Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

In Transit : Kultura & NAIA

Airside of T-3 NAIA

LEG 6 : Panglao Island » Manila » Ilocos

Niat menyaksikan matahari terbit di Alona Beach di hari terakhir di Bohol sirna sudah gara-gara bangun kesiangan. Mending ya kesiangannya sekalian bablas 2-3 jam. Nah ini telatnya paling 20 menit doang. Bela-belain bangun jam 4.30 dan jalan kaki dari resort ke pantai sejauh 2 km gak terkejar juga. Untung cuaca agak mendung, jadi matahari terbit gak terlalu bagus *menghibur diri*. Walhasil kita cibang-cibung aja sebentar di sana sampai pukul 9. Beranjak ke resort untuk mandi, beres-beres,dan siap-siap menunggu tricycle yg akan membawa kami 27 km ke Tagbilaran.

Sesampainya di Bohol untuk numpang sarapan doang, langsung cicing ke Bandara Tagbilaran yg ukurannya mini banget. Mungkin luas terminal bandara ini hanya sebesar terminal bis Lebak Bulus atau sebesar Bandara Tarakan kalau di sini. Ruang check-in tanpa AC dan hanya melayani 4 maskapai : Philippines Airlines, Cebu Pacific, Airphil Express, & Zest Airways. Ruang tunggu 2 lantai berpendingin pun dibatasi penggunaannya. Penumpang hanya boleh masuk sejak 2 jam sebelum boarding timenya demi memperlancar sirkulasi penumpang. Yah, wajar sih untuk bandara dengan airport tax yang hanya sebesar … PhP 20 alias Rp 4 Ribu perak doang. Layaknya kebanyakan bandara domestik lain di Philippines, di ruang tunggu terdapat tukang pijat tuna netra yg terorganisir. Lumayan buat membunuh waktu menunggu penerbangan tiba.


Airphil Express kami akhirnya take-off tepat waktu sekitar pukul 1.35 siang dan mendarat sekitar pukul 2.30 di NAIA Terminal 3. Penerbangan kami selanjutnya ke Laoag masih 4 jam lagi di pukul6.30, ngapain 4 jam ini di bandara?. Akhirnya kami memutuskan untuk belanja oleh-oleh di tempat terdekat yaitu di Ayala Center dekat Greenbelt, sekitar 8 km dari T-3 NAIA. Ada yg lebih lengkap sih di SM Mall of Asia tapi lebih jauh dari terminal-3, deketnya ke Terminal-1. Sementara ini kali terakhir kita ada waktu luang di Manila. Apa 4 jam cukup untuk check-in, antri taxi, berangkat ke Ayala Center di Makati, belanja, antri taxi lagi, ke bandara lagi, ngelewati security check di entrance gate, ngelewatin security di boarding area, & nyampe dengan tenang di boarding room ? Disinilah naluri sebagai penonton setia The Amazing Race selama 18 seasons bangkit sebangkit-bangkitnya.

Dimulai dari lari-lari dari Arrival Area di lantai 1 T-3 menuju Departure Area di lantai 3 untuk check-in dan nitip bagasi di counter Cebu Pacific untuk penerbangan ke Laoag. Dilanjut balik lagi ke lantai 1 untuk ngantri taxi, dan seperti biasa antrian taxi disini sungguh edan. Saya rasa kami ada di sekitar urutan ke 25 deh. Kalau bandaranya cuma segede Makassar sih gak masalah bolak-balik lantai 1-4. Nah ini luasnya 3 kali bandara Hasanuddin Makassar. 20 menit akhirnya bisa dapet taxi, dan saat itu udah hampir pukul 3.30. Sempet khawatir karena Manila ‘katanya’ terkenal dengan kemacetan sementara ini kan hari kerja (Rabu, 18 Mei 2011). Nanya-nanya juga ama si supir taxi yg kalo ke Indonesia minimal dapet peran lah di sinetron produksi Gentabuana Paramita itu apakah di Manila ada traffic jam selepas jam kerja, dan dia menjawab ADA!. Sampe SM Makati sekitar jam 4 dan sempet seneng taxinya didiskon 10 peso sama si supir cuma gara-gara saya bilang Filipino lebih cakep dari orang Indonesia *lah dia yg maksa bilang lebih cakep*.  Ternyata SM Makati ini tepat di pintu barat Ayala MRT Station tempat kita turun kemarin buat jalan-jalan ke Bonifacio. Saat itu kita keluar melalui pintu timur sih, jadi ndak keliatan. Langsung aja kita lari-lari menyusuri SM Makati yg seperti mall lainnya, ukurannya segede bage aja dulu. Ada kali seluas PIM 2 berikut skywalk. Dan akhirnya nemu toko yg kita cari di lantai 2 yaitu :

Aselinya, Kultura ini toko oleh-oleh yang paling kesohor di Philippines selain Balikbayan. Bedanya, Balikbayan unggul di handicraft sedangkan Kultura lebih luas range barang-barang yg dijual. di Kultura kita bisa beli kaos-kaos dengan gambar khas Philippines, miniatur & gantungan kunci ikonik berbentuk Jeepney & Tricycle, & makanan seperti manisan mangga kering. Ada juga minuman beralkohol khas lokal, cigarette, kue-kue kering, biskuit, dan makanan khas Philippines yg jarang kita lihat disini.

Selain yg umum, di Kultura juga menyediakan oleh-oleh standar namun dengan desain pop art seperti tas-tas di bawah ini :

Chaca Bag (taken from serialtripper.com)

Kalau di Indonesia mungkin toko ini bisa dibandingkan dengan Mirota di Yogyakarta kali ya. Selain di SM Makati, Kultura punya cabang di beberapa tempat seperti di SM Mall of Asia, SM North EDSA, SM Megamall, dan SM Cebu. Selain di mall tersebut kita juga bisa liat counter Kultura di SM Departement Store di Metro Manila dan beberapa kota lain seperti di Bacolod (Pulau Negros), Baguio, Cagayan de Oro (Pulau Mindanao), dll. Lihat aja Store Locator mereka kalau mau tau lebih lengkap.

Sedangkan kalau mau lihat beberapa gambar produknya bisa dilihat di salah satu post blog luar : Serial Tripper. Karena kita cuma punya waktu sejam, ya mana sempet moto-moto. Waktu belanja 1 jam itu juga hasil rembugan karena butuh survey lagi. Menuju kesini udah macem kontestan The Amazing Race, eh giliran belanja serasa jadi kontestan KDI Supermarket Sweep… lawas banget yak.

Sebenarnya di sini mau ngincer Kemeja Serat Nenas yg jadi baju nasional para pria di negara ini. Tapi begitu liat harganya Php 4500 (+/- 900ribu), langsung niat itu dibatalkan.. hiksss…

Cap cip cup belalang kuncup, akhirnya dieksekusi juga kaos sebanyak *tiiiittt..sensor..aurat* dan beberapa souvenir kecil buat handai Andre taulan di kampung halaman. Pukul 5 kita udah kelar belanja dan beranjak pulang. Eh, ndilalah pas di lantai bawah SM Hypermart si Lidah Naga ngidam rujak. Untung batal gitu liat buahnya yg seadanya aja ditambah kita yg masih kejar-kejaran ama waktu. Pas nunggu taxi kita deg-degan juga sih, untung masih dikit penunggunya. Mana udah jam 5 dan udah kelar office hour disini, otomatis macet pasti menghampiri kita.

Ketika udah dapet taksi menuju bandara kita dikejutkan dengan pemandangan di EDSA (Epifanio Del Los Santos Avenue, Jalan Gatot Subroto-nya Metro Manila)… Mana yang katanya Manila Macet!!! gak ada tanda-tanda macet sama sekali di jam pulang kerja. Ayala Center ke NAIA Terminal 3 kita tempuh dalam waktu 20 menit ajah dengan ongkos Php 150 berikut tips supirnya. Dan begitu sampai di  T-3 NAIA dengan tenang, eh dapet berita pesawatnya delay 30 menit. Nyahok lohhh!!!.

NAIA Map (from Wikipedia)

Inilah pintu gerbang utama memasuki negara Philippines. Letaknya tak jauh dari pusat kota (Makati & Manila), hanya berjarak 8-10 km saja. Layaknya Indonesia dengan Bandara Soekarno-Hatta, Philippines dan NAIA juga punya love-hate relationship. Orang-orang suka karena akses kesini gampang, tapi orang-orang ga terlalu suka dengan fasilitas seadanya disini.

NAIA terdiri dari 4 terminal & 2 runway yg saling berpotongan. Terminal 1 tempat semua penerbangan internasional dengan maskapai asing. Terminal 2 eksklusif digunakan oleh Philippines Airlines, untuk penerbangan domestik & internasional. Terminal 3 atau yg terminal paling anyar digunakan oleh Cebu Pacific Air & Airphil Express untuk semua penerbangan domestik & internasional, dan juga Air Nippon Airways (ANA) yg menjadi satu-satunya maskapai asing yg menggunakan terminal di luar T-1. Terminal terakhir adalah Domestic Terminal yg digunakan oleh maskapai lokal Zest Airways & SEAIR (d/h Asian Spirit).

Terminal 1 sebagai pintu gerbang masuknya sebagian besar turis internasional mirip-mirip dengan Terminal 1 Bandara Soetta. Agak kumuh dan rame. Untungnya kita mendarat disini pukul 5 pagi sehingga gak terlalu rame. Tapi melihat area kebarangkatan di atas,behhh…. rame edan. Beberapa hari yg lalu Presiden Benigno Aquino III (Noynoy Aquino) inspeksi mendadak dan kepala Terminal-1 dikasi deadline untuk memperbaiki terminal yang berbentuk seperti huruf Y ini.

Terminal 2 dikhususkan untuk Philippines Airlines, karena selama di sana kami gak pernah menggunakan PAL jadi ya gak pernah liat langsung kondisinya. Terminal ini lebih ngetop dengan nama Centennial Terminal karena mulai digunakan mulai tahun 1998 saat 100 tahun kemerdekaan negara ini. Terminal ini berbentuk V dengan 12 garbarata.

Terminal 3 adalah terminal yang paling sering kami gunakan. 2 kali berangkat dari sini dan 2 kali juga mendarat disini. Luasnya hampir 200 ha atau sekitar 3 kali Bandara Hasanuddin Makassar atau 2,5 x bandara Juanda Surabaya. Punya 18 garbarata dan 34 gates. Dari gate paling ujung ke ujung panjangnya sekitar 1,2 km. Pffiuuhhh. Untungnya bandara ini belum beroperasi sepenuhnya karena niatnya bakal digunakan sepenuhnya saat Terminal 1 direnovasi sehingga maskapai asing pindah kesini. Dari 6 row check-in area (A s/d F), hanya 4 (C s/d F) yg sudah digunakan. Gate 111-115 digunakan untuk penerbangan internasional, gate 116-134 digunakan untuk penerbangan domestik Cebu Pacific & Airphil Express. Terminal ini berjumlah 4 lantai dan desainnya seperti bandara modern yg lagi hype belakangan, seperti huruf T.

Di lantai 4 Terminal 3 ini ada beberapa butik dari brand ternama maupun lokal. Kemudian beberapa restoran lokal seperti Max’s, Jolibee, Mang Inasal dan lainnya. Ada juga 2 toko kelontong yaitu yg lokal punya, Mini Shop, dan internasional punya, 7-Eleven. Untungnya di depan 7-Eleven gak ada kerumunan ABG yg belagak mabok padahal minumnya Mix-Max doang kayak di Jl Mahakam… ooppss.

Jeleknya bandara ini adalah minimnya Ground Transportation. Hanya ada taxi & loop bus yg mengitari Terminal 1 – 2 – 3 – Domestic – Baclaran LRT Station. Gak ada semacam Skybus kayak di LCCT-KLIA, Damri di Soetta, atau Fly Away di LA (lagak lo koh ke LA!!).

NAIA & Makati’s Skyscrapers (from Skyscrapercity.com)

Dari foto di atas kelihatan kerumunan bangunan pencakar langit di Makati CBD yg gak jauh dari bandara (sisi kiri atas). Pas di bawahnya adalah Terminal 3 dengan susunan garbarata yg rame. Bangunan berbentuk V beratap putih dekat ATC Tower di tengah gambar adalah Centennial Terminal. Sedangkan bangunan yg dikelilingi pesawat berekor warna-warni dari jingga dan biru adalah Terminal 1.

Terminal 1 NAIA (from Skyscrapercity.com)

Terminal 1 dengan latar belakang Manila’s skyscrapers & Makati’s skyscrapers. Semua maskapai asing mendarat disini. Oh, iya di depan Terminal 3 NAIA ini ada Resort World Manila. Gak seheboh yg di Sentosa Island Singapore sih. Cuma ada beberapa hotel besar seperti Marriot, kasino, dan mall berikut bioskopnya. Dari area kedatangan T3 NAIA tinggal lurus aja naik tangga menuju jalan raya dan nyeberang sekitar 50 meter udah nyampe. Ada beberapa coffee shop & 7Eleven yg buka 24 jam. Lumayan buat nunggu penerbangan di pagi buta.

Centennial Terminal (kiri) & Terminal 1

Karena kami sebelumnya tidak berekspektasi terhadap bandara ini berikut fasilitasnya apalagi ditambah review dari pejalan-pejalan bule yg detil banget dengan kondisi suatu tempat, sempet bikin keder kita juga. Namun ternyata kenyataan di lapangan gak berkata demikian. Terkadang standar si bule ini masih menggunakan standar negara asalnya yg rapih dan gemah ripah loh jinawi banget. Oleh kita yg sesama Asia Tenggara menganggap hal biasa, oleh mereka bisa beda pengalamannya. Jangan dibandingin kita yg udah kebal liat toilet terminal 1 Soetta dengan mereka.

Demikian juga dengan macet di Manila. Lah kalo pernah menempuh Senen-Bintaro dalam 7 jam atau sering terjebak macet di Sudirma-Thamrin-Semanggi-Kuningan pada hari jumat, niscaya lalu lintas di sini gak ada apa-apanya deh. So, manage your expectation aja intinya deh.

Alona Beach

Lokasi NAIA, deket kan dari pusat kota

6 comments on “In Transit : Kultura & NAIA

  1. ombolot
    June 10, 2011

    Thank God, yg pergi Medina Kamil sam Zweta Manggarani, coba ya diana punky ama diah permatasari yg jalan … bisa saling tukeran pasport tuh #eeaaa

    • Sy Azhari
      June 10, 2011

      mesti cekatan dong ya. yg satu ngambil trolly, yg satu ngumpulin bagasi. ndak ada yg asik sendiri kecuali emang kesepakatan dong

  2. dansapar
    June 10, 2011

    apalagi klo yga pergi syahrini dan aisyahrini, ya ombolot
    bisa2 4 jam itu cuman buat masang bulu mata anti tsunami aja
    eeaa

    tapi yg ini bener2 bikin deg2an kayak ikutan penghuni terakhir
    eeaaa

    • Sy Azhari
      June 10, 2011

      astaga, itu kenapa nama-nama Skuter itu dibawa2 ke blog gue *bersih2*

  3. Pingback: [Travel Story] Sekejab Manila « Just Me And My Own World

  4. Judd
    September 22, 2011

    Well, if you liked Kultura Filipino, I think you will like the Silahis Center as well. I’ve also written about it!😀 Haha it’s here: http://serialtripper.com/2011/09/the-silahis-center-manila/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 10, 2011 by in Go-Sees, Luzon, Philippines, travel and tagged , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: