Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

In Transit : Sleepless in Manila

Cebu Pacific Air ATR 72-500

LEG 9 : Laoag » Manila

Lelah melakukan perjalanan darat menyusuri provinsi Ilocos Norte, kami beranjak ke bandara Laoag mengejar penerbangan Cebu Pacific jam 8 malam tujuan Manila. Jam 6 sore kita udah duduk manis di bandara Laoag yg eksotis itu. Karena cuma membayar PhP 40 (Rp 8.000) untuk airport fee, kita sih gak berharap banyak dengan fasilitas bandara kecil ini terutama ruang tunggu dan pendingin. Seperti kasus di Bandara Tagbilaran dengan airport fee cuma PhP 20, tapi ruang check-in gak pake pendingin dan ruang tunggu gak sembarang bisa masuk. Namun seakan menampik anggapan saya, ruang tunggu & check-in area di bandara Laoag ini kurang ajar banget dinginnya. Jaket tebal yg terakhir saya pakai untuk tidur di Changi & sepanjang penerbangan Singapore-Manila saya pakai lagi karena dinginnya ruangan.

Laoag International Airport – Departure Terminal

Penerbangan dengan pesawat tATR 72-500 turbopop berbaling-baling  itu ditunda hingga 20.30 dan tiba di T-3 NAIA sekitar pukul 21.40. Setelah mengurus bagasi dan antri taksi, akhirnya kita meluncur ke SM Mall of Asia jam 10 malem. Hah? Udah mau tengah malem mau ke mall? ngapain?. Jadi begini, setelah dipikir-pikir… daripada buka kamar buat beberapa jam, mending malem terakhir dihabiskan di Manila dengan nongkrong sana-sini. Toh bis jurusan Manila – Angeles City berangkat pukul 6 pagi, jadi cuma 8 jam doang di Manila ngapain pake buka kamar lagi. Jadilah kami ke SM Mall of Asia untuk beristirahat dengan numpang tidur nonton di bioskopnya.

IMAX 3D Studio, SM Mall of Asia

Dari hari pertama kita nyampe di Philippines seminggu sebelumnya, si Lidah Naga udah ngebet banget pengen nonton di IMAX Studio dan kebetulan malam terakhir di sini pas dengan malam perdana pemutaran film Pirates of The Carribbean : On The Stranger Tides. Setelah browsing jadwal film & dicocokkan dengan waktu landing di Manila maka diputuskan nonton di IMAX Studio SM Mall of Asia pukul 23.45. Sebelumnya sempet kecewa karena tertulis di pintu sinema bahwa layanan pembelian tiket terakhir pukul 22.00 sementara kita nyampe disitu sekitar pukul 22.30, tapi akhirnya dilayani juga. Maka untuk pertama kalinya saya nonton film komersil di IMAX Studio, biasanya kan cuma nonton film edukasi di IMAX Keong Mas di TMII doang.

Karena format filmnya IMAX 3D, kita dibagi kacamata yg ternyata beda dengan kacamata 3D di Jaringan 21 & Blitz. Kalau kacamata di 21 mirip kacamata plastik buat nonton  Remi 3D, Lika Liku Laki Laki, & Gara-gara di 2 dekade sebelumnya; sementara kacamata Blitz lebih mirip kacamata Retro; maka kacamata di IMAX 3D ini mirip goggle buat diving, tinggal tambah tabung oksigen jadi deh. Tapi enaknya kacamata 3D ini lebih ramah terhadap pemakai kacamata seperti saya. Pakai 2 kacamata bertumpuk pun masih terasa nyaman aja.

IMAX 3D Goggle

Sementara studio IMAX 3D ini segede alaihim gambreng aja dulu, bentuknya mirip amphitheatre dan layarnya juga ngejembreng lebar banget dan juga tinggi. Sebelum film dimulai, ada film pendek tentang sejarah Filipina. Film pendek ini berupa garis waktu rekonstruksi terbentuknya Filipina & sejarah modern. Dimulai dari masuknya Ferdinand Magellan, Perjuangan Lapu-Lapu melawan Magellan, dimulainya penjajahan oleh Miguel Lopez de Legazpi, perjuangan rakyat melawan Spanyol, peranan Jose Rizal sampai dengan eksekusi mati pahlawan nasional ini, kemerdekaan Filipina dari Spanyol tahun 1898, penjajahan oleh Amerika Serikat s.d WWII, terbentuknya Filipina merdeka setelah WWII, People Power di EDSA tahun 1986, sampai kondisi Filipina saat ini. Film pendek itu berdurasi sekitar 5 menit dan selama film itu diputar semua penonton wajib berdiri. Waktu nonton Thor di Greenbelt kayaknya gak ada diputer ini film pendek.

Sempet ketiduran di awal film karena kelelahan, namun akhirnya bangun di pertengahan film gara-gara nyanyian “My Jolly Sailor Bold” oleh Gemma Ward yg bikin sedikit merinding. Film kelar sekitar jam 2 pagi dan kita pun berkeliaran nyari taksi. Sebelumnya nanya ke petugas bioskop apakah masih ada taksi jam 2 pagi dan dia jawab jangankan jam 2 pagi, taksi di SM MoA ini ampe jam 4 pagi kok. Waladalah…pantesan mallnya buka jam 11 siang, wong tutupnya baru jam 4 pagi. Disinyalir banyak taksi beredar sampe jam 4 pagi di akhir pekan karena banyak cafe dan bar di San Miguel at The Bay (di belakang bangunan utama SM MoA) baru tutup jam segitu. Bahkan rencana awal kita juga pengen ngendon di Starbucks San Miguel sampe jam 4 pagi sebelum ke Philtranco Bus Terminal, tapi karena risiko kesulitan nyari taksi makanya dibatalkan dan kita pun menuju ke tujuan kita berikutnya yaitu….

Resort World Manila

Jangan bayangin Resort World Manila ini sama dengan Resort World Sentosa Island Singapore. Resort World Manila yg letaknya tepat di depan Terminal 3 Ninoy Aquino Airport ini ga se-spektakuler saudarinya di Singapore. RW Manila terdiri dari beberapa hotel (Maxims, Marriot, & Remington), shopping center, kasino, mal, theatre, club, & bioskop…*rame juga yak*. Pasti developernya waktu bangun area menganut 3 azas : Lokasi, Lokasi, & Lokasi karena letaknya RW Manila ini cuma nyeberang dari Bandara & ngesot dikit dari tengah kota. Kita sih gak masuk ke bangunan utama wong udah jam 2 pagi, cuma ngemper di Star Cruise Building yg ada di bagian depan RW Manila.

Bo’s Coffee, Star Cruise Building, Resort World Manila area

Sewaktu keluar dari T-3 NAIA menuju SM MoA kami melewati komplek ini dan melihat ada beberapa cafe & McDo yg beroperasi 24 jam. Rencana awal untuk menghabiskan waktu di San Miguel by The Bay digantikan nongkrong di sini aja. Pertimbangannya adalah kemudahan mendapatkan taksi & makanan di sini. Karena cuma jalan kaki 200 m ke bandara, jadi kemungkinan dapet taksi jam 6 pagi lebih besar. Jadilah kami menghabiskan waktu di BO’s Coffee dari jam 2.30 hingga pukul 5 pagi. Bermodal beli 2 cangkir kopi yg makdikipe murahnya untuk ukuran coffeeshop di tengah kota dan di dalam hotel (sekitar Rp 20ribu/gelas). Sembari membunuh waktu, kita nonton ANTM Cycle 16 Finale via Youtube lewat iPod. Dan ternyata wi-fi di kafe ini ajib banget, streaming via Youtube gak pake putus di tengah jalan! berasa lagi nonton di tv langsung deh.

Mendekati pukul 5 pagi, kami pintong (pindah tongkrongan-red) ke swalayan 7-11 yg ada di depan kafe untuk sarapan pagi. Buat modal perjalanan 2 jam ke Clark Airport di Angeles City, saya mengisi perut dengan hot dog khas 7-11 dan jus semangka botolan. Buat budget (baca : pelit) traveler seperti saya, tempat ini berasa surga banget. Kafe dengan kopi murah, wi-fi lancar, dan di depannya ada mini market…hehehe. Kelar sarapan, kita pun mencegat taksi untuk mengantarkan kita ke Philtranco Bus Station di Pasay City… gak jauh juga dari bandara.

Pukul 6 pagi, loket Philtranco untuk jurusan Diosdado Macapagal International Airport (DMIA), Clark Free Zone, Angeles City dibuka. Karena kita pulang menggunakan AirAsia, jadilah kita terpaksa mesti ngesot ke DMIA bukannya ke NAIA. Sempet pegel juga ngantri karena komputer di loketnya sempet hang. Akhirnya setelah mendapat tiket serta bermodal tidur-tidur ayam di pesawat  & bioskop, kami pun berangkat jam 6.30 ke Angeles City mengejar penerbangan selanjutnya. Bye-bye Manila, I’ll be back someday😉

T-3 NAIA – Arrival Area

Laoag International Airport – Waiting Room

Numpang mejeng di LAO – Arrival Terminal

IMAX Ticket

Cebu Pacific’s ATR 72-500, naiknya pake ditimbang dulu

Menanti Pagi dengan kopi

9 comments on “In Transit : Sleepless in Manila

  1. ombolot
    June 27, 2011

    ish ish ish … kapan kita gosip sampe jam 3 pagi lgi koh *lirik ibu2 meja depan kita itu*

    nonton Transformer ato harpot di IMAX lucu keknya

    • Sy Azhari
      June 28, 2011

      tuh ibu-ibu abis dari kasino kali ya. gila aja gosip di coffeeshop ampe jam 3 pagi. padahal kayaknya bukan mau bepergian lewat T-3 NAIA yah

  2. gerandis
    June 28, 2011

    maukah…maukah kau mengajakku bepergian bersamamu….tanggung semua biaya hidupku juga yaaaa *innocent face

    • Sy Azhari
      June 28, 2011

      boleh boleh.. tapi tiket bayarin yah. gak mau no-frill airlines, maunya yg masuk Star Alliance :p

  3. dansapar
    June 28, 2011

    bandara nya yg di atas itu lucu …

    • Sy Azhari
      June 28, 2011

      pertama kali liat dari hasil browsing juga kaget par. bandaranya kecil tapi unik banget. bata merahnya itu loh yg bikin unik.

  4. Pingback: Semalam di Malaysia « Here, There, & Everywhere

  5. Peggy Anna T. A (@peggyannaTA)
    November 28, 2012

    Mau nanya dong. Kalo dari Manila Airport ke Clark Airport naik apa ya? dan biaya nya brp? thanks

    • Sy Azhari
      November 28, 2012

      Dari Manila Airport bisa ke Philtranco Bus Station di Pasay. Gak jauh dari Bandara & Taft MRT Station,kok.

      Philtranco langsung masuk ke Bandara Clark. Tahun 2011 sih tiketnya 450 Peso (Rp 100rb). Dan ga berangkat tiap jam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 27, 2011 by in Go-Sees, Luzon, Philippines, travel and tagged , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: