Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Yang Tersisa Dari Perjalanan Jogja

4 hari 3 malam di Jogja. Cukup banget untuk berwisata di pantai-pantai selatan Jogja yang kata teman-teman keren banget. Tapi dengan pertimbangan jarak dan juga bulan sebelumnya saya barusan main air seminggu penuh di Philippines, saya pun urung melakoni perjalanan ke pantai. Sayang kulit putih langsat yang masih berwarna putih tua ini.

DSCN0154

Biarpun begitu, adik saya yang pertama kali ke sini tetep aja antusias mau dibawa ke mana. Pagi itu kita rencananya ke Borobudur. Sedari pagi udah berangkat ke Terminal Jombor dengan Trans Jogja  demi mendapatkan bis ke Borobudur. Selagi di Trans Jogja, saya berkenalan dengan turis dari Mesir dan teman wanitanya dari Thailand yang juga menuju Borobudur. Ditambah lagi jadi penerjemah dadakan karena keduanya gak ngerti ucapan kernet bis yang berbahasa Indonesia. Jadi tiap si kernet bis ngasi pengumuman, mereka minta diterjemahin.

Cuaca terik dan menyengat di Borobudur kami siasati dengan meminjam sepeda untuk berkeliling komplek candi. Daripada berjalan kaki atau naik-turun odong-odong, dengan sepeda daya jelajah kita lebih luas. Sampai ke taman-taman di belakang candi yang sepi dari pengunjung yang membludak di Sabtu itu. Bahkan kami dibantu seorang petugas yang, dengan sepedanya, menunjukkan jalan dan rute. Lepas makan siang, kami pun kembali ke Jogja dengan hati senang walaupun mata lelah karena kebanyakan “rolling eyes” mendengar komentar-komentar pengunjung di Candi Borobudur.

Selayaknya bulan dengan akhiran “Ber-ber-ber” yang identik dengan hujan, maka November kemarin pun Jogja turut diguyur hujan seharian. Bahkan kami pun kehujanan menjelang sampai di hostel. Terpaksa siang itu diisi dengan tidur siang dan leyeh-leyeh di Mezzanine Floor EDU Hostel yang enakkkkk banget.

EDU Hostel Lobby Area

EDU Hostel Lobby Area

Keesokan harinya, kami memutuskan untuk menyewa sepeda motor selama seharian. Tapi tetap membatalkan perjalanan ke Solo mengingat fisik yang capek banget ditambah persediaan uang jajan yang makin menipis. Pagi itu kita sarapan di  Sunmor (Sunday Morning) di kawasan Kampus UGM. Sunmor ini pasar kaget akhir pekan yang bentukannya mirip pasar kaget Gasibu di Bandung.

Nah,Pas di Sunmor ini nemu ada yang jualan Carica, buah khas Dieng & Wonosobo. Tanpa ba-bi-bu, langsung beli itu deh minuman dari manisan buah Carica khas Wonosobo. Sedari dulu suka banget ama buah ini. Tiap ke Dieng dan singgah ke Wonosobo, pasti selalu menyempatkan diri beli. Waktu tinggal di Jakarta, suka mampir ke RM Nusa Indah di Jl. KH Ahmad Dahlan, Kebayoran Baru buat beli Carica yang di botol kaca mirip selai.

Kenyang jajan di SunMor, kami menuju Kaliurang dan singgah di Mirota Batik untuk pilah-pilih oleh-oleh. Setelah mengeksekusi beberapa helai batik dan souvenir, kami lanjutkan untuk makan siang di Raminten yang letaknya pas di sebelah Mirota Kaliurang. Karena masih siang, Raminten belum terlalu ramai. Pun area di sini lebih luas dan lega dibanding yang di downtown Jogja yang pengunjungnya kadang sampe antre hanya untuk mendapatkan tempat duduk.

Pedagang Pulsa di SunMor. He took "mobile" to another new level!

Pedagang Pulsa di SunMor. He took “mobile” to another new level!

Manisan Carica. I WOOF it!

Manisan Carica. I WOOF it!

Selagi menikmati makan siang, teman saya yang berdomisili di Jogja ada yang ngajak jalan dan minta tolong untuk jadi responden survei temannya juga yang masih anak kuliahan (ditempeleng Adit). Jadilah agenda malam itu berubah. Adik saya dengan sepeda motornya menikmati malam terakhir di Jogja, sedangkan saya dijemput teman lama waktu kuliah sedasawarsa lalu beserta ketemu teman baru untuk makan malam di Jejamuran.

Malam terakhir di Jogja kurang bersahabat cuacanya, lagi-lagi hujan deras. Daripada keliling gak jelas, saya mengajak 2 teman saya tadi nongkrong-nongkrong di EDU Hostel. Pengen di rooftop, tapi sayangnya udah jam tutup (iya, rooftopnya ada jam operasi juga). Jadilah main-main di lobby dan mezzanine floor.

Pagi buta, saya dan adik saya dengan Iqro’ Management travel kembali ke Semarang untuk mengejar penerbangan kami ke Jakarta pukul 5 sore. Di Semarang, kami singgah di kawasan Pandanaran untuk beli oleh-oleh Bandeng Presto & Wingko Babat. Lagi-lagi penerbangan kami ditunda hingga sejam. Mana di Semarang bandaranya kecil banget, gak bisa kemana-mana. Semoga terminal bandara Ahmad Yani cepat selesai pembangunannya.

OK, Bye bye now Jogja

OK, Bye bye now Jogja

Adalah petaka memutuskan singgah 1 malam di Jakarta sebelum ke Medan. Tiba dari Semarang pukul 6 sore, perjalanan ke Clay Hotel di Jalan Blora merupakan cerita perjuangan lain. Butuh 4 jam perjalanan yang harus kami tempuh hanya untuk mencapai Stasiun Gambir. Sesampainya di Gambir, supir taksi pada tolak-tolakan mengantarkan penumpang karena lalu-lintas kayak parkir di jalan. Yak, Jakarta dirundung hujan deras dari semalam dan mengakibatkan banjir sejak siang dan lalu-lintas yang biasanya pun macet menjadi macet banget!. Hanya sekitar 6 jam waktu yang kami gunakan untuk menginap di hotel, karena kami akan pulang ke Medan pukul 5.30 dengan maskapai Mandala. Untunglah hari itu gak ada penundaan jadwal, jadi bisa sampai di Medan tepat waktu dan saya pun bisa mengejar masuk ke kantor dan hanya terlambat 42 menit (Cring… 1% Tunjangan melayang). Sungguh perjalanan rasa Nano-nano di bulan November kemarin.

Amanjiwo dari Kejauhan

Amanjiwo dari Kejauhan

Odong-odong Borobudur

Odong-odong Borobudur

Borobudur, kini ramah bagi yg haus colokan. Tinggal kasih Wi-fi gratis aja

Borobudur, kini ramah bagi yg haus colokan. Tinggal kasih Wi-fi gratis aja

Sewa Sepeda, cuma Rp 20.000

Sewa Sepeda, cuma Rp 20.000

Delmannya, kakak..

Delmannya, kakak..

Bukit Menoreh?

Bukit Menoreh?

9 comments on “Yang Tersisa Dari Perjalanan Jogja

  1. dansapar
    January 16, 2013

    oh itu uratnya *mlipir makan bakso :))

    • Sy Azhari
      January 16, 2013

      Giliran Urat aja, Sapar langsung nongol deh.

  2. buzzerbeezz
    January 16, 2013

    Ternyata ada benetan yg beurat! Huahahahaha

    • Sy Azhari
      January 16, 2013

      Ish, giliran baca yang berurat aja langsung nongol.

  3. d'bolots
    January 16, 2013

    Berurat tapi tak sekekar Tugu Pemuda … yg ini kurang Sigarantang gitu

  4. Pepiprapto
    January 16, 2013

    Aduh posisi naik sepedanya …..

  5. neng fey
    January 17, 2013

    masih ga bisa ngebayangin, carica itu kayak gmn

    • Sy Azhari
      January 17, 2013

      Kayak pepaya ama mangga,mpok. Enak kok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 16, 2013 by in Jalan-jalan, Sumatera Utara, travel, Umum and tagged , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: