Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Nikmat Jumat di Tanah Lanna

Saya mengayuh kencang city bike berwarna biru muda menuju ke penginapan. Sepagian saya mengelilingi pinggiran Sungai Ping dan Old City Chiang Mai dan sepagian itu juga saya rada jiper menyaksikan tentara-tentara berjaga di tempat strategis dari Ta Phae Gate, Chang Pueak Gate, hingga snipper yang bertengger di atas hotel-hotel sepanjang Jalan Ta Phae. Badan penuh dengan peluh akibat mengayuh sepeda yang bentuknya gak jauh beda dengan sepeda Vinny Alvionita di sinetron Kedasih.

Tujuan balik ke Rustic Guesthouse menjelang siang ini adalah untuk berganti kostum. Kaos oblong penuh keringat dan celana pendek berganti kemeja dan celana panjang. Dengan langkah meyakinkan, saya menuju pemberhentian 900 m di selatan penginapan saya yakni Charoen Phratet  Soi 1 alias Gang 1 – Jl. Charoen Phratet. Ada apa emangnya di Gang yang menghubungkan Jalan Raya Charoen Phratet dengan Jalan Chang Klan ini?. Jawabnya cuma satu : warna-warni kehidupan minoritas Muslim di Chiang Mai.

Sejak lama saya ingin kembali ke Chiang Mai dan lebih spesifik lagi menghabiskan hari Jumat di bekas ibukota Kerajaan Lanna ini. Kesempatan sholat jumat di Mesjid Baan Haw tahun lalu terlewat karena saat itu kami sedang dalam perjalanan pulang dari Taman Nasional Doi Suthep. Tahun ini saya kembali untuk mengunjungi dan bertekad ikut Sholat Jumat di mesjid terbesar di Provinsi Chiang Mai itu. Sesepele ini motif perjalanan saya kembali ke Chiang Mai : Charoen Phratet Soi 1.

Baan Haw Mosque Prayer Hall

Baan Haw Mosque Prayer Hall

Sesampainya di jalan yang saya tuju, adzan sudah berkumandang dan jumlah jamaah sudah sampai teras mesjid yang ukurannya tak terlalu besar. Sejak tahun lalu melihat komplek mesjid dari luar, saya mengira bangunan dengan kubah dan berdinding kaca itulah yang bernama Mesjid Baan Haw. Saat memasuki mesjid untuk Sholat Jumat kali ini, saya baru ngeh kalau itu adalah gedung sekolah dan bangunan tua dengan penanda aksara Tiongkok di atas pintu masuk itu adalah mesjid sebenarnya.

Sebuah keranjang yg mirip keranjang cucian di rumah saya menyambut jamaah di halaman Mesjid. Seplastik aneka jenis kue, seplastik rambutan, dan leci segar terletak di dalam keranjang. Saya kirain itu dagangan jamaah mesjid yang mau sholat karena tak satupun orang-orang di sekitar Mesjid mengerubungi keranjang dan ‘nyolek-nyolek’ cemilan tadi. Ah, saya pun tak ambil pusing dan langsung mengikuti ritual Sholat Jumat yang khotbahnya gak saya mengerti satu katapun karena disampaikan dalam bahasa Thai. Pfffttt…

Baan Haw Mosque Educational Hall

Baan Haw Mosque Educational Hall

Selepas jumatan, keranjang di depan Mesjid bertemankan 2 tampah berisi kue-kue yang sudah ditempatkan dalam plastik-plastik kecil. Orang-orang kini mengambil makanan yang ternyata adalah sumbangan jamaah, seorang pria berkacamata mempersilahkan orang-orang untuk jangan sungkan mengambil makanan kecil yang telah tersedia di keranjang dan tampah. Salah satu bapak yang saya todong pertanyaan bercerita jika hal menyumbang makanan tadi adalah kebiasaan di sini. Semakin menyenangkan tatkala jamaah yang mengambil makanan cukup tertib, tanpa berdesak-desakan, dan MENGAMBIL SEPERLUNYA…bukan MENGAMBIL SEMAUNYA ya. Ada yang hanya memetik 1 buah leci, mengambil 1 buah untir-untir, atau 1 plastik kecil kue. Ga ada yang terlihat mengambil-untuk-dibawa-pulang-biar-sekeluarga-besar-makan-Sabodo-Teuing-ama-orang-lain. Saya pun turut mencicipi kue-kue yang rasanya mirip kue peranakan di Indonesia tanpa mengambil buah, karena mengingat ada 1 Kg leci dan 2 buah mangga di dalam kulkas penginapan (loh?).

Selepas menikmati makanan ringan hasil sumbangan jamaah oiii jamaah, beberapa bapak-bapak menyapa jamaah lain terutama anak-anak untuk pindah ke belakang area Mesjid. Saya kirain sih dikumpulin buat balik ke kelas. Rasa kepo hinggap di kepala, jadilah saya ikutan ke belakang dan ternyata anak-anak tadi duduk melingkari meja yang telah terhidang makanan lengkap dari nasi, lauk-pauk, buah, dan es teh.

Wah, enak juga sekolah di sini dapat makan siang beginian selepas jumat“, pikir saya.

Nyatanya tebakan saya salah. Tak lama jamaah yang bapak-bapak ikutan duduk dan dari gedung sebelah para wanita ikutan bergabung dalam acara makan siang tadi. Saya pun tak lupa mengabadikan momen tadi sembari senyum-senyum kecil. Melihat saya yang geli dengan pemandangan tadi, seorang pemuda menyapa saya:

come and join us. But we’re waiting for my sister first“, ujarnya

Sambil malu-malu, saya mengikutinya dan menanyakan pertanyaan paling konyol yang bisa saya tanya pada saat itu :

INI BAYAR? or is this for free?“. Dasar pelit.

With Ivan & Daisy + suasana makan siang selepas jumat.

With Ivan & Daisy + suasana makan siang selepas jumat.

Namanya Ivan dan di sebelahnya Daisy, sang adik. Mereka berdua ternyata bukan orang Thai, melainkan Chinese yang berasal dari Yunnan; sebuah provinsi RRT yang berbatasan dengan Vietnam, Laos, dan Burma. Kakak-adik ini menuntut ilmu jurusan Bahasa Thai di Chiang Mai. Saya antusias banget begitu mengetahui mereka dari Kunming, ibukota Yunnan, karena salah satu tujuan saya (Insya Allah) akan melewati Kunming walaupun sekedar transit doang. Dari cerita-cerita dengan mereka, saya jadi tahu bahwa pemeluk Islam di Chiang Mai ini mayoritas berasal dari Yunnan sehingga masih menguasai Dialek Yunnan (Southwestern Mandarin). Pantas saja terdapat aksara Tiongkok di atas pintu masuk Mesjid dan percakapan di meja-meja menjelang makan siang ini diwarnai bahasa yang asing terdengar saya karena tidak seperti Bahasa Thai terdengarnya.

Sebuah pengumuman dalam Bahasa Thai terdengar dari pengeras suara di Mesjid dan disusul dengan doa sebelum makan. Ruangan mendadak hening karena semua mengangkat tangan dan membentuk gestur tubuh berdoa. Santapan pun siap dihajar selepas berdoa. Daisy yang Bahasa Inggrisnya lebih lancar dari Ivan menjelaskan makanan apa aja yang tersedia di meja mulai dari ikan asam-manis, sup yang berisi gorengan sapi dan tepung, tumis sapi cincang, semur kambing, ayam rebus (seperti Pek Cam Kee di Medan), dan tanghun tumis. Kami bertiga menyantapnya bareng 4 wanita Chiang Mai keturunan Yunnan yang berkali-kali menyodorkan piring lauk ketika saya mencoba beristirahat menenangkan mulut dan perut.

Sekitar 30 menit kemudian pengeras suara kembali berbunyi dan kali ini semuanya berujar… “Alhamdulillah”. Pasukan bersih-bersih pun datang dengan sigap untuk membersihkan meja. Saya menanyakan kepada Ivan dan Daisy apakah acara seperti ini rutin diadakan selepas Jumatan. Ya kan sapa tau tiap Jumat bisa makan gratis… siapa tahu!. Mereka berdua dengan Bahasa Inggris terbata-bata menjelaskan bahwa momen seperti ini tidak diadakan rutin melainkan jika ada sumbangan dari Jamaah yang bisa jadi merayakan sesuatu atau memperingati wafatnya anggota keluarga.

Duh, jadi gak enak ikutan makan dengar asal-usul makanan ini. Pertemuan saya dengan Kakak-Adik yang baik hati tadi diakhiri dengan saling bertukar alamat e-mail. Semoga berjodoh kembali dan ketemu tahun depan yah.

Lunch at Baan Haw Mosque

Lunch at Baan Haw Mosque

Saya melanjutkan perjalanan dengan mengitari Charoen Phratet Soi 1 dari ujung ke ujung. Gang yang bisa dilewati mobil ini dipenuhi dengan aktivitas minoritas Muslim di Chiang Mai seperti kios penjual buku-buku relijius, perlengkapan sholat, baju-baju muslim, dan pastinya kedai-kedai makanan halal. Yang terakhir pastinya yang saya cari sejak saya berkunjung ke Chiang Mai pertama kali pada tahun lalu.

Sepanjang Gang Charoen Phratet dapat ditemui beberapa kedai makanan yang bertanda halal. Dari Orange Burger yang menjual makanan modern maupun Sophia dan Fueng Fah yang berjualan makan tradisional Thai yang halal. Cobain Khao Soi (mie kari khas Thailand Utara), Khao Mok Gai (Nasi kuning/briyani ala Thai), dan Sup Buntut yang dijual di kedai-kedai bertanda halal tadi. Hmmmm… Arroi mak. Selain makanan segar dan siap santap, kedai-kedai tadi menjual juga makanan-makanan kering seperti ikan asin, sosis sapi, dan yang paling bikin saya penasaran untuk nyicipi…smoked duck, semacam bacon yang terbuat dari daging bebek.

Ada sedikit perubahan di ujung jalan yang bersimpangan dengan Jalan Chang Klan tempat Chiang Mai Night Bazaar berada. Sebuah gapura bertuliskan “Halal Hilal Street Town” kini berdiri di ujung barat jalan. Penanda jelas acara yang terselenggara tiap jumat malam di jalan yang sama. Acara yang menjadi salah satu alasan kuat saya cinta kota Chiang Mai, pasar malam mungil yang namanya tertera di gapura.

Buat yang belum tahu Halal Hilal Street Town, tahun lalu saya pernah membuat tulisannya di post ini. Ukurannya mungkin kalah jauh dari Chiang Mai Night Bazaar, hanya mengambil setengah panjang Soi 1 Charoen Phratet. Namun varian makanannya tak kalah jauh dengan yang dijual di Night Bazaar dengan harga yang lebih murah. Tak hanya berhasil menggaet turis Muslim (yang kebanyakan dari Malaysia dan Thailand Selatan), pasar malam yang berakhir pukul 10 malam ini juga kini dipadati turis Caucasian, Indian, African, dan wilayah lain Asia. Saya malam itu semeja dengan turis asal Jerman dan keluarga asal Malaysia. Dan kelang setahun dari kunjungan pertama, makanan favorit saya tetap jatuh kepada Noodle Soup yang dijual dedek-dedek mirip Zaskia Adya Mecca.

Setiap singgah di kedai dan mengucap “Assalamu’alaikum“, si penjual pasti melayani dengan sumringah dan tersenyum lebar. Tak lupa menanyakan asal negara saya, tujuan datang ke Chiang Mai, bahkan bersedia menjelaskan isi makanan mereka dengan keterbatasan bahasa saat saya menanyakannya. Seharian di Charoen Phratet Soi 1 memberikan kesan mendalam bagi saya (dan perut saya pastinya). Sambutan hangat untuk solo traveler seperti saya yang berharap bertemu pejalan lain serta pastinya orang-orang lokal yang ramah dan yang tak hanya tahu mengambil keuntungan saat wilayahnya dikunjungi (cough..parkir 20ribu..cough Bukit Lawang).

Khob khob... ngambil jangan banyak-banyak khob

Khob khob… ngambil jangan banyak-banyak khob

Kesayangan!

Kesayangan!

Singgah, khob...

Singgah, khob…

Dedek-dedek Ukhti Penjual Cemilan

Dedek-dedek Ukhti Penjual Cemilan

Charoen Pratet Soi 1 on Friday Night

Charoen Pratet Soi 1 on Friday Night

The Crowd

The Crowd

:o

😮

Noodle Soup Condiment

Noodle Soup Condiment

Gapura di sisi Chang Klan Road

Gapura di sisi Chang Klan Road

23 comments on “Nikmat Jumat di Tanah Lanna

  1. Matius Teguh Nugroho
    June 15, 2014

    Wah, asyik nih ketemu Cina Muslim yg sebenernya. Kalau di kepercayaan saya, acara sharing makanan itu disebut dengan istilah Perjamuan Kasih, biasanya saat hari raya. Jadi pengen nyobain bergereja saat traveling😀

    • Ari Azhari
      June 15, 2014

      Iya ga nyangka bakal ketemu hal beginian di sana, guh. BTW, teman-teman Pinoy-ku juga beberapa kali ngajak merayakan Holy Week di Philippines atau Noche Bueno (malam Natal) di sana.

      • Matius Teguh Nugroho
        June 15, 2014

        Wah, gue malah belum punya temen dari negara lain. Kenal saat traveling atau komunitas online?

      • Ari Azhari
        June 15, 2014

        Kenal wakti traveling atau berawal dari sekedar ngobrol basa-basi di bandara atau pesawat🙂

      • Matius Teguh Nugroho
        June 15, 2014

        Oke oke. Nanti saya praktekkan😀

  2. ceritariyanti
    June 15, 2014

    Aiiih… mengingatkan waktu saya nunggu waktu Ashar di Mesjid kecil di Phnom Penh dan akhirnya malah bisa ngobrol sama Imam Mesjidnya. Dan hahaha…. Susah-susah ngomong Inggris, karena beliau bisanya bahasa Khmer dan aku ga ngerti Khmer… akhirnya komunikasi berjalan pakai bahasa Melayu. hahaha.. Tapi memang enak dan seru ibadah di negara orang… banyak kejutannya..!

    • Ari Azhari
      June 15, 2014

      Yang aku heran, mereka jago loh bahasa melayu. Apa karena sering ke Malaysia atau Indonesia. Waktu di Siem Reap aku selalu nyempetin ke Mesjidnya dan mereka ngajak ngobrol.

      • ceritariyanti
        June 15, 2014

        Yang aku tau, mereka belajar Islam biasanya di Malaysia. Dan hebatnya, kitab-kitab yang jadi pegangan masih buatan para ulama Indonesia.

  3. cumilebay.com
    June 16, 2014

    weksss ada semacam tajil gitu yaaa selepas jumat ??? kalo di indo nesia pasti saling rebut buat bawa pulang hahaha

    • Ari Azhari
      June 18, 2014

      Gak rutin, mas. Kata temen itu kalau ada acara khusus.

  4. yusmei
    June 17, 2014

    Alasanmu kembali sentimentil banget kakak, tp menyentuh🙂 jadi pengin ikutan balik ke sana, belum kesampaian sepedaan keliling chiang mai. Eh ke masjidnya itu juga belum. Chiangmai memang menyenangkan🙂

    • Ari Azhari
      June 18, 2014

      Lah, kok gak ikutan sekalian aja kemarin :p
      Memang menyenangkan kok, kotanya laid back, udaranya enak, dan lumayan lengkap juga kok.

  5. neng fey
    June 17, 2014

    kedasih.. hahahahaha

    • Ari Azhari
      June 18, 2014

      ish, pasti nonton juga kan ya?

      • neng fey
        June 18, 2014

        lupa, nonton apa ga, justru baru ngeh lagi waktu kita bahas kedasih-kedasih dulu itu, lupa juga topiknya apa hahaha

  6. buzzerbeezz
    June 20, 2014

    Oooo… ini masjid yg dulu kita lewatin itu ya.. Jumatannya seru yes

    • Ari Azhari
      June 20, 2014

      Iya, ri. Yg dekat langganan kita makan siang itu.

  7. boloten
    June 20, 2014

    Alahmdulillah … akhirnya blog ini ada postingan yg syariah …
    *eh Zaskia … om 1 ya soupnya, yg biasa apa spesial ya enaknya*

    • Ari Azhari
      June 20, 2014

      Dek Zaskia sekarang jualannya laris manis tanjung kimpul sekarang. Heh, sedari dulu kan blog ini syariah.

  8. noerazhka
    June 27, 2014

    ” Sesepele ini motif perjalanan saya kembali ke Chiang Mai ”

    Menurutku sih justru ngga sepele, Koh, tumbenan motif perjalananmu sangat syariah begini, sampe aku terharu. Ihiks. Tetaplah istiqomah, Ukhtie, ups, Akhie ..😀

    Nice post, Kakak, love it .. :’)

    • Ari Azhari
      June 27, 2014

      Makasih, ukh. Aku ki orangnya kalo ga kesampean keinginannya suka demam. Hahahahaha.

      Tapi emang seneng sih sama suasana Muslim di Chiang Mai ini.

  9. sapar
    June 30, 2014

    Syahdu banget dibaca di hari kedua puasa gini
    Syukron akhi sudah berbagi
    *salam hijabers syalalallalalala*

  10. alee
    January 29, 2015

    jumatan di negeri orang…penting itu…🙂. Biar ada pengalaman dan denegrin khotbah sambil bingung dan bengong2… hehehe

    wah, jd inget pas jajan2 makanan halal di chiang mai…
    anaknya yg punya warung cantik… poto bareng and minta ditemenin makan juga deh akhirnya …( yg terakhir improvisasi )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 14, 2014 by in Thailand and tagged , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: