Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Senja Terakhir di Hanoi

Tortoise Tower on Hoan Kiem Lake

Tortoise Tower on Hoan Kiem Lake

Sepulang dari Ha Long Bay, ternyata saya dan Ari masih ada waktu 1 malam lagi di Hanoi. Sedangkan Nenny masih pulang lusanya lewat Singapore. Tiba di Hanoi pukul 4 sore, tanpa banyak ba-bi-bu lagi, kami menelusuri jalanan inti kota Hanoi untuk menikmati hari terakhir di sini setelah sebelumnya check-in di Indochina Queen II Hotel dan menukarkan ringgit saya ke mbak-mbak hotel dengan rate yang lebih baik daripada di bandara.

Dimulai dari sebuah jalan bernama Chả cá. Dahulu, jalan ini dipenuhi oleh kios-kios yang menjual Chả cá, makanan khas Vietnam yang dibuat dari ikan goreng dengan bumbu kunyit dan dedaunan serta disajikan dengan cold noodle. Mie yang digunakan di Chả cá berbeda dengan yang digunakan di Pho. Mie di Chả cá lebih tipis, kenyal, dan disajikan dengan suhu yang agak dingin. Di Chả cá Street ada beberapa penjual makanan Cha Ca, namun yang paling terkenal adalah Chả cá Lã Vọng (14th Cha Ca Street, Old Quarter, Hanoi).

from second floor of Chả cá Lã Vọng.. Phuket got a competition when it comes to 'semrawutnya kabel'

from second floor of Chả cá Lã Vọng.. Phuket got a competition when it comes to ‘semrawutnya kabel’

Tempat makan berusia lebih dari 100 tahun ini terasa kurang meyakinkan saat kami memasukinya. Tangga reot, ruangan yang lembab, dan tampang para pramusaji yang kaku terasa kurang menarik untuk sebuah tempat makan yang sudah pernah diulas di NY Times. Kami diarahkan ke lantai 2 dengan pemandangan semrawutnya kabel listrik ‘menghiasi’ bangunan tua di Old Quarter. Chả cá Lã Vọng adalah one-dish restaurant, dengan kata lain hanya menyediakan 1 jenis hidangan yaitu (apalagi kalau bukan) Chả cá

Sebuah kompor kecil diantar ke meja kami. Lah, pesennya ikan goreng kok dikasi kompor, dikata kita pemain debus suruh makan kompor. Oh, ternyata proses memasak diadakan di atas meja kami. Ikan yang sudah dibumbui kunyit dimasak diatas kuali kecil dengan minyak berwarna kekuningan. Kita sih bingung masaknya gimana, eh si ibu pramusaji tadi menunjukkan proses masak yang sebenarnya. Ikan yang lagi digoreng ditambahkan dengan semangkok dedaunan yang tersedia di 2 piring lain yg turut disajikan. 1 piring sih saya ngeh isinya daun ketumbar, sedangkan 1 piring lain campuran dari berbagai macam jenis daun yang baru saya lihat kecuali daun bawang. Ikan dan daun yang sudah layu tadi dituangkan ke dalam mie dingin dan ditambahkan kacang goreng. Penampakan hidangan ini begitu sederhana memang, namun kesederhanaan penampilan berbanding terbalik dengan rasa. Rempah daun dan kunyit serta rasa ikannya berbaur menghasilkan makanan yang nikmatnya gak ketulungan. Mie yang dingin dan kaku berangsur-angsur jadi layu dan oily. Ikan yang telah dibumbui sebelumnya, dedaunan yang renyah, serta kacang tanah goreng meramaikan tekstur makanan.

Yah, walaupun ada downside makanan ini yaitu harga 170.000 VND (US$ 8,5) per orang, tapi ya cukup puas dengan rasa makanannya. Selain harga makanan, kami juga dikenakan harga tisu basah seharga 2000 VND (Rp 1.000). Buat yang mau tahu lebih jelas tentang hidangan Chả cá, bisa dieck-eck ombak di artikel Smitten by Food : Cha Ca La Vong @ 14 Cha Ca, Hanoi (Old Quarter).

Semangkok Cha Ca

Semangkok Cha Ca]

Cha Ca Condiment

Cha Ca Condiment

Dari Chả cá Street, kami menuju selatan ke arah Nha Tho District dimana St Joseph Cathedral berada. Kalau daerah di utara dan timur Hoan Kiem Lake dikenal dengan nama Old Quarter District, dan di selatan bernama French Quarter, maka Nha Tho District ini berada di barat danau.  Gereja dengan tampilan warna abu-abu ini dibangun di akhir abad ke-19 dengan langgam Neo-Gothic. Karena kita datang pas di hari minggu, sedang ada Misa di dalam gereja dengan bahasa pengantar Viet. Di depan katedral terdapat patung Regina Pacis dimana di depannya kita bisa berdoa. Pas kita datang, tepat tamu terakhir yang berdoa sebelum dikunci oleh petugas. Pemandangan jemaat berdoa di katedral hingga meluber ke luar serta suara Pastor menggema di dalam katedral mewarnai matahari tenggelam di hari terakhir saya di Hanoi.

Perjalanan kami ke Nha Tho District sebenarnya bukan cuma mau main ke Katedral, namun mencari toko souvenir seperti T-shirt dan mug yang berbau propaganda. Sayangnya alamat yang diberikan oleh website yang saya dapatkan tidak tepat. Ada sih toko t-shirt yang sistemnya just-in-time namun memakan waktu 1-2 hari, sedangkan di sisi jalan lain ada toko progapanda namun hanya menyediakan poster saja. Kedua toko ini ada di ruas jalan Ly Quoc Su & Nha Chung.

St Joseph Catedral & Regina Pacis Statue

St Joseph Catedral & Regina Pacis Statue

Kecewa karena toko souvenir yang didamba tidak ditemukan, saya mengajak kedua teman saya menuju tempat yang udah saya incar dari sebelum saya ke Hanoi yaitu… Fanny Ice Cream. Terdengar gila memang di tengah suhu 15 Derajat Celcius saya malah mengidam es krim. Apalagi pencarian kami di malam pertama begitu tiba di Hanoi sia-sia karena alamat 48 Le Thai To, Old Quarter yang saya baca di buku saku Lonely Planet Hanoi & Ha Long Bay Encounter ternyata sudah pindah ke alamat baru mereka ke lokasi baru yang menempati bangunan tua di 51 Ly Thuong Kiet, French Quarter. Lokasinya tak jauh dari tempat pemberhentian minibus dari Bandara Noi Bai di Quang Trung Street. Gampangnya, Fanny Ice Cream (Kem Fanny) ini berada di persimpangan antara Ly Thuong Kiet Street dan Quang Trung Street.

Fanny Ice Cream gak menyediakan makanan besar, hanya es krim dan minuman yang tersedia di sini. Eits, tapi jangan kecewa, di sini ada berbagai macam rasa.. bukan 1..bukan 2.. tapi 30 rasa es krim dan 11 rasa sorbet yang ada di sini. Gak cuma rasa yang biasa seperti coklat, strawberry, dan vanilla, di Fanny ada juga rasa CHILI CHOCOLATE, GINGER, CINNAMON, dan ANISE. Antusias dong gimana rasa-rasa aneh itu, saya pesan Crepe dengan isian 2 rasa es krim, Ginger & Cinnamon. Begitu menyuapkan crepe dengan es krim rasa kayu manis, saya seperti menemukan surga tingkat pertama…dilanjut sendokan kedua yaitu es krim rasa jahe, saya seperti beranjak ke surga tingkat 2. ENAK BANGET!.  Bersama Earl’s Grey Ice Cream milik Moo’s di Makati, Fanny ini adalah es krim terenak yang saya makan dalam jangka waktu setahun belakangan.

Tak hanya bermain di rasa, Fanny juga bermain dengan kreativitas. Teman saya memesan es krim yang bentuknya mirip lebah dengan rasa mangga. Kemudian Pinocchio bentuk badut berwarna merah dengan rasa Strawberry yang mirip strawberry asli, asam dengan aroma khas tertentu. Duh, puas banget rasanya di Fanny ini. Coba masih ada hari esok *langsung browsing tiket buat Imlek/Vietnamese New Year tahun depan*.

Fanny Ice Cream new location

Fanny Ice Cream new location

Crepe Glacee (Crepe with Ice Cream) @ 75.000 VND

Crepe Glacee (Crepe with Ice Cream) @ 75.000 VND

Perut kenyang, hati senang, saatnya pulang. Apalagi menjelang pukul 9 malam dan kami belum beli oleh apapun untuk teman-teman dekat saya dan adik-adik saya. Kami pun beranjak ke Old Quarter yang sejalan dengan arah hotel. Di tepian Hoan Kiem Lake, kami berpapasan dengan Ale & Rachel, teman seperjalanan kami di Alova Gold Cruise – Ha Long Bay. Senang banget ketemu 2 teman kami ini, apalagi mereka juga saya beri info tempat es krim yang baru kami singgahi. Rachel bilang Ale suka banget dengan es krim dan menanyakan alamatnya. Saya beritahu aja dan responnya adalah “can i hire you as our tour guide?”. Kalau aja gak berburu oleh-oleh, rasanya pengen nongkrong bareng mereka berdua lagi. Omongannya nyambung banget😦

Niat mencari oleh-oleh di Old Quarter pupus setelah kami melihat Dong Xuan Night Market masih beroperasi. Ternyata  di hari Minggu pun mereka masih buka, gak cuma Jumat dan Sabtu doang. Dengan Jutaan Dong yang masih tersisa (ceile), kami pun kalap…errr..saya sih sebenarnya. Dari T-shirt, pop-up card, gantungan kunci, magnet kulkas, Kopi, sampai Dried Persimmon (Kesemek Kering) dan Dried Fig (buah ara) saya beli semua. Bukan apa-apa, ini kesempatan terakhir saya dan Ari karena penerbangan kami besok jam 9 pagi sementara jam 6 pagi sudah harus meninggalkan hotel.

Lukisan Jalanan di Hanoi

Lukisan Jalanan di Hanoi

Perjalanan pagi hari ke bandara terasa berat. Artinya liburan segera berakhir. Kabut tebal menutupi Hanoi di pagi hari mengakibatkan jarak pandang sangat dekat. Walaupun begitu, masih nampak siluet bangunan-bangunan tinggi di Distrik West Lake. Karena kami berangkat Senin, terlihatlah geliat masyarakat Hanoi yang memulai beraktivitas normal. Ada yang pergi kerja dengan sepeda, mobil mewah, maupun bis kota yang terlihat tua walaupun gak sedikit yang dilengkapi AC. Yang paling saya ingat dari perjalanan 35 km dari Old Quarter ke Noi Bai International Airport adalah ruas jalan Yen Phu Street dan Tran Nhat Duat Street dengan penuh graffiti maupun lukisan dinding yang terbuat dari batu. Tampak menetralkan kerumitan kota yang penuh kabel semrawut.

2 Hari 2 malam di Hanoi memang terasa tidak cukup. Suatu saat saya ingin kembali ke Hanoi, menikmati musim dingin dengan secangkir Ca Phe atau mengudap semangkuk hangat Pho menatap Hoan Kiem Lake. Atau berjalan-jalan di French Quarter sembari menggenggam cone berisi es krim jahe. Atau memilih untuk menjelajah distrik lain seperti West Lake, Ba Dinh District, Hanoi CBD, dan Lenin Park. Siapa tahu, siapa tahu masih ada kesempatan berikutnya. Doakan saja.

Sudut Sepi Nha Tho District

Sudut Sepi Nha Tho District

Geng Nyeberang Hore

Geng Nyeberang Hore

Anggap aja kampung sendiri

Anggap aja kampung sendiri

UHUUUKKKKKK

UHUUUKKKKKK

Pasar Malam di luar Dong Xuan Market

Pasar Malam di luar Dong Xuan Market

Dong Xuan Night Market

Dong Xuan Night Market

Yen Phu Street, Hanoi

Yen Phu Street, Hanoi

Hoan Kiem Lake

Hoan Kiem Lake

21 comments on “Senja Terakhir di Hanoi

  1. dansapar
    February 4, 2013

    dari foto2nya g kliatan semrawut ya
    keknya seruu
    byk banguna tua *tetep*
    sukaa

    • Sy Azhari
      February 4, 2013

      Di Old Quarter dan city center paling terlihat semrawut kok par. Itu kan yg dari jendela restoran Cha Ca gambarannya. Di French Quarter gak begitu semrawut.

      Ayok Imlek tahun depan ke sana yok par. Dikaryakan aja itu lantai 2 rumahmu jd kostan buat orang-orang yang “Assalamu’alaikum” :p

  2. Inggrid
    February 4, 2013

    Kokoh lo klop bener deh ama emak gue, demennya ginger & cinnamon.. Hih!

    • Sy Azhari
      February 4, 2013

      Enak tauk! Sensasional banget Es Krim rasa bumbu-bumbuannya.

  3. d'bolots
    February 4, 2013

    Kok menggemgam cone kem Fanny sik kok, bukannya menggenggam yg laen

    *keirkil misal* *lo kate kebelet*

    • Sy Azhari
      February 4, 2013

      Kalo menggenggam tangan sendiri kan nanti takut kepleset jadi “Profesionalisme, Sinergi, Integritas, Pelayanan, & Kesempurnaan”. Jadi yel-yel kantor sendiri dehhh

  4. nyonyasepatu
    February 4, 2013

    Aku gak sempat nyoba si fanny kemaren ternyata enak ya. Nyesel

    • Sy Azhari
      February 4, 2013

      Si Fanny ini cabangnya dari yang di HCMC/Saigon,mbak. Jadi kalo ada rencana ke Saigon, bisa singgah sekalian gak mesti ke Hanoi

  5. Halim Santoso
    February 4, 2013

    Kenapa bayar tissue basah bayar 2.000 Dong ? *pertanyaan agak basi* hehe…
    Dan kenapa selalu ada penampakan mas Ari dengan ehem ehem nya?😀

    • Sy Azhari
      February 4, 2013

      Kita juga gak tahu, Mas Halim. Pas bayar baru tahu kalau dikasi tahu itu tisu ada harganya. Gak ada woro-woro sebelumnya. Yah, untung lagi kenyang, kalo gak bisa ngamuk itu.

      Foto Ari sama ehem-ehemnya? hahahahaha. Konsekuensi ngajak aku sih :p

  6. buzzerbeezz
    February 4, 2013

    Ini beneran deh harus bikin postingan tandingan.. Fotoku ada dimana-manaaaaa…

    • Sy Azhari
      February 4, 2013

      Mau bikin tandingan juga fotokubga ada,kan? Wong punggung semua. Tapi kan foto kalian bagus-bagus kan. Admit it :p

      • buzzerbeezz
        February 4, 2013

        Iya ihh.. Mau nyari fotomu pas tidur di LCCT, di Water Puppet, di shuttle bus Hanoi – Halong City, gak adaaaa. hehehe..

        Iya deh Koh.. Bagus kok. *ajak Kokoh traveling sama-sama lagi*

      • Sy Azhari
        February 4, 2013

        Orang baik itu diberkati,ri. Setiap ada yang mau berbuat jahat ama dia pasti dihalangi :p

  7. Adam @ PergiDulu
    February 4, 2013

    I love Vietnamese food! And your photos are very cool. I hope to go to Vietnam soon!

    • Sy Azhari
      February 5, 2013

      Thank you, Adam. I love Pho, Cha Cha, and Vietnamese Coffee a lot. I hope i can go back to Vietnam next year at Lunar New Year. Here’s hoping🙂

  8. Nenny Wulandari
    February 5, 2013

    di bagian belakang Cho Dong Xuan ada wet market yang jual Cha ca noodles dan Pho noodles yg kering mas kokoh, kemarin aku beli sama kulit spring roll yang kita pakai buat cooking class di Alova Cruise semoga bisa praktek buat versi KW nya di rumah , sedangkan di bagian depan Cho Dong Xuan kalau siang lebih mirip pasar tanah abang atau pasar klewer tempat grosir dan pusat perkulakan dan harga barang barang nya murah meriah hore banget kalau bisa nawar,dan lagi lagi Abeile dan Pinochio nya kem Fanny emang joss gandhos top markotop enaknya, yuk Lunar new year tahun depan ke sana lagi yuk ^_^

    • Sy Azhari
      February 5, 2013

      Apa? terus kamu gak beli, Nen? Di Medan gak ada jual Pho deh. Hiks. Iya nih, mau pergi antara Natal atau Tahun Baru Viet. Kalo Natal dapet 5 hari tanpa cuti, dan bisa ke Sapa. Kalau Tahun Baru mesti cuti 3 hari biar dapet 6 hari, tapi dapat ke Sapa & bisa lihat Tahun Baru Tet (Vietnam New Year). Dan keduanya sama-sama musim Dingin :))))

  9. Nenny Wulandari
    February 5, 2013

    beli dong mas, cha ca nya 15K VND dan Pho nya 20K VND per setengah kilo nya yang kulit spring roll 35K VND per 50 pcs nya murah banget kan? aaaaakkk Sapa , ayok ayok mas aku bisa ambil cuti di keduanya kok hahahaha *kibas-kibas form cuti 21 hari kerja*😀

    • Sy Azhari
      February 5, 2013

      Aaakkk, Nenny aku mau mie buat Pho. Hiks. Next time aku beli bagasi 20 kg kayaknya dari Vietnam.

      Mulai dari beli kopi, coffee drip, mie buat Pho & Cha Ca, ampe itu cetakan kue ama oven aku beli!

      Aku cek buat tahun depan, Malaysia Airlines & Vietnam Airlines jauh lebih murah dari AirAsia. Tapi aku nunggu promo Jetstar dan Tiger dulu lah

  10. Nenny Wulandari
    February 5, 2013

    wuih aku boleh dong nitip dandang yang paling gede buat emak’ku di bagasinya mas kokoh ya kan? :p *langsung dimasukin ke oven hidup hidup sama mas kokoh* , aku masih pengen nyoba ngeteng naik bis pergi pulang nanti mas kokoh sambil singgah singgah dulu,bismillah semoga keturutan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: