Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Dirgahayu Kota Medan-ku

Kesawan

1 Juli 2011 dan bertepatan dengan dirgahayu Kota Medan ke 421. Tempat kelahiran saya dan tempat dibesarkan sejak TK s.d SMA (errr, jaman saya SMU sih). Setelah hampir 10 tahun berkelana mencari kitab suci, pertengahan tahun 2010 saya kembali lagi ke sini karena mutasi pekerjaan.

Tentunya banyak memori yang tersimpan selama hampir 15 tahun tinggal disini. Romantisme 80-an & 90-an masih teringat jelas di memor. Naik double-decker (bis tingkat) menemani (alm) Bude belanja pakaian ke Pusat Pasar. Nonton dengan Ibu & Bapak di balkon area President Theater yg mirip dengan gedung opera. Atau dijanjikan naik Monorel di Taman Ria selepas pembagian rapor. Buat saya, nostalgia itu gak akan terhapus walaupun venue-nya sudah terlebih dahulu dihapus.

Ada love-hate relationship tersendiri antara saya dengan kota ini. Saya paling gak suka dengan lalu-lintasnya yg acak-adul semrawut pisan. Orang-orang banyak yg mendadak buta warna parsial ketika berlalu lintas, ya walaupun banyak juga yang tertib berkendara. Semrawutnya kota disinyalir karena melimpah ruahnya angkutan kota & buruknya manajemen transportasi massal. FYI, angkutan kota di Medan ini trayeknya sampe 3 digit loh dan kebanyakan rutenya tumpang tindih. Dan kita masih bisa menemukan itu trayek angkot 01 sampai dengan sekian berlalu lalang. Lah, tempat saya aja ada angkot yang lewat ada yang nomer 12, 21, 25, 52, 99, 68, 108, 135. Belum lagi angkot yang tanpa nomer trayek melainkan hanya berdasarkan merek. Jenis angkutan banyak tapi teratur dalam berkendara sih mending, nah kalau ditambah gaya menyetir yg ugal-ugalan dan terkesan gak mau disalahkan..hmmpppfff.

traffic jam

Di luar masalah lalu-lintas, masalah sampah & kelayakan jalan juga patut dipertanyakan. Jalanan dengan aspal bopeng-bopeng masih jamak ditemukan bahkan di pusat kota. Kalau gak bopeng-bopeng ya penuh dengan tambal-sulam hasil galian yg tidak diperbaiki secara layak. Di Jl Kapten Muslim tempat saya tinggal contohnya, 3 jalur hanya bisa menampung 1-2 jalur karena tepat di tengah-tengahnya banyak gundukan sisa galian setiap beberapa meter. Untuk sampah sih di pusat kota udah cukup terkendali tapi di pinggir kota & di beberapa pasar terlihat menakutkan terkadang. Kesadaran masyarakat pun masih minim karena suka membuang sampah sembarangan sambil jalan, dari dalam angkot, bahkan dari dalam mobil mewah pun terkadang masih suka buang botol plastik bekas minuman ke jalan raya. Ndak malu dengan harga mobil?

Tapi diluar kekurangan-kekurangan tadi, saya amat cinta dengan kota ini. Selain kerusuhan 1998, hampir tidak pernah terjadi kerusuhan yang dipicu SARA. Hal ini cukup mencengangkan karena mengingat komposisi penduduk Medan yang sangat majemuk. Suku Jawa, Toba, Karo, Melayu, Mandailing, & Hokkian membentuk mayoritas diantara 2,5 juta penduduknya walaupun gak ada satupun yang jadi mayoritas mutlak. Komunitas Simalungun, Tamil, Pak-pak, Aceh, Padang, & Sunda pun menyebar dan menggenapkan demografi kota. Medan pun menjadi sebuah melting pot di ujung barat Sumatera. Perpaduan suku bangsa pun turut berkontribusi besar membentuk ikon Kota Medan yaitu…

dim sum

MAKANAN

Kalau ditanya apa yang paling membuat orang-orang mengunjungi & pengen balik ke Medan mungkin adalah Makanannya. Walaupun tidak ada terlihat usaha Pemda membuat mereka jadi ikon Medan, Durian Medan mungkin adalah termasuk yang paling populer di Indonesia. Sebelum Taman Ria dibongkar, setiap tanggal 17 Agustus selalu ada perlombaan Makan Durian disana. Sekarang pun penjual durian di Medan sungguh ubiquitos…ada di mana-mana. Jl Iskandar Muda, Jl Adam Malik, Jl Sunggal, dan Gapura Pinang Baris gak pernah sepi sepanjang tahunnya dengan penjual durian. Modernisasi & value-added durian pun semakin marak dengan banyaknya toko-toko makanan & oleh-oleh yang menjual produk turunan dari durian seperti Pancake Durian, Roti Isi Durian, Donat Durian, bahkan Bolu Gulung Durian.

Beberapa jenis makanan di Medan terkadang beda dengan yang ada di kebanyakan daerah Indonesia untuk nama yang sama. Contoh : Martabak. Akibat pengaruh banyaknya imigran Southern India, martabak telur di Medan menggunakan roti cane dengan tampilan open-faced. Berbeda dengan martabak telur kebanyakan yang telur & dagingnya ada di dalam. Rumah makan India bisa ditemukan di daerah Kampung Madras tempat konsentrasi keturunan India Tamil bermukim. Budaya Hokkian turut menyumbang ramainya kopitiam tradisional di pusat kota dan Wonton Noodle (Mie Pangsit) yang ikonik di daerah Jl Semarang & Selat Panjang.

Banyaknya pendatang dari Aceh juga menyumbang bervariasinya makanan di sini. Jamak ditemukan warung Mie Aceh, Sate Matang, dan Nasi Gurih dengan Dendeng Aceh di penjuru Medan terutama sisi barat kota. Buat yang boleh makan ‘kaki pendek’ alias Babi, Di Medan bisa menikmatinya dengan olahan khas Karo di BPK (Babi Panggang Karo) di sekitar Jl Jamin Ginting arah ke Berastagi, kemudian a la Tapanuli, ataupun bisa a la Chef Farah Queen Chinese Food. Makanan dengan’ nama sama-tampilan berbeda’ di Medan juga patut dicoba. Sesekali pesan Mie Rebus, Sate, serta Es Buah dan temukan perbedaannya dengan terminologi yang sama di daerah lain. Duh, ini kalau ngomongin makanan di Medan mah, gak bakalan habisnya deh.

KRD Komuter Sri Lelawangsa

Well…di luar banyak kekurangannya, saya masih cinta dengan kota yang sepanjang tahun masih sering hujan ini (love it!). Semoga ke depannya semakin bersolek bersaing dengan kota-kota lainnya yang gak kalah pesat. Bersolek disini diartikan bersolek makin cantik kayak Sherina dengan Maybelline-nya, bukan Sya*r*ni dengan cat temboknya ya. Perbanyak ruang terbuka hijau, ruang publik, taman bermain, perbaiki transportasi massal, dan semoga warganya juga turut membantu perkembangan kotanya juga. Dirgahayu Medan-ku😉

Oooohhh, dan satu lagi jangan ketinggalan : semoga yang maik ke mal gak ultimately overdressed lagi yah. If you are 17, dress like you are 17..not 40 :p

Bank Mandiri & Grand Aston Cityhall

Mesjid Raya al Maksum (from theage.com.au)

Gereja Katolik Anna Maria Velangkanni (adamakna.blogspot.com)

Vihara Gunung Timur (from thearoengbinangproject.com)

Shri Mariamman Temple, Kampung Madras

London Sumatra Building

Old City Hall (skrg bagian dari Grand Aston Cityhall; FROM MEDANTIMES.COM)

14 comments on “Dirgahayu Kota Medan-ku

  1. dansapar
    July 1, 2011

    argh…. jadi pengin ke medaaannnn….2 hari cukup kan ya klo cm city tour, koh?

    • Sy Azhari
      July 1, 2011

      Insya Allah cukup & bisa jadi free-guide,par. asal dikasi tau aja kapan datengnya. jangan kyk si Kakek yg menghilang gitu sampe Medan karena takut kepergok bareng Sang Hawa :p

  2. samhoed
    July 1, 2011

    pengen dijejelin ‘kaki pendek’ apah?!! gw kan telp sms nomor lo di luar jangkauan mulu ——“. Btw, medan seksi sih, cm panas, dan jalanannya berisik banget.

    • Sy Azhari
      July 1, 2011

      lo sih dateng pas musim panas..ya panas lah. kemarin sampe 36.3 derajat lagi. tp enaknya disini baru panas selepas jam 10 ke atas, paginya panjang. kalo lalu lintas mah…sebagai komuter yg berangkat pagi buta pulang senja : gue no comment deh..speechless gue

  3. Alex Tobing
    July 2, 2011

    Happy B Day Kota Medanku tercinta..semoga terus majuuuuuuu

  4. hilsya
    July 2, 2011

    seneng sih kalo ke Medan.. tapi suka parno duluan ama calo-calo bandara..
    kalo nyebrang jalan suka keringet dingin.. hanya Tuhan dan supir yang tau

    yang jelas makanannya enak-enak🙂
    mengenai bangunan cantik-cantik, kok banyak yang ga ngeh ya? (dulu belom hobi ngeblog sih)

  5. grandiszendy
    July 3, 2011

    woooooo ga nyangka medan punya icon22 banguna cantik2 begitu….jadi pengen ke medan! pengen nyobain kuliner medan yg beragam juga! ayo undang aku ke medan! *tetep😀

  6. hua baru baca ini posting. keren banget.
    jadi ingat masa kecil sekolah sd di thamrin — mainnya ke olympia terus.😛
    smp di s parman — mainnya ke gramedia gajah mada
    sma… duh belajar terus. kan mau pinter masuk SPMB (ups UMPTN)

    hahaha. anyway. i love medan. terutama makanan. dan si kaki pendek. hahahahah.😛
    favorit tetep makan mie kosong. lontong sayur. sate padang. mie aceh dan martabak di kampung madras. huaaaaaaaaaaa mantaffff

    ups komen apa ini.😛

  7. zou
    May 30, 2012

    wuih .. baru nyadar, itu kuil mirip banget sama kuil2 di penang yaaa ..😀

    • Sy Azhari
      June 4, 2012

      kuil yang mana? yg Shri Mariamman ya? iya, emang mirip-mirip begitu, sama yang di Singapore juga

  8. Fermansio
    July 20, 2012

    Boarding room information for backpackers :

    Our boarding room “Fermansio”
    Location: Jl. Seksama Gg. Bersama I No 5 Simp. limun, Medan

    Size: 10 x 14 M / floor
    Number of Room : 22

    Facilities: Balcony, Bathroom (19), Kitchen (5), laundry, water (PDAM), Electrical, Ceramic Floor, railing, fencing, bike parking and car parking + + wifi.

    External Facilities: Campus YIM, LP3I, YPK, STMIK Budi Darma, UISU, ITM, FK UMSU, BANK BRI, Grand Antares Hotel, Yamaha Showroom, Indomaret, K24, Medica Clinic, Kreatif Swimming Pool, Restaurant, Grand Mosque of Medan, Maimoon Palace.

    Price: IDR. 350.000 – 600.000 / month;
    IDR. 100.000 / day

    For description / availability contact us;

    Mother Fermansio
    Jl. Seksama Gg. Bersama I No. 5
    Simpang Limun, Medan
    North Sumatera

    Phone Number : 085261646270 / BB PIN: 21C545A9
    http://www.facebook.com/groups/peluangbisnis.medan/

  9. motivator indonesia
    November 27, 2012

    di medan banyak banget iya makanan yang enak😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 1, 2011 by in Sumatera, Sumatera Utara and tagged , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com