Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Secangkir Kopi Ditemani Suara Carla Bruni

A cup of Sidamo Sundry Coffee at Think Twice, Baisha

A cup of Sidamo Sundry Coffee at Think Twice, Baisha

Siang itu saya ingin menjauh dari Lijiang. Betul kata Mbak-mbak petugas penerima dokumen Visa di Medan, Lijiang terlalu touristy dan beliau bertanya kenapa saya tidak melanjutkan hingga Shangri-la yang lebih sepi. Saya heran kenapa dia bisa membaca kesepian dan kegemaran akan sepi di wajah saya. Seakan-akan baru pertama kali dia menerima orang yang pergi ke Tiongkok di musim dingin dan sendirian tanpa ikut agen perjalanan. Tak berteman.

Semua rumah-rumah Suku Naxi di Old Town of Lijiang, atau yang disebut Dayan oleh orang lokal, kini beralih fungsi dari sekadar tempat tinggal salah satu etnis minoritas di Tiongkok menjadi toko-toko cenderamata, pujasera, atau penginapan. Meroketnya harga kepemilikan maupun sewa properti di Dayan membuat Suku Naxi pindah ke pinggiran Lijiang dan hanya beredar siang hari untuk berjualan hasil bumi atau kerajinan di tengah lautan turis domestik. Sedikit kekecewaan atas gambaran saya mengenai sebuah kota tua.

Cerita Shuhe

Beruntunglah karena penginapan saya tak jauh dari desa tua lainnya, Shuhe, dan disediakan kereta kuda gratis untuk perjalanan sejauh 1,5 km. Dayan, Shuhe (6 km dari Lijiang), dan Baisha (11 km dari Lijiang) adalah bagian dari Greater Lijiang yang diakui UNESCO sebagai warisan dunia di tahun 1997. Shuhe dan Baisha sendiri adalah desa kecil dibanding Old Town of Lijiang (Dayan) yang ‘metropolis’. Shuhe sendiri pun bukannya steril dari serangan toko-toko modern seperti di Lijiang. Namun suasananya yang laid-back dan tidak terlalu banyak pengunjung di musim dingin membuat saya betah menjelajahinya. Teriakan  para penjual dan senggol-senggolan bacok antar pengunjung tak dijumpai di sini. Menjelang matahari terbenam, saya pun menyingkir ke sebuah kedai kopi menikmati pergantian warna langit dan menghindari angin yang semakin dingin.

IMG_3599

Sunny Love (left)

Seorang wanita muda menyambut saya di kedai kopi yang namanya tertulis dalam aksara Mandarin. Yang saya ingat hanya jaringan wi-fi yang bernama Sunny Love. Yoyo nama wanita berambut pendek dan lancar berbicara dengan Bahasa Inggris itu. Ah, akhirnya ada orang di bidang jasa yang lancar berbahasa Inggris setelah 2 hari tidak menemukannya sama sekali bahkan di bandara atau stasiun kereta api Kunming. Yoyo menawarkan saya untuk duduk di lantai 2 dan memberitahu saya ada promo harga cake untuk setiap secangkir kopi yg saya pesan.

i think you need this one until your coffee is ready

Saran Yoyo sambil menuangkan air panas dan memberi sejuring potongan jeruk nipis ke gelas. Kegiatan yang dilakukannya setiap 20 menit sekali atau saat melihat gelas saya sudah kosong. Sesekali Yoyo mengajak ngobrol seperti asal saya dan alasan kenapa memilih Lijiang untuk dikunjungi. Standar lah. Tapi energi dan antusiasme Yoyo dalam melayani yang membuatnya tidak standar.

Shuhe bukanlah Dayan. Tak ada keramaian selepas matahari terbenam. Tak ada orang-orang Han berpakaian Naxi yang berputar melingkari api unggun sambil mengajak turis ikut menari. Sebagian besar toko sudah tutup. Hanya restoran, kedai kopi, dan street food yang terlihat masih beraktivitas. Suara angin dingin yang berasal dari Jade Dragon Snow Mountain yang sedari tadi menemani.

Untunglah musik di kedainya Yoyo ini cukup mendukung relax setelah setengah hari berkeliling Dayan dan setengah hari dihabiskan di Shuhe yang sepi ini. Sebagian besar yang diputar adalah lagu pop cross-over country yang asing di telinga dan tak menarik perhatian saya untuk menyalakan aplikasi Shazam untuk mengetahui judul dan penyanyinya. Begitu playlist berubah menjadi suara wanita dengan aksen Eropa yang kental diiringi musik akustik, tanpa berpikir ulang saya berjalan ke ujung ruangan dan mengarahkan ponsel ke speaker di ujung ruangan. Hasilnya:

“You Belong To Me – Carla Bruni”

IMG_5486

Shazam’s Result

1,5 jam berada di kedainya Yoyo, ada 3 kali mungkin lagu ini diputar. Baru ngeh kalau si Carla Bruni ini pinter nyanyi juga. Kalau karir modelnya sih ya udah ga usah ditanyakan lagi, di Models.com aja masuk di kategori Legends. Suara melankolis milik ex-Ibu Negara Perancis itu saya anggap sukses membawakan lagu tahun 1950-an yang bertemakan traveling tadi. Terlebih lirik lagunya yang bercerita tentang seorang yg ditinggal berpetualang. Makin kinyis-kinyis lah ya kan hati awak. Suhu 5 derajat, suasana sepi, tambah pula lagu akustik berlirik setajam sayatan sembilu yg jaman ortu kita dulu dipake buat khitanan. Komplit.

See the market place 
In old Algiers
Send me photographs 
And souvenirs
Just remember 
‘Til your dream appears
You belong to me….

I’ll be so alone without you
Maybe you’ll be lonesome, too
And blue

Fly the ocean 
In a silver plane
See the jungle 
When its wet with rains
Just remember 
Till you’re home again
Or until I come home to you
You belong to me.

Cerita Baisha

I don’t think there is Bus no. 7 to Yulong at this hour” – jelas front officer Pullman Lijiang pada pukul 10 pagi.

Bangun kesiangan sebagai kompensasi 2 malam tidur di hotel kapsul dan perjalanan kereta api Kunming-Lijiang membuat rencana bangun pukul 7 pagi demi bisa mengejar perjalanan ke Jade Dragon Snow Mountain musnah sudah. Bus umum berhenti beroperasi lebih pagi di musim dingin. Tinggallah berjibun orang lokal yang menawarkan taksi dengan harga meroket di setiap sudut kota tua Lijiang.

Untuk mengobati batalnya perjalanan naik gunung ke ketinggian 4.500 meter (tapi pake cable car), saya memutuskan untuk pergi ke Baisha. Sebuah desa tua yang diakui UNESCO bagian dari Greater Lijiang. Karena tidak direncanakan sebelumnya, dengan senang hati bertanya kepada petugas hotel mengenai angkutan bus umum ke sini… dan ada!. Dengan hanya membayar 1 Yuan (Rp. 2.000) untuk perjalanan > 10 km, kita bisa mencapai Baisha dengan bus no.6 dari Lijiang.

Baisha Village

Baisha Village

Lijiang (Dayan) – Shuhe – Baisha. Demikian urutan kota tua dari tempat yang paling ramai ke tempat yang paling sepi. Baisha ini hanya berbentuk desa kecil dengan 3 jalan yg hanya muat dilewati 1 mobil. Suasananya lebih otentik. Di pertemuan 3 jalan tadi, orang-orang menggelar dagangannya beralaskan keranjang-keranjang atau karung plastik di pinggir jalan dengan puncak Jade Dragon Snow Mountain sebagai latar belakangnya.

Diantara ketiga kota tua tadi, Baisha mungkin yang paling terkena efek musim dingin. Sebagian besar restoran terlihat tutup atau renovasi di musim sepi turis ini. Penjual cenderamata pun lebih memilih duduk meringkuk di dalam tokonya mencari kehangatan daripada berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Cukup menyapa orang-orang yang lewat dengan nada suara yang pelan.

2 jam lewat dari tengah hari dan hanya beberapa kedai kopi yang buka dan saya kurang sreg dengan tampilannya. Sebuah kafe yang dari luar terlihat menarik sayangnya dalam kondisi tergembok. Tampaknya saya harus berpuas mengganjal perut dengan sekantong kenari yang dibeli dari Nenek Naxi di halte bus Baisha tadi.

Puas mengelilingi Desa Baisha, saya kembali melewati jalan yang sama. Think Twice namanya. Kali ini masih dalam keadaan tertutup, namun gemboknya sudah tidak berada di tempatnya. Saya memberanikan diri masuk dan seorang wanita muda nan cantik jelita mirip Xie Xinfang tampak sedang berberes sambil menyambut saya dengan Bahasa Mandarin. Saya pun menjelaskan asal-usul, dan dia merespon dengan Bahasa Inggris yang pas-pasan. Tak jarang dia tersenyum menertawakan diri sendiri saat mencoba ngobrol dengan Bahasa Inggris.  Ying (baca: Ing), terlihat antusias begitu tahu saya dari Sumatra, apalagi dia baru pertama kali bertemu orang Indonesia.

Ying : “Mandheling”.

Saya : “What”

Ying : “Mandheling Coffee”

Saya : “ah, yes. Sumatra Mandailing Coffee. That’s from my province”

Ying mengambil salah satu toplesnya dan menunjukkan koleksi kopi Mandheling miliknya. Saya bertanya harganya dan dada agak sesak mengetahui harga jual kopi ini per 250 gram. Per 250 gram loh…belum sekilo. Saya pun meminta dia berpose dengan kopi mahal ploduk-ploduk dalam negeli kita itu.

Mbak Ying dan kafe miliknya (patungan ama pacar)

Mbak Ying dan kafe miliknya (patungan ama pacar)

Lebih dari 1 jam sendiri saya menghabiskan waktu di Think Twice milik Ying dan pacarnya itu. Ngobrol ngalur-ngidul dengan keterbatasan bahasa masing-masing. Obrolan menyenangkan dan hangat di udara dengan suhu 1 digit. Belum lagi tergoda dengan koleksi jaket yang dijual di dalam tokonya. Untung produk cowok tak sebanyak aksesoris cewek yang dijual di sini. Jaket, topi, dan sepatu di sini cukup menarik perhatian dan akhirnya sebuah jaket tebal sebagai modal menghadapi suhu di bawah 0 di Xi’an saya eksekusi. Bonusnya, Ying memberi gratisan atas kopi yang saya minum. Yaaaay!.

Yang mengherankan lagi, selama kami mengobrol, lagu yang diputar dari komputer Ying terdengar familiar. Rupanya lagi-lagi suara Carla Bruni. “I love her voice”, kata Ying. Saya nggak ngeh karena semuanya berbahasa Perancis sampai lagu “You Belong To Me“. Dengan aplikasi yang sama, terpampang lah kalau lagu lainnya berasal dari album Little French Song. Saya bilang ke Ying, berhubung sudah sore saya mau balik ke Lijiang asal sebelum saya balik tolong itu lagu “You Belong To Me” diputar sekali lagi. Dan sebelum pamitan, kami pun bertukar ID di WeChat yang populer digunakan di Tiongkok.

Kini, setiap “You Belong To Me” dimainkan di komputer atau iPod, nostalgia akan secangkir kopi mengalir bersama memori perjalanan. Tentang Yoyo yang energetik, Shuhe yang tentram, Baisha yang sepi, Ying yang charming, atau secangkir kopi gratis darinya setelah mengeksekusi jaket seharga beberapa kali lipat dari kopinya barangkali.

Lapak Think Twice punya Ying. Mampir, sis.

Lapak Think Twice punya Ying. Mampir, sis.

Yoyo's Sunny Love

Yoyo’s Sunny Love

Think Twice Interior

Think Twice Interior

Baisha Village

Baisha Village

16 comments on “Secangkir Kopi Ditemani Suara Carla Bruni

  1. Badai
    February 8, 2015

    Baca postingan ini sambil dengerin Carla Bruni. As if I was in Baisha sipping some coffee. Alone. But peaceful. Thanks for your reference🙂

    *tapi tetep kepikiran bihun bebek sih*

    • Ari Azhari
      February 8, 2015

      Bu qe zhi, Aa. Cerita kopi tapi terbayang bihun iyeu mah kumaha?. Hoyong bihun bebek, bihun kuah gabus goreng, atau bihun kari sapi?.

      • Badai
        February 8, 2015

        Hoyong sadayana.. *ini lapar atau rakus*

      • Ari Azhari
        February 8, 2015

        Ngidam barangkali. Mari ke Medan. Sebelum harga bihun-bihunan makin meroket.

  2. Dita
    February 9, 2015

    liat foto-fotonya bikin pengen kesana, tapi kalo inget cerita toilet horror…..hmmmmm *pikir2 lagi*

    • Ari Azhari
      February 11, 2015

      Di Lijiang sih sebagian besar memang horor. Tapi di Chengdu ama Xian tergolong bersih, kak. Tapi kalau kebelet emang diusahakan balik ke hotel. Makanya cari hotel yang dekat dengan stasiun Metro.

  3. noerazhka
    February 9, 2015

    Sweet banget deh.. :”)

    • Ari Azhari
      February 9, 2015

      Aku kan memang manis, kak. Manisnya kadang2 membunuh seperti diabetes.

  4. neng fey
    February 9, 2015

    ah kokoh.. kalo kesepian.. sendirian.. ngapa ga ngajak kamiiii!!! ramai-ramai kita jadinya ber LIMAAAA, bunda kiting, ayah oyong, kakak molo sama adik mombiii!!
    ah kamu mah

  5. cumilebay.com
    February 11, 2015

    Mahal juga yaaaa kopi kalo dah disana, kita harus bangga dengan produksi negeri kita hehehe.
    Kak .. kalo ngak mau sendirian, aku mau kok diajak jalan2 :-0 #Ngarep

    • Ari Azhari
      February 15, 2015

      Iya, bersyukur kita cuma bayar 5.000 udah dapet kopi tubruk enak.

      Aku ga sanggup ngajak kamu mas. Nanti dicemburui Groupies Cumi Lebaymu.

  6. Matius Teguh Nugroho
    February 13, 2015

    Wah, gue baru tahu tentang Lijiang ini, koh. Kalau ada “Pullman”, berarti emang udah komersil ya. Hahaha.

    E tapi setelah browsing, kayaknya Lijiang ini udah cukup buat gue. Duh, jadi bingung mau ke mana aja kalau nanti ke Tiongkok.

    • Ari Azhari
      February 13, 2015

      Pullman Lijiang sendiri malah letaknya di Shuhe, nug. Sekitar 6 km dari Lijiang.

  7. febryfawzi
    October 27, 2015

    Wadooooh itu ada tempat hipster di tengah daerah kayak gitu yak. Kece abis nih instagramable deh.

    • Ari Azhari
      October 29, 2015

      Mbak-mbaknya pum kece loh. Biarpun terpencil, tapi eksis ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 8, 2015 by in China, F&B, Jalan-jalan, travel and tagged , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: