Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Yang Trendi & Ironis di Chiang Mai

Mango Tango (taken from Chiangmailocator.com)

Mango Tango (taken from Chiangmailocator.com)

Hari terakhir di Chiang Mai kami isi dengan menghabiskan masa peminjaman sepeda yang jatuh tempo siang hari. Sementara sore harinya kami isi dengan ikut tur ke Wat Doi Suthep & Hmong Tribe Village. Belagak turis ceritanya. Sebelum keluar guesthouse, Pi Dia menitip pesan bahwa mobil tur akan menjemput kita sekitar pukul 1 siang.

YANG TRENDI

Seperti yang saya ceritakan di akhir post Bersepeda Santai Keliling Chiang Mai, setelah kami berkeliling pasar, old city, dan museum, kami melanjutkan perjalanan ke kawasan paling hype di Chiang Mai untuk makan siang. Nimmanheminda atau Nimmanhemin Road namanya. Seruas jalan dengan 17 soi di barat kota Chiang Mai yang dipenuhi oleh butik-butik kecil yang trendi, kafe yang chic, restoran alfresco, serta penginapan berbentuk apartemen yang banyak dihuni oleh ekspatriat. Mirip-mirip kawasan Kemang di Jakarta atau Seminyak di Bali.

Nimmanhemin Road saat siang hari memang terasa sepi. Belum banyak restoran yang buka, tampak dari beberapa staf yang baru melakukan meeting atau baru mulai menyiapkan susunan bangku. Jangan tanyakan bagaimana pemandangannya saat sore menjelang malam. Saat mengantarkan anggota tur pulang dari Wat Doi Suthep yang menginap di area ini, terlihat kafe, bar, dan restoran sudah ramai pengunjung dan live music.

Nimmanheman Road

Nimmanheman Road Map (taken from Serverooms.com)

Pilihan kami saat itu adalah Mango Tango yang dipilih karena usul Ombolot ehh..maksud saya hyperlink yang ini » Ombolot (yg pertama udah tutup gara-gara gak bayar, pemirsah). Si bolot ternyata udah baca-baca di aplikasi wisata Chiang Mai di iPhone kalau tempat ini lumayan ngehits di lingkungan Nimmanhemin. Boleh dong sesekali main di tempat yg ngehits dan rame. Hipster? Mainstream? emang kenapa? yang kita pake bayar duit lu emang?. Bawel aja liat orang senang, ceu.

Gak salah banget emang main di sini. Selain tempatnya cocok buat ngadem di jam 12 siang, tempatnya juga chic buat foto-foto, dan yang paling juara adalah makanan yang diperjual-belikan di sini. Mostly dessert yang terbuat dari…Mangga (pfftt!). Mango Tango takes their traditional dessert, Mango Sticky Rice, to another level. Selain ketan mangga, ada berbagai macam smoothies dari buah-buahan segar dan berbagai jenis varian makanan dari mangga seperti puding, bubur sagu, dan sorbet. Tidak ada jenis makanan selain dessert di sini. Jadi jangan ngarepin ada Mie Sop, Kwetiau, atau Nasi Prang terus bilang tempat makannya gak enak & gak asik karena gak ada menu-menu tadi yah (lo kate Hipster Medan!). Selain di Chiang Mai, Mango Tango ternyata ada juga di Chatuchak Weekend Market – Section 3 dan Siam Square – soi 5.

Mango Tango
Nimmanhemida Road – Soi 11, Chiang Mai.
Mymangotango.com
 
My mango pudding dessert.

My mango pudding dessert.

YANG IRONIS

Nah, kalau tadi udah cerita tentang yang Trendi, sekarang saya mau cerita sedikit ironi selama perjalanan kami kemarin. Karena penasaran dengan Wat Doi Suthep yang ada di kaki pegunungan, jadilah kami bertiga memesan half-day tour seharga 550 Baht dengan tujuan Wat Doi Suthep dan perkampungan Suku Hmong. Fasilitas antar jemput dan semua tiket masuk dan tiket funicular naik-turun di Wat Doi Suthep sudah termasuk di dalamnya.

Tidak ada yang terlalu spesial selama di Wat Doi Suthep. Hanya komplek kuil besar dengan legenda rakyat lokal yang diceritakan ulang oleh guide kami, Pi Tea. Seperti layaknya kuil-kuil lain, ukiran dan ornamen di dalam kuil sangat mengesankan. Tapi bagian yang paling mencuri perhatian saya selama di sana adalah viewpoint area yg berada di belakang kuil. Di area ini, terlihat downtown Chiang Mai, bahkan landasan pacu Bandara Internasional Chiang Mai terlihat jelas di sini. Berhubung ponsel udah mati dan saya gak bawa kamera selama perjalanan, jadilah tidak sempat mengabadikan pemandangan di sini. Cukup satu foto di bawah ini yg mewakili.

Chiang Mai view from Wat Doi Suthep

Chiang Mai view from Wat Doi Suthep

Sebelum ke Wat Doi Suthep, kami sebenarnya singgah sekitar sejam di perkampungan Suku Hmong. Suku minoritas Thailand ini sebenarnya berasal dari Cina awal abad ke 20. Kasat mata bakal terlihat perbedaan antara mereka dengan minoritas. Badan yang lebih gempal, wajah yang cenderung bulat dengan hidung pesek, dan warna kulit yang kuning langsat berbeda dengan orang-orang Thai kebanyakan.

Nah di perkampungan ini lah sedikit momen yang ironis terjadi. Setelah masuk ke museum berupa rumah kecil dan melihat taman yang ditanami barang contoh Bunga Opium, kami istirahat sejenak di pinggir taman sembari foto-foto dong. Saat itu, banyak anak-anak Hmong menggunakan pakaian adat bermain juga di taman ditemani ibunya. Saat teman-teman bule saya berfoto-foto dengan anak-anak tadi, si Ibu minta ongkos berfoto aja dong. Ya walaupun cuma 10-50 Baht tapi ya tetap aja kesannya mengeksplorasi si anak. Lebih parahnya lagi yang bikin hati agak nyesek saat saya mengambil gambar si anak saat sendirian tanpa ada ibunya di sekitar. Setelah difoto, si anak berteriak :

Hello, Money… Thank You. Ma… Photo..Money

Kaget saya dibuat itu anak. Saya kira anak umur 5 tahun dari daerah pedalaman kok udah fasih Enggres-nya. Tapi ternyata yang bisa dibilangnya hanya sekedar kata-kata tadi. Kata-kata yang membuatnya tampak sebagai komoditi. Ini kali pertama saya berada dalam situasi seperti itu. Bahkan oleh pedagang-pedagang pikul di Vietnam yang katanya kalau mau ngajak foto mesti beli barang dagangannya aja saya gak diminta beli. Ini malah adik-adik kecil kita yang imut yang malah berkelakuan begitu. Sedih ih jadinya😦

"Hello.. Money.. Thank You" - he said.

“Hello.. Money.. Thank You” – he said.

Bunga Opium, belum musimnya.

Bunga Opium, belum musimnya.

Contoh Kebun Bunga & Opium di Hmong Village

Contoh Kebun Bunga & Opium di Hmong Village

Abaikan 3 turis dengan baju seragam ini. ABAIKAN!

Abaikan 3 turis dengan baju seragam ini. ABAIKAN!

Pi Tea in action.

Pi Tea in action.

iBerry at Nimmanheman Road Soi 17 (taken from oknation.com)

Crowd at iBerry (taken from Neverendingvoyage.com)

U/C

U/C

visitor and their own gadget

visitor and their own gadget

Just Desserts

Just Desserts

10 comments on “Yang Trendi & Ironis di Chiang Mai

  1. ombolot
    June 4, 2013

    Khaaaa … delish banget khaaaa

    *Heloo … Photo …. Money*

    • Sy Azhari
      June 4, 2013

      Kha..balik ke sana lagi khaaa. Ngendong di kota aja khaaa.

      • ombolot
        June 4, 2013

        kab kab khaaa …

  2. buzzerbeezz
    June 4, 2013

    Mango aloha ku penampakannya gak chic banget sih.. *ganti pesan mango salsa*

  3. nyonyasepatu
    June 4, 2013

    Yg terakhir pengen bgt. Manggaaaaaaaa

    • Sy Azhari
      June 5, 2013

      Kalau ke Bangkok lagi, singgah yuk mbak.

  4. omnduut
    June 5, 2013

    Kayak ceritanya Trinity (atau Matatita ya? lupa) tentang anak suku Dayak yang juga udah ‘tahu’ uang.

    • Sy Azhari
      June 5, 2013

      Cerita Mbak Trinity,om. Dia malah diminta lebih banyak. Sekitar 50.000 kl ga salah. Sadis.

  5. Fahmi Anhar
    July 4, 2013

    kl di kawasan Angkor, anak² kecil pada ngerubutin jual merchandise dengan rayuan setengah memaksa. pas dibilang: “no, thank you” eh mereka jawab: “we don’t EAT thank you, we NEED money to eat” | *jitakin satu²*

    • Sy Azhari
      July 5, 2013

      Mereka menjual aset mereka : kepolosan. Suka tega ga tega jadinya😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 4, 2013 by in Culture, Dessert, F&B, Go-Sees, Jalan-jalan, Thailand, travel and tagged , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: