Leyeh-leyeh di atas Zayandeh

Jika traveling di usia 20-an dulu diisi dengan itinerary padat setiap harinya, kini ceritanya berbeda jauh di usia 30-an awal. Pantang liat tempat yang PW bikin mager dan bisa menghabiskan berjam-jam di satu titik demi ketenangan batin. Gak bisa lihat spot yang cakep dikit langsung duduk, ngeluarin jajanan & minuman (pastinya!), dan mata plirak-plirik kiri-kanan-depan-belakang (kok horor!!). Semasa bertualang di Persia, pengalaman paling bikin syahdu sekaligus bikin iri adalah saat menunggu matahari tenggelam di ufuk barat selama di Isfahan. Melewati 2 senja di Isfahan dan semuanya saya habiskan di tepian Sungai Zayandeh.

Zayanderud atau Sungai Zayandeh adalah sungai terbesar di Central Iran dan alirannya melewati Isfahan. Nah, di atas kota Isfahan terdapat 11 jembatan yang melintasi sungai tadi dan 5 di antaranya adalah jembatan tua peninggalan dari Abad 17 bahkan yang tertua, Shahrestan Bridge, dibangun pada abad ke-5 hingga abad ke-11. Jembatan lain yang tak kalah populer adalah Si-O-Se Pol (Bridge of 33 Arch), Joui, dan Khajoo. Selain berfungsi sebagai pedestrian yang menghubungkan sisi utara dan selatan Sungai Zandayeh, jembatan-jembatan tua tadi berfungsi sebagai dam/bendungan. Berhubung saya datengnya saat musim semi, jadilah air sungai masih melimpah ruah. Sungai Zandayeh di musim panas kurang bisa dinikmati karena kering kerontang terkait eksplorasi besar-besaran.

Jembatan terdekat dari Naqsh-e Jahan Square/Imam Square adalah Si-O-Seh Pol atau bridge of 33 arch. Dibangun pada awal abad ke-17, Si-o-Seh Pol adalah jembatan terpanjang yang melintasi Sungai Zandayeh di Isfahan. Sepanjang 300 meter terdapat 33 lengkungan yang menjadi asal mula nama Si-O-Seh Pol tadi. Hanya berjarak 2 km dari Imam Square, bisa ditempuh dengan menyusuri Jalan Bagh-e Goldaste atau Chahar Bagh-e Abbasi yang dipenuhi rimbunnya pohon. Bagi jiwa manula seperti saya…naiklah bus yang melewati Englehab Square. Bus no 10 dari Imam Hossein Square yang menuju Armenian Square melewati daerah ini.

Saat malam tiba, penerangan di sepanjang jembatan menambah dramatis pemandangan. Bukannya semakin sepi, orang-orang lokal malah semakin membanjiri kawasan sekitar. Keramaian makin menjadi terlebih di seputaran jembatan banyak kios es krim, makanan cepat saji, dan pastinya…restoran kebab lagi, restoran kebab lagi.

Jembatan yang paling indah menurut orang lokal adalah Khajoo Bridge yang berada 2 km di timur Si-O-Seh Pol dan melewati Joui Bridge. Tips dari saya: tempuh lah dengan berjalan kaki, it’s worth the walk! Jompo seperti saya aja sangat menikmati…apalagi kalian wahai darah muda darahnya para remaja.

Di awal tadi saya bilang iri dengan kegiatan leyeh-leyeh ini. Hyaeyaaaalahhhh. Sepanjang bantaran sungai ini bisa dijadikan tempat melepas stres entah itu dengan berjalan kaki menyusurinya, duduk-duduk piknik dengan keluarga atau handai-taulan, maupun mojok berdua-duaan. Seandainya di Medan bantaran sungainya bisa seperti ini bukan tempat buang sampah sembarangan hingga sering banjir, bisa buat pelarian suara klakson angkot yang kayak dikejar malaikat maut.

Sepanjang 2 km berjalan kaki dari Si-O-Seh Pol ke Khajoo saya cuma bisa merutuk aja orang lokal yang bisa piknik dengan modal dikit. Trotoar yang lebar tak cuma ada di sisi jalan, namun tepat di pinggir sungai pun dibangun pedestrian. Tak heran tepian Sungai Zandayeh semakin sore semakin rame dibanjiri khalayak ramai. Trotoarnya pun ramah akan penyandang difabilitas. Saat berjalan mendekati Joui Bridge, ada 4 orang tuna netra yang berjalan berangkulan mengikuti pola pada pedestrian tadi hingga ke suatu titik mereka berhenti untuk duduk dan menikmati aroma udara dan pohon-pohon di sekitarnya yg tertiup angin.

Selain berfungsi sebagai pedestrian, bendungan, dan  tempat piknik, fungsi lain yang agak mengejutkan adalah adanya tea house yang berada di bawah jembatan-jembatan tua Sungai Zandayeh. Di Joui dan Si-O-Seh Pol, terdapat tea house yang menjadi ajang kumpul-kumpul pemuda-pemudi gaul Isfahan. Fungsi lain adalah sebagai sarana aktualisasi diri. Khajoo Bridge yang terdiri dari 2 lantai memiliki lorong-lorong di lantai bawahnya dan sering dijadikan orang-orang berkumpul untuk bernyanyi sambil bertepuk tangan ataupun mendeklamasikan puisi atau syair, apalagi Persia sendiri kaya akan penyair besar seperti Hafez, Saadi, & Jalaludin al Rumi. Gak usah sungkan untuk mendekati keramaian ini, karena hiburan otentik seperti ini jarang terlihat di kota-kota lain.

Semakin sore semakin ramai orang-orang yang memadati jembatan-jembatan dan kebanyakan melakukan hal yang sama…apalagi kalau bukan foto-foto. Entah itu turis mancanegara, turis lokal, ataupun lokal hangat semua berlomba-lomba mencari spot dan angle terbaik dan demam selfie pun tak terelakkan juga di negara Iran ini. Bagi yang gak ikutan demam foto kebanyakan duduk-duduk menikmati cemilan yang dibawa seperti kacang-kacangan, gaz (Isfahan nougat), dan shirini (manisan). Saya pun tak ketinggalan menanti matahari terbenam dari cakrawala dengan mengeluarkan botol air mineral yang isinya pastinya gratisan dari kran air yang bertebaran di penjuru-penjuru kota…dan plastik berisi 300 gram kacang-kacangan & biji-bijian bisa di tanam lagi, biji-bijian di ilmu biologi (pistachio, walnut, hazelnut, ground peanut, pumpkin seed, & almond) yang saya beli di Bazar-e Bozorg paginya. Saat senja terakhir di Isfahan, rasanya kurang terima dan enggan untuk mengangkat badan untuk beranjak dari atas Sungai Zandayeh. Tapi mau gak mau harus sih karena malam mulai beranjak dingin…dan gak ada yang mau ngangkat badan 90 Kg ini!

FullSizeRender4
chill out
IMG_3875
Si-O-Seh Pol
IMG_4048
FullSizeRender7
Khajoo Bridge

14 thoughts on “Leyeh-leyeh di atas Zayandeh

  1. 90 kilograaaaam?? 😱😱😱

    Gapapa si, aku cuma iseng drama pengen godain aja. Hihihi.

    Emang bener deh, sejak menginjak usia 30, aku juga lebih senang jalan santai nggak kemrungsung ngejar tujuan wisata banyak-banyak dalam sehari. Menikmati banget sendirian, diam, lihat pemandangan, dan udah aja gitu. Apa ini tanda-tanda penuaan dini ya?

  2. Keren yaaa.. Walo ini negara kena sanction, tapi tempatnya bisa terawat dan teratur gini.. Hebat… Targetku utk bbrp thn k dpn ini mau dtgin negara2 sanction mas.. Iran dulu lah yg paling adem.. Trs pengennya korut, apalagi suami dulu tinggal di sana 4 thn krn penempatan diplomat papanya. Setelah itu pgn Cuba. Negara sanction lainnya agak kurang aman sih, makanya aku ragu. Jadi 3 itu dulu targetnya 😀

    1. Duh, aku kok ya emang tergoda banget ama Cuba. Bangunan kolonial peninggalan spanyol, jalan-jalan berbatu-bata, ama mobil tua dan fiesta mereka itu menggoda yah.

      Iran ini overall bersih dan gak vandal walaupun ada juga spot-spot di jembatan2 ini yang kotor 😦

  3. Hmm berat badan kita kok sama ya kok. *dan nambah lagi di Ramadan ini hahahaha.

    Koh, kalo di sana motret cewek gitu gakpapa kah? soalnya kalo di Kashmir pantangan banget.

    1. Wahahaha, selera makan kita mungkin sama Om. Kalo motret cewe sih sebenarnya ga ada larangan tapi ekspresi mereka kayak kurang terima gitu, kecuali emang mereka pose duluan yg berarti gak keberatan difoto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s