Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Meraba China

Kira-kira 1,5 tahun lalu, Kenny sang travel guru pemilik akun twitter @Kartupos pernah memberikan wejangan untuk sekali seumur hidup mencoba traveling ke 3 negara Asia : Jepang, India, & China -yang sekarang disebut dengan Tiongkok. Beberapa kali ada promo pelbagai maskapai, akhirnya saya mendapatkan tiket pp ke negara terakhir. Masuk lewat Kunming dan keluar lewat Xian.

Beragam reaksi saya dapatkan ketika mengutarakan niat traveling ke Tiongkok. 2 teman sekamar di hostel Phnom Penh yang berasal dari Hong Kong dan Taiwan menertawakan. Teman-teman dekat di Medan yang kebetulan sebagian besar pernah ke sana ‘menakut-nakuti’ dengan cerita ngeri-ngeri sedap mereka selama berkunjung ke sana. Lah, mereka aja yang bisa bahasa Mandarin dikit-dikit dan perginya ke kota besar seperti Beijing dan Shanghai kesusahan…konon lagi hamba yang sendirian dan pengetahuan akan Mandarin hanya sekadar angka, mata angin (Bei-Dong-Nan-Xi), “ni hao“, “xie xie“, “bu yao“, dan “duo shao qian“. Mana tujuannya far flung seperti Lijiang pula.

Tak hanya kendala bahasa, kendala informasi juga menjadi masalah. Informasi traveling, sarana, dan prasarana di Tiongkok di internet lumayan terbatas dibanding informasi negara lain. Mencoba googling yang keluar kebanyakan adalah situs tour lokal sana. Cari info bandara di situs resminya…lah gak ada menu English *cough..Chongqing INTERNATIONAL Airport..cough*. Jadilah tumpuan harapan akan informasi berasal dari tulisan bloggers dalam negeri atau yang berbahasa Inggris. Mau yang isinya travelogue atau travel guide, keduanya sama-sama awesome kok selama membantu dan informatif. Jadi gak usah merasa too cool for school kalo blog isinya travelogue atau merasa lebih informatif kalau nulisnya travel guide. Chill aja lagi. *kesurupan Cinta Laura*

Emperor Qin's Terracotta Army (Bing Ma Yong)

Emperor Qin’s Terracotta Army (Bing Ma Yong)

Nah, dari penelusuran beberapa bulan sebelum keberangkatan ada beberapa hal yang sepertinya bisa menjadi  ‘bekal’ sebelum menjelajahi Negara Tirai Bambu.

  • VISA

Mendapatkan Visa RRT tergolong gampang. Di Indonesia, terdapat 3 kota yang menyediakan aplikasi permohonan Visa: Jakarta, Surabaya, dan Medan. Visa Kunjungan Wisata (L) bisa didapatkan 3 hari kerja setelah permohonan dengan biaya regular sebesar Rp. 540.000. Selain proses regular, ada juga Express Service & Rush Service dengan biaya progresif. Pembayaran dilakukan saat pengambilan Paspor.

Formulir permohonan bisa diunduh di http://www.visaforchina.org, bahkan ada menu “Quick Access” dimana kita bisa input semua informasi terkait permohonan visa namun bukan online application. Setelah diisi, tinggal unduh dan cetak. Mau di-edit? tinggal input nomor formulir yang dikirim via email saat kita simpan untuk pertama kali.Ada juga formulir yang disediakan di kantor Chinese Visa Application Service Center yang bisa ditulis tangan.

Lampiran yang saya ajukan untuk permohonan visa yang dicetak dalam ukuran A4:

  1. fotokopi KTP,
  2. fotokopi tiket pulang pergi,
  3. bukti pemesanan hotel/hostel.
  4. foto 4×6 berlatar merah juga jangan lupa ya.
2015. Year of Goat.

