Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Ain’t No Sunshine in Hanoi

Karena letak geografisnya yang lebih ke utara dibanding rekan-rekan ibukota sesama Asia Tenggara, Hanoi memiliki 4 musim dalam setahun. Bukannya tropis seperti Bangkok, KL, Jakarta, dan Manila. Hal ini menjadi keunikan sendiri bagi Hanoi. Walaupun tak disinggahi salju, hawa musim dingin di Hanoi cukup menusuk tulang dan bikin merindu pelukan *eh*. Tercatat, suhu terendah yang pernah terjadi di Hanoi saat musim dingin adalah 3 Derajat Celcius, dan rata-rata berkisar 10-15 Derajat Celcius.

Around Hoan Kiem Lake

Around Hoan Kiem Lake

Saat musim dingin begini, Hanoi jarang sekali menampakkan mataharinya. Langit berkabut warna abu-abu, angin dingin gak berhenti bertiup, dan pohon-pohon meranggas. Hanoi saat musim dingin memang kurang fotogenik dan terlihat kelam jikalau difoto, but who cares… we enjoy this weather sooo much. Biar kata langit dan kotanya kurang fotogenik, tapi musim dingin bikin orang-orangnya jadi fotogenik buat difoto. Penampilan penduduk dan pengunjung Hanoi sama stylish-nya dengan beragam jenis outwear berwarna-warni.

Selepas check-in di Hanoi Guesthouse, kami segera tawaf di Old Quarter District yang letaknya di Utara hingga Timur dari Hoan Kiem Lake. Berjalan menyusuri Old Quarter menimbulkan sensasi tersendiri. Zaman dahulu, Old Quarter terdiri dari 36 jalan kecil dimana setiap jalan menjual 1 produk yang unik dan berbeda dibanding jalan lainnya. Akibat perkembangan zaman, gak ada lagi klasifikasi jalan seperti masa lampau, namun sisa-sisanya masih bisa dilihat hingga sekarang.

Berjalan lah di sekitar Ma May Street tempat kami menginap, maka akan terlihat deretan Travel Agent memenuhi ruas jalan ini. Kemudian jika kita melewati Hang Buom & Hang Duong, akan tampak penjual manisan buah, perman, Wine, dan kopi berderetan. Ada juga Hang Bac yang dipenuhi oleh toko perhiasan. Banyak jalan-jalan di Old Quarter diawali dengan kata Hang berarti “toko”, kemudian diikuti dengan kata sesuai dengan produk yang dijualnya semasa lalu.

Sudut Old Quarter

Sudut Old Quarter

Semakin dijelajahi, semakin terlihat pesona Old Quarter yang walaupun semrawut dan acak-adut namun mempunyai daya tarik tersendiri. Ada ruas jalan yang menjual sayuran segar, eh di blok lainnya menjual daging-daging segar. Di barat laut Old Quarter, ada ruas jalan yang menjual peralatan masak mulai dari kompor, oven, panggangan, sampai cetakan kue dari aluminium. Sementara hanya terpisah satu perempatan, jalan tadi berubah menjual perkakas tukang seperti gergaji, palu, dan kerabatnya. Sungguh pemandangan yang seru, bangunan tua kolonial nan ramping yang berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi dihiasi pepohonan di sisi jalan yang daunnya mulai merah dan meranggas.

Perjalanan kami menyusuri Old Quarter dilanjutkan ke arah sisi timur. Penampakan di sini lebih rapi daripada sisi utara. Taman-taman di sisi Hoan Kiem Lake menambah keindahan Hanoi. Beragam hiasan mulai dipasang menyambut Tahun Baru Vietnam yang datang bersamaan dengan Chinese New Year. Di sisi ini pula terdapat Thang Long Water Puppet Theater. Kata “Thang Long” diambil dari nama lama kota Hanoi.

French Quarter Area

French Quarter Area

Sofitel Metropole

Sofitel Metropole

Tak jauh dari teater, ada Ly Thai To Park yang dulunya bernama Indira Ghandi Park. Di taman ini terlihat aktivitas warga menyambut Tahun Baru Vietnam. Ada yang merangkai bunga dan ada yang menghias papan billboard yang terbuat dari bunga plastik. Banyak juga anak muda yang bermain sepatu roda dan skateboard di taman ini. Pemandangan taman ini langsung mengarah ke Hoan Kiem Lake dan di kiri-kanannya diapit oleh 2 gedung tua berlanggam kolonial Perancis yang cantik berwarna kuning mentega, salah satunya adalah Hanoi Main Post Office. Setelah dicek di peta, rupa-rupanya kami sudah memasuki distrik French Quarter. Kalau Old Quarter banyak dihuni bangunan tua bercorak Sino-Vietnam, maka French Quarter banyak didapati gedung tua yang berukuran besar dan berlanggam…French Colonial (Yah ialah..namanya juga French Quarter). Bangunan paling tersohor di French Quarter salah duanya adalah Hanoi Opera House dan Hotel Sofitel Metropole. Selain menjadi hotel legendaris, Sofitel Metropole juga menjadi tempat brand ternama bahkan yang haute couture membuka cabang di Hanoi seperti Hermes, Louis Vuitton, Cartier, Vertu, Sergio Rossi, Bally, Mont Blanc, dan Salvatorre Ferragamo. Untungnya karena saya bukan rakyat jelita jadi gak tergoda masuk di situ, lain cerita dengan promo Sunday Brunch seharga US$ 80 di hotelnya. Hiks.

Perancis gak sekedar meninggalkan arsitekturnya di Vietnam, namun juga pengaruh pada makanannya. Di tengah-tengah kota Hanoi, banyak ibu-ibu yang menjajakan Baguette, Bread Rolls, atau Sweet Rolls. Selain panganan berupa roti, Ice Cream Parlour pun merajalela di sini walaupun musim dingin. Jangan heran kalau lihat pemandangan orang lokal berjaket tebal sembari meninting ice cream cone atau popsicle. Melihatnya aja gigi saya udah ngilu.

Menjelang Maghrib, kami bertiga balik ke Thang Long Water Puppet Theatre demi menyaksikan pertunjukan Water Puppet Show pukul 18.30. Ada beberapa babak dalam 1 jam pertunjukan. Dimulai dari sekapur sirih oleh ‘sinden’ tentang sejarah bangsa Vietnam yang percaya mereka adalah keturunan Naga & Peri, kemudian pola hidup bercocok tanam yang menggantikan kegiatan berburu dan meramu, hingga ditutup dengan penampilan para dalang yang ikut keluar dari backstage. Sayang banget sewaktu nonton saya terkantuk-kantuk. Suhu udara yang sedikit hangat ditambah kurangnya tidur 2 hari terakhir membuat saya gagal menikmati pertunjukan seutuhnya, padahal saya cukup terpesona oleh dalangnya kesenian dan lagu-lagunya yang mendayu-dayu.

Water Puppet Show

Water Puppet Show

Musim dingin di Hanoi gak lengkap tanpa menikmati hidangan lokal yang sudah go international yaitu Agnes Monica Phở. Mie dari beras mirip kwetiau disiram dengan sup diisi daging (boleh sapi, ayam, babi, atau anjing) dan ditaburi rempah daun seperti daun bawang dan culantro. Malam itu, saya memilih Pho Bo (baca : Fe Bo), Pho dengan isian daging sapi di sebuah rumah makan di bilangan French Quarter tepat di selatan danau. Gak heran ya warga Vietnam ini singset dan ramping. Makanannya aja gak pake santan, banyak sayuran, dan minim minyak. Kuah Pho yang hangat dan lezat menjadi penambah energi untuk berjalan kaki menyusuri Hanoi di malam hari, saat udara sedang dingin-dinginnya menyiksa tulang dan batin.

Menjelang pukul 10 malam, kami kembali ke Hanoi Guesthouse menyusuri French Quarter dan Old Quarter dari barat. Old Quarter tampak belum tidur malah semakin ramai. Eh eh eh, niat beristirahat pun ditunda gara-gara di Jalan Hang Ngang – Hang Duong -Dong Xuan ada pasar malam yang ramai banget. Pakaian, cinderamata, dan kerajinan tangan dijual dengan harga yang tergolong murah. Iman pun serta merta goyah. Kalau baca di Lonely Planet, Dong Xuan Night Market ini buka hari jumat dan sabtu malam. Sedangkan kami balik ke Hanoi minggu malam, jadilah sempat beli beberapa item sebagai syarat oleh-oleh daripada dinyinyirin semesta.

Penjual Boneka di Night Market

Penjual Boneka di Night Market

Hasta Karya Made in Vietnam

Hasta Karya Made in Vietnam

Ingin melanjutkan ibadah shopping, tapi ada daya usia berbicara. Betis mulai cenat-cenut, sementara besok pagi kita mau pergi ke Ha Long Bay yang berjarak 4 jam perjalanan. Jadilah kami menyerah dengan kondisi dan kembali ke penginapan. Hari pertama di Hanoi sungguh gak disangka-sangka. Sudah bersiap dengan segala kesemrawutan, eh malah mendapatkan Hanoi yang penuh karakter dan romantis. Ah, sayang saya datangnya bareng 2 teman yang lagi dilanda asmara. Merekanya enak… sayanya tetep kedinginan *puk-puk ransel 60 L*.

Electric Car in front of Thang Long Theater

Electric Car in front of Thang Long Theater

Dalang Water Puppet

Dalang Water Puppet

Around Hoan Kiem Lake

Around Hoan Kiem Lake

Ly Thai to Park overlooking Tortoise Tower on Hoan Kiem Lake

Ly Thai to Park overlooking Tortoise Tower on Hoan Kiem Lake

Hanoi milik kita berdua...yg lain fotografer aja

Hanoi milik kita berdua…yg lain fotografer aja

ini korban "yg lain jadi fotografer aja" :(

ini korban “yg lain jadi fotografer aja”😦

13 comments on “Ain’t No Sunshine in Hanoi

  1. expatseek
    January 30, 2013

    Still looks beautiful under all those clouds

    • Sy Azhari
      January 30, 2013

      Hanoi in winter is still beautiful.

  2. buzzerbeezz
    January 30, 2013

    Ngebut ya Koh nulisnya.. Hehehe..

    Jadi, jaket *gak mau sebut merk lagi* baru yang dipake itu gak cukup menghangatkan tulang dan batin ya Koh? *kabur ke Pho 24*

    • Sy Azhari
      January 30, 2013

      Ya kan mumpung lagi ST,ri. *leha-leha*

      Cukup hangat kok jaketnya,ri. Baru sih soalnya :p

  3. dansapar
    January 31, 2013

    huwooooo keren, yak…..
    french area nyaaa

  4. Toby
    January 31, 2013

    OK BANGET SIK LOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO

  5. ombolot
    January 31, 2013

    So … is it pho or phô ??? are from Denver ???

  6. noerazhka
    January 31, 2013

    waaa .. hoan kiem lake nya memutih .. pohon2 pun meranggas ..🙂

    • Sy Azhari
      February 1, 2013

      Waktu ke sana November kemarin warnanya apa,za?

      • zou
        February 2, 2013

        kan kabutnya belom terlalu tebel, koh, suhu masih di kisaran 15′ – 18′ C ..
        pohon2 di sekitaran hoan kiem masih ada hijau2nya, walopun beberapa udah mulai menguning, cuma belom sampe meranggas kaya gitu ..🙂

  7. INFO TEMPAT WISATA
    February 2, 2013

    kalo baca cerita-cerita dr para blogger di luar negeri. ane ni ngrasa dunia ni luas banget, masih banyak banget tempat yg belum dikunjungi. impian ane tuk datangn semua tempat di dunia ini apa ksampean tau ga ya?😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: