Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Makan Hati Dibikin Taifun Santi

Clark International Airport

Clark International Airport

Siang itu saya mendarat di Clark International Airport dan sepanjang mata memandang cuaca sangat cerah. Bahkan saya merasa gerah saat menunggu di Imigrasi. Sepanjang perjalanan dari Clark ke downtown Angeles City pun masih dihiasi langit biru sebiru hatiku. Penumpang di Jeepney yang membawa saya dari terminal mal SM Clark ke terminal bus antar kota berkali-kali mengeluh ke kernet supaya jalan karena cuaca di terminal mal sungguh panas. Namun semua berubah sejak negara api menyerang saat bus saya yang menuju Manila memasuki jalan tol NLEX (North Luzon Expressway).

Hujan deras dan petir bersahutan menyambar adalah menu utama kami di perjalanan. Saya kira sih masih wajar. Toh di Medan juga kondisinya gak jauh beda. Sering hujan deras menjelang sore. Jadi hujan deras sepanjang perjalanan Clark-Manila saya anggap enteng. Apalagi ditambah hujannya reda saat bis memasuki Manila. Saya langsung merasa diberkahi.

Bahkan dengan PD-nya, saya mengajak 2 teman saya yg sedang transit di Manila untuk berjalan-jalan menikmati kota. Mumpung mereka masih punya waktu 7 jam sebelum keberangkatan mereka ke Jakarta. Namun saat keluar dari hotel, hujan rintik-rintik berubah menjadi gerimis yg kalau kata orang di kampung halaman saya bilang “hujan bikin sakit”. Gak deras tapi debitnya konsisten bikin kuyup.

EDSA from my window. Traffic jam all day long.

EDSA from my window. Traffic jam all day long.

Tidak saya sangka, gerimis tadi berubah menjadi hujan deras. Kombinasi hujan deras dan jam pulang kerja di Manila sama efeknya dengan di Jakarta : malapetaka lalu lintas. Semua alternatif transportasi di Manila seakan lumpuh gara-gara hujan deras yang makin lama makin dibumbui angin kencang. 2 teman saya yang 4 jam menjelang keberangkatan ingin kembali ke bandara urung menggunakan MRT + shuttle bus melihat antrian panjang yang mengular dari loket hingga bibir eskalator (+/- 15 meter). Itu masih antrian pembelian single journey ticket, belum antrian masuk ke peronnya loh. Inilah salah satu kelemahan sistem LRT/MRT di Manila. Keterbatasan stok Stored Value Card, sehingga orang-orang masih harus sering mengantri untuk membeli tiket sekali pakai.

Akhirnya kami turun ke jalan mencari transportasi yang (harusnya) bisa diandalkan : taksi. Tapi sayangnya antrian taksi gak mau kalah dengan antrian di MRT. FYI, di Ayala Center ada hampir selusin mal dan antrian di tiap mal sama mengularnya. Bahkan di SM Makati antriannya hingga kedua sisi mal. Horor. Sementara 2 teman saya mencoba membujuk orang-orang di antrian untuk memberikan kesempatan mereka dahulu karena kondisi darurat, namun tidak ada satu pun yang mau mengalah.

Sempat putus asa juga dengan kondisi seperti itu. Jalanan macet, antrian taksi panjang, MRT penuh sesak. 2 teman wanita saya ini gak putus asa untuk mengejar penerbangan pulang ke rumah. Kami turun ke EDSA (Epifanio Del los Santos Avenue) untuk mencari tumpangan taksi, UV, maupun mobil pribadi. Kata “Turun” di sini benar-benar berarti turun dalam arti sebenarnya : kelayapan di jalan raya sembari mencoba memberhentikan kendaraan yang ada. Tak satu pun kendaraan yang memberi tumpangan teman saya. Mereka pun lanjut bergerilya. Harapan muncul setiap lampu merah, namun gugur kembali saat lampu berubah menjadi hijau. Begitulah kira-kira siklusnya.

Namun saat lampu hijau, ada seorang pria yg turun dari mobilnya memanggil-manggil kami. Orang yang tadi menolak untuk mengangkut kami karena tujuannya tidak melewati bandara Ninoy Aquino. Dia menyuruh kedua teman saya untuk naik ke mobilnya. Dan ternyata dari cerita yang saya dapat dari teman-teman saya itu, di mobil itu ada seorang ibu yang sepertinya gak tega melihat kami kehujanan terus-menerus. Padahal saya sempat was-was 2 teman saya yang perempuan itu dilarikan oleh pria tadi. Alhamdulillah.

Masalah selesai? ohhh, belum!!. Giliran saya yang puyeng mau balik ke hotel. Balik ke stasiun MRT, alih-alih antrian makin pendek malah makin mengular tidak hanya dari loket menuju eskalator namun lebih mengular memenuhi lorong-lorong area perbelanjaan di 4 sisi pintu masuk stasiun MRT Ayala. Ini antrian yang lebih horor namun lebih bermakna daripada sekedar antrian hari pertama grand opening Uniqlo atau H&M di ibukota negara tetangga. Antrian orang-orang yang berjuang untuk pulang bertemu keluarga di long weekend. Saya pun mengubah niat saya yang tadinya ingin kembali ke hotel menjadi kelayapan ke Bonifacio High Street yang tinggal naik The Fort Bus dari stasiun MRT Ayala.  Namun lagi-lagi antrian memasuki bus tak kalah horornya. Lah, kalau di MRT saya sih ngeh mau pada pulang, lah ini mau ngapain ke BHS malem-malem? begajulan ke club sepanjang High Street atau cemal-cemil di Midnight Mercato?.

Saya pun mengalah dengan situasi. Kembali ke hotel dengan menggunakan bis yang cukup nyaman, Ber-AC, dapat tempat duduk, dan cuma 10 Peso. Konsekuensinya sih jarak 2 km ditempuh hampir 45 menit. Yah daripada mesti berdiri di MRT yang sampai jam 11 malam pun dari kamar saya masih terlihat penuh.

Tapi emang dasar gatel!. Sampai di hotel, saya menuju belakang hotel yang biasanya jumat malam hingga sabtu pagi pukul 6 terdapat ratusan pedagang makanan yang berkumpul di pasar malam bernama Banchetto. Pasar Malam Banchetto ini diadakan untuk mengakomodir puluhan ribu karyawan call-center yang bekerja di Mandaluyong dari Boni hingga Ortigas CBD. 3 kali saya muterin area itu, tapi nihil. Asumsi saya adalah mereka tutup akibat cuaca. Padahal saat berkeliling tadi saya sempat mengalami pengalaman yang cukup menegangkan. Payung yang saya pakai beberapa kali rusak atau lepas kaitan kain dengan besi penyangganya. Bahkan badan saya yang 85 kg ini berulang kali terombang-ambing angin kencang plus hujan deras. Merasa horor, saya pun kembali ke kamar untuk mengganti jam tidur yang hilang di LCCT saat transit semalam.

Pagi hari saat membaca surat kabar di penerbangan Philippine Airlines, saya terhenyak dengan berita-berita terkait hujan deras dan angin kencang semalam. Ternyata itu adalah Taifun Santi, lanjutan dari Taifun Nari yang sempat menghantam Asia Timur beberapa hari sebelumnya. Taifun yang mengakibatkan jutaan orang terkatung-katung di jalanan Metro Manila, Ratusan vendor di Banchetto yang kehilangan omzet usaha malam itu karena tutup, belasan food truck absen di Cucina Andare Food Market, puluhan ribu karyawan call-center yang bekerja di giliran malam dan bingung mencari makan,dan yang menjadi highlight surat kabar negara itu : puluhan orang meninggal akibat taifun dan longsor di Luzon Utara.

Saya jadi kesal dengan diri sendiri. Mengabaikan berita dan cuaca lokal saat berjalan-jalan. Mengabaikan keselamatan diri sendiri saat berusaha berkeliling area hotel di malam hari, dan mengabaikan keselamatan 2 orang teman saya. Saat pesawat PR 453 yang membawa saya dari Manila ke General Santos take-off keesokan paginya, terlihat awan gelap dan pekat menggelantung di atas Metro Manila. Saya berdoa semoga tidak ada lagi cuaca yang sama saat saya kembali ke Manila. Saat malam takbiran hari raya Idul Adha.

No food truck at Cucina Andare :(

No food truck at Cucina Andare😦

P.S : barusan baca berita tentang Lao Airlines 301 yg jatuh di atas Sungai Mekong. Disinyalir akibat taifun yang masih serangkai dengan Nari dan Santi. RIP.

8 comments on “Makan Hati Dibikin Taifun Santi

  1. d'bolots
    October 18, 2013

    tetep ya pamer yg udah turun 5 kilo …

    *salah fokes*

    • Sy Azhari
      October 18, 2013

      Ya tetep naek lagi dicekoki oleh Chicken Dinner dan Chicharon!

  2. shellahudaya
    October 18, 2013

    Cek ramalan cuaca selama traveling. #noted. Thanks ^^

    • Sy Azhari
      October 19, 2013

      Iya, mbak. Aku menyesal kemarin. Gimana kalau terjadi apa-apa karena terlalu nekad.

  3. Halim Santoso
    October 19, 2013

    waduuhhh si Santi kok tega-tega nian bikin hati Kokoh tambah biru… *puk puk*🙂

    • Sy Azhari
      October 19, 2013

      Karena Santi tak seputih Sinta, koh.

      • Halim Santoso
        October 19, 2013

        Ada apa dengan Sinta, Rangga?😀

  4. Pingback: “Hadiah” Ultah Dari Yolanda | Here, There, & Everywhere

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 18, 2013 by in travel and tagged , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: