Eat│Play│Repeat

Here, There, and Everywhere

Kejutan Suburban Tehran

IMG_1598

menatap Tehran dari ketinggian

Membaca travel guide tentang Tehran di wikitravel, wikivoyage, dan buku panduan Lonely Planet pastinya akan didominasi topik tentang museum, museum, museum, palace, mosque, museum, museum, museum, palace, & mosque. Bukannya tak tertarik, tapi saya menyimpannya untuk hari terakhir di Iran sebelum terbang kembali ke Indonesia…terlebih lagi HTM di tempat-tempat bersejarah tadi tak terhitung murah juga. Tak bergunanya kartu kredit dan kartu debit dengan sistem Visa dan Mastercard (konon lagi JCB yang masih jarang di Indonesia) di negara ini membuat saya harus pintar-pintar mengatur keuangan sampai pulang.

Tehran dengan penduduk sekitar 9 juta orang di area urban & 15 juta dengan area metronya adalah salah satu kota terbesar di Timur Tengah. Kemacetan, polusi udara, &  kehidupan metropolitan nan hectic sepertinya harus pintar-pintar diimbangi dengan relaksasi. Untungnya Tehran diberkahi dengan letak geografis yang sangat strategis. Sisi utara Tehran dibatasi oleh Pegunungan Alborz. Sejauh mata memandang ke arah utara, puncak bersalju menjadi asupan vitamin A.

Pegunungan Alborz membentang dari barat ke timur di sisi utara Tehran membatasinya dari “Laut” Kaspia. Di awal-awal tahun, hembusan angin dinginnya sampai ke Tehran. Puncak-puncaknya yg berwarna putih kontras dengan batu-batu kelabu di kaki-kakinya menyimpan tujuan favorit Tehrani untuk menghabiskan waktu untuk berakhir pekan. Darband, Dizin, Shemshak, dan Tochal adalah nama-nama yg tidak asing bagi Tehrani. Kemacetan di hari kamis sore & jumat menjadi makanan setiap minggu. 3 malam di Tehran membuat saya berkesempatan mengunjungi 2 diantaranya, yakni Darband & Tochal.

Darband

CERITA DARBAND

Saya tidak punya ekspektasi apapun mengenai Darband walaupun sempat menyelipkan catatan kecil di itinerary sebelum keberangkatan. Sampai di Iran, tak ingat lagi apa yg sudah saya tulis sebelumnya hingga saya bertemu 3 teman baru yg berkenalan di ruang tunggu klia2. Layaknya sebuah Serendipity, saya bertemu dengan mereka lagi saat sama-sama mengunjungi Azadi Tower. Mereka baru selesai membeli tiket kereta untuk ke Shiraz esok malamnya, saya baru saja menukarkan beberapa lembar US$ di Ferdowsi Square. Setelah ngobrol ngalor ngidul di Azadi, tiba-tiba salah satu dari mereka nyeletuk “ke Darband yuk, kemarin gue liat di Pinterest ada cafe lucu2 di sana”. Gayung pun bersambut saat saya teringat kembali catatan kecil tadi dan kami semua mengiakan ajakan impromptu yg mirip dengan ajakan Sally Marcelina/Kiki Fatmala/Gitty Srinita/Nurul Arifin ke pantai di setiap film Warkop DKI.

Darband dapat dicapai dengan taksi dari Tajrish Metro Station, stasiun metro paling utara di Tehran yg berada di jalur merah (Line 1). Taksi dar bast (tutup pintu) dikenakan harga 150.000 Rial (Rp. 30.000). Oh ia, sistem taksi di Iran ini ada 2 jenis : Dar Bast & Na Dar Bast. Dar Bast yg berarti tutup pintu sistemnya seperti di kota-kot besar Indonesia, hanya kita sendiri yg menggunakan jasa taksi tersebut. Sedangkan Na Dar Bast (tidak tutup pintu) berarti satu unit taksi harus rela berbagi dengan penumpang lain yg sejurusan. Buat yg posesif, kuatkan hatimu yah sebelum naik taksi Na Dar Bast ini. Sistem mirip seperti ini pernah saya alami sewaktu dari Makale ke Rantepao di Tana Toraja.

