Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Ilocos Road Trip

Bangui Windmill dari Pan-Philippines Highway

LEG 8 :  Ilocos Norte Road Trip

Sejatinya, perjalanan ini adalah perjalanan jadi-jadian alias kalo jadi ya bagus, kalo gak jadi ya gak apa-apa juga. Dana, transportasi, serta fisik menjadi cabaran dalam memutuskan apakah kami bakal muter-muter di provinsi Ilocos Norte ini. Dari hasil ngobrol-ngobrol lewat email sebelum kami ke Philippines, Villa Angela menawarkan tur dengan kendaraan mereka sekaligus mengantarkan kami ke bandara untuk mengejar penerbangan malam. Tapi harga yg ditawarkan cukup mencekik yaitu sekitar Php 12.000 (Rp 2,4 juta) untuk antar-jemput dari/ke Bandara beserta tur di Ilocos Norte atau Php 8000 alias Rp 1,6 juta untuk antar ke bandara + tur Ilocos Norte. Gleekkk... maka kami tampik lah tawaran itu.

Berhubung yang lagi jalan ini tipenya Riyani Jangkaru-esque & Zweta Maharani-esque, semangat Spartan pun gak gampang padam. Akhirnya saya bergerilya ke forum-forum untuk mengecek akses & biaya keliling di Ilocos Norte. Salah 3 forum yg saya kunjungi adalah Tripadvisor, Thorn Tree, & forum yg dulunya saya aktif di sana, Skyscrapercity. Diputuskan lah bahwa rencana kita ngeteng aja dari Vigan ke Laoag naik bis Partas, Laoag ke Paoay naik Jeepney karena cuma 7 km, dan Paoay ke Bangui naik bis Florida yg warnanya neon pink aja dulu, dan dari Bangui balik ke Laoag naik bis yg sama.

Welcome to Laoag, Ilocos Norte.

Adiós Ilocos Sur, Bienvenido a Ilocos Norte

Pukul 7 pagi kita udah kelar beres-beres dan dilanjut sarapan di Villa Angela, Vigan. Segera meluncur dengan trike ke terminal bis Partas di Vigan Public Market. Gitu turun dari trike, langsung kelihatan bis dari Manila-Laoag udah bergerak. Jadilah 1 dari kami menghadang bis dan 1 lagi mengurusi pembayaran dengan abang-abang tukang bakso trike. Perjalanan dari Vigan ke Laoag memakan waktu hampir 2 jam. Jarak 80 km ditempuh dengan bis yang bolak-balik berhenti menaik-turunkan penumpang.

Sewaktu keluar dari toilet terminal bis Partas – Laoag, saya ditawari trike & taksi. Saya tanya ada yg menyewakan mobil, dan mereka mengarahkan saya untuk pergi ke seberang terminal. Diskusi dulu dengan teman saya, akhirnya kami menuju rumah yg dimaksud. Di rumah tersebut kami ditawarkan mobil kabin ganda untuk keliling Ilocos Norte meliputi Paoay Church, Burgos Lighthouse, Bangui Windmill, dan balik ke bandara. Harga pembukanya PhP 4000 (Rp 800 Ribu) dan setelah melewati proses negosiasi akhirnya jatuh di harga PhP 3000 (Rp 600 Ribu) untuk pemakaian hingga pukul 6 sore.

Oh iya, walaupun biaya hidup di Philippines lebih murah daripada di Indonesia, namun harga rental mobil + bensin disini lebih mahal dari Indonesia. Hal ini disebabkan harga bahan bakar yg mahal. Harga termurah yaitu diesel sekitar PhP 52-55 (Rp 10.400 – 11.000) tergantung di pom bensin mana, Caltex, Petron, Shell, atau Total. Lah kan disana harga BBM kagak disubsidi pake uang pajak kayak disini. Alokasinya bisa dipake buat mensubsidi harga tiket LRT/MRT dan bangun jalan cor beton sepanjang mata memandang, gak dipake buat subsidi orang-orang yg punya kendaraan tapi masih pake premium *uhuk*.

Karena BBM mahal, orang disini masih banyak yg pake angkutan umum walaupun belum secanggih Malaysia & Singapore, bis sekelas PPD atau Mayasari Bakti silih berganti dengan Jeepney merupakan pemandangan biasa. Jarang saya lihat ABG-ABG dandanan menor, make-up tebal, atau overdressed sore-sore berkeliaran naik motor kebut-kebutan menghabiskan bahan bakar dengan sia-sia.  Lah wong motor juga jarang kok di sini. Faktor kenyamanan dikesampingkan, faktor penghematan diutamakan, dan faktor gengsi dibuang entah kemana.

Balik lagi ke perjalanan kami. Setelah sepakat dengan harga segitu, kami pun berangkat ke tujuan pertama. 7 Km ke arah selatan kota Laoag menuju kota kecil Paoay dimana terdapat :

Paoay Church (St Augustine Church in Paoay)

PAOAY CHURCH

Gereja tua ini merupakan satu dari beberapa gereja di Filipina yang dijadikan UNESCO World Heritage Site. Bangunannya ‘East meet West’ banget. Facade gereja ini mengombinasikan gaya Gothic & Baroque, tapi bahan yang digunakan adalah jenis batu yg mirip dengan yg digunakan untuk membangun Kuil & Candi di Indocina atau Indonesia. Dinding-dinding batu ini pun juga dipenuhi dengan ukiran layaknya candi. Pengen masuk ke dalam, sayangnya ada yg sedang melakukan pemberkatan pernikahan. Beberapa situs  mengaitkan gaya bangunan gereja ini dipengaruih gaya bangunan Candi Borobudur.

Di depan gereja ini terdapat taman yang luas, kemudian dikelilingi sekolah dan kampus. Tamannya ditumbuhi bunga melati dan beberapa jenis yg saya gak tahu namanya. Rencananya di sekitar gereja bakal dibangun hotel dan prasarana lain demi mengakomidasi wisatawan yg makin sering membanjiri Paoay. Daya tarik Paoay memang bukan hanya gereja ini semata. Ada Danau Paoay dengan beberapa resort & padang golf di sekitarnya, kemudian ada Malacanang of the North atau dalam bahasa lokal (Ilocano) disebut dengan Malacañang ti Amianan. Mansion tua dengan arsitektur kolonial Spanyol ini berada tepat di tepi Danau Paoay. Fungsi utamanya adalah sebagai salah satu rumah peristirahatan keluarga mantan Presiden Filipina, Ferdinand Marcos. Marcos sendiri merupakan putra asli provinsi Ilocos Norte. Saat ini, puteri pertamanya Imee Marcos menjabat sebagai Gubernur Ilocos Norte. Sayangnya kami hanya melihat dari jalan raya karena waktu yg takutnya gak cukup.

Saat kendaraan kami balik ke arah Laoag, saya melihat papan bertuliskan “Paoay Sand Dunes”. Walaupun saya udah browsing tempat-tempat di Ilocos Norte mana yg mau saya datangi, tempat ini luput dari perhatian saya. Saya menemukan tempat ini dari artikel di majalah Venture. Akhirnya kami pun minta pak supir & navigatornya untuk singgah sebentar ke sini.

♫ desir pasir di padang tandusss ♫ -pasang cadar-

PAOAY SAND DUNES

Paoay Sand Dunes terletak 5 km dari jalan raya Paoay-Laoag. Area seluas  85 km sq (setengah kota Bandung) di tepi Laut Cina Selatan ini punya kontur berbukit-bukit dan sesuai dengan namanya, area ini diselimuti pasir. Tempat ini sering juga disebut dengan Desert of the North. Untuk menambah nilai jual pariwisata lahan kering ini, ada operator yg menyediakan aktivitas seperti 4×4-riding & sandboarding. Terbentur dana, kami pun batal mencoba keduanya :(

Padang pasir ini sering digunakan untuk syuting film lokal.Katanya juga pernah ada 2 film Hollywood pernah syuting disini, yaitu Mad Max & Born On The Fourth of July. Syutingnya disini, Mase Tom Cruise nginepnya di Villa Angela Vigan… di tempat kami menginap itu.

Perjalanan dihentikan sejenak di Laoag untuk makan siang. Selesai dari sana, kami langsung menuju kota Burgos untuk singgah ke Cape Bojeador Lighthouse, yg dikenal juga dengan nama Burgos Lighthouse.

Cape Bojeador Lighthouse

CAPE BOJEADOR LIGHTHOUSE

Menara setinggi 20 meter dengan bangunan dari batu-bata ini didirikan di ketinggian 160 meter di Bukit Vigia de Nagparitan, Burgos, Ilocos Norte. Cape Bojeador Lighthouse ini merupakan titik ujung barat-laut Pulau Luzon. Mercu suar ini sekarang dialih-fungsikan sebagai mini-museum & penginapan. Hmm.. kalo disuruh nginep di bangunan tua & agak terpencil ini sih saya mikir-mikir dulu lah. Biarpun dibayarin dan ada temen juga tetep aja nolak, masih trauma dikit ama penginapan tua di Vigan itu.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri Pan Philippines Highway ke arah timur. Sekitar 10 km dari Burgos kita nyampe di Bangui, tempat Electric Windmill pertama di ASEAN setelah Holland Bakery di Jakarta.

Bangui Windmill

BANGUI WINDMILL

19 kincir raksasa berputar-putar menghadap Laut Cina Selatan. Awalnya, proyek ini hanya membangun 15 kincir yg dioperasikan sebagai pembangkit listrik. Di sekitar kincir kini banyak dibangun beberapa warung nasi (mirip di Indonesia) dan kafe. Mengakomodasi kian meningkatnya wisatawan yg datang ke sini mungkin.

Pemandangan di sini dramatis banget. Ke arah timur bakal terlihat perbukitan yg mengikuti kita sejak dari Ilocos Sur, dan mengingatkan saya akan megahnya Bukit Barisan di Indonesia. Godek ke arah utara & barat bakal disambut deburan keras Laut Cina Selatan. Cukup lama juga kita disini menikmati pemandangan spektakular ini. Kalah oleh waktu, kami pun melipir sejauh 20 km makin ke timur menuju :

SAUD BEACH, PAGUDPUD

PAGUDPUD BEACH

Awalnya kami kira pantai ini terbuka untuk umum seperti di Alona Beach. Namun apa daya, kami kalah oleh industrialisasi. Semua sudah dikavling-kavling sesuai area hotel & resort. Kami pun harus membayar sekitar Php 100 (Rp 20ribu) untuk masuk ke salah satu pantai yg ada. Oleh supir kami digiring ke area Pagudpud Saud Beach.

Pantai dengan pasir putih sepanjang 1,5 km membentuk cekungan terhampar di sini. Dari Saud Beach ini terlihat jejeran Bangui Windmill dengan perbukitan di belakangnya. Indah banget!. Pengen cibang-cibung di pantai kok ya males, karena masih terik aja gitu jam 3 sore. Gak takut item sih, tapi gak mau kena kanker kulit atau sunburn aja.

Pukul 4 kita balik ke arah Laoag. Masih 100 km lagi, tapi perjalanannya hanya butuh 1 jam karena mobil yg ngebut ditambah jalanan mulus banget. Sebenarnya kalau masih ada waktu kita bisa meneruskan perjalanan ke timur, ke arah Cagayan. Dari hasil browsing, Di sana daerahnya cenderung berbukit-bukit dan suhu udara lebih dingin. Jalur yg dilalui juga gak kalah menyenangkan untuk dilihat karena di situ ada Patapat Viaduct, elevated road di tepi pantai dan juga diapit bukit. Pemandangannya bagus , tapi yah saya cukup puas juga dengan perjalanan kali ini.

Patapat Viaduct (from Tripadvisor.com)

Patapat Viaduct (from Polarisbeachhouse.wordpress.com)

Pukul 5 sore kami sudah tiba di Laoag. Alih-alih diantarkan ke Bandara, kami minta diturunkan di Jolibee tepat di pusat kota Laoag untuk makan malam. Supirnya minta extra fee karena di kesepakatan awal gak ada rencana ke Paoay Sand Dunes & Pagudpud Beach. Saya beri tambahan Php 500. Di Jollibee pada pesen ayam bakar 2 potong masing-masing…geuleuh. Si Lidah Naga mesen SPICY chicken yg pas dirasain… dimana letak pedesnya?!. Sama Ayam Bakar di warung Padang mah kalah jauh lah. Untuk infrastruktur kita memang boleh kalah, tapi soal rasa… lidah gak bisa bohong *korban iklan*.

Overall, kami puas banget menjalani road trip disini. Terutama karena infrastruktur jalanan yg sangat mendukung. Sejak kita berangkat dari Vigan sampai ke Pagudpud ini gak ada sehasta lubang di jalan negara. Ya ealaaaah, wong jalannya dari Beton. Jalanan dari Beton ini emang mahal di initial cost, tapi kan murah di perawatannya. Gak hanya di sepanjang jalanan Pan-Philippines Highway, namun jalan provinsi dan kecamatan antara Laoag-Paoay yg bukan berada di jalur utama juga gak ada yg bolong. Menyenangkan banget kalo road trip disini. Andaikan negara kita juga infrastruktur jalanan negara maupun akses ke tempat pariwisatanya sebagus disini, saya yakin bakal memikat lebih banyak wisatawan. Bukan apa-apa, objek wisata di Indonesia itu juga gak kalah bagus kok. Tak usah dibandingkan dengan pantai-pantai di Bali, Lombok, atau Indonesia Timur, pantai-pantai di Ilocos ini masih kalah kok dengan yg di Sumatera bagian barat. Cuma masalah pengelolaan & sarana penunjang aja kok. Oh ya, satu lagi : KEBERSIHAN. Jarang ya saya lihat tempat wisata disini kotor oleh sampah makanan ringan atau kaleng bekas minuman ringan. Penduduknya kebanyakan udah sadar dengan sense of belonging terhadap aset mereka sih ya.

Hari pun menjelang malam, kami beranjak dari Jollibee menuju bandara mengejar penerbangan pukul 20.15 ke Manila. Dengan menggunakan trike dan ongkos Php 150 kita pun cicing ke Laoag International Airport yg eksotis gedungnya. Waktu kita landing disini gak memperhatikan jarak dari bandara Laoag ke Pusat Kota saking capeknya. Ternyata cukup jauh juga dari pusat kota ke Bandara, sekitar 8 km. Pantesan abang tukang becaknya gak mau ditawar PhP 100… ditawar ongkos becaknya loh, bukan nawar yang laen #eeeaa #dijelasin.

View from Cape Bojeador Lighthouse

anak hilang

Windmill

Pagudpud Saud Beach

Bangui Windmills, Ilocos Norte, Province

Bangui Windmills, Ilocos Norte, Province

8 comments on “Ilocos Road Trip

  1. ombolot
    June 21, 2011

    Aarrgghh … pengen lagi .. lagi .. dan lagi ..

    buat temen guweh, yg bilang disana ada apa seeh, MAKAN neeh !!!

    • Sy Azhari
      June 21, 2011

      makanya, temennya tuh diedukasi. dikasi link blog gue dong. kan lumayan nambah2 traffic. eaaaa #trafficwhore *lirik sapar*

  2. dansapar
    June 23, 2011

    huwhahahahaa….
    eh beneran lho #Vlog itu bikin traffic naik
    *tetep dibahassssssss*

    wah pantainya bersih …
    windmillnya bikin pgn bikin video klip trus make blower2
    biar baju dan rambutnya berefek melayang
    *syahriniiiii bgt deh gue*

    • Sy Azhari
      June 23, 2011

      Lah gimana gak bersih, wong tiap pagi ada yg bersihin pake garpunya Pat Kay… pemandangan jamak tuh, kita liat di Alona Beach. banyak yg bersihin pantai pake garukan tanah (apa sih nama bakunya?)

  3. dansapar
    June 24, 2011

    akyu cahu itu benda apya, capi akyu cidak cahu apa namanya, kokoh
    *tetiba cinca laura gini*
    di ancol aja g sebersih itu yaa…

  4. Sy Azhari
    June 24, 2011

    Kalo bandingin dengan Ancol sih gak fair,par. kalo Ancol mungkin bandingannya San Miguel by The Bay. Kalo pantai2 gini sih dibandingin ama pantai-pantai di barat Sumatera baru imbang. Sama-sama di kota kecil di pulau yg rame gitu

  5. Pingback: In Transit : Sleepless in Manila « Here, There, & Everywhere

  6. Asiapolitan
    March 12, 2013

    Wah looks like fun ya. Originally I wanted to spend time in Dumagute but Ilocos looks so amazing esp the Sand Dunes. Btw like your writing in Bahasa. Kocak! Do you write in English? Write for asiapolitan Bang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 21, 2011 by in Go-Sees, Luzon, Philippines and tagged , , , , , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: