Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Mari Pulang, Mari lah Pulang

Lumphini Park dari balik jendela BTS Train

Hari terakhir liburan panjang. Agak gak rela ya balik ke peradaban dan kembali menjadi upik abu setelah 10 hari berkelana di 3 area. Mumpung penerbangan kami berangkat pukul 8 malam, jadi lah masih ada sisa hari yang lumayan panjang sebelum berangkat pulang.

Tujuan pertama pagi itu adalah menghabiskan minggu pagi di Victoria Lumphini Park. Jadi ceritanya nih, saya kesengsem banget ama taman kota yang layak dan rapi di kota mana pun itu. Nah, setiap kita berganti armada dari BTS ke MRT di Bangkok, pastinya selalu melewati Lumpini Park. Letaknya di sebelah stasiun BTS Sala Daeng  dan tepat di atas stasiun MRT Si Lom, juga didukung karena minggu pagi belum ada rencana ke mana-mana, jadilah kita habiskan pagi itu di sana.

view from Lumphini Park

Ibarat kata Jakarta, Lumphini Park ini terletak di pusat kota seperti Monas. Dikelilingi oleh area perkantoran elite, area seluas 57 ha (0,57 km sq) ini cukup menyegarkan mata kalau-kalau penat di kantor. Di dalam area taman ini terdapat danau buatan, hall, dan penjaja makanan. Terdapat juga paviliun rumah adat dari berbagai penjuru Thailand, baik dari Central Thailand, daerah selatan yang lebih agak Melayu, atau bangunan khas Lanna Thai dari utara. Untuk menjaga kebersihannya, merokok dan anjing dilarang di dalam area taman.

Di hari minggu itu, banyak warga yang tumpah ruah di taman dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang aerobik di dekat pintu masuk V, ada yang sekedar joging, jalan santai, ada yang tai chi, ada lagi yang senam pake kipas mulai dari geng kipas amatir sampai yang advance di sisi lain taman, bahkan yang pake pedang juga ada. Heboh dah. Yang agak  suram dari taman ini adalah pintu masuk yang dijejali banyak sampah plastik dan botol sisa perayaan Songkran. Yah, gak cuma di taman doang sih.. se-penjuru kota juga banyak sampah beginian di saat hari rayanya meraka.

King Rama VI Statue

around Lumphini Park

Petualangan kami di Lumphini harus diakhiri setelah 1 jam berkeliaran HANYA di 1/4 bagian taman yah. Saking luasnya ini taman, kita cuma bisa menjelajah 1/4 taman di 1 jam pertama. Seperti kata iklan kecap yah : Umur…emang gak bisa bohong.

Setelah (kurang) puas menjelajahi taman yang indah itu, kami bingung memutuskan ke mana lagi. Berhubung di dekat taman ada stasiun MRT, ke mana lagi kami melangkahkan kaki dan menghabskan duit kalau bukan ke… Chatuchak Weekend Market. Again. Apalagi tampaknya perburuan barang-barang belum berakhir dan belum terpuaskan di hari sebelumnya.

Lagi-lagi ritual berbelanja di Chatuchak kami awali dengan sarapan pagi di Nasi Ayam ibu bersongkok itu. Kali ini gak cuma pesan nasi kuning + ayam goreng, tapi juga pesan yang nasi kuning + ayam ungkep dan 1 porsi ayam goreng sendiri! ya kira-kira 1/4 ekor ayam sendiri sih. Huhuhuhu. Setelahnya baru berburu apa yang tertunda kemarin, seperti oleh-oleh berupa makanan dari buah kering. Tidak banyak waktu yang kami habiskan kali ini, mengingat kami belum check-out dari hostel dan belum bersiap-siap. Jadilah kami meluncur ke Lubd Siam Square.

Oh iya, sebelum balik ke Siam Square, kami mencoba singgah ke Queen Sirikit Park yang letaknya gak jauh dari Chatuchak Market dan Chatuchak Park. Queen Sirikit ini taman kota yang juga berukuran luas, kalau gak salah sekitar 22 ha atau. Pfffttt..wajar kita gak bisa habiskan waktu lama di sini. Di Queen Sirikit Park ini ada beberapa jembatan yang bagus dengan sungai dan danau buatan di dalamnya. Taman ini juga dipakai untuk syuting beberapa iklan yang wara-wiri di TV Nasional atau TV berbayar kita kok, terutama iklan pemutih wajah.

Queen Sirikit Park

Queen Sirikit Park

Tepat tengah hari, kami keluar dari Lubd Siam Square setelah 3 malam menginap di sana. Tak lupa berpamitan dengan kru hostel yang muda-muda nan ramah itu dan mengeksekusi sepotong kaos souvenir hostel. Mengingat penerbangan masih lama, kami titip ransel di hostel dan tidak dikenakan charge sama sekali. Dan sisa waktu terakhir di Bangkok kami habiskan di sekitar Siam Square saja, tepatnya di MBK & Siam Paragon. Berbelanja buah kering di MBK dan mengucapkan selamat tinggal ke outlet Cha Cha Cha di Siam Paragon adalah 2 hal terakhir yang kami lakukan selama liburan di Bangkok. Ada pengalaman yang rada malu-maluin selama belanja buah kering di MBK. Karena sample barangnya banyak banget, dari kulit jeruk bali sampai merkisa kering, jadilah kita gragas mencoba satu-satu…sampai didatangi oleh pramuniaganya yang menanyakan mana yang kita ambil. Terpaksa lah pura-pura panik milih…yang paling murah😀

Pukul 4 sore kami menuju Phaya Thai Station, stasiun persimpangan antara BTS dan Airport Rail Link. Gak butuh waktu lama untuk pergi ke bandara, karena sistem transportasi kereta bandara ini sangat efektif sekali. Dengan jarak yang hampir sama dari Pusat Kota-Cengkareng, perjalanan dari Phaya Thai ke Bandara Suvarnabhumi hanya kami tempuh kurang dari 30 menit dan hanya bermodal 90 Baht alias Rp 27.000. Sedikit hectic di bandara karena banyak yang kelar liburan Songkran pada mau balik ke sana. Satu hal yang bikin sedikit menyesal adalah keputusan saya untuk meninggalkan pistol air di hostel karena takut birokrasi bandara yang rada ketat. Padahal ya itu cuma pistol air kecil doang, sementara di bandara banyak banget yang bawa pistol air segede bazooka. Hiks…aku iri.

Waiting area for airport rail passanger at Phaya Thai Station

Suvarnabhumi Airport

Terkesan banget dengan bandara utama Bangkok ini. Interiornya futuristik ditambah aksen tradisional, fasilitas dan akses yang gampang, ditambah juga pelayanan yang diberikan oleh para pemberi jasa yang cukup mewakili julukan Thailand sebagai Land of Smile. Tapi ada satu hal yang bikin jengkel : bandaranya ini segede dosa aja tapi minim travelator aja di daerah post-immigration sampai ke pintu keberangkatan. Pffftt. Tapi walaupun begitu, dengan luas yang hampir sama dengan KLIA Mian Terminal + Satelitte Terminal, bandara ini menyediakan lebi banyak imigrasi yang disebar di beberapa lobby area dan gak disentralisasi di satu area kayak di KLIA. Jadi lebih efisien dan efektif bagi para pejalan hemat waktu seperti saya.

Penerbangan dari Bangkok ke Medan ada di gate E-10 yang jauhnya Astaghfirullah bikin kaki gempor banget sementara travelatornya sedikit. Begitu masuk ruang tunggu, langsung deh udah berasa di Medan. Tau dong tipikal orangnya yang kalau ngobrol berdua aja udah cukup menenggelamkan suara pengumuman di bandara…nah ini banyak yang satu rombongan malah. Laki-laki dengan polo shirt biru dan ibu-ibu paruh baya dengan polo shirt pink saling bersahut-sahutan dengan volume suara yang bikin migrain saya sedikit kambuh, apalagi mengingat besok senin udah masuk kantor lagi. Untungnya penerbangan tepat waktu dan pukul 20.15 pesawat sudah take-off menuju  Medan untuk kembali ke rumah dan kembali menjadi upik abu di Negeri Dongeng.

Auf wiedersehen, Bangkok

THE PEOPLE

Geng Kipas Fierce

Geng Kipas Pemula

Geng Taichi Penikmat Brondong

Geng Pedang Langit

Geng Yoga (gue pengen yoga outdoor begini!!)

Geng Black Swan

THE PARK

Lumphini Park

Lanna Thai (Northern Thai) house

“mau bertukar cincin,gak?”

Queen Sirikit Park with Mo Chit BTS Station on the background

Lake in Lumphini Park

Queen Sirikit Park

GUE PENGEN BEGINI DI KOTA SENDIRI!! gak diganggu kutipan preman/ormas, gak diganggu penjual asongan yg maksa, dan gak dikelilingi pasangan mesum yg kurang modal buat check-in di hotel!!

 

8 comments on “Mari Pulang, Mari lah Pulang

  1. ombolot
    June 19, 2012

    I feel you koh, i feel you *lirik sepeda motor berpenumpang 2 bertangan 3 dibawah pohon taman kota*

    pengen kesana maning … *i’m so getting thai citizenship*

    • Sy Azhari
      June 19, 2012

      sabar,loh. 11 bulan itu sebentar kok. lagian ini mikirin yang tinggal 3,5 bulan lagi ini!!! balik lagi ke negara baborit kita… Pilipinas

  2. kondrrrrrr
    June 19, 2012

    aslik..taman2 di bangkok bagus2! kapan jekardah kek gini

    • Sy Azhari
      June 19, 2012

      tanya dong ama ahlinya *mlintir kumis*

  3. dansapar
    June 19, 2012

    gue kmrin lewat doang di lumphini
    dr jendela aja keknya bagus apalagi masuk ya

    btw, ngapain pistol air kecilnya nggak disulap jd bandul kalung aja, koh
    dikasih tali trus digantungin
    bilang aja tren baru namanya kalung songkran

    *sapar kelewat kreatif*
    hahahahhaa

  4. dee
    June 19, 2012

    aduhh..gambar terakhir itu ya…bekeng envy maksimal

  5. anton
    June 19, 2012

    Ooohhhh, jadi oleh2 buah kering gw, hasil malu karna nyoba kebanyakan? (۳˘̶̀Д˘̶́)۳

    • Sy Azhari
      June 19, 2012

      Kagak ya. Yg punya lu tuh gw beli di Chatuchak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 19, 2012 by in travel and tagged , , , , , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: