Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Smell of Frangipani and Sound of Silence

Kereta Api yang saya tumpangi tepat merapat pukul 7.30 pagi di Stasiun Bandara Kualanamu. Ada rasa lega di dada dan antusias yang menyertai ketika cuti dimulai dan memulai perjalanan 10 hari saya ke Negeri Khmer dan Negeri Gajah Putih yang sedang bergejolak. Walaupun sudah berulangkali melakukan perjalanan, reaksi tubuh yang sama selalu saja berulang. Saya pun segera naik ke lantai 3 untuk check-in penerbangan yang 2 jam lagi berangkat menuju Singapura, tempat transit menuju Semenanjung Indocina.

Semangat 45 untuk berlibur saya seketika hilang dan lutut menjadi lemas tatkala melihat LCD di counter check-in ValuAir/Jetstar mengeluarkan kata “CANCELLED” di layarnya. Penerbangan saya hari itu dibatalkan. Belasan penumpang lain mengerubungi meja check-in dan pastinya dihiasi dengan percakapan bernada tinggi oleh penumpang yang kecewa ke petugas penyedia jasa pelayanan dari Angkasa Pura. Di saat yang sama panggilan terakhir untuk penumpang ke Singapura oleh maskapai AirAsia dan SilkAir sudah menggema di aula keberangkatan. Sial.

Huru Hara ValuAir

Huru Hara ValuAir

Dengan langkah gontai saya menuju ke counter Silk Air yang hari itu punya 3 jadwal penerbangan dari Medan ke Singapura. Begitu petugas menyebutkan angka nominal harga go-show penerbangan siang dan malam hari, saya pun makin gontai. Tak habis akal, saya pun browsing ke website Silk Air dan menemukan selisih harga hingga US$ 50 lebih murah jika beli di website. Tanpa pikir-pikir lagi, saya pun mengeksekusi tiket SilkAir siang agar bisa mengejar penerbangan keesokan hari dari Singpura ke Phnom Penh. Syukurlah koneksi wi-fi di Bandara Kualanamu ini kencangnya luar biasa. Untuk update aplikasi game 50 MB di ponsel saya aja hanya butuh 10 detik. Penerbangan ke Singapura dan penerbangan lanjutan ke Phnom Penh pun berjalan lancar.

Ada hal yang menarik begitu saya menginjakkan kaki di Negara Kamboja. Begitu memasuki aula kedatangan dan toilet Phnom Penh International Airport, samar-samar tercium wangi aromaterapi yang familiar. Frangipani. Plumeria. Di Indonesia lebih dikenal dengan nama Bunga Kamboja. Ah, hanya kebetulan belaka saya rasa. Bukan sekedar gimmick. Wewangian yang sama saya temukan di kamar mandi hostel. Wangi Frangipani membasuh tubuh yang sudah lebih dari 24 jam tidak mandi. 2 penginapan yang saya singgahi berikutnya di Siem Reap yakni Frangipani Villa dan One Stop Hostel juga ternyata menggunakan sabun cair dengan wewangian yang sama.

Diantara belasan aroma sabun cair mengapa oh mengapa judi itu dilarang semua penginapan yang saya singgahi selalu menyediakan sabun dengan wewangian bunga yang dalam bahasa Khmer disebut dengan Champa dan di Indonesia identik dengan kuburan. Saya yang sejak lama mengagumi aroma frangipani pun makin cinta dengan wanginya yang kini mengingatkan saya akan perjalanan di Kamboja selain memori tentang sabun dari Peter Hoe Beyond di kamar mandi saya sekarang. Gak ada salahnya kan demen dengan wangi bunga melati, sedap malam, dan kamboja *lanjut nonton film2 Suzanna*.

Genocide victim gravesite under frangipani tree

Genocide victim gravesite under frangipani tree

Bukan hanya Frangipani yang wanginya menyerempet ingatan saya tentang Negara Kamboja. Sebuah lagu yang belum pernah saya dengarkan menjadi memoir tersendiri akan pertemuan dan pertemanan di Kamboja. A serendipity. Sebuah pertemuan yang menyenangkan dihiasi sebuah lagu.

Awalnya perkenalan standar di hostel dormitory. Biasalah, orang-orang saling memperkenalkan diri saat memasuki dorm kepada penghuni-penghuni sekamarnya yang asing. Kebetulan saat itu saya baru terbangun dari tidur dan 2 orang penghuni lain yang belum pernah saya temui memasuki ruangan berkapasitas 4 orang. Vincent dari Hongkong dan Izi dari Malaysia. Tak lama mereka pamit lagi karena ingin keluar makan malam dan keliling Phnom Penh di malam hari. Saya pun beranjak dari ranjang untuk bersiap-siap malam mingguan di Ibukota Kamboja.

Saat setengah jalan menyantap makan malam di restoran Ikan dan teman-temannya (baca : Fish & Co) di pinggiran Sisowath Quay, masuk 3 orang yg 2 orang diantaranya saya familiar wajahnya. Rupanya Vincent dan Izi beserta seorang perempuan muda berwajah oriental juga ingin nongkrong di restoran yang lokasinya dekat hostel untuk ngemil-ngemil pasca makan malam. Menyadari kehadiran saya di ruangan yang sama, si perempuan memanggil saya…”come and join us after finishing your meal”. Gestur yang menyenangkan dari seseorang yang bahkan belum berkenalan dengan saya.

Amanda namanya dan berasal dari Taipei, Taiwan. Sifatnya yang bubbly membuat dia menjadi pusat keramaian obrolan kami malam itu. Mulai dari latar belakang pribadi, pengalaman jalan-jalan, kelakuan turis Mainland China, perbandingan karakter percintaan cowok-cewek Taiwan, Hongkong, dan Mainland China…hingga topik yang membuat saya mati kutu : kecepatan internet di negara masing-masing. Sayangnya, Amanda si periang ini tidak menginap di hostel yang sama dengan kami bertiga. Dia bertemu Vincent dan Izi di Siem Reap dan satu perjalanan penderitaan dengan 2 pria tadi saat perjalanan bus Siem Reap ke Phnom Penh mereka harus ditempuh tanpa AC untuk 2/3 perjalanan dengan bus malam Virak Buntham. Obrolan kami yang ngalor-ngidul berakhir hampir menjelang tengah malam. Padahal jadwal tutup restoran adalah pukul 10.30 malam.

Kami beranjak menuju One Stop Hostel, tempat saya, Vincent, dan Izi menginap. Sampai di lobby, Vincent berinisiatif mengantarkan Amanda ke hostelnya. Kombinasi negara asing dan tengah malam membuat Vincent was-was dengan keselamatan Amanda. Sewaktu pamit, saya menjulurkan tangan ke Amanda namun ditepis dan langsung diganti pelukan olehnya. Amanda bergantian memeluk kami satu persatu sembari berkata: ” i’m gonna miss you guys”.

Hongkongker, Malaysian, Taiwanese, Indonesian

Hongkongker, Malaysian, Taiwanese, Indonesian

Saat saya dan Izi kembali ke kamar dan menemukan satu orang terakhir penghuni dorm kami, Chris si veteran asal Amerika. Tak lama Vincent menyusul ke kamar membawa gitar yang dipinjamnya dari lobby. Sepulang dari restoran tadi, Vincent gembira banget lihat gitar di lobby dan berujar dengan ceria “i wanna play songs for you guys…i wanna play songs”.

Takut membangunkan Chris yang sebelumnya sudah pamit tidur ke saya, saya pun berujar ke Vincent…“i don’t think that is a good idea, i’m afraid we will wake him up”.  Saya sih takut aja dia gak cuma membangunkan Chris tapi juga menuai protes dorm sebelah. Vincent berjanji tidak akan membuat keributan dengan lagunya dan Chris yang terlanjur terbangun memberi peringatan sembari bercanda: ” you better be good, youngman!“.

“This song is dedicated for you guys”, ujar Vincent. Lelaki Hongkong berambut gimbal ini pun mulai memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu yang asing bagi saya. Suara Vincent yang lembut dipadu petikan gitar akustiknya membuat saya merinding. Lampu kamar yang sudah dimatikan menambah suasana syahdu lagu yang membuat saya dan Chris bertepuk-tangan kala Vincent menuntaskan sesi akustiknya. Saya pun menanyakan judul lagunya, Chris dan Vincent kompak menjawab : Sound of Silence from Simon and Garfunkel. Saya pun membuka ponsel dan langsung mengunduhnya dari iTunes. Vincent pun melanjutkan dengan lagu kedua dan terakhir, Wonderful Tonight, dengan suara tak kalah merdunya. Andai saja ia merekamnya dan mengunggah ke Soundcloud, bisa saya ajak merinding sampeyan semua. Terakhir saya cek di Facebook, dia kembali ‘ngulah’ dengan gitar di sebuah kafe di Mui Ne, Vietnam.

"say no to Virak Buntham night bus" they said.

“say no to Virak Buntham night bus” they said.

Beberapa hari setelahnya saat menjelajah night market di Siem Reap, ada pedagang CD yang memutar Sound of Silence di kios kecilnya. Ingatan saya langsung kembali ke Phnom Penh dan teman-teman baru yang membekas di hati. Ingat akan percakapan random 3 jam sampe dilihati pelayan-pelayan restoran, ingat momen peluk-pelukan di lobby hostel, dan pastinya sesi akustik di dorm berkapasitas 4 orang di One Stop Hostel.

Senyum menyungging selalu tiap saya mendengarkan Sound of Silence yang syahdu ataupun saat mencium wangi Frangipani di kamar. Kenangan akan Kamboja yang tak gampang saya lupakan hingga beberapa tahun ke depan pastinya. Kenangan akan pertemuan, teman, dan tempat asing yang mempertemukan semua kenangan tadi.

Frangipani here, there, and everywhere

Frangipani here, there, and everywhere

Plumeria/Frangipani

Plumeria/Frangipani

4 comments on “Smell of Frangipani and Sound of Silence

  1. deannasallao
    June 12, 2014

    hey there! i’m loving your recent posts!
    I also blogged about my recent stay in Malaysia at Container Hotel! What do you think of budget hotels/ B&B?

    here’s what my recent post is all about…
    http://talkaboutbeauty.wordpress.com/2014/06/12/container-hotel-kuala-lumpur-malaysia/

    would be so nice to hear from you!🙂

    cheers! xx

    deanna ( http://www.talkaboutbeauty.wordpress.com )

  2. boloten
    June 20, 2014

    Aaaakkkk …. aku envy …

  3. sapar
    June 30, 2014

    akkkkkk aku envy tamalak jugaaakk…
    itu evy yak evy
    *selamat malammmmm duhai kekasihhhhh

  4. buzzerbeezz
    August 28, 2014

    Mungkin karena di Kamboja banyak bunga frangipani kali ya makanya bunga ini di negara kita dinamakan bunga kamboja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 7, 2014 by in Cambodia, Personal, travel and tagged , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: