Isfahan nan Menawan

FullSizeRender(20)

Jika harus memilih 1 kota yang paling berkesan dari 5 kota di Iran kemarin, saya dengan lantang pasti akan menjawab Isfahan. Suara saya akan lebih lantang dari suara finalis kontes kecantikan yang menjawab pertanyaan “jika anda dilahirkan kembali, anda ingin menjadi siapa?” dengan jawaban generik, se-generik tips dari artikel seks di portal berita. *WOYYYY  preambule macam apa ini!!!*

Bukannya kota lain tak berkesan, namun Isfahan lebih komplit dalam memberi memori. Atraksi wisata yang sebagian besar merupakan peninggalan sejarah yang masih terawat ditunjang dengan tata kota yang indah, transportasi yang mumpuni, dan orang-orang yang hobi menyapa pendatang, ramah, dan genuine menjadikan Isfahan sangat layak untuk dikunjungi.

Butuh 2,5 jam perjalanan dari Kashan untuk tiba di terminal bus Kaveh di sisi utara kota. Walaupun sama-sama dihuni hampir 2,5 juta orang, penampakan terminal bus di Isfahan dengan Medan ini kok ya jauuuuuh banget. Bangunan terminal terlihat tanpa sampah di lantai-lantainya, tersedianya fasilitas water fountain lazimnya di fasilitas publik Iran, tempat makan dan toko kelontong yang bersih, dan gak ada calo/preman. Terminal bus Kaveh terdiri dari beberapa Salon yang bentuknya menyerupai “gate” di bandara. Tiap salon diapit 2 operator bus dan begitu menerobos lorong di antara 2 loket bus tadi akan terlihat ruang tunggu masing-masing operator, koridor-koridor luar ruangan, dan tempat parkir bus yang tersusun rapi. Intinya…nyaman banget deh menggunakan fasilitas terminal di Isfahan ini. Dan itu juga saya alami saat di terminal bus Kashan & Yazd.

Kesan positif akan Isfahan saya alami pada saat interaksi pertama dengan penduduk lokalnya. Sewaktu melihat peta, ada penampakan stasiun metro Kaveh yang letaknya tepat di samping terminal bus namun tidak ada penunjuk arah di dalam terminal yang menunjukkan lokasi stasiunnya. Bertanyalah saya kepada rumput yang bergoyang seorang anak remaja dan dia menjawab ikutin saja trotoar ini kemudian belok kanan pada persimpangan pertama. Saya pun lega dan menuju stasiun metro melewati trotoar dimaksud yang temboknya dihiasi oleh karikatur. Dasar emang gatel pengin foto, saya pun berbalik badan hendak memotret…dan beneran kaget karena ternyata anak remaja tadi masih berdiri di tempat saya bertanya (+/- 100 m) demi memastikan saya belok di arah yang benar. Sebelum belok ke jalan tikus menuju stasiun metro, saya kembali berbalik melihatnya dan dari kejauhan dia mengacungi jempol menandakan arah yg saya ambil sudah benar. Duh biyung…terkesan deh. Kesan tersebut berlanjut saat di metro saya diantar oleh petugas dari loket pembelian tiket…hingga eskalator menuju kereta!

Long story short, saya menghabiskan senja pertama saya di Naqsh-e Jahan Square/Imam Square, lapangan terbesar kedua di muka bumi setelah Tiannanmen Square di Beijing. Selama perjalanan dari hostel menuju lapangan, saya dan Simon melewati jalan pintas melalui Bazar-e Bozorg (Grand Bazaar Isfahan) dan sepanjang perjalanan entah berapa kali kami disapa, ditawarin singgah, dan ditanya asalnya dari mana. Tak ada kesan paksaan untuk belanja atau singgah dan biasanya diakhiri dengan senyuman dan sambutan. Default sapaan tadi bisa diringkas seperti ini:

Isfahani : Hello, do you want to see persian carpet/pistacchio/sweets

Saya  & Simon : no, thank you

Isfahani : where do you come from?

Saya & Simon : Indonesia & Switzerland

Isfahani : OC, welcome to Iran...and enjoy Isfahan, my city! bye 🙂

Begitulah beberapa sapaan yang tidak hanya kami dapatkan selama di bazaar. Saat berteduh di rindangnya trotoar di depan Chechel Sotoon, saat duduk-duduk di Imam Square, saat menikmati sunset di atas Si-o-Seh Pol Bridge atau Khaju Bridge, ataupun saat tampak hendak mengambil gambar dengan kamera…pertanyaan dan sapaan tadi muncul. Mulai dari remaja, siswa SMP, pedagang oleh-oleh, ataupun sesama penumpang bus yang menunggu di halte gemar melakukan hal yang sama kepada kami maupun turis lainnya dengan nada yang bersahabat dan tanpa modus bisnis layaknya di tempat-tempat turistik. Dan jangan kaget kalo tiba-tiba ada yang ngajak foto atau selfie bareng!

Sambutan lebih menyenangkan didapat Abadi, teman sehostel saya yang lain dari Malaysia. Saat duduk sore-sore di Imam Square, dia sudah sedia bekal sekantong kismis yang harumnya unik menyerupai buah peach segar. Saya tanyakan ia di mana tempat belinya…eh dia cuma menjawab: dikasih orang tadi pas lagi duduk-duduk. Uwenakke.

Pengalaman paling berkesan terjadi saat dari pusat kota hendak menuju Armenian Square. Namanya petualang kikir ya, diusahakan naik transportasi umum dan stasiun metro di daerah Armenian Square belum diresmikan dan berakhir menggunakan bus. Ternyata halte bus tempat saya hinggap tidak ada trayek ke tempat yang dituju. Setelah bertanya pada petugas di loket…saya digiring ke polisi dan disuruh naik ke sepeda motornya dan diantar ke halte yang benar berikut nomor busnya. Waladalahhh, padahal udah dag-dig-dug aja bakal kenapa-kenapa…apakah diriku akan menjadi korban perdagangan manusia, siapa yang mau nampung? dijual utuh atau per kilo?

Di luar manusia-manusianya, Isfahan memanglah kota yang indah. Bangunan-bangunan tua yang terawat, taman kota yang teduh, trotoar nan rindang, art installation yang menggoyah iman untuk berfoto, dan jembatan-jembatan di atas sungai Zayandeh tampak mengundang orang-orang untuk membunuh waktu. 3 hari 2 malam saya habiskan di Isfahan dan petualangan selalu saya awali saat pagi baru menjelang kemudian diakhiri hingga menjelang tengah malam.

Satu hal lagi yang mencuri perhatian adalah penggunaan sepeda yang jamak. Bahkan di beberapa jalan raya terdapat jalur khusus untuk sepeda. Orang-orang bersepeda pun tampak wara-wiri di Imam Square. Tren tadi menjadi jawaban dari pertanyaan dalam kalbu saya saat pertama kali sampai dan melihat instalasi seni ‘berbau’ sepeda.

I left a piece of my heart in Isfahan…and also my powerbank, my usb cable, my american-plug iphone charger, and my running short! I’ll be back, Isfahan…i promise.

FullSizeRender(31)
Taman kota dekat municipal bus station
FullSizeRender(24)
Khajoo Bridge

31 thoughts on “Isfahan nan Menawan

  1. Astagfirullah. Jadi masih perjaka? *tadinya mau komen soal barang2 yang ditinggal langsung salah fokus baca balasan komen soal keperjakaan* 😂😂😂

  2. Koh, kok kocak banget sih? hahaha.

    Kokoh bukan orang yang pertama yang bilang ke aku (eh maksudnya ke semua orang kali ya hahaha) kalau terkesan sama kota Isfahan. Jadi pingin bongkar lagi buku Iranku di rumah, kayaknya ada satu bab yang ngebahas tentang Isfahan ini.

    Itu yang dikasih buah kismis, takjub juga euy.

  3. Seneng saiki kokoh rajin update blog. 😀
    Akhir-akhir ini Iran jadi destinasi favorit beberapa pejalan ya. Isfahan cen memukau, tapi foto lokal e kurang banyak. Masih pnasaran ayu-ganteng e penduduk Iran hahaha.

    1. Karena udah ga sesibuk setahun sebelumnya, mas. Mungkin jadi populer krn akses gampang via direct flight dari KL yg sering promo + syarat visa on arrival yg gampang…so why dont we enjoy it while it last?

    1. Berasa artis banget sering diajak selfie apalagi mereka di sana hobi foto. Biasanya kalo abis ngambilil foto mereka, kita ditawari diambilin juga sekalian diajak selfe. Heehehe

  4. Serius cakeeepppp :D. Duuuh airasia lg promo, dan sbnrnya tiket k irannya murah bingiiits mas.. Cm br sampe agustus.. Aku pgn ksana thn dpn itu desember.. Sekalian umroh.. Ntr ah, mau nunggu promo lg. Ama ada kota yg aku pgn dtgin, gara2 baca postingan mba febi (jalan2liburan), yg ada grafiti ttg amerikanya :D. Jd makin semangat nih baca ttg iran

  5. (((PREAMBULE)))

    duh koh, pasti bakalan seru ceritanya kalau kamu beneran jadi korban trafficking dan dijual kiloan… #EH

    tapi serial postingan iran-mu beneran bikin esmosi #teamhaters yang udah ngimpi bisa main kesana sejak berabad lalu dan belum kesampaian! aku butuh permadani terbang sekarang!

    1. Astaga, doa macam apa itu!

      Aku ya kemarin itu hampir gak jadi krn temen gak bisa berangkat, trus kena krisis moneter, dan takut gak dikasih cuti…akhirnya maju aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s