2015. Year of Goat.

  • TIKET PESAWAT DOMESTIK

Ini dia yang cukup menarik saya dan baru pertama kali kejadian. Karena rute saya adalah Lijiang-Chengdu-Xian, maka saya memilih menggunakan moda transportasi pesawat dari Lijiang ke Chengdu dan Chengdu-Xian (walaupun akhirnya Chongqing-Xian). Layaknya perjalanan-perjalanan dahulu di Asia Tenggara, tinggal pilih lah maskapai yang tersedia dari yang milik negara seperti China Eastern, Air China, atau China Southern maupun yang swasta seperti Hainan Airlines maupun maskapai-maskapai milik provinsi yg sebenarnya kepemilikannya dipegang 4 maskapai terbesar tadi. Akan tetapi, pencarian tiket domestik ini tidak semulus paha Cherrybelle, saudara. Kendala yang muncul saat mencari tiket dalam negeri di RRT:

  1. Tidak semua maskapai memiliki menu ENGLISH
  2. Tidak ada LCC domestik. (Ada sih, Spring Airlines ama Lucky Air tapi tergolong mahal juga).
  3. Beberapa maskapai yang memiliki menu English mencantumkan harga yang berbeda jauh jika situs ditampilkan dalam bahasa Mandarin. Hiks
  4. Harganya mahal-mahal. Untuk perjalanan 1 jam seperti Kunming-Lijiang dihargai hampir 800ribu, Kunming-Shanghai selama 2.5 jam dihargai hampir Rp. 2 juta. Chongqing ke Xian sejauh 1,5 jam dihargai > Rp. 1 juta. Dari kota kecil seperti Lijiang ke Chengdu sejauh 1,5 jam penerbangan kebanyakan dijual sekitar > US$ 120.

Namun semua cabaran hidup tentu ada solusinya. Setelah berkelana lewat Tripadvisor dan Thorn Tree Forum, akhirnya ketemu jawabannya: JANGAN BELI TIKET PESAWAT DOMESTIK DI SITUS MASKAPAI TIONGKOK.

Hainan Airlines vs Ctrip. Same date, same flight number. See?

Hainan Airlines vs Ctrip. Same date, same flight number. See?

Saran dari semua orang sih beli di Ctrip atau di eLong. Kedua situs tadi adalah situs agen perjalanan lokal dengan menu English yang gampang di halaman-halaman pemesanannya. Dalam perjalanan kemarin, saya memilih Ctrip karena review yang bagus. Selain menjual tiket pesawat domestik, mereka juga menjual tiket penerbangan internasional. Tak hanya terdapat di website, Ctrip juga hadir dalam aplikasi di iTunes Store.

Permasalahan yang muncul saat berhasil memesan di Ctrip adalah mereka tidak mencantumkan kode booking atau nomor e-ticket. Hanya sebatas Ctrip flight order dan harganya. Sempat was-was walaupun info dari forum untuk check-in di bandara-bandara Tiongkok, kita hanya perlu menunjukkan paspor dan nomor penerbangan saja. Solusi didapat saat saya menghubungi mereka via email untuk mengirimkan kode booking atau nomor e-tiket dan dengan respon kurang dari 30 menit mereka membalas semua permintaan saya tadi. Bravo.

1 lagi tips dari saya dalam hal pemesanan tiket domestik di Tiongkok : JANGAN BOOKING DARI JAUH-JAUH HARI.

Berbeda dengan pakem kebanyakan maskapai Asia Tenggara yang makin murah dipesan sejak jauh hari, di Tiongkok justru kebalikannya. Makin dekat dengan hari keberangkatan, makin murah. Namun pakem ini tidak berlaku ketika menjelang Chinese New Year dan National Days yang dirayakan seminggu penuh. Berkali-kali saya mencoba dummy booking Lijiang-Chengdu dan Chongqing-Xian akhirnya dapat harga yang cukup terjangkau 2 minggu sebelum berangkat. Bahkan tiket Hainan Airlines jurusan Chongqing-Xian yang saya pesan tadi turun sekitar 120 Yuan 2 hari setelah saya pesan. Hiks.

  • PERJALANAN KERETA API

Karena ada 2 perjalanan dengan KA (Lijiang-Kunming dan Chengdu-Chongqing), saya memutuskan untuk memesan juga di Ctrip. Pemesanan di Ctrip bisa dilakukan sejak 1-2 bulan sebelum keberangkatan. Sedangkan pemesanan di situs KA milik pemerintah adalah…hmm..ndak tau..soalnya aksara Mandarin semua.

Untuk pemesanan lewat Ctrip, data yang dikirim ke email setelah pembayaran sukses dilakukan adalah nama, harga tiket, kelas, nama stasiun asal dan tujuan, jam keberangkatan, nomor kereta, dan nomor pengambilan tiket (ticket pickup number). Di stasiun nanti, cukup tunjukkan nomor pengambilan tiket beserta paspor yang nomornya digunakan untuk memesan di Ctrip. Letak ticket counter biasanya di kiri dan kanan bangunan sebelum pintu masuk ruang tunggu dan pemeriksaan X-ray. Terdapat mesin-mesin tiket otomatis di stasiun besar, namun hanya dipergunakan jika kita mempunyai ID lokal.

Permasalahan yang muncul saat selepas pengambilan tiket adalah…bentuk tiketnya. Minim huruf latin kecuali nama, nomor kerta, serta kota asal dan tujuan. Sisanya tercetak dalam aksara Mandarin. Segala keterangan nomor gerbong, nomor tempat tidur, atau nomor bangku, jenis ranjang, dan kelas dimana kita duduk/tidur.

MASALAH

Tiket Kereta Api Standar

Tiket Kereta Api Standar

SOLUSI

How to Read Chinese Train Ticket (from Seat61.com)

How to Read Chinese Train Ticket (from Seat61.com)

Enggg, agak bingung kan lihatnya. Tapi berkat info pria di belakang situs Seat61.com, tiket dengan aksara non-Latin tadi bisa dipahami. Berarti info yang tercantum di tiket saya adalah:

No. Kereta : K9686 dari Kunming ke Lijiang

No. Gerbong : 13

No. Ranjang (ehh..ranjang) & Posisi:  No.8 dan posisi atas

Kelas : Soft Sleeper

Nomor peron jarang tercetak di tiket, namun bisa dilihat di stasiun berbarengan dengan nomor ruang tunggu. Untuk 1 nomor keberangkatan mendapat ruang tunggu/area tunggu di tempat yang telah ditentukan. Karena besarnya ukuran stasiun-stasiun KA, harap mengecek letak ruang tunggu yang jumlahnya spektakuler. Di Chengdu East Railway Station terdapat area tunggu 1 hingga 26 di dalam 2 lantai bangunannya. Pintu dibuka sekitar 15-30 menit sebelum keberangkatan.

Beberapa tips perjalanan dengan kereta api di Tiongkok:

  1. Tiket yang telah dibeli harap disimpan baik-baik dan jangan dilipat, karena di stasiun tujuan bisa jadi pintu keluar berbentuk autogate yang mewajibkan kita untuk memasukkan tiket ke dalam scanner.
  2. Perhatikan stasiun baik kedatangan atau tujuan. Kota-kota besar di Tiongkok umumnya memiliki lebih dari 1 stasiun KA dan modal nama mata angin dalam bahasa Mandarin membantu di sini. Misalnya Chengdu yang punya Chengdu East Station (ChengDuDong) dan Chengdu North Station (ChengDuBei). Shanghai dan Beijing bahkan memiliki 3 stasiun kereta api antar kota yang aktif. (Bei = Utara, Nan = Selatan, Xi = Barat, Dong = Timur).
  3. Walaupun tersedia kereta penjual makanan, usahakan miliki stok cemilan untuk perjalanan. Namun untuk air mineral, ruang tunggu di stasiun dan gerbong kereta menyediakannya secara gratis. Bahkan, di gerbong-gerbong kereta disediakan dispenser berisi air panas tak jauh dari wastafel. Sedia minuman sachet atau mie instant buat hiburan di kereta.
  4. Jangan takut kesasar di dalam stasiun, karena ruang tunggu didesain untuk 1 nomor keberangkatan dengan informasi nomor kereta di layar. Walaupun kota tujuan ditulis dalam aksara Mandarin, nomor kereta tetap ditulis biasa. Jangan kecil hati karena masih banyak orang lokal (umumnya dari pedalaman) yang masih salah ruang tunggu.
  5. Terdapat wi-fi di dalam kereta yang koneksinya kurang terlalu bagus. Selain internet, terdapat portal yg menyajikan film lokal, internasional, dan propaganda yang bisa ditonton tanpa buffering. Sayangnya, semua film dialihsuarakan ke dalam Bahasa Mandarin.
filmnya...lawas tenan

filmnya…lawas tenan

  • GETTING AROUND

Selama di Lijiang, Chengdu, Chongqing, dan Xian saya banyak menggunakan transportasi umum bis dan metro (subway/MRT). Bis kota di Lijiang sangat membantu karena tempat wisata di Lijiang Old Town dan sekitarnya banyak disinggahi bis dengan ongkos hanya 1 Yuan. Beberapa memiliki AC, namun tak jarang yang masih belum dilengkapi pendingin. Tapi siapa yang butuh pendingin kalau jendela bisa dibuka dan menikmati suhu 5 derajat Celcius.

Chongqing, Chengdu, dan Xian memiliki jaringan angkutan massal yang bagus. Xian dan Chengdu masing-masing memiliki 2 metro lines. Pembelian tiketnya pun sangat gampang karena tersedia mesin otomatis dengan menu berbahasa Mandarin dan Inggris. Pergantian antar jalur di MRT tidak perlu keluar dari stasiun. Bus kota di Chengdu dan Xian pun mumpuni banget untuk dijajal. Ongkos 1 Yuan untuk bis non-AC dan 2 Yuan untuk bis AC. Harap sediakan uang pas karena supir tidak memberi kembalian.

Karena kontur kota yang berbukit-bukit, Chongqing tidak hanya memiliki 2 jalur Subway namun juga memiliki 2 jalur monorail. Keempat jalur tadi dikenal dengan nama Chongqing Rail Transit (CRT) dengan logo beraksara CRT dan berwarna hijau. Monorail Line 3 Chongqing dengan 39 stasiun yang melayani Jiangbei International Airport ke selatan kota adalah jalur monorail terpanjang di dunia.

IMG_4845

  • GEGAR BUDAYA

Teman-teman dekat mewanti-wanti saya agar gak terkejut batin selama melakoni perjalanan ke Tiongkok. Kebiasaan-kebiasaan yang kita lihat aneh di Indonesia, bakal banyak dan rutin terlihat di sana. Beberapa hal menarik yang terjadi selama di negara asal nenek moyang saya:

  1. Jangan kaget setiap 10 detik sekali di jalanan akan terdengar suara “KHOOEEKKK… CUUIIHH“. Kebiasaan membuang ludah yang legendaris ini benar-benar bikin program diet saya berhasil. Selera makan bisa turun drastis setiap mendengar atau melihat kebiasaan mereka yang satu ini. Gak di trotoar, di pasar, bahkan di dalam Metro pun kadang masih terdengar suara “KHOEEEK” walaupun tanpa “CUIIHH“.
  2. Toilet. Untuk yang satu ini, sudah lah ya. Kondang banget sampai masuk portal-portal berita dunia tiap ada pembahasan kebiasaan turis Tionghoa. Pengalaman toilet umum saya di Kunming dan Lijiang lumayan menyeramkan. Gak di toilet umum di tengah-tengah pertokoan, tempat wisata, maupun restoran fast-food kondisinya sungguh menyeramkan. Akhirnya, saya selalu kembali ke hotel setiap ada indikasi kebelet dikit aja. Berbeda dengan Lijiang, kondisi toilet di Chengdu dan Xian cukup manusiawi. Bahkan di pusat perbelanjaan IFS Chengdu, toilet duduknya ada yang ala Jepang dengan segala tombol dan menu yang canggih. Kalau udah kebelet banget, pilihlah bilik yang paling ujung karena biasanya berbentuk toilet duduk dan mereka jarang pake karena lebih memilih toilet jongkok (yg berbonus macam-macam ‘pemandangan’).
  3. Pernah melihat pemandangan Turis asal Tiongkok yg berkelompok dan dipimpin seorang pemandu yang membawa-bawa bendera?. Siap-siap kaget karena di negara mereka sendiri pun banyaaaaaakkkk banget pemandangan seperti ini. Berkelompok, berisik, kalau foto obyek satu per satu dan lama. Saya sendiri termasuk korban ‘diusir’ di Black Dragon Pool Lijiang. Saya, 2 orang turis Caucasian, dan beberapa anak muda turis lokal ‘diusir’ secara halus di jembatan yang menghadap danau dengan puncak Jade Dragon Snow Mountain karena mereka mau foto bareng dilanjut foto satu per satu berasa ANTM. Selesai 1 grup, datang grup lainnya. Capeee deh. Bahkan di Xian-Xianyang International Airport, mereka bergerombol di depan pintu masuk ke check-in area yang sempit untuk briefing sampe 2 jam!. Tapi pejalan lokal yang tidak berkelompok jarang yang berkelakuan sama dengan mereka. Umumnya mereka sama dengan pejalan dari negara lain. Sopan, ga berisik, antusias, gampang diajak ngobrol,dan minta tolong mengambil foto.
  4. Lost in Translation. Konon kata teman yang sudah ke kota besar-seperti Beijing, Shanghai, dan Guangzhou- kendala bahasa masih kental terasa. Gak heran saya berkali-kali mengambil nafas dalam-dalam tiap kali perlu berinteraksi. Belum lagi petunjuk halte bus yang semuanya dalam aksara Mandarin. Yang cukup berkesan buat saya adalah kemauan mereka untuk berinteraksi dengan kita walaupun ada keterbatasan bahasa. Umumnya mereka akan senyum-senyum tersipu menertawakan diri mereka sendiri jika tidak bisa menjawab pertanyaan kita dalam Bahasa Inggris. Keuletan dan kegigihan mereka meladeni juga gak bisa dianggap remeh, buntu melayani kita, mereka akan mencari temannya yang kira-kira dianggapnya mampu. Kadang terharu liat Cici-Cici kasir KFC atau McD yang ampe bergerombol 3 meladeni kita sambil tetap senyum-senyum. Demikian pula turis domestik yang saya temui terutama anak mudanya. Sebisa mungkin mereka menjawab kebutuhan kita. Untuk kasus bahasa ini, saya acungin jempol buat attitude mereka.
  5. Security-check here, there, and everywhere. Kalau untuk ukuran bandara, udah wajar lah ya setiap masuk kita harus melewati pemeriksaan X-ray barang dan metal detector. Nah, di Tiongkok ini gak cuma bandara namun juga Stasiun Kereta Api dan Stasiun Metro. Kalau di stasiun MRT di Singapore, penumpang cukup melewati metal detector. Di Tiongkok, setiap masuk penumpang melewati metal detector sementara barang bawaannya melewati mesin pemindai X-ray. Jika terdapat botol berisi cairan, maka harus dikeluarkan dari tas dan diperiksa di mesin khusus selepas menis X-ray. Lumayan ribet. Untuk stasiun kereta api, penumpang hanya melewati pemindai x-ray dan metal detector berbarengan dengan pemeriksaan tiket dan ID sebelum memasuki ruang tunggu. Hal berbeda terjadi di Kunming Zhan (Kunming Train Station). Penyerangan tahun 2014 yang menewaskan 33 orang dan  143 korban luka-luka di area sebelum ruang tunggu mengakibatkan adanya pemeriksaan barang-barang sebelum memasuki komplek stasiun.
  6. Adu mental dengan penjual di tempat wisata. Jangan kaget kalau nanti kita berniat membeli barang di tempat wisata dan tawar-menawar yang berakhir buntu hingga kita hengkang, si penjual memanggil-manggil kita dengan suara yang keras sambil teriak-teriak menjurus ke membentak. Saya menyaksikan langsung beberapa pemuda dibentak-bentak oleh penjual di komplek Museum Terracotta Army di Xian. Untungnya hal tadi gak kejadian di semua tempat  penjualan cenderamata di Lijiang atau Muslim Quarter Xian yang jumlahnya berjubel. Bayangin aja kalau seisi kota dipenuhi bentakan.
  7. Internet. Udah pada ngeh kan Facebook, Google, dan Youtube diblokir di sana. Jadi sebelum berpetualang, ada baiknya mencari info sebanyak-banyaknya sebelum sampai di sana. Ada sih Baidu sebagai pengganti Google. Tapi yah..kondisinya gitu-gitu banget. Instagram dan Twitter sih angin-anginan. Kadang bisa nge-tweet, kadang gak bisa terutama kalau tweet foto.

Setelah 9 hari berada di negeri Paman Mao, saya pun dalam hati mengiakan pendapat Kenny kalau pengalaman ke Tiongkok ini bakal penuh dengan pengalaman menarik di luar pakem. The people, food, habit, and culture. Kalau ada yang menanyakan apakah saya bakal balik ke RRT dengan segala pengalaman yg didapat kemarin baik yang menyenangkan maupun yang kurang enak, saya akan jawab: PASTI LAH. Shangri-la, Jade Dragon Snow Mountain, Kashgar, dan Harbin terlalu indah untuk dilewatkan. Untuk yang berencana pergi ke Tiongkok tanpa bisa berbahasa Mandarin… Good Luck.

Soft-Sleeping Train Kunming-Lijiang

Soft-Sleeping Train Kunming-Lijiang

D-train ticket.

D-train ticket.

Sepur Kilat

Sepur Kilat

25 comments on “Meraba China

  1. Eky
    February 15, 2015

    Waah seru banget baca postnya.
    Jadi inget lagi waktu tahun lalu ke Beijing-Shanghai.
    Post ini bikin pengen ke China lagi, terutama ke kota yang kata mas bilang far flung itu, kaya Lijiang, Chengdu, Xian, dan sekitarnya.
    Ngomong-ngomong saya baru tau beli tiket kereta bisa di ctrip.
    Waktu itu saya pusing karena harus beli lewat agent online dan fee-nya mahal. Jadi beli tiket pesawat aja PEK-PVG, padahal pengen coba bullet trainnya😦 Mungkin lain waktu kali… Waktu itu beli di ctrip ada fee-nya nggak mas?

  2. Ari Azhari
    February 15, 2015

    Saya pun juga jadi pengin balik lagi gara-gara bikin post ini. Bisa kok bikin beli tiket kereta di Ctrip. Malah taunya bisa beli tiket kereta dulu baru tiket pesawat. Ada sih agent fee sekitar 8-10 Yuan.

  3. winnymarch
    February 15, 2015

    jd makin mupeng

  4. Dita
    February 16, 2015

    wuiiihhh lengkap kaaaaak, mantap nihhh😀

    • Ari Azhari
      February 16, 2015

      Itulah, kak. Kalo kamu males mandi, aku males posting. Sekali posting dirapel begini ya.

  5. lleufer
    February 16, 2015

    koh, 1 yuan berapa rupiah koh? *ditendang ke jerman

    mantap mantap postingannya. seru.

    • Ari Azhari
      February 16, 2015

      Bang Luper mau ditenggelamkan di Laut Chinna Selatan?. Makasih ya udah mampir.

  6. cumilebay.com
    February 16, 2015

    Ya Olloh jadi pingin di raba dech🙂
    Ah pingin banget menelusuri cina, gw baru cuman ke sencen ama guangzho doang

    • Ari Azhari
      February 16, 2015

      Diraba sapa, mas? Jawab!! Jawab mas!

      Kalo di Shenzhen ama Guangzhou gimana, mas? Standar kota besar gitu ya?

  7. alee
    February 16, 2015

    Full experience ya ke tiongkok….
    jadi inget ke HK thn 2000… mau tanya2 pake bhs Inggris aja jarang yg bisa, padahal udah ngejar2 anak sekolahan..tapi ya gitu deh.
    tepat sekali kalo istilah meraba2 di tiongkok… ya mungkin juga di negara2 yg minim english speaker nya…

    eniwe, keren udah survive 9 hari di Tiongkok.
    Yuk ke Avatar mountain, Harbin and Kashgar… * merogoh kocek jauh lebih dalam

    • Ari Azhari
      February 16, 2015

      Eh busyet, padahal baru 3 tahun dialihkan dari Inggris ke RRT ya. Tapi kemarin ke HK jarang ada masah bahasa sih, teritama di HK Island.

      Iya nih, pengin balik lagi ke Tiongkok trus ke tempat-tempat yg kamu sebutin.

  8. Dian Rustya
    February 16, 2015

    Infonya komplit dan postingannya seru, apalagi yg bagian begar budaya

    trus tadi berhenti agak lama buat mikir pas nemu bagian paragraf ini ===>> Jadilah tumpuan harapan akan informasi berasal dari tulisan bloggers dalam negeri atau yang berbahasa Inggris. Mau yang isinya travelogue atau travel guide, keduanya sama-sama awesome kok selama membantu dan informatif. Jadi gak usah merasa too cool for school kalo blog isinya travelogue atau merasa lebih informatif kalau nulisnya travel guide. Chill aja lagi.

    • Ari Azhari
      February 16, 2015

      Makasih, Mbak Dian. Itu gegar budaya bener2 bikin gegar loh.

      Kenapa mikir di paragraf itu? Ga gegar juga kan?. Sebenarnya itu curhat aja buat orang2 yg merasa terlalu keren untuk bikin post travel guide atau sebaliknya merasa levelnya ketinggian untuk bercerita. Padahal keduanya bermanfaat kalau tau efek blog mereka ke pejalan2.

      • Dian Rustya
        February 16, 2015

        Aku sudah kebayang “ngerinya” bagian HHOOEEKK dan toiletnya Koh.

        Soal yg paragraf itu, bagiku dua2nya menyenangkan. Saat ingin melakukan perjalanan, tentu yg semacam travel guide yg dicari. Dan senang membaca travelogue saat ingin “mengintip” pengalaman personal si penulis saat melakukan perjalanan itu.

  9. yusmei
    February 19, 2015

    Busyeet panjang banget tulisannya, sampai harus jeda minum teh dulu. Eh koh, seriusan ini bisa dibikin buku deh, udah lengkap info-infonya. Bakalan bergunan buat yang males2 cari info kayak aku ini😀.
    Itu yang turis suka foto bareng-bareng dan berisik ternyata memang sudah dari sononya ya, kirain cuma yang srg ikutan trip2 ke luar negeri China aja. Ampun deh

    • Ari Azhari
      February 19, 2015

      Jeda minum tehnya ada pake ngemplok bolu mandarijn juga, ga?. Dibikin buku? Eng..anu..itu..mengisi blog saja saya sulit.

      • yusmei
        February 19, 2015

        Enggak dong ah, yang jual mandarijn tutup. Semalam begadang lihat pesta kembang api. Apa butuh ghost writer, cukup dibayar tiket jakarta-London pp kok kak *ndremis*

      • Ari Azhari
        February 19, 2015

        Keliling Enggres cukup ya?. Ga mau keliling Eropa?. Oh, iya…klub kesayangannya mainnya di Inggris aja sementara ya. Ga ada tandang ke negara lain. Hahahahaha.

      • yusmei
        February 19, 2015

        Heh ke Inggris lebih penting daripada keliling Eropa *ngeles* *ngadu ke Prince Harry*

  10. salimdarmadi
    April 13, 2015

    Mantaaap… akhirnya sampe juga dirimu di negeri leluhur, Koh…🙂

    • Ari Azhari
      May 15, 2015

      Kenekadan yang berawal dari rasa penasaran, Om Salim.

  11. Gara
    June 14, 2015

    Alamak, ini lengkap banget Kak. Bacs ini berasa ikut ke Tiongkok dan keikutan dengan suasana di sana. Eh ya, kadang budaya orang sana yang kebetulan ada di sini pun tak seberapa beda. Saya sering melihat nenek saya yang notabene Tionghoa juga ber-khoeek chuihh dengan begitu anggunnya di banyak tempat di halaman rumah kami, ternyata bukan karena tidak bersih ya, melainkan memang budayanya seperti itu :hehe.

    Perjalanan yang tentunya sangat berkesan, dan terima kasih sudah berbagi! Ini membantu sekali bagi pejalan minus kemampuan bahasa Tiongkok yang ingin tandang ke sana, sekadar berfoto di dalam Tembok Besar :hehe.

    • Ari Azhari
      June 16, 2015

      Memang mitosnya gitu ya, kalau buang dahak itu buang energi negatif dalam tubuh dan ga boleh ditahan. Tapi ya jadi gegar budaya banget selama saya di sana. Rada-rada gemeteran tiap dengar suara orang berdehem.

      • Gara
        June 16, 2015

        Iya, soalnya anggapan mereka dahak kan sesuatu yang buruk bagi tubuh :hehe.
        Gegar budaya yang menambah pengalaman, Mas :haha.

  12. ekahei
    January 24, 2016

    waduh… pengalaman ke Zuhai sempat membuat saya kapok ke negeri tirai bambu . Toiletnya itu lho… !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 15, 2015 by in China, Go-Sees, travel and tagged , , , , , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: