Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Let It Snow! Let It Snow! Let It Snow!

Saya tidak merayakan hari raya Natal. Tapi tumbuh besar di Medan dengan penduduk yang majemuk pastinya membuat saya berinteraksi dengan teman-teman dari suku, ras, dan agama yang berbeda. Salah satu tradisi familiar yang cukup menarik bagi saya adalah kebiasaan teman-teman saya menyanyikan lagu-lagu menjelang Natal, terlebih lagi saya pergi ke sekolah dengan teman-teman sekelas yang mayoritas beragama Kristen. Lagu-lagu bernuansa natal tadi menjadi awal mula obsesi saya tentang ‘winter wonderland’.

Saat dewasa, seorang teman memberitahukan bahwa yang dinyanyikan sebenarnya bukan lagu religi, melainkan lagu-lagu pop yang bernuansa liburan Natal bersalju ala Amerika seperti ‘White Christmas’, ‘Sleigh Ride’, ‘Santa Claus is Coming to Town’, ataupun ‘Let It Snow! Let It Snow! Let It Snow’. Teman-teman saya sendiri menyebutnya sebagai lagu natal kapitalis. Lagu-lagu yang diputar mengiringi diskon akhir tahun di mal-mal sebut mereka. Untungnya lingkar pertemanan kami ini sensinya gak kayak bigot-bigot di Facebook, jadi ketawa-ketawa aja mendengar penjelasan tadi.

IMG_5214

Selain lagu, film juga berpengaruh terhadap obsesi ‘winter wonderland’ saya. Film Home Alone dengan setting liburan Natal berikut suasana musim dinginnya salah satunya. Menjelang masa remaja, referensi pun bertambah. Tak hanya melalui lagu namun juga film-film rom-com yang booming di akhir 90-an, salah satunya adalah Serendipity. Setiap tahun menjelang Natal, saya punya tradisi menonton ulang film yang dibintangi John Cusack dan Kate Beckinsale dan membayangkan suatu saat bisa menikmati rintik-rintik salju sembari mengutip lirik lagu ‘Bila Kuingat’ dari Lingua, “…semoga bukan angan yang kelamaan“. Tapi dari usia masih kepala 1 hingga berganti jadi 3 impian saya tadi belum menjadi kenyataan.

Harapan hampir menjadi kenyataan saat pesawat Hainan Airlines yang mengantar saya dari Chongqing mendarat di Xian. Sejak di Lijiang seminggu sebelumnya, saya selalu memantau suhu udara di Xian yang selalu berada di bawah 0 derajat Celcius. Saat mengunjungi Mausoleum of the First Qin Emperor keesokan harinya pun terlihat sisa-sisa hujan salju 2 malam sebelumnya. Pemandu kami berkata bahwa biasanya hujan salju berselang 2-3 hari sejak hujan terakhir di Xian ini. Wah, ada kesempatan buat saya yang masih 2 hari lagi berada di ibukota Provinsi Shaanxi ini.

Terracota Army entrance

Terracota Army area

Impian masa kecil akhirnya terwujud saat pagi terakhir liburan saya di Tiongkok. Saat baru terbangun dari tidur, saya merasa pemandangan di luar agak terang. Terlalu putih, seperti wajah-wajah yang diedit dengan aplikasi kecantikan ponsel (+bonus bibir berwarna jingga bak mengunyah kunyit mentah-mentah). Renmin Square yang tadinya didominasi pohon-pohon yang meranggas tinggal rantingnya kini dipenuhi salju. Bangunan-bangunan di dalam Renmin Square yang terdiri dari Sofitel Legend, Sofitel Xian, Grand Mercure, dan Mercure kini dilapisi warna putih. Langit pun seolah memberikan hadiah di hari terakhir berupa rintik salju yang masih turun cukup deras di pagi itu. Tak ingin kehilangan momen, saya pun keluar dari kamar dengan hanya memakai sweatshirt & sweatpants…tanpa mandi pastinya.

Kalau ada yang mengabadikan wajah saya saat pertama kali menyentuh salju rasanya bakal gumoh sendiri. Wajah penuh kegirangan bahkan melebihi girangnya saat memasuki Citygate Outlet HK yang dipenuhi diskon 60-80%. Kawasan di dalam pun saya jelajahi selama hujan salju, dari Grand Mercure yang terletak di paling belakang compund, hingga gerbang Renmin Square di Xinjie Street.

Sofitel Legend Xian

Sofitel Legend Xian

Bell Tower of Xi'an

Bell Tower of Xi’an

Tak hanya ingin menikmati Remin Square, saya pun segera berbenah diri untuk mengelilingi downtown Xi’an yang kini dipenuhi partikel es. 3 lapis pakaian sudah dikenakan dan saya pun melenggang kangkung ke arah Xian City Wall. Pemandangan city wall kini berubah drastis sejak kedatangan saya pertama kali. Bangunan berwarna coklat yang mengelilingi kawasan urban Xian sepanjang 14 km itu berubah menjadi keputihan dengan turunnya salju. Tidak ditemukan pemandangan orang-orang bersepeda karena jalur yang licin di atas dinding kota.

Lelah bertualang di sekitar dinding kota, saya yang membutuhkan asupan kehangatan meluncur ke kawasan Muslim Quarter untuk mencari semangkuk Yangrou Pao Mo (sup kambing & roti). Saya pun sekalian singgah ke Great Mosque of Xian. Area yang dibangun pada abad ke-8 ini sama sekali tidak mencerminkan bangunan mesjid pada umumnya. Tak berkubah dan tak ada minaret yang menjulang. Arsitekturnya menyaru dengan bangunan tradisional kebanyakan. Beberapa paviliun yang ada pun tidak menggambarkan bahwa ini adalah masjid. Beberapa penjual aksesoris seperti peci dan hijab di pintu gerbang mungkin hanya satu-satunya penanda area ini adalah masjid. Salju yang menumpuk di halaman masjid menambah syahdu tempat ibadah yang tetap berjalan aktif walaupun berada di negara komunis. Konon lagi di negara demokratis yang gemah ripah loh jinawi ya. Pastinya di sana ibadah-ibadah berbagai agama berjalan aktif tanpa ada intimidasi dong ya. *memutar bola mata sampai tinggal putihnya*

Salju di Xian memang sudah berhenti turun sejak siang dan daerah urban makin ramai dipenuhi orang-orang yang ingin menghabiskan akhir pekannya. Dari duduk-duduk menyeruput minuman jus jujube & pear sambil ngemil kebab kambing di pinggir jalan hingga menghangatkan diri di kedai kopi modern. Senyuman pun mengembang dari bibir saya karena pemandangan ‘winter wonderland’ juga saya dapatkan menjelang kepergian saya dari Xi’an. Sebagian besar area Xian Xianyang International Airport diselimuti salju hingga pesawat saya take-off tengah malam itu. Hadiah terbaik saat liburan yang pernah saya dapatkan. Xie-Xie, God🙂

Renmin Square Area

Sofitel Legend - People Grand Hotel Xi'an

Sofitel Legend – People Grand Hotel Xi’an

Renmin Square

Renmin Square

Xian City Wall

Xian City Wall

Xian City Wall

Xian City Wall

Xian City Wall

Xian City Wall

Snow flake

Snow flake

KKEB = Koko-koko e bohay

Great Mosque of Xian

Great Mosque of Xian

 

24 comments on “Let It Snow! Let It Snow! Let It Snow!

  1. Dita
    March 7, 2016

    oh jadi biar bibir oranye alami harus kunyah kunyit mentah ya kak? noted!

    • Ari Azhari
      March 7, 2016

      Kamu malas mandi atau malas masak, sih? Awas ketuker ama
      Jahe

  2. claraBerkelana
    March 7, 2016

    Bagus jg ya pemandangan kota xian. Tp kok sepi? Apa krn wiken? Dulu aku pernah natalan di Beijing. Mau masuk gereja susahnya minta ampun. Harus punya surat khusus. Saking panjangnya antrean akhirnya gak jd ke gereja 😬. Kalo di Xian yang muslim ribet gak kl ke mesjid?

    • Ari Azhari
      March 10, 2016

      Karena winter barangkali, Mbak, Di Terracotta aja sepi banget. Kalau kata guide, musim lain bisa ampe nempel2 pengunjung saking padatnya. Waktu ke Mesjid gak ada diperiksa apa-apa, sih. Bebas aja keluar masuk. Ga ada penjagaan juga.

  3. Halim Santoso
    March 7, 2016

    Akhirnyaaaa koko BOHAY updet… kangen tulisanmu lo, koh😉
    Xi’an apik yaaa, salah satu destinasi impian juga tapi blom kelakon beli tiket ke sana apalagi perpanjang paspor *nyanyi Bila Kuingat*

    • Ari Azhari
      March 10, 2016

      Ahahahaha, ketok awakku jarang nulis. Kemarin cuma 3 malam di sini, jadi kurang puas. Apalagi banyak situs bersejarah krn dia ibukota lamanya Tiongkok.

  4. cumilebay.com
    March 7, 2016

    Aku pikir kamu mencari kehangatan dalam pelukan seseorang tp alangkah kecewe nya ternyata cuman semangkok sup #Lelah

    • Ari Azhari
      March 7, 2016

      Abis ga ada yg bersedia memberi kehangatan sih, mz. Apa krn winter jd aurat tertutup kedinginan.

      • cumilebay.com
        June 20, 2016

        Klao di kamar kan harus di buka tuch aurat biar bisa di nikmati

  5. Matius Teguh Nugroho
    March 8, 2016

    Aku bisa merasakan emosimu saat itu, koh. Sebagai anak yang tumbuh dengan terpaan budaya populer dari Jepang dan Amerika Serikat, winter wonderland jadi salah satu impian masa kecil yang masih bertahan sampai sekarang.

    Selamat impiannya sudah menjadi nyata🙂

    Btw, lagu-lagu Natal yg juga rohani juga sering dinyanyikan kok, seperti: Holy Night, Hark The Herald Angels Sing, dll yang aku nggak paham apa judulnya😀

    • Ari Azhari
      March 8, 2016

      Hihihi, ketahunan norakku gimana pasti ya. Aku pun sering dengar lagu2 natal komersial ini biarpun belum musim natal.

  6. neng fey
    March 8, 2016

    bigot bigot apaan sih koh?

    • Ari Azhari
      March 10, 2016

      Itu, yg pikirannya sempit dan gampang menghasut kalau di FB.

      • neng fey
        March 10, 2016

        hahaha, banyak bgt tuh, gw juga ga?

      • Ari Azhari
        March 10, 2016

        Lu kan isinya artikel ibu2 & jualan. Gue mah ridho kl isi FB gue begitu drpd nyebarin benci. Apalagi kl isinya resep…bikin laper.

  7. nyonyasepatu
    March 8, 2016

    Ariiiiii, mba juga suka Serendipity kapan2 kita nonton dvd bareng ya huhaha kalau bisa sambil salju2an

    • Ari Azhari
      March 8, 2016

      Ih, Mbak Noni kl lg musim salju pasti mudik ke US. Hiks.

      • nyonyasepatu
        March 8, 2016

        Hahaha taon ini gak kayaknya Ar, apa kita ke CIna aja? *loh….berasa banyak duit*

  8. fanny fristhika nila
    March 12, 2016

    selalu sukaa dngan salju..😉. makanya kenapa tiap kali ke negara 4 musim, aku slalu memilih winter.. ga prnh musim yang lain, krn memang ga kuat juga kena panas.. Lagian di Indo sendiri udh puas kepanasan ya mas ;p..

  9. ahahhahaah apaaaaaan KKEB =,= ampunn deh

    ini yg ke Xi’an sendirian itu kan yah kak? eh tapi yang nginepnya di hotel mewwvaah kan? aku mau juga dongg liat salju, tahun depan korsel sih kakk, liat saljuuu *belum pernah*

    • Ari Azhari
      March 23, 2016

      Aku GGS, kak. Ginuk-Ginuk Seksi. Iya ini yg di Xi’an. Setahun yg lalu. Hiks. Hotelnya di-upgrade krn Mercure lg renovasi. Aku mau ke Benua lain dulu ya, kak. Gak ikut ke Korsel.

  10. DollyPR
    May 29, 2016

    Hebat ya. Dengan penduduk terbanyak di dunia, lebih dari satu miliar, tetapi bisa rapi seperti itu tata kotanya. etapi yang gw dengar, turis asal mainland china pada jorok ya?

  11. dewinielsen.com
    October 18, 2016

    Lah asal Medan toh mas? saya asal dari Siantar😀 seandainya di Medan sekitarnya bisa turun salju ya..pasti adeeem🙂

    • Ari Azhari
      November 1, 2016

      Hi , Mbak Dewi. Salam kenal. Kopi darat dong kalo main-main ke Medan. Kayaknya butuh salju ini Medan, biar ngademin orang-orangnya yg gampang ‘panas’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 7, 2016 by in China, Go-Sees, Jalan-jalan, travel and tagged , , , , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 268 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: