Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Bersepeda Santai Keliling Chiang Mai

Chiang Mai Art & Cultural Center

Chiang Mai Art & Cultural Center

Yah, aura perjalanan santai kami ke Chiang Mai beneran terasa sejak pesawat AirAsia dari Kuala Lumpur mendarat di Chiang Mai International Airport. Gak cuma kami bertiga, tapi orang sekitar kami juga dong ikut santai. Saat pesawat masih melaju cukup kencang dari runway menuju apron, dengan SANTAINYA seorang wanita usia senja berjalan di lorong menuju ke tempat duduk temannya. Pramugari dari posisi take-off/landing di belakang kabin pun memberikan kode supaya Ai duduk lagi. Alih-alih duduk, ehhh…ada 1 Ai lagi yang malah berdiri dan ikut nyamperin ai yang pertama. Duuuh, emang rombongan penumpang usia 50-an asal Seremban (Greater KL) ini bikin geram sedari tadi.

Bandara Chiang Mai pun tampak seperti berada di masa-masa low season. Tidak ada antrian yg signifikan di jalur imigrasi dan antrian taksi. Semua terasa begitu tenang untuk ukuran bandara. Kami pun meluncur dengan fixed-rate taxi seharga 120 Baht menuju Bed & Terrace Guesthouse, tempat kami menginap. Pagi itu, triple room seharga 900 Baht semalam sudah disiapkan oleh Nong Tai yg cantik dan tinggi banget. Gak nyangka dengan harga segitu untuk 3 orang, fasilitasnya lumayan banget. Ada TV, lemari es, safety box, lemari yg cukup menampung 3 ransel kami, dan aksesoris kamar yang artistik berpadu-padan dengan ranjang kayu model tradisional namun kasurnya bikin males bangun.

Bed & Terrace Guesthouse - Triple Room

Bed & Terrace Guesthouse – Triple Room

Selepas bersih-bersih dan beristirahat sebentar, kami menuju kota tua. Hati tergelitik melihat banyaknya turis yang menggunakan sepeda untuk berkeliling. Apalagi ditambah ukuran kota yang bisa dibilang gak kecil..plus tujuan kita salah satunya ada di luar parit kota tua yang berjarak sekitar 4 km dari penginapan. Betis bakal segede Sapar kalo dijabanin pake jalan kaki. Rute penginapan – Charoen Prathet 1 (tempat makan siang) – Tha Phae Gate aja kita udah ngos-ngosan, apalagi udara terik susah untuk dihindari. Makin mempertegas untuk menyewa sepeda keliling kota.

Dengan harga 50 Baht (Rp 16.500) untuk pemakaian 24 jam, harga tadi termasuk sangat murah. Yang dipilih tetep dong yang ada keranjangnya di depan. Dengan sepeda ala gadis desa tadi, kita udah siap banget keliling. Tujuan pertama adalah pasar tradisional untuk berbelanja buah segar dan memanfaatkan tersedianya lemari es di kamar. Sayangnya, beberapa penjual buah segar udah tutup karena hari udah beranjak menuju sore. Yang tersisa adalah penjual bunga-bunga seperti melati…ngana kira kita Suzanna.

IMG_0042

Atas : Asian. Bawah : Other Asians!

Tujuan selanjutnya adalah taman kota di sudut kota tua. Penampakannya terlihat sangat menggoda saat dari balik taksi bandara terlihat banyak orang menghabiskan waktu di taman tadi. Sayangnya, hujan deras turun seketika saat kami memakirkan sepeda di pintu masuk. Azab gak pamitan sama orang tua mungkin. Walhasil, kita berteduh di dalam permainan anak-anak. Tapi biarpun hujan deras, masih ada aja Pi Pi lokal yang jogging dan…topless pula.

Satu lagi yang hebat di taman ini, gak dipungut biaya parkir untuk sepeda motor dan sepeda. Pun gak ada yang maksa menyewakan tikar. Bagi pengunjung yang ingin menggunakan tikar, bisa hubungi kios-kios penjualan snack di dalam taman dan menyewa tikar seharga…10 baht aja. Mure gila. Tamannya bagus dan bebas orang lokal yang ujug-ujug pake seragam oranye mungut uang parkir kayak di….ah udahlah, gak enak nanti dibilang ngejelekin negara sendiri padahal kenyataannya begitu.

Kami pun melanjutkan acara keliling kota selepas hujan. Gak ada tujuan sampai akhirnya cuma keliling-keliling kota menikmati melimpahnya Wat di dalam kota tua berdampingan dengan hostel-hostel keren dan kafe-kafe yang chic. Karena kegerahan dengan baju basah hasil kehujanan, kita pun akhirnya balik ke penginapan. Sisa waktu menjelang maghrib kita isi dengan istirahat yang layak mengingat malam sebelumnya tidur-tidur ayam di bandara LCCT-KLIA. Setelahnya, kami lanjutkan ke Night Bazaar dengan berjalan kaki. Kisah di Night Bazaar saya ceritakan lain hari ah, soalnya berkesan banyak buat saya.

DAY 2

Happy customer with his Ling Zhi (lychee)

Happy customer with his Ling Zhi (lychee)

Breakfast with (Miss) Tiffany *dirajam teman seperjalanan)

Breakfast with (Miss) Tiffany *dirajam teman seperjalanan*

Hari ke-2 di Chiang Mai, matahari terasa lebih jinak sehingga perjalanan ke pasar gak pake misuh-misuh kepanasan. Akhirnya ketemu juga tukang-tukang buah segar di pasar. Di dekat tempat parkir, ada seorang bapak tua berjualan lychee yang tidak fasih berbahasa inggris. Dengan bantuan seorang pria lokal yang belanja juga, akhirnya terbeli juga 2 kg lycee segar seharga 70 Baht (Rp 23.000). Sebenarnya 3 kg dijual 100 Baht doang, tapi diingat-ingat sapa juga yang bakal makan. Masa dikasih ke Pi Dia (Nong Tai’s brother) yg lagi jaga-jaga di guesthouse, sih.

Dengan modal lychee yg baru dibeli ditambah nasi goreng kepiting dari 7-11 terdekat dan minuman panas dari kios pinggir parit, jadilah, jadilah kita bertiga sarapan di tengah pasar diantara kerumunan orang-orang lokal. Sempat disapa oleh seorang bapak yang mengira kita orang lokal. Dih, saya sih pantes dibilang lokal.. lah 2 teman saya ini?. -jumawa-

  • Wat Phra Singh Woramahaviharn

Lepas sarapan, kami berangkat melanjutkan perjalanan ke Wat Phra Singh. Nong Tai, si gadis tinggi jenjang langsing penjaga guesthouse, menyarankan kami ke Wat Phra Singh selain ke Wat Chedi Luang. Kalau Wat Chedi Luang adalah kuil terbesar di dalam kota tua, maka Wat Phra Singh adalah yang terindah ujarnya.

Komplek Wat Phra Singh memang cukup besar dengan beberapa taman mengelilinginya. Bagian paling enak di komplek ini adalah taman di sisi utara kuil yang dipenuhi tempat duduk dari batu dinaungi oleh pepohonan yang rindang. Uniknya, di setiap pohon terpampang nyata di khatulistiwa 1 kalimat mutiara. Agak-agak menohok sih kata-katanya. Ada beberapa paviliun di dalam komplek Wat Phra Singh termasuk asrama untuk biksu-biksu. Tampak beberapa calon biksu berusia belasan tahun wara-wiri di area komplek.

Wat Phra Singh Area

Wat Phra Singh Area

  • Chiang Mai Art & Cultural Center

Letaknya tak jauh dari Wat Chedi Luang. Artinya, tepat di tengah kota tua Chiang Mai. Bangunannya gampang dikenali karena arsitekturnya yang unik dan patung Three Kings yang berada tepat di depan bangunan ini. Untuk masuk ke Chiang Mai Art & Cultural Center, pengunjung dikenakan tiket seharga 90 Baht dengan stiker yang bisa ditempelkan di bagian tubuh mana saja sebagai penanda pengunjung telah membayarnya.

Museum ini ternyata cukup berukuran besar dengan banyaknya ruangan ditambah 2 buah teras di dalamnya. Untuk mengelilinginya, di lantai dipasang tanda panah sebagai navigasi para pengunjung. Sebelum menjelajah museum, kami menonton film berdurasi 15 menit mengenai sejarah Chiang Mai. Penyusuran di museum dilakukan dengan masuk ke ruangan yang sudah disusun sedemikian rupa mengikuti timeline Chiang Mai dari jaman pra-sejarah sampai modern day. Bagusnya lagi, di setiap ruangan disediakan fasilitas voice over dengan pilihan beberapa bahasa. Sebagian ada menu bahasa Thai-Inggris-Perancis-Jerman-Mandarin. Lain ruangan ada pilihan Hmong dan beberapa bahasa minoritas suku pegunungan. Seru ih.

Interactive Panel in Chiang Mai Art & Cultural Center

Interactive Panel in Chiang Mai Art & Cultural Center

Bagian paling menakjubkan di museum ini adalah lantai 2 yang berlantai kayu dengan koridor besar dan pintu-pintu berukuran raksasa. Ditambah lagi pemandangan dari balkon ke arah halaman dan sekitaran bangunan yang bergaya Lanna bercampur Eropa. Berasa lagi di rumah bapak tirinya Jan Dara deh *sembunyikan DVD*. Serunya lagi, di dalam Chiang Mai Art & Cultural Center tersedia toko souvenir dengan koleksi yang bikin ngelus dada dan dompet secara bersamaan. Koleksi yang berbau Lanna Thai berbaur dengan Mountain Tribe seperti Hmong Tribe. Belum lagi ada coffee shop di sudut bangunan. Gak mati gaya deh main ke museum ini.

Sayang waktu kita sebentar doang, sehingga main-main di tiap ruangan cuma sebentar. Buat teman-teman yang ke Chiang Mai, mesti singgah ke sini. Selain museumnya menarik dan informatif, lumayan buat ngadem. Kenapa cuma sebentar doang padahal masih pukul 12 siang. Karena kita lewat jam 12 bakal berubah dari Cinderella menjadi Upik Abu singgah ke kawasan paling hits di Chiang Mai dilanjutkan dengan belagak jadi turis dengan ikutan tour dong. Bukan begitu, Bu Evelyn & Mbak Fenny *naik heli ke bukit golf Mediterania*

Coffee shop inside Chiang Mai Art & Cultural Center

Coffee shop inside Chiang Mai Art & Cultural Center

YoungBuddhist Monk

Young Monk

Wat Phra Singh area

Wat Phra Singh area

Smaller temple in Wat Phra Singh area

Smaller temple in Wat Phra Singh area

Chiang Mai Art & Cultural Center

Chiang Mai Art & Cultural Center

Behind Three Kings

Behind Three Kings

16 comments on “Bersepeda Santai Keliling Chiang Mai

  1. d'bolots
    May 24, 2013

    Aaaaakkkk …. bagusnya khaaaaaa …

    akooh pengen kesana khaaaaa

    • Sy Azhari
      May 24, 2013

      Khaaa khaa.. Giordanonya khaaa khaaa.

      Next time, nginepnya di dalem old city, gaulnya di Nimmanheiman dong ya. Hits.

  2. omnduut
    May 24, 2013

    Lycee-nya mirip kelengkeng. Baru kali ini liat. Biasanya sudah dikalengin (itu pun jarang-jarang :p)

    • Sy Azhari
      May 24, 2013

      Iya, mirip ama kelengkeng om. Cuma ukurannya besar banget dan wanginya enak banget.

  3. d'bolots
    May 24, 2013

    Jangan lupa ditulis ya ntar kalo kunjungan kesana maning

    update : makin rame semenjak gw recomen di blog

    • Sy Azhari
      May 24, 2013

      Hahahaha. Itu e-guide absurd banget. Witty!

  4. buzzerbeezz
    May 24, 2013

    Betis bakal segede Sapar kalo dijabanin pake jalan kaki. <- ada apa ini? Kenapa dengan betis mas Sapar?

    • Sy Azhari
      May 24, 2013

      Gak apa-apa. Betisnya itu masuk UNESCO World Heritage Site aja.

      • dansapar
        May 24, 2013

        HUAHAHHAHAHAHHAA *jejelin kokoh dengan dvd Jan Dara recycle yg main Mario Maurer*

        Oopppsss *kok gue tahu ya*
        HUAHAHHAHAHAA

      • Sy Azhari
        May 24, 2013

        Gak usah dijejelin. Gue punya keduanya kok. Yg The Beginning ama The Finale.

  5. noerazhka
    May 28, 2013

    selow banget ya kotanya ..
    sekilas mengingatkan sama Melaka ..
    iya kah ?😮

    • Sy Azhari
      May 28, 2013

      Bigger than Malacca. Dan bener kotanya santai banget banget banget. Ga kena hiruk pikuk turis lain.

  6. Okit Jr
    May 28, 2013

    kok kakak kurusan?
    kok bisa?

  7. medilubis
    May 31, 2013

    Dulu pernah dapet lychee di salah satu supermarket disini, perkilonya 45 ribu aja, Udah agak busuk lagi… *pengen ke sana demi lychee*

  8. Pingback: Yang Trendi & Ironi di Chiang Mai | Here, There, & Everywhere

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: