Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Selangkah ke Seberang, ke Pulau Penang (Day 3)

Hari Ke-3 alias hari terakhir.

Semaleman rasanya lagu Bang Haji Rhoma yg berjudul Malam Terakhir terngiang-ngiang di kepala, sekaligus pengingat bahwa libur sudah mau berakhir. Tapi tak patah arang karena ada beberapa agenda yg bisa dijalankan sampai pesawat take-off pukul 6.15 sore waktu setempat.

Gara-gara kelelahan di malam sebelumnya, saya jadi kesiangan bangun. Langsung cebar-cebur dan sarapan dan cicing jalan kaki ke KOMTAR yg cuma berjaran 500 m dari penginapan. Bis 101 jurusan Jalan Burma gak lama singgah. Tujuan saya adalah 2 kuil Budha dimana yang satu bercorak Siam dan ada patung sleeping Buddha bernama Wat Chayamangkalaram (Sleeping Buddha Temple), sedangkan satunya bercorak Burma bernama Dhammikarama Burmese Temple. Nununnya, saya baru nyadar lagi di atas bis yg sedang berangkat ke JALAN Burma (Burma Road). Saya sih udah ngeh kalo Lorong (Lane), Jalan (Road), & Gat itu berbeza, tapi saya gak ngeh alamat kuil ini di Lorong Burma (Burma Lane) alih alih Jalan Burmah. Berhenti di depan Tune Hotel, saya cari lagi lewat Google Maps dimana letak kedua kuil tadi. Syukurlah saya masih ada di jalur yg benar, hanya sekitar 3 halte dari tempat saya turun.

Sewaktu di halte, ada yg nanya alamat kedua kuil itu juga. Dari logatnya saya langsung tahu si Mbak’e keturunan Jawa (dan diketahui dari Jakarta keturunan Solo). Bersama Mbak Vivi, saya meluncur dengan bis 103 jurusan kota intan Gurney Drive dan berhenti di halte Jalan Kelawei. Jalan sekitar 100 m bakal ketemu Lorong Burma dan ternyata kedua kuil tadi berseberangan. Dan, terlihatlah beberapa rombongan turis dengan bisnya. Kalau didenger-denger sih, kayaknya ini rombongan dari China Mainland ya. Heboh poto dengan gaya aneh-aneh padahal lagi di rumah ibadah, sampe terkadang nyuruh orang menyingkir dari tempatnya karena menghalangi background mereka. Kalau di daerah turis bukannya harusnya udah sadar dengan risiko ramai atau kalo gak nunggu gih sampe sepi. Atau karena ikut tur itu makanya serba pengen buru-buru sampe mencak-mencak gak karuan yah. Menyebalkan, bahkan sampe ada yg masuk ke kuil masih pake sepatu sebelum diperingati para penjaganya. Ckckckck… mampu dalam hal finansial belum tentu mampu dalam hal sosial juga ya ternyata. Tapi gak sedikit juga para turis disini datang dan berdoa terlebih dahulu, baik di luar maupun di dalem bangunan kuil ini.

Pas udah masuk bangunan utama bakal kelihatan itu patung sleeping Buddha. Patungnya sih biasa aja, tapi suasana di dalam kuilnya itu adem banget. Ada rekaman orang yg baca sutra/doa diputar, kemudian lukisan 10 Great Lives of Buddha di belakang patung sleeping Buddha, dan patung-patung Buddha berukuran kecil dengan gerakan-gerakannya… bikin merinding ngeliatnya. Kemudian ada deretan abu hasil kremasi di belakang dan di sebuah ruangan terkunci. Abu tersebut dimasukkan ke dalam guci kecil dan disimpan di lemari kecil dan transparan, dan di depan lemari tersebut ditempelkan plakat berisi informasi orang yg dikremasi berikut fotonya semasa muda. Mengharukan.

Sekitar 45 menit ada disitu saya beranjak ke seberang komplek Sleeping Buddha Temple menuju Dhammikarama Temple. Kalau Wat Chayamangkalaram dibangun dengan ornamen yg berbau Siam (Thailand), maka Dhammikaramamenggunakan ornamen Burma (Myanmar). Warna-warni budaya memang salah satu ciri khas Pulau Penang. Komplek kuil ini lebih luas karena ada tempat tinggal segala, taman-taman disini juga luas banget dan diperteduh dengan adanya pohon-pohon besar. Hanya sekitar 30 menit di sini, saya berpisah dengan Mbak Vivi karena harus balik ke hotel buat check-out dan mengambil barang-barang saya. Sebelum balik ke downtown, saya sempatkan membeli oleh-oleh di dekat gerbang kuil Burma ini. Harganya lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Kek Lok Si Temple, Air Itam.

Sewaktu menunggu bis, ternyata di dekat halte Kelawei ada restoran fast food Subway Sandwichhowaaaahh, jadi pengen apalagi di Indonesia gak ada yg ngambil franchise ini. Sukanya saya dengan Subway adalah sistemnya yang D-I-Y Sandwich, kita yg nentuin roti apa mau dikombinasikan dengan daging, topping, dan saus pilihan kita. Tapi ternyata pas mau masuk, ada bis Rapid Penang 103 jurusan Komtar & Weld Quay (Jetty) lewat dan frekwensi bus ini 20 menit, ya terpaksa dipendam dulu keinginan ber-fast food ria itu dan menuju Hutton Lodge untuk mandi, check-out, dan ngambil barang. Jam 12.30 saya cabut dari penginapan untuk kembali berkelana dan balik ke Gurney Tower karena mengidam Subway Sandwich. FYI, halte saya turun menuju Gurney Tower sebenarnya sama dengan halte saat menuju kuil tadi. Letaknya ada di tengah-tengah antara Lorong Burmah & Gurney Tower dan namanya Halte Kelawei.

nemu outlet Subway🙂

Kelar dari Subway dengan tentengan 2 sandwich untuk adik-adik di rumah, saya sebenarnya bersiap-siap nyari bis ke bandara. Tapi, pas ngelihat ada keramaian di Upper Penang Road jadi bikin penasaran ada apaan. Ternyata disana ada Little Penang Street Market. Pasar Kaget kalo istilahnya di Indonesia. Pasar kaget ini hanya buka hari minggu terakhir di tiap bulannya, mirip-mirip Car Free Day di Sudirman-Thamrin yang minggu terakhir nongolnya… hehehehe.

Yang dijual di pasar kaget ini standar aja, ada makanan, kerajinan tangan, buku-buku tua, dan teuteuuuppp ada SPG Rokok. Yang paling seru disini ada panggung kecil lengkap dengan sound system dan alat musik seperti drum, gitar, dan keyboard. Saya kira ada yg mau konser, tanya-tanya ternyata itu ajang buat eksis : Sapa yg mau nyumbang lagu tinggal maju aja ke pentas dan terserah mau nyanyi apa dan terserah mau maen alat musik sendiri atau diiringi. They just come and sing and do it for fun. Untungnya selama saya berada di situ yg nyanyi suaranya bener semua, bahkan ada yg nyanyi lagu ciptaan sendiri dan ditujukan buat pacarnya yg lagi jualan. Waladalaaah.. so sweet.

Biarpun baru makan siang, ternyata saya tergoda juga makanan-makanan homemade yg dijajakan di Street Market itu. Pilihan pun jatuh kepada Low-Sugar Blueberry Cheesecake..hihihihihi. Selain itu saya juga dapet dompet kain hasil jahitan ibu bernama Farida Mokhsin. Dompet itu dijadikan souvenir buat ibu saya. Keasikan disitu, saya gak nyadar jam udah menunjukkan pukul 2 lebih dan saya menuju ke KOMTAR. Dari KOMTAR, bis 401 E tujuan Airport & Balik Pulau hampir 1 jam datengnya dan langsung dipenuhi oleh penumpang yg kebanyakan mau ke bandara di kawasan Bayan Lepas. Yang sebelnya naik bis ini adalah rombongan turis dari Thailand yg ruame sekitar 10 orang dan masing2 bawa koper besar. Mana kopernya gede-gede dan ditinggal di tengah bis sementara mereka duduk di bangku belakang… beberapa orang terlihat geleng-geleng lihat mereka.

Sampai bandara pukul 4 lewat, masih ada waktu buat nyari oleh-oleh makanan & coklat buat adik-adik saya di Medan. Karena saya pake Web Check-in Air Asia, jadi proses check-in ga nyampe 1 menit. Proses imigrasi dan masuk ke boarding room juga lancar jaya. Pukul 18.15 LT pesawat berangkat tepat sesuai jadwal dan sekitar pukul 17.50 udah nyampe lagi di Polonia. Alhamdulillah, selama perjalanan kemarin banyak diberi kemudahan dan bantuan dari sesama WNI maupun orang lokal yang ramah-ramah. Kalau udah begini, jadi pengen balik lagi kan ke sana. See ya Penang, semoga suatu saat bisa balik lagi dan menikmati waktu-waktu laid-back diantara gedung-gedung penuh memorimu itu.

Little Penang Street Market

inside Burmese Temple area

inside Siamese Temple

Burma Temple

Little Penang Street Market

Like this:

7 comments on “Selangkah ke Seberang, ke Pulau Penang (Day 3)

  1. dansapar
    April 29, 2011

    patung budha tidurnya mukanya putih ya
    *komen pertama kok langsung ke bedak sih
    *ditimpuk viva no 16

    • Sy Azhari
      April 29, 2011

      emang ahli padu-padan ya..yg dikomentari warnanya dulu. kalo yg di Bangkok warna apa,par? kan elu udah BERKALI-KALI kesana :p

      • dansapar
        April 30, 2011

        gue baru sekali ke bangkok, koh
        wat pho nya si budha emas gitu, pgn deh gigitin se gram aja trus dijual, hahahahaa

        pengin sih unyu2an ke bangkok lagi,
        tahu deh tahun ini jadi ato g
        songkrannya udah lewat
        kan mo unyu2an maen pistol2an air
        *efek BTLS
        *hahahaha

  2. Pingback: kembali: pulang « Superfriend: Okit Jr.

  3. hilsya
    May 6, 2011

    tumben ga bikin total kerusakan dompet? apa kelewat ya?

  4. zou
    May 9, 2011

    “Kelar dari Subway dengan tentengan 2 sandwich untuk adik-adik di rumah ..”

    mengharukan .. T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 29, 2011 by in Go-Sees, Malaysia, travel and tagged , , , .

Navigation

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: