Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Going Home…Going Home

Bandara Soekarno-Hatta yg lengang pisan

Minggu pagi di Boracay. Saya bangun dengan rasa kantuk yang masih sangat ingin dilampiaskan. Rasa kantuk yang sebenarnya ga perlu terjadi kalau saja tragedi laknat tengah malam di Frend Resort pun gak terjadi. Kejadian yang bikin saya dan tetangga-tetangga lain  ‘panas’ di tengah dinginnya malam di Boracay.

Sebenarnya saya sudah terlelap pukul 11 malam setelah menikmati musik akustik dari bangunan utama hostel dan tontonan tv lokal  di kamar ditemani hujan. Asik-asiknya menikmati tidur malam sebelum pulang ke Indonesia, saya terbangun karena kamar di bungalow belakang saya berisik banget. Yah, namanya juga dinding bungalow ini terbuat dari gedek/anyaman bambu. Risiko suara dari/ke kamar sebelah pasti lebih besar.

Yang membuat saya risih dengan ributnya kamar sebelah itu adalah nada suara yang dikeluarkan oleh penghuni-penghuninya. Suara wanita berbicara disambi ketawa-ketiwi penuh haha-hihi dan erangan penuh nafsu disambut lenguhan teman prianya silih berganti sampai sejam lebih ditutup dengan erangan keduanya yang panjang dan penuh…well.. kebahagian. Selesai? nggak!.

‘Acara’ dilanjutkan sepertinya dengan adegan yang sama. Terdengar erangan dan suara bicara dari wanita yang sama…dan suara pria yang berbeda!. Well, It looks like they have a Ménage à trois that night. Dan ternyata bukan saya aja yang terganggu. 2 Bule cewek yang kamarnya di sebelah saya juga merasa terganggu hingga berteriak: “shut up!! finish her!”. ‘Acara’ pun berlangsung hingga sekitar pukul 3 dini hari dengan suara panjang dari sang pria menutup adegan. It was a very wild night siyempre. Saya pun akhirnya bisa tidur setelah mendengarkan playlist lagu-lagu yoga demi menurunkan ‘tensi’.

Bulabog Beach

Bulabog Beach

Pagi harinya saya terbangun untuk berjalan-jalan ke pantai di sisi lain Boracay Island. Pinginnya sih main ke Puka Beach di ujung utara yang bayak ditemukan Puka (Giant Clam), tapi dompet sampenya ke Bulabog Beach di sisi timur Boracay Island. Dengan berjalan kaki sejauh lebih-kurang 1 km, saya pun mencapai pantai yang dikenal karena aktivitas kiteboarding di Philippines.

Pantai terlihat agak kotor karena sampah organik seperti  sisa-sisa pohon kelapa dan ranting-ranting pohon dari laut mendarat akibat hujan deras disertai angin kencang. Di kejauhan, saya melihat di Bulabog ini banyak mansion-mansion mewah. Rupanya di sini termasuk tujuan wisatawan yang kurang menyukai daerah ajeb-ajeb di White Beach.

Boracay White Beach

Dari Bulabog Beach, saya kembali ke area White Beach untuk menikmati jam-jam terakhir di Boracay. Sepulang dari sana, saya berselisih jalan dengan penduduk lokal yang menuju ke Gereja. Dandanannya mirip-mirip orang kita kalau ke gereja. Sampai di White Beach, ternyata masih seppiiii banget pada pukul 6 itu. Jadi makin bersemangat untuk bermain air.

Hampir sampai jam 9 pagi saya menikmati White Beach. Gak ada kegiatan selain berenang hingga beberapa ratus meter dari bibir pantai, karena lautnya sangat dangkal sekaligus sangat bersih dan dingin. Wajar ini pantai emang termasuk yang paling bagus di dunia. Bukan tipikal pantai yang bisa dilihat doang, tapi bisa dinikmati maksimal. Rada sedih saat saya harus berhenti menikmati pemandanga White Beach karena harus balik ke hostel untuk bersiap balik ke Indonesia. Hiks😦

Laid back Boracay

Laid back Boracay

Werkkk those legs

Pada saat sarapan, terlihat lah muka-muka penghuni hostel lain yang masih penuh kantuk karena bergadang malam sebelumnya. Saya sempat ngobrol dengan anak lokal yang kemarin  (i forget his name, but he is very genuinely kind and bubbly). Kita ngobrol-ngobrol lama tentang tujuan wisata di Philippines. Dan dari dia, saya dikenalkan penghuni lain dari Inggris yang ternyata 1 pesawat dengan saya di penerbangan Caticlan-Manila nanti siang. Sementara itu si anak Filipino itu bakal pulang naik pesawat sore ke Manila. Semua muka penghuni yang sarapan tadi pada butek karena liburan mereka berakhir hari itu dan harus meninggalkan Boracay. Sama seperti saya.

Tiba saatnya meninggalkan Boracay dan menuju Manila. Saya pamitan dengan salaman ke Jeff, Greg, teman baru saya dari Filipina, & teman se-tanah air (duh, masih lupa namanya. Next time i’ll use my Day One app for mini-blogging while traveling). Saya pun menuju Cagban Jetty untuk kemudian terbang via Caticlan Airport. Untungnya pesawat saya diberangkatkan 30 menit lebih cepat dari jadwal, sehingga tiba di Manila pun lebih cepat dan saya punya waktu lebih luang untuk transit.

Transit in Manila

5 Jam transit di Manila saya manfaatkan dengan efektif. Saya menuju Left Baggage di belakang Burger King Terminal 3 – NAIA untuk menitip tas saya selama 3 jam. Hal ini untuk memperingan langkah saya mencari oleh-oleh di Kultura di SM Makati. Agak tersendat saat menunggu taksi karena ramainya pengguna taksi mengingat moda ini adalah andalan keluar dari bandara.

Untungnya itu hari minggu, jadi jalanan dari bandara ke SM Makati di area Makati CBD lancar jaya banget tanpa lewat tol pun. Si supir taksi yang antusias banget karena bawa turis Indonesia dengan malu-malu meminta souvenir Indonesia berupa…uang kertas. Dia sambil senyum-senyum malu meminta uang kertas yang nominalnya gak terlalu besar sebagai pengingat kalau dia pernah bawa orang Indonesia dan warga negara lainnya. Untungnya kalau jalan-jalan ke luar saya bawa uang kertas Rp 5.000 buat jaga-jaga sebagai souvenir dadakan.

Godofredo P Ramos Airport (Caticlan Airport)

Godofredo P Ramos Airport (Caticlan Airport)

Sekitar jam 5, saya selesai memborong oleh-oleh buat keluarga dan teman dekat. Kemeja Barong Filipino buat bapak, tas-tas cantik buat ibu, cerutu buat teman2 kantor, dan makana buat adik-adik saya. Dilanjut berburu CD musik & DVD film titipan teman-teman dekat. Hari terakhir di Manila dan Filipina saya tutup dengan meryenda di sebuah restoran al fresco di Greenbelt 1. Ngabisin Peso ceritanya.

Gak ada halangan selama proses cek-in, imigrasi, dan bea cukai di Ninoy Aquino International Airport. Soalnya rada deg-degan juga sih, karena tahun kemarin kita lewat Clark International Airport (dulunya Diosdado Macapagal International Airport). Penerbangan ke Jakarta berangkat tepat waktu Minggu pukul 9 malam dengan dipandu pramugari-pramugara yang rupawan dengan seragam yang didesain oleh /Bench.

Transit di Jakarta

Transit di Jakarta

Begitu mendarat ke Indonesia pada senin dini hari, saya langsung mencari tempat makan yang menyediakan makanan pedas. Keluar arrival hall, tertampak lah Laras Resto yang lumayan terkenal dengan rawonnya. Langsung deh pesen dan ceburin itu sambel. Pfiuuuh… makanan pedas, akhirnya ketemu juga.

Setelah 4 jam transit (dan bertambah 2 jam karena pesawat Citilink saya ditunda) di Bandara Soekarno-Hatta, akhirnya saya pun berangkat pulang ke Medan. Ketemu lagi dengan kasur di kamar, dan menikmati sisa 1 hari cuti saya.

Bye Bye, Boracay

Bye Bye, Boracay

Assalamu'alaikum, Jakarta

Assalamu’alaikum, Jakarta

2 comments on “Going Home…Going Home

  1. dansapar
    November 30, 2012

    wah besok klo ke LN bawa uang kertas juga ah
    *menatap mendung
    *TAPI KAPANNNN ;p

  2. zou
    November 30, 2012

    sampe postingan pulang, kok ga ada cerita ngirimin zizou postcard ya ..

    *nunggu di bawah kotak pos*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 30, 2012 by in Airport, Go-Sees, Jakarta, Philippines, Sumatera, Sumatera Utara, travel, Visayas and tagged , , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: