Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Tercantol Eksotisme Pulau Bohol

Chocolate Hills at Carmen

LEG 5 : Cebu » Bohol Island

Lelah menghabiskan waktu dari pagi hingga petang di Cebu, saatnya melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Bohol. Dari Cebu City memakan waktu hampir 2 jam menggunakan kapal cepat ke Tagbilaran yg merupakan kota terbesar di Kepulauan Bohol. Kalau Manila & Ilocos itu masukan dari saya, perjalanan di Cebu & Bohol ini kontribusi dari teman saya.

Menjelang petang, kita udah check-in & stand-by di ruang tunggu Pier 4 Cebu Port. Jangan bayangkan pelabuhan yg diisi orang-orang menyeramkan dan dipenuhi adegan tarik-tarikan rebutan penumpang oleh portir. Sejak pembelian tiket, kita udah dipandu petugas armada yg bersangkutan. Ya kalo mau naik Weesam Express bakal dipandu sampe ke bagian ticketing, demikian juga di Ocean Jet atau SuperCat serta armada lainnya. Petugasnya gak ada yang saling tarik penumpang. Kita milih pemberangkatan paling akhir yaitu Weesam Express pukul 6.30 yg ternyata molor hampir 1 jam. Suasana pelabuhannya juga enak kok. Ruang tunggu ber-AC hingga coffeeshop yg juga jual cemilan dan makanan berat seperti chicken steak atau beef tapa.

Peta Pulau Bohol & Panglao

Pukul 9.30 malam kapal akhirnya merapat di Tagbilaran Port, dan Ruben si supir dari Alumbung Alona udah menunggu kami. Pertimbangan kita minta layanan jemput dari resort karena kita nyampe di Bohol malam hari, jarak dari pelabuhan ke penginapan sekitar 27 km, dan ini bukan kota besar. Apalagi kami menginap di kawasan Alona Beach di Pulau Panglao yg merupakan salah satu andalan pariwisata Provinsi Bohol.

Singgah sebentar di McDo alias McDonald’s Tagbilaran untuk take away makan malem, kami langsung menuju penginapan melewati jembatan yg menghubungkan Pulau Bohol & Pulau Panglao. Di Alumbung kami disambut Roberto, officer dan pengurus penginapan ini…gak tau apakah dia juga yang punya. Alumbung ini gak terletak pas di tepi pantai, jaraknya 2 km dari Alona Kew White Beach.

Alumbung Alona

  • Chocolate HillsI’m sorry, you can’t eat em

Tujuan utama ke daerah Bohol adalah Chocolate Hills, si Lidah Naga ini ngebet banget sejak kita belum beli tiket bahkan. Chocolate Hills ini berupa 1700-an bukit karst yang menjulang di tengah pulau Bohol dan terselimuti oleh rerumputan. Saat musim panas, rerumputan tersebut mengering dan berubah menjadi kecoklatan dan mengakibatkan formasi berbentuk kerucut ini seperti cokelat. Mungkin dari situ mereka mendapat julukan Chocolate Hills. 2 tempat utama melihat formasi bukit-bukit ini ada di Sagbayan & Carmen walaupun sebenarnya bukit-bukit ini menyebar di tengah pulau dari Sagbayan, Carmen, Batuan, hingga Valencia.

Pagi hari sekitar jam 7 kami mulai berpetualang dan dimulai dari ojek bonceng 3 dari penginapan ke terminal Pulau Panglao sejauh 5 km dengan ongkos Php 60 (Rp 12.000). Dari terminal kita naik bis kecil seperti gambar di bawah menuju Rizal Park di kota Tagbilaran dengan ongkos Php 25/orang (Rp 5.000). Bis yg diperkirakan berkapasitas 20 orang itu diisi hingga hampir 2x lipatnya. Saya mendadak jago yoga karena mampu melipat tangan dan kaki di dalam bis saking sempitnya. Untungnya, lagi-lagi di sini gak kenal adat merokok di dalam angkutan umum ditambah udara pagi kepulauan ini yg bersih dan seger bebas polusi. Singgah sarapan dan beli bekal di Julie’s Bakeshop yg rotinya murah dan emmmmpuuuk banget itu kita menuju ke Dao Terminal yg ada di pinggiran kota Tagbilaran dengan tricycle (becak motor). Dari Dao Terminal kita menggunakan bis Fatima menuju tempat pertama yaitu Sagbayan Peak.

Moda transportasi di Bohol : Bis & Trike

Sagbayan Peak

Sagbayan terletak sekitar 40 km dari Tagbilaran. Bis menuju Sagbayan bisa ditemukan di Dao Terminal di samping pasar & Island City Plaza. Menaiki bis bernama Fatima, kami ‘diplonco’ jalanan tanah yg dipadatkan. Sudahlah, pasrah aja karena ini kan daerah pedalaman dan juga bukan jalan utama Provincial ataupun National Highway melainkan jalan sekelas kabupaten. Namun penderitaan itu usai hanya sekitar 5 km karena jalanan tanah berubah menjadi… eng ing eng.. Jalanan Cor Beton di sepanjang sisa perjalanan sampai Sagbayan Public Market. Jalanan tanah yg dipadatkan itu emang jalan belakang terminal menuju jalan ‘kabupaten’ yg dipersiapkan untuk diaspal beton juga. Mantab. Jadi iri lagi.

Perjalanan makin asoy saat si supir memutar lagu-lagu evergreen seperti MLTR ataupun lagu yg hype sekarang. Dan lagi-lagi, gak ada yang merokok di bis ini mengingat bis ini kelasnya oikos-nomos dan udara di luar cukup dingin. Pemandangan di luar juga buat saya makin senyum-senyum sepanjang perjalanan. Bentangan sawah yg luas bikin saya jadi kangen rumah, kangen Indonesia. Para petani yg lagi bekerja dengan latar belakang bukit nan hijau bikin saya ingat perjalanan saya akhir tahun kemarin di Toraja, apalagi disini juga banyak bukit karst seperti di Toraja dan sekitarnya.

Fatima Bus, Dao – Sagbayan

country road

1 1/2 jam perjalanan ditempuh dari Tagbilaran ke Sagbayan Public Market karena bis banyak berhenti menaik-turunkan penumpang atau juga ngetem. Dari Sagbayan Public Market kita naik ojek *yang lagi-lagi* bonceng 3 menuju Sagbayan Peak sejauh 3 km dengan kontur jalanan mendaki. Sampai di bawah kita bayar HTM sebesar PHP 30 (Rp 6000) untuk kemudian mendaki kecil ke Sagbayan Peak, salah satu Chocolate Hills yg dijadikan tempat rekreasi di puncaknya. Di Sagbayan Peak ini selain ada  observation deck  juga ada taman bermain anak, taman kupu-kupu, dan restoran kecil.

Jumlah Chocolate Hills disini lebih sedikit dibanding di Carmen, namun pengunjungnya lebih sepi. Dari sini kita juga bisa melihat pemandangan Selat Solo Cebu di balik perbukitan ini. Udara mendung yg sedari tadi menggelayuti Sagbayan berubah menjadi gerimis. Huffftt, sempet kesel juga. Udah jauh-jauh di mari naik pesawat, kapal, becak, ampe desak-desakan di bis malah ga bisa menikmati karena hujan. Berkat Doa Baim kesabaran menunggu, hujannya reda sekitar 30 menit kemudian. Langit jadi cukup cerah dan kita bisa menikmati sampai pukul 1 siang untuk kemudian menuju pemberhentian berikutnya, Carmen.

Oh iya, sebelum meninggalkan Sagbayan kita nyempetin melihat Tarsier si mamalia kecil. Melihat Tarsier dikerubungi orang-orang sempet kasian juga sih, apalagi pengunjung sini ada beberapa yg suka melanggar aturan kayak di…… *ah sudahlah*. 2 aturan utama melihat Tarsier secara langsung ini adalah : Dilarang Memegang Langsung & Dilarang Memotret dengan Flash. Tapi tetep aja yg curi-curi pegang sampai petugasnya dan saya juga sedikit membentak itu pengunjung ABG-ABG Labila Syakit.

Sagbayan Peak View

 Carmen

Carmen ini sebenarnya hanya berjarak 25 km dari Sagbayan dengan jalanan tanpa lobang. Namun karena bis yang kami naiki rada burok, jadilah perjalanan menjadi lambat dengan goncangan yg sangat keras. Di sepanjang perjalanan Sagbayan – Carmen ini kami disuguhi pemandangan bukit-bukit kerucut berwarna coklat ini, bedanya kalau tadi melihat dari atas bukit yang sekarang melihat dari jalan raya yg notabene lebih rendah. 1 Jam kemudian kami turun di Carmen Public Market dan lagi-lagi pemirssaaahh, ojek boncengan 3 orang menjadi andalan untuk sampai di Carmen. Carmen ini lebih turistik dibanding Sagbayan. Selain karena ramenya umat disini, juga sudah ada prasarana seperti hotel dan convention center di puncaknya Carmen. Tiket pun lebih mahal yaitu PhP 50 (+/- Rp 10.000).

Bukit coklat di Carmen lebih banyak dan lebih coklat daripada di Sagbayan. 360 derajat pemandangan dipenuhi ratusan bukit dengan rumput mengering sebagai penutupnya. Udara dingin yg segar juga jadi tambahan nilai di area ini. Sekitar 45 menit juga kami berada di Carmen. Gak puas-puas menikmati pemandangan & mengagumi ciptaan-Nya yg teramat unik. Masih terbengong gimana ribuan bukit ini terbentuk dengan bentuk yang hampir sama. Akhirnya kami mengalah oleh waktu karena kata orang-orang di pasar bis terakhir ke Tagbilaran hanya sampai jam 5 sore.

Chocolate Hills at Carmen

Chocolate Hills at Carmen

Sembari menunggu di Carmen Public Market, kami keliling sebentar di ‘kota’ Carmen yg lebih cocok disebut Desa ini. Singgah sebentar di warnet untuk burning foto-foto demi menyelamatkannya dari SD Card yg rusak. Terkejut banget karena koneksi internet di pedalaman Philippines ini teramat kencang sekali. Sapa sih Menkominfonya??? pengen gue boyong ke kampung deh. Keluar warnet, kita mencium bau-bauan yg cukup menggoda dan ternyata datang dari 2 kios yg datang dari sisi kanan dan sisi kiri si warnet yaitu kios yang menjual Lechon Manuk alias Ayam Panggang. Akhirnya kita beli 1/2 ekor ayam yg udah dibumbui dan dibakar dengan cara diputar-putar di panggangan besi ini. Kulitnya garing banget sedangkan dalemnya masih empuk. Aslinya sih Lechon ini menggunakan Babi yg lebih dikenal dengan nama Lechon Baboy & Lechon Kawali. Di ex-jajahan Spanyol juga Lechon ini make daging babi muda sebagai proteinnya.

Bis tujuan Tagbilaran datang gak lama setelah kita ijab dengan penjual Lechon Manok ini. Pukul 4.30 berangkat dari Carmen menuju Tagbilaran melintasi jalan negara yg mulusnya semulus wajah Edita Eilkevecutie. Tapi emang dasar angkutan darat di Bohol ini bikin kita mendadak jadi mahir beryoga karena satu baris bis kecil sekelas Kopaja ini bisa diisi 6 orang dalam 1 baris. Fabuloso!.

Untungnya perjalanan ini melewati daerah dengan pemandangan menakjubkan. Melewati kota-kota tua seperti Loboc, Baclayon, dan Alburqurque. Di setiap kota itu pasti kita melewati alun-alunnya yg dikelilingi Town Hall, Cultural Center, Public Market, dan gereja tua. Gereja-gereja di 3 kota tersebut emang keren banget karena masih mempertahankan keasliannya dengan bahan batu-batuan yg sudah bergradasi warnanya. Piazza di tengah kota pun juga rame dengan masyarakat beraktivitas terutama anak-anak. Dari sekedar bermain-main kecil sampe main basket. Satu hal yg saya kagumi dari penumpang bis yg tertib ini adalah saat bis kami melintasi gereja-gereja Katolik. Seketika sebagian dari mereka bakal membentuk tanda salib di dadanya, apalagi bapak-bapak yg duduk di sebelah saya selalu melakukan itu di sepanjang 2 jam perjalanan kita. Impresionante!.

Di Loboc, kita juga sempet melewati River Cruise area, tempat berlayar di sungai dengan kapal tradisional. Di atas kapal itu kita disuguhi atraksi lokal seperti musik & tari-tarian sambil menikmati makanan prasmanan. Awalnya kita berniat ikut river cruise, tapi karena hari beranjak sore kita membatalkannya. Perjalanan bis yang lambat pun membuat kita tiba di Tagbilaran di pukul 6.30. 2 jam dari Carmen yg hanya berjarak 45 km sebenarnya. Singgah sebentar untuk makan malam di BQ Mall, tempat paling hype seprovinsi Bohol saya rasa. Nyempetin juga buat beli SD Card & logistik di sini. Yang paling bikin sakit hati di tempat ini adalah, kota sekecil Tagbilaran yg kalo di Indonesia mungkin hanya sebesar Purwakarta…. ada Bioskop yg menayangkan film 3D dan yg sedang ditayangkan adalah Thor. Ngehek ah. Berhubung udah malem dan kita juga udah nonton Thor di Manila, kita balik ke penginapan dengan trike menempuh 27 km lagi. Pfffff… hari yang melelahkan tapi juga menyenangkan berkat pemandangan dan pengalaman perjalanan hari ini.

Manuk’e manuk’e manuk Lechon

Pie Nenas, Bolu Ubi Ungu, Pie Kelapa

Chocolate Hills from Sagbayan Peak

Mas-mas Bahenol di Bohol

Those eyes.. those eyes.. those eyes will haunt you

7 comments on “Tercantol Eksotisme Pulau Bohol

  1. ombolot
    June 1, 2011

    Habis liburan ah nulis cerita dua bahenol di Bohol …

    • Sy Azhari
      June 1, 2011

      liburan ke mana,om? ke nikahannya Bayu di Dumai ya? eeaaaaa

  2. utserini
    June 1, 2011

    setelah kmrn di blog si om, sekarang kokoh… *ngeces lagi*

  3. marshmallow
    June 6, 2011

    Magandang umaga po!

    Koh, seru sekali perjalananmu. Fotonya juga kewen-keweeen… Aku iriii… *jambak-jambak rambut Miska*

    Hebat ya kepatuhan penduduk di sana untuk tidak merokok di tempat umum. Pasti menkominfonya bagus banget deh. Trus sebelum lupa, itu manisan mangga buatku simpan di kulkas aja dulu, ya. Mungkin agak lama menjem*utnya. Sekalian ambil magnet di kulkasnya.

    • Sy Azhari
      June 6, 2011

      salamat, po
      Mbak aku fitri mbak.. bukan Miska! heheheh

      aku juga salut, di Manila jarang ada tempat sampah tapi konsekuensinya juga jarang ada sampah. salut deh buat negara yg lebih miskin dari kita. Btw, itu Manisan Mangga yg mana ya? saya amnesia :p

  4. dansapar
    June 6, 2011

    wah ini perjalanan mendebarkan ya
    terutama naik ojek bertiga
    tapi bukit teletubbiesnyaitu keren
    trus yg dibawah itu unyuuuuu

    • Sy Azhari
      June 6, 2011

      kau bayangkan para bahenol bonceng 3 di bohol,par. Sungguh Pewis Hilcen & Nicow Witty in Simple Life banget kan. Naik ojeknya sih gak mendebarkan, yg lebih mendebarkan itu naik bisnya. Bis selebar kopaja diisi 6 orang sebaris gimana ceritanya itu.. kaki ama paha gue kram pas turun. Bangkunya dari besi lagi😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 1, 2011 by in Go-Sees, Luzon, Philippines, travel, Visayas and tagged , , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: