Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Rumah Tjong A Fie

Tiket Masuk

Tiket Masuk

Bangunan di Jalan Ahmad Yani, daerah Kesawan, Medan ini sering banget saya lewati. Entah itu saat ingin sunday brunch di Restoran Tip Top yang tak jauh dari bangunan berlantai 2 ini atau sekedar jalan-jalan mengelilingi daerah Kesawan yang penuh bangunan tua.

Hampir semua penduduk Kota Medan pasti tahu dengan bangunan yang didirikan oleh Saudagar keturunan Hakka-Chinese bernama Tjong A Fie pada tahun 1900 ini. Gerbang bangunan yang bernuansa oriental pasi mencuri perhatian orang yang lalu-lalang, apalagi letaknya tepat di pusat kota Medan. Walaupun begitu, namanya belum sebesar bangunan yang didirikan oleh kerabatnya Cheong Fatt Tze di Penang. Ya eyalaaahhh, yang satu udah masuk area UNESCO World Heritage Town, sementara yang di Medan ini…Yah, kita patut bersyukur bangunan ini nasibnya gak seperti bangunan yang ada di sekitarnya. Hancur ditelantarkan atau diubah menjadi ruko yang desainnya ya-segiempat-sok-sok-mediteranian-gitu-deh.

Anyway, hari itu saya menemani teman saya dari Jakarta yang transit di Medan dalam perjalanannya menuju Banda Aceh. Karena waktunya siang hari, saya ajak aja city tour. Yah, karena saya belum pernah singgah ke tempat ini ya sekalian aja deh. Tiket masuk dikenakan sebesar Rp 35.000 dan sudah termasuk guide. Karena cuma berdua, kami digabung dengan rombongan lain yang terdiri dari 2 orang dari Jakarta dan 3 orang dari Penang. Mbak Moon mengantarkan kami keliling Cibubur mansion serta menjelaskan dengan bahasa inggris yang lancar.

Silsilah Keluarga

Silsilah Keluarga

Dahulu kala, bangunan ini dihuni oleh Tjong A Fie, istri ketiga, anak-anak, beserta beberapa kerabatnya. Pernikahan pertamanya dengan seorang wanita di Cina Daratan tidak membuahkan seorang anak, kemudian pernikahan keduanya pun tak berlangsung panjang. Lim Koei-Yap adalah wanita terakhir dalam riwayat pernikahan Tjong A Fie hingga menghasilkan 7 orang putra-putri. Menemaninya mencapai kesuksesan menjadi saudagar, kapitan, bankir, dan orang penting di Sumatra Timur pada zamannya. Keturunan dari anak ke-4 yang sekarang masih menghuni Tjong A Fie Mansion di sisi utara yang tidak boleh diakses oleh pengunjung. Cucu dan Cicit Mr & Madam Tjong A Fie yang lain sudah berkelana ke Malaysia, Singapore, USA, dan Eropa. (ini semua dari penjelasan Mbak Moon loh!!!).

Demikian sejarah singkat tentang Tjong A Fie. Nah sekarang mari kita mengelilingi bangunan 2 lantai di pusat kota Medan ini… Mari Mbak Fenny & Ibu Evelyn *senyum simpul berlesung pipit*…

Living Room

Living Room

Tur dimulai dari pintu masuk di sisi Selatan bangunan dan melewati ruangan yang dulunya kamar tidur pekerja-pekerja di rumah Mr & Mrs Tjong. Kamar-kamar yang berukuran kecil ini sekarang disulap menjadi galeri foto. Foto keluarga Tjong A Fie dari jaman masih muda hingga beberapa tahun yang lalu bisa terlihat di sini. Salah satu yang paling terkenal adalah Tjong Foek Yin atau yang lebih dikenal dengan nama Queeny Chang, penulis buku Memories of A Nonya. Gak pernah dengar bukunya? sama…tapi kata teman serombongan yang dari Penang, buku itu populer di Malaysia.

Dari kamar-kamar kecil tadi, kami beranjak ke selasar di tengah bangunan yang tak beratap, ciri khas rumah peranakan. Di area selasar terdapat tempat berdoa yang masih bisa dimasuki oleh pengunjung. Dari sini kita melewati dapur yang masih menyimpan perangkat makan porselen asli yang dipakai keluarga ini. Kemudian dari dapur kita akan memasuki kamar tidur utama, tempat Mr & Madam Tjong A Fie beristirahat. Kata Mbak Moon, 80% perabotan di kamar masih asli sli sli. Ada vacuum cleaner dan timbangan berat badan zaman bahuela juga loh. Di kamar ini juga dipamerkan buku-buku bacaan Mr Tjong beserta contoh catatan keuangannya. Ada juga sobekan surat kabar The Straits Times terbitan Singapura tahun 1920, 1 tahun sebelum Mr Tjong Meninggal.

Dari kamar utama, kami beranjak ke bagian depan bangunan dimana terdapat bukan hanya 1, atau 2…melainkan 4 Lounge Room. Yang pertama adalah Dutch Lounge Room. Di sini tempat menerima tamu dari golongan orang-orang Eropa. Yang kedua adalah Deli Lounge Room, tempat Mr Tjong menerima Sultan Deli Makmun Al Rasjid yang kebetulan adalah teman baiknya. Di Deli Lounge Room ini terdapat foto Sultan Deli dan bernuansa kekuningan. 2 ruang tamu lain didedikasikan untuk menerima tamu dari orang-orang Tionghoa dan masyarakat umum. Yang paling besar adalah Ruang Tamu Utama tempat menerima common people. By the way, lantai di rumah ini kebanyakan diimpor dari Italia loh. Bwehhhh.

Ballroom

Ballroom

Selesai berkeliling lantai 1, kami beranjak ke lantai 2 dimana ada Ballroom tempat Mr Tjong menjamu tamu untuk  sepanjang malam terus dansa dan sepanjang malam terus pesta. Di ruangan ini masih terdapat chandelier asli juga loh. Tapi segala perabotanyang ada sudah disingkirkan dari ruangan ini dan diganti oleh foto-foto yang dipajang untuk bernostalgia dengan Keluarga Besar Tjong A Fie dan Medan Tempo Doeloe. Dari ruangan ini, kita dapat melihat tempat sembahyang di lantai 2 yang dilarang untuk dimasuki pengunjung. Yep, dalam 1 bangunan ini, ada 2 tempat sembahyang.

Gak terasa keliling-keliling, sudah 1 jam juga ternyata kami berada di sini. Walaupun belum semaksimal Penang Peranakan Mansion atau Cheong Fatt Tze Mansion di Penang, tapi terlihat ada usaha untuk melestarikan bangunan tua seperti ini di Medan. Pengaturan perabotan, lighting, dan pemajangan foto-foto di sini terlihat apik. Semoga gak ada tamu yang jahil melakukan vandalisme selama berada di sini. Apalagi mengingat bangunan tua yang kondisinya gak terlalu bagus. Mbak Moon bilang ke kita kalau ada beberapa bagian rumah yang tidak dibuka karena tangganya yang rapuh dan belum direstorasi.

Setelah berkeliling singkat di Tjong A Fie Mansion, saya jadi punya jawaban tiap ada teman yang bertanya : “di Medan ke mana aja enaknya?”. Gak mungkin saya sarankan untuk makan terus-terusan kan? Emang Medan terkenal sih dengan street food-nya, tapi apa iya cuma itu yang bisa kita banggakan dan kita sarankan terus-menerus?. Sejarahnya multikulturalnya? Rumah-rumah ibadah tua dari agama-agama yang berbeda? Bangunan tua kolonialnya yang hampir hancur karena ditelantarkan dan seenak jidatnya ditempeli kampanye pemilihan gubernur?

Rumah Tjong A Fie

Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Medan

Jam Operasional : Setiap Hari 09.00 – 17.00 / Operating hours : Everyday, 09 am -5 pm

photo(2)

Ruang Makan

Ruang Makan

IMG_6381

Baba & Nonya Dress

Baba & Nonya Dress

Ngintip Ballroom

Ngintip Ballroom

Ballroom

Ballroom

Tempat Sembahyang Lantai 1 & 2

Tempat Sembahyang Lantai 1 & 2

Ms Moon, our guide

Ms Moon, our guide

Family Portrait

Family Portrait

Tempo Doeloe

Tempo Doeloe

Tjong A Fie's funeral

Tjong A Fie’s funeral

Queeny Chang

Queeny Chang

IMG_6285

Mr & Madam Tjong a Fie with Family

22 comments on “Rumah Tjong A Fie

  1. dansapar
    February 19, 2013

    besok kalo ke medan wajib ke sini ahhh
    *masukin list*

    • Sy Azhari
      February 19, 2013

      Ditunggu ke Medan ya,par. Jangan ke Bali atau Yurep aja!!

  2. neng fey
    February 19, 2013

    hebat lo koh, pas mbak moon nya ngejelasin lo catet ya? ^o^

    • Sy Azhari
      February 19, 2013

      Aku kan rajin kayak di sekolahan,mpok.

  3. buzzerbeezz
    February 19, 2013

    Yah, karena saya belum pernah singgah ke tempat ini ya sekalian aja deh. <- APAAAA??!! Baru sekarang ke Tjong A Fie Mansion? Malu-maluin ah Kokoh ini.. Hahahaha..

    • Sy Azhari
      February 19, 2013

      Aku kan sibuk mengurus keluarga. Lagian Senin-Sabtu mana mungkin jalan-jalan😦

  4. Halim Santoso
    February 19, 2013

    Aku pikir judul “Memories of A Nonya” salah ketik…tyt betul🙂
    Kokoh…jadi guide saia kalo bekunjung ke Medan yah… #senyumsokimut

    • Sy Azhari
      February 20, 2013

      Aku juga mikirnya begitu waktu Ibu yang dari Penang itu bilang, sampai lihat foto Queeny Chang dan bukunya. Silahkan aja berkunjung ke Medan, tapi kalo hari kerja gak bisa maksimal ya jadi guidenya.

  5. zou
    February 19, 2013

    Tjong A Fie Mansion .. Tengkyu, Koh, tulisanmu mengobati penasaranku .. Xixixixi ..😀

  6. Cumi MzToro
    February 20, 2013

    ternyata masih terawat, ngak kalah keren sama yg di penang

  7. grandiszendy
    February 20, 2013

    koh, aku kok bingung ya, pas di cheong fat tze, tour guidenya bilnag, kalo rumah tjong a fie di medan ini juga rumah cheong fat tze, jd dia punya istri di banyak tempat gitu, nah di medan itu salah satu istrinya

    • Sy Azhari
      February 20, 2013

      Salah kali guidenya itu. Cheong Fatt Tze ini masih terhitung pamannya Tjong A Fie kalau kata guide & yg pernah gue baca. Cheonh Fat Tze emang meninggal di Medan, pasti punya rumah di Medan tapi belum tentu yang ini kan?

  8. nyonyasepatu
    February 20, 2013

    mauuuu kesana

  9. jolliefemme
    February 25, 2013

    makasih banyak udah diajak ke sini ya mas kokoh…😀

  10. Lala
    April 29, 2013

    Mas, dari rumah Tjong A Fie ini ke Bandara Polonia, dekat nggak ? Kira2 harus spare waktu berapa lama –> untuk mengejar flight jam 11.50 ? Bukanya mulai jam 9 kan yah …makasih banyak ya mas … sukses selalu

    • Sy Azhari
      April 29, 2013

      Kira-kira 4 km, atau sekitar 10 menit tanpa traffic. Di sana kira2 1 jam cukup aih. Tapi takutnya ketinggalan penerbangan,la.

      • Lala
        April 29, 2013

        Kalau dilihat dari km – nya sepertinya dekat sekali, he he … Hari Minggu apakah trafficnya juga parah ? Buka kan, kalau Minggu ?

      • Lala
        May 3, 2013

        Em, tolong tanya lagi boleh nggak mas ? Kalau dari hotel Swisbell, Rumah Tjong A Fie ini jauh / dekat ? Makasih ya mas …

      • Sy Azhari
        May 3, 2013

        Deket kalo dari hotel Swiss Bell Hotel, sekitar 2 km Btw, ini yg Swiss Bell Hotel di Jln S Parman kan? Bukan Swiss Bell Inn di Jl Surabaya?

      • Lala
        May 3, 2013

        Grand Swiss Bell itu yang mana ya ? He he … O, ada 2 toh. Baik mas, moga2 dekat … he he … makasih buanyak atas informasinya yaa …

  11. lapakmedan
    December 5, 2014

    Pokoknya wajib lah ke sini kalau lagi kemedan.. #WisataMedan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 19, 2013 by in Culture, Sumatera, Sumatera Utara, travel and tagged , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: