Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

In Transit : Semalam di Malaysia

Sunbeam

Leg 9 & 10 : Manila » Clark » Kuala Lumpur » Medan

Setelah puas melek semaleman di Manila, pukul 5 pagi kami sudah ngendon di Philtranco Bus Station yang ada di dekat persimpangan EDSA & Andrews Avenue dan selemparan batu dari MRT Taft Avenue Station, Pasay City. Jadwal feeder bus Manila – Clark Airport sebenarnya pukul 6.30, dan loket pun baru buka jam 6 pagi itupun sempat diinterupsi oleh komputer yang error seperti yg saya ceritakan di sini.

lokasi Philtranco Terminal

Boarding Pass

Dengan membayar PhP 450 (Rp 90.000) melajulah kami menuju Angeles City selama 2.5 jam melewati Epifanio del los Santos Avenue (EDSA) & Northern Luzon Expressway (NLEX). EDSA ini adalah ringroad di Manila yg melewati wilayah Metro Manila dari Pasay, Makati, Taguig, sampai Quezon. Bis singgah di terminal ke-2 tepatnya di SM MegaMall, Ortigas Center. Ortigas Center ini CBD lain milik Manila selain Makati. Tempatnya keren, jalanan dari paving block dan bersih banget. Sempet macet di pintu tol masuk NLEX namun setelahnya jalanan lancar jaya. Pukul 9 pun kita udah nyampe di bandara Diosdado Macapagal di Clark, bekas pangkalan militer USA.

Bandaranya cilik riwut banget, paling sebesar terminal keberangkatan internasional Polonia. Cuma ada beberapa penerbangan dan rute yg beroperasi disini. Tapi jangan salah, walaupun AirAsia cuma melayani Kuala Lumpur & Kota Kinabalu, maskapai lain melayani wilayah Asia Timur seperti HK, Macau, & Seoul. Pelayanan disini prima banget walaupun lebih kaku dari NAIA, maklum sih pangkalan militer. Disini lah saya bodor-bodoran dengan para petugas di bandara sampe cengengesan sendiri.

Ceritanya sih gara-gara warna paspor RI yang hijau royo-royo itu sama dengan warna Pasaporte Pilipinas. Ditambah lagi entah aura apa yang menaungi saya yang sering banget dituduh Pinoy oleh semua orang disini. Petugas di pintu masuk cas-cis-cus dengan bahasa Filipino aja sampe saya pasang muka bingung dan akhirnya nunjukkin paspor RI saya dan dia pun berujar setengah teriak dan tertawa.. “Oooh, Indonesian, moslem country.. sorry, my son. i thought you are a Filipino”.

Nasib ‘kemiripan’ berlanjut saat mau membayar Airport Fee. Kami berdua didekati oleh ibu-ibu petugas bandara yang berlari-lari centil untuk menyuruh kami membayar Travel Tax (pajak yang dibayarkan oleh WN Filipina/Balikbayan/Phil-Am ketika mau bepergian ke luar negeri di luar Airport Fee). Kami yang sudah tahu peraturan tentang Travel Tax menunjukkan paspor dan lantas berkata “Indonesian, ma’am”. Dia pun kaget dan langsung tertawa sembari mengeluarkan default statement : “sorry, i thought you are a Filipino”. Seluruh petugas imigrasi & penjaga boarding room pun ikut tertawa-tawa. Berkesan banget keramah-tamahan para petugas bandara itu.

KL Monorail

Kuala Lumpur

Kenapa KL? ya karena yang ada tiket promo untuk pulang dari Manila cuma Air Asia. Tiket Jetstar & Tiger Airways pun udah lumayan menengah sampai tinggi 4 bulan sebelum kami berangkat. Lagian kalaupun bisa naik Tiger, Cebu Pacific, & Jetstar si Lidah Naga kesian banget karena gak ada penerbangan langsung dari Singapore ke Pekanbaru. Kalau dari Medan mah gampang pisan. Akhirnya dipilihlah AirAsia dengan mengorbankan hari sabtu kita di Manila dengan pergi pagi buta ke Angeles City – Pampanga letak airport berada.

Penerbangan kami pun terpat waktu sekitar pukul 12 siang dan mendarat di LCCT-KLIA sekitar hampir jam 4 sore. Seperti biasa, antrian imigrasi di LCCT ini puuuaaannnjaaaang banget. Herannya loh, udah tahu antrian panjang begini kok malah beberapa pos gak dibuka sementara saya lihat masih banyak kok petugas imigrasi yang nganggur-nganggur sambil ngobrol dengan petugas yg sedang jaga loket. Yeeee, gimana antrian gak panjang wong pada ga fokus gitu. Mending antrian di Polonia & Changi deh… dan masih mending imigrasi Manila dengan Pak Mabutas-nya dong😀

Kelar imigrasi & bea-cukai yang makan waktu hampir 1,5 jam, kami merengsek ke public area untuk cari bus ke KL Sentral. Tadi sih lihat loket-loket bis di arrival hall, tapi mikir paling ada yang jual di public area kayak di bandara-bandara lain. Tapi ya nasib berkata lain, ya ndilalah masak di luar arrival hall ga ada yg jual tiket bisnya dan mesti beli tiket ke dalam lagi. Akhirnya dengan lidah berbisanya, Lidah Naga berhasil beli tiketnya di dalam. Pas udah naik ke bis, eh kok banyak yang beli tiketnya di atas bis ya. Gggrrrhh, Gondok dong!!

view from our Tune Hotel room

Sepertinya langit memang menginginkan kita untuk beristirahat aja selama di KL. Buktinya, gitu kita keluar dari bandara langsung terjadi gerimis. Gitu masuk perbatasan kota KL, eh gerimisnya berubah jadi hujan petir. Sambutan yang ramah setelah sambutan imigrasinya. Dari KL Sentral, kita langsung menuju Tune Hotel-Downton KL dengan taksi karena hujan yang makin deras ditambah angin kencang. Harusnya bisa naik Monorel dari KL Sentral. Dapet supir taksi orang lokal yg menjelek-jelekkan supir dari ras yang lain dengan ngatai mereka penipu, tapi kok ya selama gue naik taksi dia kok berasa diputer ke arah situ lagi situ lagi ya. Pas udah nyampe di depan hotel dan mau bayar, eh kok ya ada orang lokal maen bablas masuk ke taksi dan langsung nyerocos ama supir taksinya. Deugh, ini transaksi belum selesai dan belum ngeluarin barang-barang. Gak sopan banget.

Check-in di Tune Hotel dilanjut dengan makan malam di Subway yg kebetulan ada di lobby Tune Hotel. Kebetulan dapat kamar yang pemandangannya cukup bagus. Setelah beres-beres dan bersih-bersih, si Lidah Naga langsung semaput dan gue lanjut kelayapan di sekitaran hotel yg notabene dekat dengan pusat kota. Mau tau aja sih malam minggu di KL gimana. Tapi ya karena masih gerimis di luar dan kondisi fisik yang lelah banget, saya putuskan balik lg ke hotel setelah jalan 500m tidak menemukan keramaian apapun di sini. Tsk. Akhirnya beli makanan di 7-11 di lobby hotel dan tidur sepuasnya sampai pagi.

Pagi harinya mampir sebentar ke Suria KLCC. Pengen liat ada atraksi apaan di Twin Tower. Sapa tau ada bungee jumping kek atau skyjump kek, eh gak taunya gak ada atraksi apa-apa disana. Mau naik di bridge pun mesti ngantri dari jam 7 di hari-hari tertentu. Sayang, bangungan semegah itu cuma bisa dinikmati kulitnya doang. Balik ke hotel, check0out,  dan nitip tas dengan biaya RM 2/tas, kami lanjut keliling KL. Kali ini mau ke Dataran Merdeka melalui jalur LRT yang lain. Kalau ke KLCC mengarah ke selatan, kali ini kami ke utara walaupun tujuannya ke selatan. Rempong kan? mbbeerrr.

Central Market Facade

Dataran Merdeka & Gedung Sultan Abdul Samad hari itu gak bisa dinikmati karena malam sebelumnya ternyata ada parade nasional sehingga bekas-bekas panggung dan tribunnya belum dibongkar. Ruas jalan antara kedua ikon itu pun sedang dipenuhi orang-orang, mulai dari kru acara yg lagi beres-beres, ada juga turis yg foto-foto, sampe yg pre-wed juga ada. Kita sih menikmati pemandangan dengan berlindung di bawah pilar-pilar gedung dengan arsitektur campuran dari warna Melayu & kolonial Inggris . Tapi kok ya sepenjuru gedung tercium bau pesing. Alih-alih menikmati pemandangan, kok ya berulang kali kita disuruh minggir oleh turis-turis Asia Timur (kemungkinan China Mainland) yg berusia 40 something karena menghalangi latar fotonya. Ya mana gue tau lo mau foto disitu kalo gue munggungin elu!!! ya mana tau juga kalo ternyata lo semua turis.. kirain pada mau maen Cirque de Soleil dengan baju ketat dengan tulisan ‘Bebe’ atau ‘Moschino’ hasil differensial ke-sekian (baca : KW sekian) berkerlap-kerlip dipadu legging ketat membungkus tubuh overweight kalian serta didukung wedges shoes & topi-topi centil nan lebar kalian… Oooppsss, forgive me for being bitchy :p

Kelar ‘menyiksa’ mata di Dataran Merdeka, kami berjalan kaki ke Central Market & Kasturi Walk. Di sana sempet nyicipin Sea Coconut Water yang rasanya gak sebanding banget dengan Legen, walaupun dibuat dari bahan yg sama. Enakan Legen kemana-mana. Pas di depan Central Market, kita poto-poto bangunannya dong karena ini kan ikonnya Kuala Lumpur. Eh, baru jeprat-jepret dikit udah dideketi security. Emangnya mau dicontek gitu desainnya? deugh, kalau mau nyontek desainnya kita juga pilah-pilih negara kaleee. Gue tampar pake Reog ama Angklung baru tahu ini satpam. Kalau bangunan ikonnya gak mau dijadikan objek wisata, ya ditutup pake kain kafan aja biar gak pada menikmatinya. Di dalam Central Market juga dilarang foto-foto tapi saya maklum karena berkaitan dengan hak cipta karya seni yang dijual seperti lukisan dan seni rupa. Dari hasil berkelana 30 menit di Central Market, saya mengeksekusi Pashmina untuk hadiah ulang tahun ibu yang saya lewatkan karena masih di Filipina kemarin.

Kasturi Walk

Waktu semakin siang dan kita memutuskan balik ke Tune Hotel untuk mengambil tas dan langsung naik monorel ke KL Sentral. Dari KL Sentral kita menggunakan moda KL Transit menuju KLIA. KL Transit ini paduan kereta express dengan bis menuju LCCT KLIA. Karena LCCT gak ada stasiun kereta, jadilah berhenti di 1 stasiun sebelum KLIA dan penumpang ditransfer dengan bus ke LCCT. Kalau tujuannya Main Terminal KLIA sih bisa naik KLIA Transit & KLIA Express sampai langsung ke terminal. Harga tiket KL Transit tujuan LCCT sebesar RM 12 dan memakan waktu hampir 45 menit, sedangkan jurusan KLIA seharga RM 35 dengan waktu tempuh 28-35 menit.

Di LCCT, kita makan siang sebentar dan masukin tas di counter bagasi. Check-in dilakukan sehari sebelumnya saat kita mendarat dari Manila dengan menggunakan Self-Kiosk Check-in. Antrian imigrasi & boarding gate kembali kurang bersahabat karena makan waktu hampir 30 menit. Dan setelah sampai di ruang tunggu sejam sebelum keberangkatan, kita semua..semuaaaa..penumpang 1 terminal mendapatkan kejutan kabar semua penerbangan ditunda minimal 1 jam menungu kabar selanjutnya karena traffic di runway. Sampe-sampe di ruang tunggu ketemu lagi dengan Lidah Naga yg seharusnya jam 4 udah berangkat. Sementara penerbangan saya yg pukul 5 ditunda hingga akhirnya jam 6.30 diberangkatkan. Sampai Polonia adik saya udah menunggu sampai ngomel-ngomel kelamaan nunggu dan gak saya kabari karena 2 ponsel tewas. Semalam di Kuala Lumpur masih menyisakan 2 pertanyaan di sanubari saya (holoh!) : kenapa banyak burung Gagak berkeliaran di pusat kota & kenapa di pusat kota banyak gedung yg bau pesing di depannya. Kenapa coba?. Dan tetep bagi saya, Penang masih jauh lebih menarik daripada ibukotanya. Karakternya kuat walaupun gak se-kosmopolitan KL.

Begitulah perjalanan 10 hari melewati 3 negara. Ada banyak pengalaman dan memori yang didapat. Walaupun ujungnya anti-klimaks di Kuala Lumpur, tapi tercamkan dalam hati suatu saat bakal balik lagi ke Filipina karena saya cinta suasananya dan (ehem) orang-orangnya. Salamat,po😉

Philtranco Couch

Pinoy? Indonesian?

view from room

Suria KLCC

view from room : old building & monorail track

pajangan kota

Kasturi Walk

LRT Ampang Line (elevated track)

LRT Kelana Jaya Line Station (subway)

Adiós, Pilipinas😦

7 comments on “In Transit : Semalam di Malaysia

  1. ombolot
    July 4, 2011

    Catper paling males gw nulisnya

    • Sy Azhari
      July 4, 2011

      mber… dari awal di Imigrasi, sampe ending di boarding room bikin males kan. deugh. better saving my money for my Manila » Coron – Palawan » Mindanao trip next year

  2. Riyan
    July 4, 2011

    Omong2 tentang Tune, aku gak mau nginap kesana lagi. Jelek bgt dan lingkungan sekitarnya gak asik bgt. Hotelnya gk sebagus yg di Johor. Ini maunya nginap di bukit bintang aja.
    Dan yah, itu antrian LCCT bikin muntah emang. Padahal loket kosongnya bejibun gak dibudidayakan.

    • Sy Azhari
      July 4, 2011

      kebetulan kami dapet kamar yg bagus dan viewnya bagus,yan. lah si temen dulunya dpt kamar gak pake jendela.
      Insya Allah aku 2 minggu lagi gak pake singgah di LCCT & nginepnya di Rainforest Bukit Bintang

  3. dansapar
    July 4, 2011

    nyesek emang baca capter ini …

  4. Rugun Siahaan
    June 10, 2013

    Aku ketemu tulisan ini karena memiliki same question yang belum terjawab sejak plg dr Malaysia. Kenapa di sana banyak burung gagak??
    😂😂😂😂 Setuju sama semua tulisanmu. So, have u got the answer??

    • Sy Azhari
      June 10, 2013

      Not yet. Tetap jadi misteri nampaknya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 4, 2011 by in Go-Sees, Malaysia, Philippines, travel and tagged , , , , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: