Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

One Smooth Escape

“…It’s Friday, Friday
Gotta get down on Friday
Everybody’s lookin’ forward to the weekend, weekend..”

Lirik lagu Friday (Rebecca Black) yg cheesy itu menempel terus sepanjang hari di kepala saya. Perasaan antusias menggelayuti semalaman menuju akhir pekan. Akhir pekan di Medan sebenarnya gak masalah buat saya karena bisa melihat kota sedikit sepi dan less hectic dari biasanya. Tapi akhir pekan ini memang butuh mood booster buat hari-hari berikutnya. 3 minggu sejak kepindahan atasan langsung saya yg cekatan otomatis membuat saya sedikit kelabakan karena pekerjaannya yg segambreng itu dilimpahkan ke saya, yg sehari-harinya mengerjakan rutinitas pun udah kelabakan. Sementara pengganti si bos ini terlihat masih beradaptasi dengan pekerjaan barunya, dan masih bergantung pada stafnya. Belum lagi ternyata 2 minggu lalu saya masuk gerbong promosi jabatan baru, otomatis harus menyelesaikan pekerjaan dan transfer pekerjaan kepada pengganti sebelum akhir bulan ini.

pada akur & anteng naik kereta

  • MES-SIN

Pfff, sudahlah, kita lupakan saja huru-hara & gonjang-ganjing selama bulan Juli ini. Rencana saya mau kelayapan pas banget dengan kondisi fisik & mental yg capek banget pada waktu itu. Saya butuh liburan!!!. Awal perjalanan saya kurang mulus karena jadwal yg kurang asyik. Penerbangan ValuAir/Jetstar yg seharusnya berangkat pukul 6 sore diundur jadi jam 8 malam dan diberitahukan pagi sebelum keberangkatan. Setelah nunggu, akhirnya jam 9 WIB kita take-off dari Polonia menuju Changi. Pesawat mendarat di Changi sekitar pukul 11 malam waktu setempat. Ada perbedaan waktu 1 jam antara Medan dan Singapore, terima kasih telah menggunakan penerbangan ValuAir.

Sepengetahuan saya, kereta MRT terakhir dari bandara ke downtown sekitar pukul 11.18. Jadilah saat itu saya lari-lari dari arrival gate ke imigrasi di Terminal-1 (tempat Jetstar/ValuAir), lanjut naik skytrain ke Terminal 2 tempat stasiun MRT berada. Tet Tot!!! sampe disana ternyata MRT terakhir sudah berangkat. Lemas lutut ini. Gak habis akal, saya cari alternatif transportasi di area kedatangan dan menjatuhkan pilihan kepada Woodlands Ground Transportation, sejenis travel Xtrans atau Cipaganti namun dengan armada bis sedang berkapasitas hanya 9 orang. Tarifnya flat SG$ 9/orang dan mereka hanya mau mengantar ke penginapan. Mereka juga menyediakan pengangkutan eksklusif 1 mobil untuk 1 keluarga s.d 9 orang dengan tarif lebih murah loh.

Pillows & Toasts

Sekitar pukul 12.30 dini hari, saya pun tiba di Pillows & Toasts area Chinatown yg hanya berjarak se-salto dari stasiun MRT Chinatown. Di hostel ini saya ngambil dorm yg bisa diisi 4 orang, pas saya masuk ternyata ga ada orang di kamar tapi ada barang-barang & ranjang yg udah terpakai..hmm.. lagi pada keluar kali ya. Pukul 1 saya keluar nyari makanan karena sedari sore belum makan. Ternyata masih banyak cafe & bar masih buka di Pagoda Street, jalan sejajaran tempat saya menginap. Sauna juga masih ada yg buka kok jam segitu..ya buat yg kalo mau sih :p Balik-balik kamar saya udah ditiduri 2 orang yg di pagi harinya saya tahu yg satunya mas-mas dari Indonesia juga dan 1 lagi mbak-mbak Korea. Ranjang di bawah saya diisi oleh cowok bule yg pulangnya paling telat dari kita, tapi pagi-pagi udah mandi dan rapi jali siap untuk kelayapan.

Yang saya selalu suka saat menginap di Hostel adalah breakfast time. Bukan karena makanannya yg cuma roti atau telur mata sapi, tapi karena saat sarapan adalah saat para tamu-tamu hostel bercengkrama dan berkenalan satu sama lain berhubung malemnya mungkin ada yg baru datang sementara yg lainnya kelayapan. Dari obral-obrol dengan tamu lain ternyata ada 2 orang Indonesia, 2 wanita asal Filipina, 5 cewek dari UK, 2 bule cowok yg lupa nanya dari mana, dan gerombolan ABG Korea yg datang dengan gurunya untuk traveling bersama. Kelar sarapan saya sempet jalan-jalan di Chinatown sebentar dan check-out tepat pukul 11 siang sembari menuju Shaw Lido di Orchard untuk janjian dengan teman saya yg baru landing dari JOG.

Pillow & Toasts’ pantry

Rencana nonton Harry Potter & Transformer di IMAX Shaw sirna begitu melihat kursi yg tersedia tinggal baris paling depan, dan berakhir nonton di studio 3D biasa. Sebelum nonton masih ada waktu 45 menit untuk makan siang, dan memutuskan makan siang di Pepper Lunch yg masih di gedung yg sama. Jeda antara Transformer & Harry Potter ada 1 jam lebih dan kita ngesot ke Ngee Ann City untuk berkunjung ke Kinokuniya Book Store, belanja kilat a la Supermarket Sweep pun dimulai dan dapat 2 buku incaran saya. Gitu mau balik ke Shaw Lido, eh di depan Ngee Ann City ada penari ekstrim dari Australia lagi beratraksi… hmmm.. nyempeti nonton sebentar. Tapi gitu lihat jam, eh Harry Potter udah mau main 5 menit lagi. Dan kita pun lari-lari dari Ngee Ann City ke Shaw Lido lewat underground pass, temen saya sambil bawa ransel malah.

Kelar dari nobar, temen saya keliling ION buat cari oleh-oleh dilanjut makan malam di Food Republic Wisma Atria. Bosen dengan fast food, saya pun kembali ke akar saya, makanan Timur Tengah (caelaah… TimTeng darimananya gue!). Nasi Briyani dengan gulai kambing medium-raw segede bagong pun dieksekusi. Merangkak malam, saya ngambil ransel saya yg dititipkan di Pillows & Toast dan sekalian numpang mandi. Enaknya beberapa hostel yg kebijakannya memperbolehkan calon/mantan penghuninya mandi gratis disitu berbekal sewa handuk atau gratis sama sekali. Di Pillows & Toasts sendiri diharuskan sewa handuk SG$ 1, namun sudah disediakan sabun cair di dalam bilik dan juga kebutuhan lain seperti body lotion, sunblock, pasta gigi, hair gel, dan lainnya GRATIS. Teman saya pun ikutan numpang mandi juga di situ. Kelar mandi dan check-out beneran, kita meluncur ke Chinatown Night Market buat beli oleh-oleh. Pas lihat ada boneka Angry Birds, teman saya langsung kalap borong itu boneka-boneka. Saya sih cuma beli seadanya buat adik saya dan titipan teman saya si Emak-emak Kinky. Jam 10 malam kita meluncur ke bandara Changi untuk perjalanan selanjutnya. Teman saya terbang dengan Garuda Indonesia ke Jakarta pukul 7 pagi, sedangkan saya mengeksekusi tiket gratisan Jetstar Airways ke Kuala Lumpur.

  • SIN – KUL – MES

Pukul 11 nyampe Changi dan istirahat sebentar sambil nyari-nyari tempat bersandar dan colokan. Ternyata di public area bandara Changi susah banget nemu colokan gratis. Kelar makan (tengah) malam kita pisah karena teman saya berangkat dari terminal 3, sementara saya dari terminal 1. Akhirnya di terminal 1 nemu colokan nganggur walaupun harus duduk melantai bersandar tiang. Sempet tidur-tidur ayam juga di dekat tempat check-in dan harus terbangun pukul 4 pagi karena udah banyak orang yg check-in terutama untuk penerbangan pukul 6-7 pagi. Saya juga termasuk yg ikutan karena jadwal Jetstar Sin-Kul pukul 7 pagi. Dengan belek masih menggelayut di mata, berangkatlah saya ke KL tanpa ada penundaan jadwal.

24 Jam di KL. Cukup buat saya sepertinya. Pesawat Jetstar Airways yg membawa saya dalam penerbangan selama 1 jam dengan ketinggian 24.000 kaki mendarat tepat waktu di Satelite Terminal – Kuala Lumpur International Airport. Ini pertama kali ke KL tidak menggunakan LCC Terminal sama sekali. Satelite Terminal ini ternyata cuma berisi boarding room,duty free shops, & jungle walk. Saya kirain Jungle Walk di KLIA itu gimana gituh, gak taunya lebih menarik taman-taman kecil di Bandara Soekarno-Hatta.  Dari Satelite ke Main Terminal kita menaiki Aerotrain selama 2 menit, barulah di Main Terminal ini ada imigrasi & bea-cukai. Udah tahu ya bikin bandara yang segede-bage ini, malah imigrasinya terpusat doang di terminal utama. And what, cuma ada sekitar 20 loket imigrasi yg disediakan untuk pemegang paspor non WN Malaysia…dan itu pun yang buka separohnya. Ya lambat dong pelayanannya, mana pake ngobrol cekakak-cekikik lagi petugasnya. Geuleuh deh.

Aerotrain Station – KLIA

Dari KLIA saya meneruskan perjalanan ke pusat kota dengan kereta KLIA Express yg menempuh rute KLIA – KL Sentral dalam waktu 28 menit untuk perjalanan +/- 70 km. Dari KL Sentral lanjut dengan kereta komuter Rapid KL ke stasiun Mesjid Jamek untuk singgah ke Central Market. Kalau semalem udah disiksa boneka-boneka lucu Angry Birds di Chinatown SG, disini disiksa kaos-kaos & pin-pin imut Angry Birds. Untung saya fokus dan beli sesuai titipan ibu saya.

Tengah hari waktu KL saya pun menuntaskan acara berburu oleh-oleh dan menuju penginapan saya di Rainforest Bed & Breakfast, area Bukit Bintang, yang hanya selemparan konde dari stasiun Monorail Raja Chulan. Check-in, mandi, dan lempengin badan dulu setelah semaleman gak meniduri kasur. Sekitar pukul 1.30 saya beranjak ke Berjaya Times Square yg hanya berjarak 2 stasiun monorail dari Rainforest. Kebetulan saya udah booking tiket film Harry Potter sebelumnya. Berkat bantuan teman saya di Twitter, akhirnya tiket IMAX untuk film ini bisa dipesan online lewat internet. Saya pun menukarkan e-ticket dengan tiket fisik dari mereka. Walaupun bioskopnya bagus, sayang malnya biasa aja. Dan saya pun cuma numpang nonton aja disana.

Perjalanan dilanjutkan ke KLCC tapi bukan buat foto-foto Menara Petronas yah. Saya ke KLCC karena cuma disini kayaknya yang ada Kinokuniya Book Store di KL. Buku yg saya dapat disini lebih murah daripada yang sempat saya lihat di Singapore punya, hah. Selesai mengeksekusi buku literatur Managerial Accounting saya lanjut keliling KLCC karena waktu masih menunjukkan pukul 7 sore. Sedikit cuci mata di diskonan  ‘Celah’, ‘Unik-loh’, & akhirnya mengeksekusi di ‘Mataharinya Spanyol’ :p

Rainforest’s Facade

Balik ke hostel dan kamar saya ternyata belum ada orang. FYI, saya di Rainforest pun milih yang dorm isi 3 orang. Kalau di Singapore dapet yang bunk bed, disini dapat tempat tidur biasa berikut lemari dan safety box untuk setiap penghuni kamar. Gak lama setelah saya selesai mandi, ada penghuni lain bernama Markus dari Brazil keturunan Portugis & Italia, bukan yg kayak dari Ronaldinho yak. Dia liburan 30 hari dari Rio De Janeiro » Istanbul » Shanghai »Phuket » KL dan dari KL dilanjut ke Siem Reap. Saya sempet bilang ke dia kalau besok pagi saya bakal ngidupin alarm jam 4 pagi karena pesawat ke Medan berangkat pukul 8, eh dia bales kalau alarm dia lebih pagi karena penerbangannya ke Siem Reap jam 6.30 pagi. Hehehehe

Si Markus ini sempet minta dijelasin tentang Singapore, Malaysia, dan Taiwan. Dia pikir Singapore itu ibukotanya Malaysia dan Taiwan itu bagian dari Malaysia hanya karena iklan pariwisata Taiwan merajalela di KL dari baliho sampai jadi di seluruh area di monorail. Dia bilang juga saya enak 1 jam terbang udah sampai di luar negeri sementara dia 5 jam terbang masih Brazil lagi Brazil lagi. Trus saya jelasin dong kalau di Indonesia juga begitu, terbang 7 jam pun dari Medan  masih Indonesia juga…nyampe di Papua. Dan dia ngerti akhirnya karena kita negara kepulauan yang melintang aja gitu. Dia pengen ke Bali, Lombok, Jakarta, dan Papua tahun depan katanya.

Pembicaraan sempat terinterupsi karena satu lagi penghuni kamar kita, seorang ABG dari Jepang, akhirnya pulang kelayapan juga. Dengan Bahasa Inggris terpatah-patah, dia nyoba ngobrol bareng kita tapi gak lama karena langsung mandi dan tidur sementara saya dan Markus langsung mengepak barang biar besok pagi gak repot. Lepas tengah malam, baru saya dan Markus kelar ngobrol dan tidur. Pagi saya bangun si Markus udah nggak ada, dan saya pun bergegas menunaikan hajat saya biar gak ketinggalan pesawat. Walaupun hostel murah, lokasi Rainforest ini memang ciamik punya. Sampingnya Park Royale Service Hotel dan di ujung jalannya ada Hotel Istana, depannya ada penjual Nasi Kandar, jadi gak heran banyak taksi seliweran.Tarif taksi dari tengah malam sampai subuh di KL ternyata dikenakan surcharge 50% dari argo. Fair enough sih menurut saya. Dari Bukit Bintang ke KL Sentral kena argo RM 10, tapi karena kena surcharge jadi RM 15. Dan kali ini gak pake diputerin supir taksinya dong ya kayak dulu.

Breakfast with Mr Al Fayed, anyone?

Langsung dapat pemberangkatan kereta KLIA Express jam 5 pagi dan tiba di bandara KLIA – Main Terminal pukul 5.30. Check-in untuk penerbangan saya buka pukul 6 pagi. Masih sempat sarapan di Secret Recipe (ohh, gue kangen banget makan disini..trutama kalau mereka ultah :p) dan relaksasi dengan kursi pijat. Di Secret Recipe nyobain cake jenis lain karena biasanya saya nyobain cheesecake mereka yang amboi nikmatnya (terutama Yogurt Cheesecake, Durian, & Choco-nut yang pake graham crackers buat dasarnya). Saya pun pesan Pecan Butterscotch cake, kacang pecannya banyak dan krim butterscotchnya juga enyakkk. Sayangnya, kursi pijat disini gak gratis kayak di BUDGET Terminal  – Singapore Changi (notice the BUDGET!!) . RM 1 untuk pijat 3 menit dan RM 5 untuk 15 menit pijatan. Pukul 8.50 pesawat Malaysia Airlines diberangkatkan menuju Medan. Di dalam penerbangan dapet majalah, surat kabar, segelas jus (dih, Garuda aja bisa refill), dan sebungkus kacang goreng. Untung gue beli pas promo mereka & berangkat lewat terminal utama bandara! Rencana pulang dengan AirAsia sih, tapi karena harga promo MAS setelah ditotal masih lebih murah dari base fare Air Asia (belum masuk airport tax dan lainnya) jadilah saya pilih MAS.

Walaupun perjalanan kali ini singkat, padat, dan riwueh kesannya tapi saya nikmati karena setidaknya sebentar bisa melupakan kegiatan kantor ataupun kegelisahan tentang pekerjaan baru di bulan yang baru esok. Hmmm.. jadi pengen lagi smooth escape pas akhir pekan kayak gini. Well, see you in September/October at…..hmmm.. we’ll see😉

Pecan Butterscotch cake & Darjeeling tea of Secret Recipe

Gono-Gini

Flight Fare :

  • MES – SIN , ValuAir, US$ 35
  • SIN – KUL, Jetstar, SG$ 0
  • KUL – MES, Malaysia Airlines, RM 122

Airport Tax :

  • MES, Rp 75.000
  • SIN, SG$ 28
  • KUL (Main Terminal ), RM 51

Penginapan :

  • Pillows & Toasts, Chinatown, Singapore. 4-bed mixed dorm, SG$ 33
  • Rainforest Bed & Breakfast, Bukit Bintang, Kuala Lumpur. 3-bed dorm, male only. RM 39

Transportasi :

  • Airport shuttle, Changi » Chinatown, SG$ 9
  • KLIA Express, KL International Airport » KL Sentral, RM 35/single trip

“boleh kakaaak”

Kasturi Walk – Central Market

akses ke Chinatown MRT Station

a cup of coffee, THE Durian Tarts, & next year agenda🙂

Aerotrain & Satelite Terminal

8 comments on “One Smooth Escape

  1. gerandis
    July 29, 2011

    enak yaaaaa……akuh, musti terbang 6 jam dulu baru sampe jakarta…

    • Sy Azhari
      August 2, 2011

      tapi kan elu deket ama taman-taman nasional di Papua yg menakjubkan

  2. rifqy mahardika
    July 29, 2011

    coba ranselnya bisa ditinggal dmn gtu ya.. beneran ngrasain gimana Amazing Race lari2an pake ransel sgede gaban gtu,, pdhl ranselku gede doank isi jg dikit :p

    duuhh.. kpikiran acara basah2an deh.. liatin tiketnya donk.. yg lsg ksana aj,g pake ikut ngumpul transit dlu🙂

  3. zou
    August 18, 2011

    Pengin ke Medan aja ah, Koh ..

    *tapi abis itu, teteup, lanjut ke Penang, hehehehe ..*

    • Sy Azhari
      August 18, 2011

      yo rena,za. sekalian kalau jaket bulu-bulunya mau dibawa karena musimnya lagi TEPAT saking dinginnya

  4. buzzerbeezz
    November 25, 2011

    Enak ya di Medan.. Pilihan maskapai buat kemana2 banyak. Bisa sering2 dpt tiket murah gitu.

    • Sy Azhari
      November 25, 2011

      maunya pindah ke Medan apa ke Jawa?

      • buzzerbeezz
        November 25, 2011

        Kalo Jawa belum bisa, Medan dulu aja lah. Haha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 29, 2011 by in Airlines, Bakery, Dessert, F&B, Go-Sees, Hostel, Malaysia, Singapore, travel and tagged , , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: