Akhir Pekan di Tangkahan

Meet The Local

Perjalanan ke Tangkahan sejatinya adalah sambutan buat tamu agung dari Kingdom of Swaziland Bekasi, Samhoed, seorang teman lama yang juga tetangga kosan satu dekade yang lalu. Rencana bergulir dari bibir ke bibir (iykkss!) dan disambut hangat oleh tuan rumah Tesa dan suami Gandhi, saya sendiri, dan teman-teman baru saya dari Aceh, plus si Samhoed juga bawa chihuahua teman lagi yaitu Harry. Jadilah kita berjumlah 8 orang melakukan perjalanan akhir pekan ke Tangkahan, sebuah kawasan ekowisata di Taman Nasional Gunung Leuser.

20121008-230449.jpg
Bis Pembangunan Semesta

Diawali dari Terminal Bis Pinang Baris dengan bis zaman orde baru, Pembangunan Semesta, perjalanan memakan waktu 3 jam sampai dengan Titi Manggis. Dari Titi Manggis, kami melanjutkan perjalanan dengan mobil pick-up yang telah lebih dahulu dipesan melalui penginapan. FYI, dari Titi Manggis, gak ada lagi angkutan umum yang masuk ke wilayah Tangkahan kecuali ojek. Setelah melakukan hitung-hitungan, menyewa mobil pick-up buat 8 orang lebih murah daripada mesti naik ojek yang tarifnya 50rb/sekali jalan. Dari Titi Manggis, ternyata emang masih 1 jam lagi melewati kebun sawit hingga sampai ke Tangkahan dengan kontur jalanan yang Masya Allah bikin bemper belakang panas banget. Serasa lagi dipanggang panas-panasan di atas mobil selama perjalanan itu.

Namun begitu sampai di lokasi, langsung bersyukur dengan udara bersih dan segar yang berlimpah. Ditambah lagi air sungai yang jernih dan dingin. Perjalanan 4 jam tadi pun udah ga terasa…yah rasanya berganti jadi pegal naik turun tangga yang curam sih :p. Menuju penginapan, kami harus menyeberang dengan rakit. Langsung terasa kontrasnya antara sisi satu dengan sisi lainnya. Di sisi tempat kami masuk, pohon sawit tertanam rapi di setiap petak, sementara di sisi seberang sungai terdapat hutan hujan tropis.

Kami menginap di Mega Inn dimana 1 kamar diisi oleh…8 orang. Untungnya muat walaupun ada double bed yg ditiduri 3 orang. Untung bodinya pada langsing begini *cermin pecah*. Kegiatan pertama dihabiskan dengan makan siang. Maklum, 4 jam di jalan sungguh menguras tenaga dan emosi juga. Tapi makan siang bukan sekedar makan siang. Kami menyantap hidangan yang dibuat Tesa di pinggir sungai dan di bawah naungan hutan. Good food & good view. Perfect weekend.

20121008-224601.jpg
Piknik

Kenyang menyantap telor balado, ayam panggang, teri medan balado, dan lalapan yg dibuat Tesa kita bebas menikmati apa yang disuguhkan oleh Tangkahan. Hutan yg rindang, air sungai yang jernih dan sejuk, mata air panas kecil di sudut bebatuan, dan tentunya udara segar nan melimpah yang kontras dengan udara perkotaan.

Sebelum hari semakin gelap dan arus sungai semakin deras, kami memutuskan untuk Tubing di Sungai Wampu. Karena airnya cukup dangkal serta Tesa & Gandhi pernah ke mari sebelumnya, kami memutuskan untuk tubing tanpa guide dan hanya mentewa ban. Kalau menyewa ban hanya dikenakan Rp 10.000 sedangkam tubing dengan guide dikenakan biaya Rp 75.000. Lumayan hemat kan. Tujuan utama tubing ini selain leyeh-leyeh di atas sungai adalah Air Terjun Glugur.

Air terjun ini tidak terlalu tinggi namun airnya cukup deras untuk menimpa punggung dan merasakan sensasi diinjak badak. Karena seharian ga hujan, aliran airnya agak kering walaupun di satu titik melimpah ruah. Dari air terjun ini kami trekking melewati kebun-kebun sawit untuk kembali ke penginapan. Cukup memakan waktu juga kira-kira 30-45 menit.

20121009-224955.jpg
Entourage
20121009-225024.jpg
Tubing

Malam harinya kami habiskan untuk mingle karena ada beberapa yang baru kenal di sini kemudian dilanjut masak makan malam dengan menu pecal buatan Tesa dan Rendang buatan Ibunya Ade yang enaaaakkkk banget. Rendangnya bukan masih berupa kalio kayak yg dijual kebanyakan rumah makan, tapi ini beneran rendang dari Payakumbuh yang dikirim ke Lhokseumawe untuk dibawa ke Medan dan Tangkahan. Pffiiuuhhh, perjalanan jauh buat si Rendang. Damn, sekarang saya punya benchmark sendiri yaitu buatan Ibunya Ade *pasang puppy eyes biar dikirimi*

Ada sedikit tragedi waktu tidur karena beberapa kasur dikencingi oleh anak kucing yang ternyata tinggal di plafon kamar kami. Terpaksa deh nferepotin pengurus penginapan buat ganti-ganti bantal dan sprei. Juga ga lupa manjat-manjat plafon buat ngambil beberapa ekor anak kucing. Kirain suasana udah tenang, eh menjelang subuh masih ada aja kucing nakal yg ngencingin kasur yg dipakai Ren. Bubar kabeh..

20121009-230235.jpg
Gunung Leuser National Park

Keesokan paginya, masing-masing teman asik sendiri dengan aktivitas masing-masing. Ade dengan kameranya, Gandhi & Ren yang menelusuri sungai untuk mencari air terjun lain, Iman yg numpang charging ponsel di bangunan utama (karena tiap kamar ga ada colokan), beberapa oknum masih tertidur, dan saya yg kebingungan mau ‘upload’ di mana berhubung air kran mati. Saat pada bangun semua, kita sempat sarapan kecil di kafe milik Mega Inn dan dilanjut sarapan besar dengan masak pasta di teras kamar ๐Ÿ˜ฎ

Niat untuk acara memandikan gajah urung terwujud karena kesiangam. Jadilah kita melihat bule-bule itu naik gajah. Untuk trekking dengan menaiki gajah, dikenakan harga Rp 650.000 per orang. Karena penginapan masih terletak beberapa ribu tombak dari tempat gajah tadi, kami memutuskan menyewa ban lagi dari Green Lodge yg ada di sebelah penangkaran gajah.

20121011-171928.jpg
Small Waterfall

Lagi-lagi kami tubing di air. Aktivitas yang menyenangkan sebenarnya kalau saja saya tidak hampir mati karena menabrak kayu, ban tebalik, hanyut di bawah batu-batu dengan arus yang deras dan sempet pasrah kalau-kalau saya bakal kenapa-napa gitu ๐Ÿ˜ฆ untungnya masih dikasi kesempatan melihat teman-teman dan cahaya matahari lagi saat nemu dasar sungai yg dangkal. Apalagi Ren juga berhasil nangkap ban saya. Lebay emang, tapi itu yang saya rasakan. Sempet sedih dan akhirnya lega.

Setelah bersih-bersih di sungai (takut air belum nyala dan males naik turun), kami pun beranjak dari penginapan untuk kembali ke Medan. Mobil pick-up yg sama menjemput kami untuk diantar ke Titi Manggis. Sampai Titi Manggis sempat down karena ga ada bus lagi yg berangkat. Dipaksa-paksa, dibujuk-bujuk, akhirnya supir bis Pembangunan Semesta mau juga narik tetapi hanya sampai kota Stabat. Well, setidaknya kami menemukan peradaban kembali di Stabat dan kembali melanjutkan perjalanan ke Medan dengan angkot.

What a perfect weekend. Old friends, new friends, good food, stunning view, minus the near-to-death experience of course. Makasih buat semua pihak yg menjadikan trip ini terselenggara ๐Ÿ˜‰

20121011-172430.jpg
want some?
20121011-172813.jpg
Titian Muhibah
20121011-173016.jpg
Mama Wamenaaaa ๐Ÿ˜€

20121011-173215.jpg

20121011-173329.jpg
Entourage
20121011-173456.jpg
Underwater
20121011-173621.jpg
Gelugur Waterfall
20121011-173727.jpg
Daydreaming

16 thoughts on “Akhir Pekan di Tangkahan

  1. tapi kan elo atlit renang koh! koq bisa ampe kelelep gitu sih.
    dan lagi… masa iya perut lo gak bisa jadi pelampung?
    mendramatisir keadaan kamuh!

    *ngibrit naik gajah ma bule

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s