Perjalanan menanjak kami alami dari Tajrish Square hingga Darband Square. Di Darband Square sendiri terlihat beberapa restoran, kedai cepat saji, & cafe Nutella yg lagi ngetren tampaknya di Tehran ini. Terlihat beberapa orang berlalu lalang dengan peralatan ski mereka dan beristirahat di Darband Square. Kami yg baru datang sore itu tampaknya ragu apakah ketinggalan ritual piknik orang-orang lokal. Cuek bebek dengan hari yg menuju senja, kami jalan menyusuri jalan setapak sempit yg ternyata membawa kami menuju atraksi utama di Darband: restoran-restoran kebab yg dibangun di bukit-bukit batu, penjual jagung bakar & fava bean rebus, penjaja manisan buah, dan tea house dengan dekorasi yg menggoda orang-orang yg lewat untuk singgah.

Udara dingin makin menusuk saat matahari mulai terbenam dan kami memutuskan singgah ke satu tempat yg bahkan kami ga tau namanya. Kami memesan teh panas yg disajikan dengan sekeping cookies, sup dari nasi nan gurih, serta yogurt. Kirain ya harga makanan di sini bakal mencekik mengingat daerah turistik & akhir pekan pula. Taunya dooong, murah meriah abis. Sebelumnya kami sudah makan fast food di Darband Square karena takut dengan harga makanan yg sama sekali ga ada ide, tapi sewaktu lihat di menu…hmmm…ternyata masih masuk akal. Apalagi ditambah pemandangan sekitar yg mirip-mirip Gundaling di Brastagi minus tenda biru yg bikin semak itu! Hari pertama di Iran sudah diisi dengan perut kenyang, hati senang, dan dompet pun terhindar dari meriang.

Happy Visitor

CERITA TOCHAL

Apa hal yg terlintas ketika berbicara tentang Iran? padang pasir? reruntuhan Persepolis? arsitektur Persia yg warbiasak indah dalam detil? well….bisa ditambahkan 1 hal lagi: SKI. Yepppp, it is so popular in Iran especially on November until May. Seperti yang saya bilang di atas tadi, Tehran yang dikaruniai letak geografis menakjubkan dengan rentetan Pegunungan Alborz memiliki beberapa resor ski yang letaknya tak jauh dari kota. Ada yang terbesar dan terpopuler yakni Dizin, Shamshek, Damavand, Darbandsar, dan saya memilih yang terdekat dengan Tehran namun termasuk yang paling tinggi di dunia…Tochal. Selain memilih alasan lokasi, saya memilih Tochal karena termasuk yang paling murah dari aspek tiket masuk dan prasarananya.

Transportasi menuju area Tochal Telecabin & Ski Resort secara umum lebih gampang dan nyaman daripada rumah ke kantor saya kalau boleh jujur. Ongkosnya pun tak jauh beda. Cukup menaiki metro Line 1/jalur merah hingga stasiun terakhir di utara, Tajrish. Di pintu keluar Tajrish sendiri sudah berderet-deret taksi yang menerikkan tujuan-tujuan populer di utara Tehran : “Darband, Darband, Tochal, Tochal, Dizin, Dizin!!“. Seorang supir menawarkan taksi dar bast seharga 150.000 Rial (Rp. 50.000) dan langsung saya ambil sebab kata teman-teman yang sudah terlebih dahulu ke mari, harga taksi dar bast bisa mencapai 200.000 Rial. Taksi dari kantor ke rumah aja biasanya Rp. 60.000 bonus kena macet di mana-mana, pengendara motor yang zig-zag tak mau kalah, penarik becak motor yang  lambat tapi jalannya di tengah, dan klakson angkot Medan yang ruaaarrrbiasa annoying itu. (Husss, gak cinta dalam negeri nanti dibilang!)

Tak sampai 30 menit dari Tajrish Square, saya sudah tiba di area parkir Tochal Complex. Bagi yang jompo seperti saya, ada fasilitas bus seharga 10.000 Rial dari area parkir menuju station 1 Tochal Gondola di ketinggian 1.900 meter. Boleh sih berjalan kaki sekitar 2 km…asal kuat aja. Restoran, coffeeshop, ice cream parlour, dan beberapa permainan menjadi atraksi di station 1 selain menjadi stasiun paling dasar Tochal Gondola. Udara dingin ditambah angin semriwing sudah terasa walaupun masih di dasar Tochal. Harap memerhatikan kondisi fisik kita sebelum beranjak ke ketinggian lebih lanjut ya, sebab sebelum sampai di Station 1, seorang pengunjung bule yang lagi asik-asik memandangi Tehran dari ketinggian tiba-tiba pingsan di tempat. Hororrrr!

Saya langsung memilih Station 7 saat ditanya petugas loket hendak ke mana. Mas-mas Persia tadi pun menanyakan kembali apakah saya membawa jaket dan sarung tangan karena udara di Station 7 sangat dingin dengan salju tebal di ketinggian 3.700-3.900 m. Ya ampun mas…saya aja jarang diperhatikan ama pacar masalah gituan. Perhatian sekali kamu, sih. Untuk perjalanan pulang-pergi gondola ke station terakhir akan dikenakan 380.000 Rial dengan berhenti di Stasion 3 & 5. Kalau mau ski, ditambah lagi fee sebesar 690.000 Rial. Saya yang tidak berniat ski pun hanya membayar jumlah yang pertama.

Bentuk gondola di Tochal ini yaaaa…masih jauh dari kata modern bikin saya deg-degan menaikinya. Saya menaiki gondola bersama pasangan suami-istri Thailand yang hendak berhenti di Station 5. Perjalanan sepanjang 7,5 km ditempuh hampir 30 menit dan merupakan salah satu perjalanan gondola terpanjang di dunia. Dari dasar Tochal yang tandus dan penuh bebatuan…landscape perlahan berubah menjadi putih karena ditutup salju hingga memasuki station 5 semua terlihat putih sejauh mata memandang. Selama perjalanan, kita disuguhi pemandangan kota Tehran dari kejauhan jika memandang ke Selatan. Samar-samar tampak efek polusi udara dimana awan coklat menggelayut di atas kota.

Saya pernah melihat salju sebelumnya saat musim dingin di Xi’an, namun pemandangan di Tochal lebih dramatis. Hyaeyaaalah namanya juga di atas gunung, sejauh mata memandang pastinya cuma salju yang ada. Sebuah bangunan yg digunakan sebagai hotel & restoran berwarna coklat kontras dengan sekelilingnya yang berwarna putih. Sewaktu di Xi’an sih ya cuma disuguhi hujan salju, namun di Tochal ini sudahlah saljunya lebih tebal dari make-up cabe-cabean sekarang dan udaranya bak freezer di lemari es…eh ditambah pula angin dingin yang menampar-nampar wajah bikin mati rasa. Kalau hati sih ya udah lama mati rasanya, lah ini wajah juga ikutan. Saya pun segera menaiki chairlift untuk menuju ke restoran untuk menghangatkan diri dengan secangkir cokelat panas.

Tochal Ski Resort ditutup pada pukul 2.30 siang karena semakin sore akan semakin ganas cuaca di ketinggian 3.900-an meter ini. Saya datang di hari Sabtu yang notabene adalah hari Senin-nya para Iranian sehingga area ini terasa sepi di area dasar Station 1…konon lagi di Station 1 dimana kurang dari selusin orang yang saya temui. Selayaknya tempat tujuan wisata lain, Kamis dan Jumat adalah puncak keramaian. Entahlah saya merasa beruntung atau terasa sial saat mengunjungi Tochal di hari kerja. Enaknya karena sepi, tak enaknya karena sepi juga. Beruntung karena pemandangan tak diinterupsi keramaian, terasa sial karena tidak ada pemandangan lokal-lokal yang menghangatkan resor ski. Bhay!

IMG_1489

Lokal Hangat Kedinginan

Advertisements

6 comments on “Kejutan Suburban Tehran

  1. grandiszendy
    May 17, 2017

    ahahahahaha yang aku ingat dari bacaan ini cuman kamu udah punya pacar tapi masih kedinginan dan butuh kehangatan lokal

    • Ari Azhari
      May 17, 2017

      Gerandis Syaitoooooon jangan membuat fitnah yaaah 😏

  2. Bulan
    May 17, 2017

    Yang aku ingat justru kamu udah punya pacar tapi hatinya udah mati rasa. Lha piye nek ngono? Kok mesakke..

    • Ari Azhari
      May 17, 2017

      Ini kok podo kabeh komennya, bagian mana sih yg menyatakan punya pacar 😭😭😭

      • Bulan
        May 17, 2017

        Lha ituuuu.. Pacar saya aja nggak merhatiin segitunya ituuuu..

  3. omnduut
    May 23, 2017

    Bikin meriang dompet itu bener-bener harus dihindari ya Koh muhahaha. Aku seneng banget bacanya Koh. Benerlah apa kata temen, kalau di sana ada salju juga. Sama ya kayak India, ada salju, gurun pasir, komplet.

    Aku udah nandain persia ini sejak lama. Tapi masih kalkulasi isi debit card dulu haha. Maunya bisa berlama2 di sana. Ditunggu cerita lainnya Koh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 9, 2017 by in Iran, travel and tagged , , , .

#archives

#categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,073 other followers

Follow Eat│Play│Repeat on WordPress.com
%d bloggers like this: