinya orang Indonesia sebagian besar ditambah ABG Gaol lokal. Tetep yah, kalo udah masuk mall bawaannya sakit hati apalagi didukung dompet yg juga sakit…ngeliat G*P lagi ngeluarin produk baru jeans  warna charcoal langsung dompet teriak-teriak, untung masih bisa nahan nafsu.

Queensbay ini kalo di Indonesia mirip-mirip Boulevard Kelapa Gading kali ya, banyak komplek ruko, apartemen, tempat jajanan, dan ada mall juga. Tapi ini menghadap ke pantai, lebih tepatnya menghadap ke Penang Bridge yg menghubungkan Pulau Penang dan Semenanjung Malaya. Berhubung hujan udah redaan, saya mending nongkrong di pantainya yg sebenarnya biasa aja tapi karena ditimbun dengan batu-batu besar dan sebagian berbentuk taman jadi bisa digunakan tempat anak2 & keluarga nongkrong sampai maen layangan. Gak lupa di mana pun dan kapan pun ada keramaian, pedagang selalu ada… hehehe.. mantab. Saya habiskan sore dengan duduk-duduk & ngobrol aja dengan orang2 disitu sambil lihat-lihat kelakuan remaja-remaja lokal dari yg berduaan malu-malu kucing sampe yg rada 4L4Y juga ada.

Sebelum maghrib, saya balik ke downtown untuk siap-siap makan malem di Esplanade Hawker Center yang ada di belakang City Hall. Lagi-lagi kawasan makanan disini dibagi 2 area, halal & non-halal. Tempatnya yang menghadap laut membuat kita makan disini sembari dihibur oleh semilir angin. Sayangnya, malem minggu itu tempatnya ruammeeee puoll! Untung masih ada meja kosong. Pfiuhhh…

Penang Bridge

Pulangnya lagi-lagi malem hampir jam 10 malem. Di halte depan Town Hall, saya menunggu bis  Free Shuttle atau Rapid Penang. Karena saya ragu apakah ada bis yang masih jalan pukul 10 malam, saya bertanya kepada 2 orang gadis keturunan India yg juga menunggu bus dan ternyata mereka menunggu bis CAT Free Shuttle yg sama. Jelas mereka bahwa bis shuttle masih jalan hingga pukul 10.30. Sembari menunggu, kami berkenalan dan salah satunya bernama Farah. Farah ini tutur katanya halussss banget dan santun, berasa putri iklan Solo banget. Gitu kita naik bus, dia tetep berdiri dan gak ikutan duduk di samping temannya walaupun ada tempat kosong di sebelahnya. Dia tetep ngajak ngobrol saya dan nanya-nanya tentang Indonesia terutama Medan & Bali. Dari pembicaraan kami tadi saya jadi tahu dia lagi ambil Bachelor jurusan Tourism sambil kerja sambilan. Selepas kuliah, ia ingin ke Bali melanjutkan kuliah dengan hasil kerja sambilannya itu sembari mengaplikasikan ilmu dan belajar pariwisata di Bali. Duh, terharu banget.

Sampe berpisah saya terkesan dengan keramah-tamahannya. Kesan & pengalaman baik selama traveling gak hanya saya dapatkan dari pemandangan mirip kartu-pos atau gedung kolonial yg anggun tapi juga dari pengalaman personal dengan orang-orang lokal yg mendukung pariwisata daerahnya dengan bersikap ramah & baik. Semoga attitude dik Farah ini bisa ditiru semua orang di mana aja. Yang paling saya ingat waktu tau saya nginap di Lebuh Hutton di kawasan Jl Penang adalah pesannya : “kawasan tempatmu menginap itu makin malam justru makin ramai, makin banyak atraksi dan turis-turis keluar dari penginapan. Tapi tetap pastikan kamu berjaga-jaga walaupun semuanya terlihat aman”What a humble experience i had that nite.

Esplanade ngadep ke Jetty (atas), ngadep ke Gurney Drive (bawah)

Sejarah Kopitiam di Penang State Museum

Kebaya Nyonya & Lorong di Penang State Museum

Merenda masa muda di Queensbay area

Town Hall in the night

bang, numpang mejeng bang

11 comments on “Selangkah ke Seberang, ke Pulau Penang (Day 2)

  1. ombolot
    April 26, 2011

    Toloh pertemukan aku dengan sodaraku si Farah itu koh *Putri yg ditumbal*

    • Sy Azhari
      April 26, 2011

      Duh, Farah itu lebih mirip Anchal ANTM 7 loh tapi versi skinny bukan fiercely real

  2. dansapar
    April 26, 2011

    mana ombolot?
    mana dan di mana ombolot?
    bahkan sampe ngeja per kata pun ndak ado kata om-bo-lot
    *Tetep dibahas*

    :))

    • Sy Azhari
      April 26, 2011

      dibahas ampe liang kubur ya,par. tunggu pembalasan ombolot bulan depan

    • zou
      May 9, 2011

      hooh, ombolotnya mana sihhh ?

      *clingak clinguk*
      *ditendang sampe choco hills*

  3. afrij
    April 29, 2011

    weh fotonya yg goddess temple keren…😀

    • Sy Azhari
      May 5, 2011

      kalo pake kamera canggihmu lebih bagus mungkin,fri😀

  4. Esther
    March 6, 2012

    Permisi, permisi…
    Terlempar kemari dari lamannya Om Bolot. He…

    Mo nanya Koh,
    Ke Penang State Museum boleh bawa kamera ya ?
    Boleh putu-putu gitu ?
    Ato gambar diambil secara sembunyi-sembunyi ?
    *ngikik ala Syahrini*

    Berencana ke sana September mendatang.

    Om Bolot mo ikutan ?
    *kedip-kedip gela*

    • Sy Azhari
      March 7, 2012

      Halo Esther, salam kenal ya.
      Di Penang State Museum boleh kok bawa kamera. aku kemarin gak ada larangan bawa kamera. Tapi yg dilarang kayaknya kalau pake blitz deh

  5. Mbakbolot
    January 16, 2014

    Hai mas, salam kenal. Kl mau foto2 di penang town hall & city hall bagusan siang or malam ya, lbh rekomen yg mana? Thx ya

    • Sy Azhari
      January 16, 2014

      Hhmmmm.. Balik ke kameranya dan selera pribadi sih kalo itu, mbak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 26, 2011 by in Go-Sees, Malaysia, travel and tagged , , , , , , , , , , .

Navigation

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: