Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Gema Kemerdekaan Dari Ketinggian

credit @andigultom

Puncak Sibayak by @andigultom

“to, 17 Agustus gak kemana-mana kan? ikut kita ya” ajakan Eka, dedengkot Kemanaaja.com. Setelah saya baca isi emailnya, ternyata ajakan tadi adalah naik gunung bersama bloggers Medan lainnya. Naik gunung?. Ngana boleh ajak kita islands hopping 5 hari berturut-turut atau flying fox dengan ketinggian berapapun. Tapi masalah naik gunung, awak ni new kid on the block. Naik ke puncak Gunung Sikunir di Dieng sih gak masuk itungan lah ya.

Dua hari setelah saya terima email dari Eka, saya pun memutuskan untuk ikut trekking ke Gunung Sibayak. Itupun setelah browsing sana-sini mengenai pengalaman naik gunung newbie berikut etikanya. Sembari menunggu hari-H, latihan di gym pun makin intens biar gak nyusahin teman-teman seperjalanan kalau kenapa-kenapa di usia menjelang kepala-tiga.

Di malam keberangkatan, kami berkumpul di Wisma XL Medan yang tak jauh dari kantor saya. Setelah berkenalan dengan teman-teman baru, ternyata baru ketahuan sebagian besar dari kami adalah orang baru di dunia pendakian. Syukurnya, Eka dan Melda yang sebelumnya pernah melalui jalur yang sama menjelaskan kalau trek yang akan kita lewati nanti tak terlalu sulit dan hanya memakan waktu sekitar 2-4 jam hingga ke puncak Sibayak. Huffft, satu masalah teratasi. 20-an orang dalam rombongan kami pun dibagi ke dalam 4 mobil. Saya se-mobil dengan 3 teman baru yakni : Rudi dari Medanwisata.com, Wahyu si admin @CeritaMedan, dan Vito admin (dan juga manekin hidup) @punya_medan serta Bang Welly supir kami. Perjalanan ke arah Tanah Karo pun ditempuh sekitar 2 jam dengan ketinggian jelajah 36.000 kaki.

Begitu sampai di area yang sudah didesain sebagai tempat parkir, ternyata suasana kaki Gunung Sibayak di malam kemerdekaan gak jauh beda ama Warkop Elisabeth, rame kali woy. Rame-ramenya manusia sih gak terlalu ganggu ya, lah ini rame sepeda motor yang wara-wiri melewati kami saat menanjak ke camping ground. Jalanan dari tempat parkir ke camping ground yang curamnya hampir 60 derajat dilewati dengan sepeda motor oleh sebagian pendaki. T-H-H lah orang itu. Mana becek, gak ada ojek ribut, polusi pula lah itu dari knalpot. Bahkan ada yang asapnya mirip bau ban terbakar. Pemandangan di camping ground pada dini hari pun terasa horor. Tenda-tenda pendaki kalah jumlah oleh sepeda motor. 30 menit perjalanan ke camping ground rasanya sia-sia ketika di area tadi melihat jasa penyewaan ojek dengan rute tempat parkir-camping ground. Gak sekalian aja dibangun funicular atau cable car gitu?. ‘Cem gak ada usahanya mau naik gunung orang-orang ini kutengok.

Setelah 1 jam beristirahat di camping ground yang diisi senda gurau macem inang-inang Sambu bercengkrama, kami pun melanjutkan perjalanan ke Puncak Gunung Sibayak. Syukurlah kali ini tidak ada moda transportasi selain kaki yang berkeliaran menuju puncak. Suasana perjalanan jadi lebih syahdu, gelap, lengket, dan berlumpur. Ada sensasi yang timbul dan membuat saya tak kenal lelah ketika menyusuri jalur pendakian. Entahlah, rasa penasaran akan sesuatu hal yang baru. Atau rasa penasaran biar cepat sampe dan foto-foto untuk diunggah ke media sosial barangkali (pret!).

Lautan Pendaki (photo by @andigultom)

Lautan Pendaki (photo by @andigultom)

Menjelang pukul 5 pagi kami tiba di sekitar kawah Sibayak. Biar klen tau ya woy, jam 5 di sini tuh masih gelap gulita. Lah waktu ngantor di Lubuk Pakam dan berangkat pukul 6 pagi aja belum ada matahari terbit. Suasana puncak saat itu sudah sangat ramai dengan berbagai jenis orang. Mulai dari pecinta alam, anak-anak remaja alay, maupun yang smart casual kayak kami (hih!). Yang saya sukai dari pengalaman pendakian ini adalah sapaan yang meluncur dari siapa saja saat berpapasan dengan rombongan lain. Ketika berhenti untuk menghirup oksigen yang makin tipis di ketinggian, tak jarang rombongan yang tadinya di belakang kami akhirnya mendahului sembari menyapa “kami duluan ya, bang”, “ayok bang, bentar lagi”, “semangat, bang”, maupun “apa cari bang? ukuran apa biasa pake. Masuk dulu sini sapa tau ada yang cocok”. Yang terakhir gak ding.

Selepas matahari terbit yang malu-malu dari balik awan mendung, beberapa orang membawa bendera Merah Putih berukuran panjang ke arah bekas kawah. Tak lama lagu Indonesia Raya terdengar dari arah yang sama dan diikuti oleh ratusan orang di sekeliling puncak Sibayak. Tak hanya melantunkan Indonesia Raya, kami pun melantunkan lagu-lagu nasional yang lain. Syukurnya sih gak ada yang nyanyi Rayuan Pulau Kelapa di sana, jatuhnya kayak stasiun TV tutup siaran nanti. Merinding rasanya jika mengingat kembali momen tadi. Seburuk-buruknya yang terjadi di negara kita ini, rasanya ada desiran di dada setiap lagu kebangsaan mengumandang.

Saya senyum-senyum sendiri menyaksikan pemandangan perayaan kemerdekaan di atas ketinggian ini. Pantes tiap tahunnya banyak orang yang sudi meluangkan waktunya mendaki gunung menjelang peringatan kemerdekaan demi momen seperti ini. Kenapa gak dari dulu sih saat masih berusia belasan atau 20-an awal. Eka pun komentar kalau saya kayak gak kehabisan energi selama pendakian ini. Hehehehe… ya gimana namanya juga antusias.

Bersih-bersih Sibayak

Bersih-bersih Sibayak

Waktu penjadi penghalang kami untuk menikmati Sibayak lebih lama. Saat matahari mulai garang, kami pun turun kembali ke camping ground. Nah, saat perjalanan pulang kali ini kami pun melaksanakan agenda kami lainnya di samping pendakian. XL dan Kemanaaja.com lewat briefing via email menjelaskan kalau acara pendakian disisipi dengan ‘bersih-bersih’ Sibayak. Kantong-kantong plastik hitam kami keluarkan untuk menampung sampah di sekitar jalur pendakian. Rupanya, tak hanya kami yang tergerak dengan aktivitas ini. Beberapa pendaki lain yang ingin menghabiskan waktu lebih lama di Sibayak pun meminta kantong plastik kami untuk mengumpulkan sampah menjelang kepulangan mereka nanti. Memang yang kami lakukan tidaklah signifikan dibandingkan pencemaran yang sudah kadung terjadi. Akan tetapi lebih baik sedikit berkontribusi daripada sekedar nyinyir doang, bukan?

Sudah terkenal obyek wisata di Sumatera Utara ini ‘dihiasi’ sampah organik maupun non organik. Berenang di Bukit Lawang tak jarang ‘ditemani’ botol air mineral dan bungkus plastik snack yang mengambang. Bahkan di pinggiran Kolam Abadi kini dipenuhi kertas pembungkus makanan serta plastik pembungkus pastinya. Jangan sampai lah turis domestik nantinya dicap sebagai perusak lingkungan yang gak cinta dengan ‘halaman rumahnya’ sendiri.

Pengalaman pertama naik gunung disambi acara ‘bersih-bersih’ berakhir selepas siang. Saat makan siang di wilayah Bandar Baru (red light district tak jauh dari Brastagi), Bang Jimmy dari XL dan Eka dari Kemanaaja.com selaku yang punya acara sempat ngobrol-ngobrol sebentar mengenai asal-usul kegiatan ini. Kegiatan yang seumur hidup saya menjadi penanda pengalaman pertama saya mendaki gunung. Kalau istilah Medan, pecah telor lah gitu.

IMG_9972small

Maraming Salamat… Thank You XL & Kemanaaja.com (photo by @andigultom)

IMG_9822 copy

18 comments on “Gema Kemerdekaan Dari Ketinggian

  1. noerazhka
    August 23, 2014

    Wuih, Kokoh naik gunung !
    Kayanya kamu korban film 5 Cm deh, yang mendaki pake jeans dan rambut tetep klimis. Hayooo, ngakuuu ..

    *mau bahas deklarasi sih sebenernya, tapi sudahlah, Sibayak terlalu keren buat bahas begituan*

    • Ari Azhari
      August 23, 2014

      Heh! Aku pake celana khaki, kantung mata menebal, dan rambut kayak wewe gombel sampe di puncak.

      Inget loh. Kamu itu tahun depan Insya Allah ke Tanah Suci. Hapal tuh Qur’an baru boleh ke sana.

      Nantikan cerita naik gunungku tahun depan yah……….yg pake cable car

  2. Rudi Hartoyo
    August 24, 2014

    apa cari bang? indomaret ada di puncak bang,,, semangat mendakinya ya bg,, hahahaah..
    kapan kemari lagi bang,, ajak-ajak ya bg.😀
    *macemdipajakawak..😛

    • Ari Azhari
      August 24, 2014

      Waktu kita turun banyak yg bercanda nanya gitu pas mereka mau naik. Yg macet di dekat camping ground itu.

  3. yusmei
    August 24, 2014

    Pasti ikut-ikutan bikin tulisan pake batu tulisannya “Kokoh was here”….pasti deh

    • Ari Azhari
      August 27, 2014

      Ih, gak norak gitu deh aku. Aku bikinnya pake belerang yang lagi panas-panasnya itu dong.

  4. Fahmi Anhar
    August 25, 2014

    nggak nyangka aku, seumur kamu koh… masih kuat naik gunung. SALUT!!

    *olesin konterpein ke idung kokoh* | #eh

  5. ombolot
    August 26, 2014

    Menantikan video Uschita gegoleran dipadang bunga I’m feel free ..

    • Ari Azhari
      August 27, 2014

      Yang itu gak bakal dibuka ke publik dong. Tunggu diundang SCTV aja buat nyanyi.

  6. buzzerbeezz
    August 28, 2014

    Aku request ya Koh.. Next time nulis blog ala-ala logat Medan lagi ya Koh. Seru kali bacanya. Ngakak aku😀

    • Ari Azhari
      August 30, 2014

      Ko kiranya aku bisa teros-terosan bahasa Medan, hah?

  7. Efenerr
    September 11, 2014

    Kokoh naik gunung. :’)

    • Ari Azhari
      September 12, 2014

      Tapi aku emoh kalau serame ini l. Vertigoku kambuh 😔

      • Robiie Purnomo Said
        September 20, 2014

        bendera terpanjang yg terbentang di puncak dan kawah sibayak ada di dalam tas yg saya bawa bng. beban yg cukup berat sih. tapi kepuasan sudah terbayar dengan rasa nasionalis para pendaki🙂 salam kenal dari medan labuhan.

  8. cumilebay
    October 27, 2014

    Waksss rame banget yaaa, hampir tiap gunung mengadakan upacara 17an. Aku rasa nya masih lelah jalan ke ranu kombolo, dan masih ogah diajak ke gunung lagi .. ngak kuat dingin. Mending telanjang2 aja di pantai hahaha

    • Ari Azhari
      October 27, 2014

      Aku juga lelah kak kalau ke gunung. Mari kita kapan guling-guling di pantai.

  9. Dino Hardiano
    November 17, 2014

    gilak lautan pendaki (y)

    jam tangan untuk naik gunung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 23, 2014 by in Sumatera Utara, travel and tagged , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: