Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Cebu City, Queen City of the South

Basilica Minore del Santo Niño (Church of the Holy Child)

LEG 4 : Manila » Cebu

Sebenarnya gak ada niatan kami mengunjungi atau berjalan-jalan di Cebu. Kebetulan Cebu adalah pintu gerbang kawasan Visayas yg terkenal dengan beberapa objek wisata seperti Boracay Island, Negros Island, & juga Bohol Island. Sasaran utama kami sebenarnya adalah Chocolate Hills di Bohol, namun karena gak ada penerbangan yg promo dari Manila ke Tagbilaran (Bohol Island) saat itu, jadinya kita masuk melalui Cebu dan melanjutkan perjalanan dengan kapal cepat ke Tagbilaran. Niat mengambil jadwal terdekat dengan jadwal landing kami di Cebu pupus saat teman saya menemukan situs mengenai objek wisata ini. Jadilah kami membuat agenda menghabiskan 10 jam di Cebu.


Jam 4 pagi kita check-out dari Makati Apartelle menuju bandara Ninoy Aquino yg hanya berjarak 8 km dari hotel. Kali ini kami berangkat melalui terminal 3 NAIA, terminal paling gress yg hanya digunakan oleh Cebu Pacific Air, Airphil Express, & ANA. Menyempatkan diri sarapan di Cinnabon, outlet cinnamon roll yg pernah (atau masih ya?) singgah di Medan circa 2005-2009. Sayang banget outletnya udah tutup. Pukul 6.30 tepat pesawat meninggalkan Manila dan tiba di Cebu sesuai jadwal. Sewaktu di bandara Mactan-Cebu International, kita minta informasi tentang Cebu di tourist information. Dasarnya emang karakter Filipino yang ramah, si Mbaknya ngasi informasi yg detail dan gak kelihatan fake dalam melayani semata-mata menjalankan pekerjaannya. Penjelasannya informatif banget, begitu kami bilang ingin melanjutkan ke Bohol Island dia pun juga memberikan kami peta Bohol bersama dengan peta Cebu secara cuma-cuma.

Dari bandara yg terletak di Pulau Mactan itu, kita menuju Pier 4, Cebu Port untuk memesan tiket Weesam Express jam 6.30 sore dari Cebu Pier 4 ke Tagbilaran Port. Cebu Port ini adalah pelabuhan terbesar di Philippines. Dari airport-tv & wallpaper di bandara diinfokan kalo hampir 80% ekspor Philippines diangkut dari pelabuhan ini. Dari Pier 4 dan masih menggunakan taxi bandara, meluncurlah kita ke pusat kota Cebu ke perhentian pertama kita :

Putra Altar

  • Basilica Minore del Santo Niño

Inilah gereja tertua di penjuru negeri. Dibangun pada tahun 1565 di tempat ditemukannya patung Santo Niño (Holy Child; Child Jesus) yg sudah lama hilang. Patung Santo Niño ini adalah hadiah dari Ferdinand Magellan kepada Raja & Ratu beserta rakyat Cebu yg menerima kedatangan mereka & ikut pembaptisan di tahun 1521. Setelah terbunuhnya Magellan oleh Lapu-Lapu di Mactan, patung ini hilang dan baru ditemukan kembali 1565. Riwayat tentang Magellan, Rajah Humabon, & patung Santo Niño ini ada di beberapa lukisan di dalam museum di sebelah gereja ini.

Banyak orang dari penjuru negeri maupun dalam kota berkunjung kemari sekedar berdoa di chapel yg terletak di belakang gereja & museum, atau berdoa menyalakan lilin dan berdoa di area depan gereja. Ataupun hanya sekedar duduk di taman dengan fountain di halaman dalam gereja & museum. Sayangnya kamera dilarang untuk digunakan di beberapa area, apalagi di gereja sedang ada misa.

Sekitaran sejam berada di area gereja ini, kita melangkah selemparan batu batu dari gereja menuju icon lain kota Cebu yakni :

  • Magellan Cross

Magellan Cross ini berupa replika salib dari kayu yg berada di dalam chapel kecil yg terletak diantara Basilica del Santo Niño dan City Hall. Replika ini menggantikan salib asli yg ditanam oleh tim ekspedisi Ferdinand Magellan begitu tiba di Cebu tahun 1521. Magellan Cross ini juga pertanda awal penyebaran agama Katolik Roma di bumi Pilipinas. Salib yg asli dengan ukuran yg lebih kecil disimpan agar terhindar dari pencurian orang-orang yg percaya dengan ‘manfaat’ salib ini, namun kabar yg beredar salib yg asli udah hancur. Karena masih tetanggaan ama kita, jadi ya mistis tetep masih berkembang juga disini. hehehehe.

Magellan Cross’ Chapel

Oh iya, di Cebu dan Visayas region ini mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Cebuano, bukan Filipino. Filipino sendiri memang bahasa nasional yg diambil dari bahasa Tagalog yg disempurnakan. Berhubung Pilipinas negeri kepulauan yg sama seperti kita, bahasa daerah & dialek pun banyak disini seperti Tagalog, Cebuano, Ilocano. Namun tetep sebagian besar penduduknya ngerti kok dengan bahasa Filipino & English sebagai 2 bahasa nasional sehingga saya gak mengalami ‘lost in translation’ disini. Jadi kalo diajak ngomong orang Cebu dan kita geleng-geleng atau godek-godek, maka biasanya muncul kalimat : “oh, no Cebuano? how about Tagalog or Filipino? English?”.

Nyempetin istirahat sebentar di Plaza Independencia, alun-alun kota yang tampaknya baru mengalami renovasi besar-besaran dari cat, pohon-pohon yang baru ditanam, lapangan basket yang baru diperbaiki, dan podium yg baru diperindah. Tipikal kota-kota di negara jajahan Spanyol, alun-alunnya pasti masihn terawat dan dikelilingi gereja, benteng, city hall, atau bangunan bersejarah yg masih dipertahankan ciri aslinya. Jadi iri.

Kawasan downtown Cebu ini memang dipenuhi bangunan bersejarah. Selain Basilica del Santo Niño, Magellan Cross, dan City Hall tak jauh ke sisi selatan sekitar 5 menit berjalan kaki dan tepat di pinggir laut kita bisa temukan banyak situs sejarah lainnya seperti Plaza Independencia, Casa Gorordo Museum, Malacangang of the South, & Fort San Pedro. Apa daya, karena keterbatasan waktu di Cebu, kita gak bisa mengunjungi semua tempat-tempat menarik itu. Lagian kita bukan stop over-take picture-traveler juga, lebih pingin santai & menikmati tempat dengan maksimal.

Malacanang of the South & Plaza Independencia

Rencananya selepas dari downtown, kita mau mengunjungi Busay Hill sedikit di luar kota Cebu. Namun setelah tanya sana-sini kami mengurungkan karena ternyata cukup jauh dan Cebu di hari senin juga mengalami hal yg sama dengan kota lain, traffic jam. Hari pun semakin siang, dan waktu di kota ini semakin sedikit apalagi ditambah target jam 2 udah nyampe di Crown Regency Hotel. Jadilah kami mulai makan siang dengan meluncur ke spot favorit kami yaitu

Hey, Summer Sun

  • Ayala Center

Hehehehe. Selain di Manila, Ayala Land juga bikin pusat bisnis dengan konsep yg sama dengan yang di Makati. Sebagai kota terbesar kedua di Pilipinas, Cebu juga bersolek dengan kawasan bisnis terpadunya. Ayala Center disini walaupun skalanya lebih kecil dari yg di Makati tetep aja cukup besar menurut saya. Di tengah gedung-gedung perkantoran modern di Ayala Center ini ada malnya juga. Dan di luar mal yg saya ukurannya seperti PIM 1+2 ini ada taman yg cukup besar, di sisi lain taman ini lah terdapat The Terraces. Konsep The Terraces sama dengan Greenbelt 3, penuh dengan fine-dining restaurant, coffeeshop, dan tak lupa jaringan bioskop. Lumayan buat yg jalan sore-sore.

Di malnya kita cuma keliling-keliling bentar, dan akhirnya memutuskan makan siang di Banana Leaf. Udah kangen banget ama masakan Melayu karena masakan lokal kurang berani dalam bumbu. Akhirnya salad mangga, shrimp toast, dan nasi ayam hainan masuk perlahan-lahan ke perut. Disini kita dilayani mbak-mbak berwajah campuran Melayu & Mestizo yg berkostum & berbadan layaknya pramugari Singapore Airlines dengan suara empuk banget. Tiap ada pengunjung yg lewat, tak lupa dia menyapa “Hello Sir/Maam, try banana leaf. Malaysiajn & Singapore food,sir/maam“. Dan tiap denger dia mengucap kalimat itu, duh, pengen gue cubit pipinya saking empuknya dia punya suara 😀

The Terrace area

Kelar makan siang, ini saat yg dinanti-nanti dan merupakan gong petualangan di Cebu. Menaiki taksi di depan The Terrace, kita menuju bundaran Osmenao atau yang lebih dikenal dengan nama Fuente Osmenao dimana disitu ada Crown Regency Hotel. Hotel ini merupakan Hotel tertinggi di Philippines. Dan di lantai-lantai teratas hotel ini tersedia atraksi yg bikin kami mantap menuju ke kota ini, yaitu

Tower Zip (taken from skyexperienceadventure.com)

Buat hamba yg gak cukup modal buat Skywalk 233 m di Macau Tower seharga US$ 74, maka Sky Experience Adventure di Cebu adalah jawabannya *ealaaah, kalimatnya*.  Di tempat ini ada 2 wahana, Sky Ride & Sky Extreme. Harga tiket masuk + 1 ride seharga Php 550, HTM + 2 ride seharga Php 750, kedua paket tersebut udah termasuk T-shirt.  Kalo harga Sky Extreme bisa dilihat di situsnya Sky Experience Adventure.

Sky Ride ini ada 2 jenis yaitu

  1. Edge Coaster, kita duduk kereta yg relnya mengelilingi gedung tepat di pinggirannya. Gak lama setelah si kereta ini jalan, kursi kita langsung ditunggingin sampe 70 derajat menghadap bawah. Glekkkk, lumayan juga pemandangan dari lantai 38 (130 m). Cukup bikin nyes-nyesan. Katanya sih wahana ini yg pertama di dunia, entahlah.
  2. Sky Walk, seperti Skywalk yg ada di beberapa tempat. Kita berjalan di atas lantai kaca yg ada di pinggiran luar lantai 37. Angin sepoi-sepoi ditambah pemandangan di bawah bikin keder juga, apalagi pas saya disuruh pose dipinggir lantai kaca. Sempet mual sebentar. Dari podium skywalk ini kelihatan Cebu, Busay Hill, Mactan Island, bahkan Bohol Island.

Sedangkan Sky Extreme yang baru dibuka bulan April kemarin baru ada 4 permainan : Tower Zip, Sky Lift, Vertigo Wall, & Dimension. Untunglah pas datang kemari udah buka Sky Extreme-nya. Kita sendiri milih pake Combo HTM + 2 SkyRide + 1 Sky Extreme + Souvenir + Sertifikat seharga Php 1000 (+/- Rp 200ribu). Sky Extreme yg saya pilih adalah Tower Zip di lantai 40, yaitu zipline antar gedung sepanjang 85 m di ketinggian hampir 160 m ajah. Histeris juga waktu ziplinenya, tapi belum seberapa karena saya dikasi bonus Sky Lift. Saya duduk di bantalan sempit yg cuma muat pinggul doang dan dikerek dari gedung tempat mendarat Tower Zip yg lebih rendah ke tower semula (lt 40). Yassalam, kalau zipline cuma beberapa detik doang, ini Sky Lift makan waktu hampir 2 menit dengan pemandangan Cebu dari tengah-tengah kabel setinggi 160 meter. Gemeteran tapi pengen nyoba lagi rasanya😀

Selesai menguji adrenalin dengan Sky Ride & Sky Adventure, kami pun membeli beberapa foto hasil jepretan fotografernya dan gak lupa beli souvenir lainnya. Andai saja ada Bungee Jumping atau Sky Jump, saya rasa saya bakal kembali lagi ke sini. Sempet saya saranin juga ke pemiliknya yg seorang bule. Ga cuma seru permainannya, seru juga sih ngobrol bareng para kru & guide disini. Apalagi mereka tau kami dari Indonesia. Kru di Tower Zip sambil meraba-raba menginspeksi peralatan di tubuh saya, bilang kalo dia pengen liburan yg lama di Bali. Kru yang satunya berulangkali minta diajari greeting dalam Bahasa Indonesia dari “Selamat Pagi-Siang-Malam” sampe “Terima Kasih”, sembari pasang flirting gesture yg diakhiri kedipan mata… hahahahaha.. OK. TMI kayaknya.

Pukul 4.30 kami meninggalkan Crown Regency Hotel menuju Pier 4 untuk check-in keberangkatan ferry ke Bohol Island. Padahal kalo masih ada waktu, pengen lagi rasanya main-main di Sky Adventure. Hmmm, semoga masih bisa dikasi rejeki & waktu ke sana apalagi ada beberapa wahana yg belum dibuka. Cebu, tunggu aku!

Ayala Center

Ayala Center

Turistas

Fort San Pedro

The Prayers

Edge Coaster dengan pemandangan Busay Hill

Sky Walk dgn Fuente Osmenao sbg latar

Edge Coaster dengan view Selat Cebu


10 comments on “Cebu City, Queen City of the South

  1. gerandis
    May 31, 2011

    kyaknya emang menarik ya nyempetin mampir ke cebu dan nyobain itu wahana-wahana seru….makin pengen ke filiphin

  2. gerandis
    May 31, 2011

    seru ya cebu, aku baru denger tapi, taunya filiphina ya manila doang😀

    • Sy Azhari
      May 31, 2011

      sama kayak Indonesia lah, bukan Jakarta aja. gampang kok,dis. dari Manila penerbangan ke Cebu itu kyk Jkt-Surabaya atau Jkt-Medan, banyak banget. nanti aku mau bikin post “How To…” juga kok. mungkin bisa jadi referensi,dis

  3. dansapar
    May 31, 2011

    kayaknya klo aku udah pingsan ala syarini deh, koh
    huwaaaa itu tinggi bener😥

    • Sy Azhari
      May 31, 2011

      Gimana sih kamu! justru yg begini Syahrini suka. Rini kan suka kalo ada angin sepoi-sepoi menyeka rambut rini. Rini suka tau kalo di tempat tinggi, anginnya kencang jadi gak usah pake blower😀

  4. dansapar
    May 31, 2011

    dan aq baru tau lho klo magellan bersandarnya di cebu dari postingan ini, dlu taunya cm filipina aja🙂

    • Sy Azhari
      May 31, 2011

      ya aku juga baru tau pas browsing mau kesini,par. Sekarang jadi tau kan Magellan bersandarnya di Cebu. Tinggal Mas Anang ini yg belum tau bakal bersandar di Ashanti atau wanita lain. Pemirrrsssaahhhh

  5. ombolot
    May 31, 2011

    Itu … itu ada photo akoohhh *sujud syukur*
    Akhirnya nongol jg dblog ini *siap-siap pingsan cantik* *blowernya donk kakak ..*

    Mas anang kemaren pesen sama rini, kalo sebenernya masih seneng sama rini, cuman rini kan suka yg siap ngipasin rini, bawain asoseries rini, sama pinter make-upin rini *nyanyi* *aku tak biasa … jika memang bukan yg ini … kau yg memilih aku*

  6. Riyan Wahyudi
    May 31, 2011

    Yay, kayaknya jadi ni taon depan ke Cebu demi Sky Ride

    • Sy Azhari
      May 31, 2011

      ikooottt.. aku juga mau ke Coron (Palawan) dan balik lg ke Manila ini. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 31, 2011 by in Go-Sees, Philippines, travel, Visayas and tagged , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: