Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Dari Karon ke Krung Thep Maha Nakhon

Karon Beach

Teror gempa dan evakuasi tsunami malam di tanggal 11 April membuat jadwal kami tiba di Karon lumayan tertunda. Pukul 8 baru sempat menginjak area Karon. Saat Ombolot memulai proses check-in, saya pun keliling-keliling di Karon untuk mencari makanan ringan namun terpaksa berhenti di 7-Eleven mengingat banyak tempat bisnis yang tutup karena peringatan dan evakuasi tsunami sorenya.


Jadilah malam itu kami berleyeh-leyeh di Hotel Little Mermaid yang beraroma Skandinavia ini. Mulai dari menu bar, restoran, sampai info-info di hotel gak sah kalau gak pake bahasa Swedia atau Denmark. Kami manfaatkan waktu untuk browsing berita-berita terkait gempa Sumatera sore tadi. Setelah perut lumayan keroncongan, kami memutuskan mencari makan di sekitaran downtown Karon. Ternyata malam itu lebih banyak bar yang buka daripada restoran yang buka.

Karon Beach

umbrella..ella..ella..ee..ee

Akhirnya kami berdua memutuskan untuk makan di restoran India (lagi!!!). Dan di sini pun kesabaran kami diuji setelah sebelumnya diuji ketika beberapa jam dievakuasi.  Butuh 1,5 jam tibanya makanan ke meja kami. Pelayan restorannya cuma 2 orang, 1 wanita India gesit dan 1 pria lokal yang lenjeh abis dan gak menolong kegesitan teman wanitanya. Beneran muka kita suntuk banget menunggu 1,5 jam di situ. Sampai 2 bule tahu kebosanan saya dan menertawakan tampang saya yang sedari tadi ngulet-ngulet di atas meja karena bete. Curiganya makanan di situ dibikin hanya oleh 1 koki dimana meja saat itu penuh banget. Pun pemilik restoran itu kurang ajar banget, bukannya keliling-keliling minta maaf ke pengunjung lain…eh dianya ikutan sok-sok akrab di salah satu meja gabung bersama bule sekeluarga. Cih. Ogah gue balik ke situ lagi, jengkelnya setengah mati.

Malam itu kami habiskan untuk istirahat aja mengingat kelelahan fisik ditambah cabaran dari gempa dan restoran India tadi. Kami pun menyimpan tenaga untuk mengelilingi Karon esok paginya. Dan kalau sempat, sebelum ke bandara kami berniat singgah sebentar ke Patong Beach untuk makan siang.

view from our room

Karon Beach

Kami menginap di Karon dengan pertimbangan pengalaman teman saya di Patong yang riweuh dengan segala keramaian dan kebisingan di malam hari. Memang sih Karon tidak seramai Patong, namun karena hotel kami ini di tempat yang hi tetep aja kena efek  ‘diskotik’ di seberang kamar. Pun begitu tidak menghalangi kami bangun pagi untuk menghabiskan hari terakhir di Phuket.

Menyusuri Karon Beach di pagi hari menjadi ajang saya melepas penat kemarin. Tapi sempat juga was-was mau main air karena masih trauma. Pantai Karon ini panjangnya sealaihim gambreng aja, sekitar 4 km. Dibanding Patong dan Kata di pantai barat Phuket, Karon memiliki garis pantai terpanjang. Sifatnya adalah pantai publik, jadi gak ada ruas pantai yang menjadi bagian kavling resort atau hotel tertentu. Semua orang bisa masuk dan khrateisss.

Kelar cibang-cibung di Karon dan check-out dari hotel, sebenarnya niat kami adalah main-main ke Patong. Gak ada angkutan umum dari Karon ke Patong, harus melalui Phuket Town yang artinya kami harus detour 30 km padahal jarak Karon-Patong hanya sekitar setengahnya. Mencoba menawar tuk-tuk di dekat-dekat pantai, ternyata perjalanan pendek itu dikenakan harga 400 Baht. Dan jengkelnya lagi, si ibu tadi bilang semua taksi di sini harngaya sama dan percuma menanyakannya. Hmmm, i smell Tuk-tuk Kartel here.

Public Bus (available at Phuket Central Market)

Karon Beach Boulevard (ga ada kabel seliweran loh)

Jengkel, akhirnya kami pun memutuskan ke Phuket Town aja dengan bis umum. Cuma 10 Baht doang lagi. Kembali kami menyusuri kota tua Phuket. Bedanya saat itu kami melakukannya saat siang hari, jadi masih banyak restoran, kafe, dan tempat usaha yang masih buka. Dan setelah dilihat-lihat, bagus-bagus banget interiornya. Gemes. Kami pun memutuskan untuk singgah menyeruput minuman lunak di Gotum, salah satu kafe yang sepi tapi mendadak rame setelah kita singgahi.

Italian Soda at Gotum

Tak lama setelah itu, kami berjalan kaki ke terminal yang letaknya dimana kita sudah fasih banget *puk puk resepsionis Lub Sbuy Huesthouse*. Melihat jadwal keberangkatan bis dan jadwal terbang, kami pesimis bisa tiba di bandara tepat waktu. Jadilah tawar menawar dengan supir tuk-tuk dan berakhir dengan harga 500 Baht untuk trip Phuket Town-Bandara sepanjang 35 km. Tuh kan, emang dasar tuk-tuk di Karon & Patong aja tuh yang kartel.

Terjadi sedikit kebodohan yah selamat di bandara Phuket.  Pas saya cek boarding pass saya, eh ternyata ditunda aja penerbangannya dari pukul 15.15 ke 16.30. Dan dengan entengnya Ombolot menjawab bahwa penerbangannya emang 16.30, sesuai jadwal di tiket dia sedari awal kok. Dan setelah dicek…NOMOR PENERBANGAN KITA BERBEZA!!!. Ya walaupun 1 maskapai yah, tapi tetep beda penerbangan. Untungnya pesawat dia gak delay, jadinya kita berangkat dan tiba cuma selisih 10 menit doang dan bersua kembali di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Sawasdee, Krung Thep Maha Nakhon🙂

Sunrise from our Little Mermaid room

The infamous On On Hotel

rwwwrrrr

Asian

Other Asian

Sand Wick? Fruit Shack?

Auf wiedersehen, Karon

Karon Beach

9 comments on “Dari Karon ke Krung Thep Maha Nakhon

  1. dansapar
    May 28, 2012

    ih karonnya baguuuuusss
    apa dulu pas ke patong krn siang hari bolong ya jd krg bs menikmatinya ya

    • Sy Azhari
      May 28, 2012

      Patong emang crowded banget yak? makanya si Ombolot nyaranin tinggal di Karon aja. Karon emang ga terlalu rame, tapi lumayan lengkap juga kok. Cuma jauh dari hiburan atau tempat atraksi aja, gak kayak Patong. ada plus minus juga sih

      • dansapar
        May 28, 2012

        dulu pas ke patong tengah hari bolong jd teriknya nyiksa bgt, trus emang rame sih meski siang, klo malam g tau krn menjelang sore uda cabut, pas liat2 info sih emang bener katanya rame..

  2. ombolot
    May 28, 2012

    Aslik … Gw ngakak baca Sand Wick ama Fruit Sack… Kangen naek bustruck itu koh, seryu … ntar turun di Central

    • Sy Azhari
      May 28, 2012

      huwakkakakaka… daripada size baju Ek-Ew (XL)? Enak banget bus truk kayu itu, angin sepoi-sepoi banget

      • neng fey
        May 30, 2012

        baru mau nanya, beneran tuh sand wick?
        koh.. lo kaga ikut kita kondangan ke mbah? :p

      • Sy Azhari
        June 4, 2012

        beneran,mpok. belum lu lihat lagi yang French Fried dan lain-lain kan,mpok. ish, kalian jahat…makan Sate Maranggi gak ajak-ajak gue. Hiks

  3. zou
    May 28, 2012

    err, public bus nya era 70-an banget yaaa .. :))

  4. buzzerbeezz
    June 2, 2012

    Emm… mau nanya Koh, Other Asian itu siapa ya Koh? *kalem*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 28, 2012 by in Go-Sees, Jalan-jalan, Thailand, travel and tagged , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: