Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Bandaraya Malaka

A rickshaw in front of Christ Church Malaka

Malaka, kota yang punya nama besar di ranah Sejarah. Sebelum Penang naik daun dan Kuala Lumpur masih berupa desa kecil, Malaka lah yang menjadi primadona di Selat Malaka. Berkali-kali pihak penguasa berganti, dari  Melayu, Portugis, Belanda, hingga Inggris karena wilayah strategis di jalur dagang di eranya.

Dengan status kota kosmpolitan di zamannya membuat Malaka menjadi sebuah creole perpaduan antar bangsa. Malaka adalah salah satu tempat lahirnya budaya Peranakan, yaitu perpaduan budaya China dengan budaya lokal (Melayu, Jawa, & Aceh). Satu lagi perpaduan yang jarang ditemukan di wilayah Asia Tenggara lain adalah Kristang atau Cristao. Etnis keturunan India, Portugis, dan Melayu penganut Katolik dan mempunyai bahasa sendiri. Salah satu tokoh Kristang yang paling terkenal adalah Tony Fernandes. Pada tau kan siapa dia? hmmm.. kalau sering naik AirAsia pasti tahu deh. Ciri khas orang-orang Kristang ini sepertinya masih menggunakan nama keluarga yang berbau Portugis & Latin, mirip dengan Timor Leste yah.

Souvenir masa VOC

Dataran Pahlawan

How To Get There

Malaka berada 150 km di selatan Kuala Lumpur atau 250 km barat laut Singapura. Berkendara dari Kuala Lumpur International Airport akan memakan waktu sekitar 2,5 jam. Sedangkan dengan menggunakan bis dari Singapura dan melewati 2 pos imigrasi akan memakan waktu sekitar 3-4 jam. Saat melintasi imigrasi Singapura, saya tidak diharuskan membawa barang-barang saya turun dari bis. Namun sebaliknya saat saya memasuki pos imigrasi Malaysia. Kalau mau pesan tiket bus dari kota-kota di Malaysia dan juga Singapura, bisa dilihat di situs Bus Online Ticket.

Malaka juga punya bandara yang sepertinya baru dioperasikan kembali. Batu Berendam Airport dengan kode MKZ melayani penerbangan ke Pekanbaru, Medan, dan Kuala Lumpur – Subang oleh maskapai Firefly. Selain darat dan udara, Malaka bisa dicapai dengan kapal cepat melalui kota -kota di Riau yaitu Bengkalis, Dumai, & Pekanbaru.

Dutch Square

Get Around

Tidak seperti saudarinya, Penang & KL, Malaka tidak mempunyai transportasi massal yang mumpuni seperti Rapid Bus atau MRT. Namun bis umum tersedia di sini dengan trayek yang tidak terlalu banyak. Bis Panorama No 17 dengan warna merah ngejreng melewati terminal Melaka Sentral dan melewati Chinatown, Kampung Pantai, dan Dutch Square. Taksi juga cukup banyak beredar di Malaka. Kalau ingin petualangannya lebih seru, bisa coba menyewa sepeda di hostel & guesthouse masing-masing. Beberapa penginapan menyediakan penyewaan sepeda. Bukan yang model-model gaul atau yg lagi hip itu loh, lebih ke sepeda klasik dengan nama penginapan terukir di keranjang depan sepeda. Unyu deh :p

Red Clock Tower

Chinatown yang masih dipenuhi dengan bangunan klasik berpusat di sekitar Jalan Hang Jebat atau yang lebih dikenal dengan Jonker Street, Hereen Street, Lorong Hang Jebat, Jalan Kampung Pantai, dan sekitarnya. Jalan sempit dengan lorong sempit berisi deretan arsitektur campuran peranakan-kolonial yang masih berfungsi sebagai toko, perumahan, dan tempat ibadah. Di antara lorong-lorong tersebut terdapat Mesjid Kampung Kling. Mesjid ini penampakannya unik karena arsitekturnya memadukan Arab & Jawa di bangunannya dan nuansa China di atap serta menara mesjidnya, mirip dengan beberapa mesjid di Jawa Tengah & Jawa Timur.

Pusat aktivitas para turis berada di Dutch Square dengan pemandangan Christ Church, Stadthuys, museum-museum, dan Sungai Malaka di dalam satu wilayah. Pengunjung bisa menikmati kota tua ini dengan becak wisata selama 1 jam dan dikenakan biaya RM 40. Ingin menikmati pemandangan lain, bisa mencoba tur Malaka River Cruise. Berwisata dengan kapal menyusuri Sungai Malaka dan melewati kampung-kampung pinggir sungai yang masih otentik namun sudah dirapikan. Wahana ini bahkan tersedia hingga tengah malam. Para pejalan kaki pun bisa menyusuri sungai karena di kedua sisi pinggir Sungai Malaka sudah dibangun area pejalan kaki. Boulevard ini dibangun untuk mempermudah pejalan kaki menyusuri Malaka dengan caranya sendiri dan pemandangan yg diperoleh pun unik. Pejalan kaki akan melewati halaman belakang bangunan penginapan, toko, bahkan kafe-kafe yg mengambil area ini untuk memanjakan pengunjungnya. Saya lebih menikmati pemandangan dari area ini daripada tumpek blek di Dutch Square yg dipenuhi turis gengges yg mengobrak-abrik taman demi mencari foto atau ikutan foto. Blah!.

River Boardwalk

River Cruise

Where to Stay

Layaknya kota wisata lain, gak susah cari penginapan di Malaka. Bahkan di dalam kawasan Heritage Area terdapat penginapan berbagai kelas dari hostel, guesthouse, hingga hotel. Jonker Street, Jalan Taman Mahkota, Jalan Tukang Mas, Lorong Hang Jebat, dan Jalan Kampung Pantai adalah beberapa jalan yang memiliki cukup banyak penginapan. Kemarin, saya menginap di River One Guest House di Jalan Kampung Pantai. Hostel ini menempati sebuah bangunan tua yg telah direnovasi namun tetap menyisakan unsur-unsur vintage di dalamnya. Balkon luas di lantai 2 hostel ini menghadap Sungai Malaka langsung, dan halaman belakangnya ada tempat nongkrong yg tepat berada area Malaka River boardwalk. Untuk 1 malam, saya hanya membayar sekitar RM 45 (Rp 135.000).

Koridor Hostel

Hostel

Jonker Street

Indulge Yourself

Untuk belanja, gak banyak mall yang ada di Malaka. Mahkota Parade & Dataran Pahlawan adalah 2 mall terbesar di Malaka dan isinya pun sama seperti mall di kota-kota menengah di Indonesia. Pusat penjualan souvenir bisa ditemukan di beberapa pusat wisata. Beberapa kios penjual souvenir terdapat di Dutch Square. Kawasan Jonker Street pun menjadi sasaran penjual souvenir dan bahkan jumlahnya lebih banyak daripada di Dutch Square. Beberapa kios menjual t-shirt bergambar ikon-ikon Malaka atau anekdot. Orang Utan merupakan salah satu brand paling terkenal dengan outlet yang berada di Jonker dan Lorong Hang Jebat. Sedangkan Jonker Gallery merupakan outlet yg menyediakan beragam souvenir mulai dari t-shirt hingga aksesoris seperti magnet kulkas dari rempah aseli, gantungan kunci, perintilan-perintilan buat gadis-gadis, dan oleh-oleh lainnya.

Bicara makanan, mungkin Malaka masih jauh kalah tenar dari saudara peranakannya, Penang. Pun begitu, Malaka masih menyimpan beberapa ikon seperti Asam Pedas Malaka yang mirip Asam Padeh dari tanah Minangkabau dan juga Chicken Rice Ball. Beberapa restoran yang menyediakan Chicken Rice Ball sudah dipadati pengunjung bahkan sebelum mereka buka. Pinter-pinter milih jam aja. Hoe Kee, Famosa, & Kedai Kopi Chung Wah adalah nama-nama yg melegenda kalau kita bicara tentang Chicken Rice Ball. Berhubung pernah dijajah Portugis, banyak penjual pastry yg menyediakan Egg Taart disini. Sedangkan jajanan pasar bisa diperoleh di Jonker 88, mulai dari laksa, mie kari, dim sum, cendol, es sago, sampai nasi lemak.

Jonker 88

Portuguese Egg Tart

Egg Taart Stall

Roti telur & bawang + kuah kari

singgah yo di Famosa Chicken Rice Ball

Bila harus dibandingkan, saya lebih menyukai menghabiskan waktu di Penang daripada Malaka. Tapi jika dibandingkan dengan Ibu Negara, Kuala Lumpur, saya jauh melebihi Malaka. Orang-orangnya asik. Setiap belanja atau beli makan, saya pasti ditanya asalnya dari negara dan kota mana, berapa lama disini, udah kemana aja, bahkan dikasi saran tempat terbaik mencari kebutuhan saya. Suka deh!!!

Mesjid Kampung Kling

Becak..becak..tolong bawa saya!

Kokoh-kokoh yg lagi gambar pemandangan di lorong sempit *ehem*

Kokoh-kokoh yg lagi gambar pemandangan di lorong sempit *ehem*

A girl with spiral potato. i love this snack, esp the Curry Powder one

an uncle did storytelling about history of Malacca to 3 siblings

tickets

11 comments on “Bandaraya Malaka

  1. Gudang Wisata
    January 1, 2012

    indah y tempat’a, smga nnti bisa mngunjungi ni tmpat.🙂

    Info Tempat Wisata dan Tips Traveling

  2. saparudion
    January 2, 2012

    sukkkaaa deh liputannyaaa yg ini …

    • Sy Azhari
      January 2, 2012

      makasih, kakaaak. balik ngeblog lagi dong, jangan galau-galau lagi.

  3. saparudion
    January 2, 2012

    sudah dong, koh.
    blog udah gak di-hack lagi
    heran gue, kenapa gak nge-hack hati gue aja sih ya
    huahahahaha

  4. buzzerbeezz
    January 2, 2012

    Gono gini nya mana koh? Biar bisa siap2 nabung nih buat kesana.. :p

    • Sy Azhari
      January 2, 2012

      udah ada kok ri, cuma tersirat. hehehehehe. masalah transportasi bisa diak diklik di link yg aku kasih itu. gak jauh2 habisnya lah dengan di Kuala Lumpur atau Penang

  5. tamhargreat
    January 2, 2012

    Seru koh liputannya. Target gue sehh kalo ke Malaysia lagi gue pengen ke Melaka, Penang ama ke daerah-daerah Malaysia Timur sono. Untuk tahap awal sepertinya gue akan menjelajahi kota Melaka ini. Kayaknya masih banyak tempat serunya yang belom gue kunjungi. Abisnya kemaren-kemaren tiap kesini cuma buat nonton doank.

  6. samhoed
    January 5, 2012

    Di selat Malaka, di ujung Sumatra.. dua hati kita satu dalam cinta.. #eaa

  7. samhoed
    January 5, 2012

    eh gara2 di macau nyobain egg tart itu, gw jd suka kue ini. cuman sayang di bekasi ga ada yg jual. payah :[

    • Sy Azhari
      January 5, 2012

      pardon me, elu baru nyobain egg tart waktu di Macau bbrp bulan lalu? di toko roti penjuru negeri banyak kok,kek. Ada yg Portuguese Egg Tart yg pinggirannya pake pastry, ada yg yg Egg Tart biasa yg pinggirannya kyk graham crackers.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 1, 2012 by in Go-Sees, Jalan-jalan, Malaysia, travel and tagged , , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: