Cerita Vakansi 2013

Tidak sah rasanya menutup tahun 2013 dan membuka tahun 2014 tanpa melirik ke belakang sebentar untuk mengenang apa yang sudah terjadi selama setahun terakhir. Sama tidak afdolnya tiap tahun untuk tidak memberi review Victoria’s Secret. Fufufufufu.

2 kondisi kontras dalam perjalanan saya alami antara bulan-bulan sebelum lebaran dengan setelah lebaran. Perjalanan-perjalanan sebelum lebaran kebanyakan dilakukan bersama teman-teman baik itu teman kantor maupun teman lama. Sedangkan semester kedua 2013 banyak dilakukan sendirian. No big deal about solo traveling. Abisnya kalau diingat-ingat emang seringnya melakukan perjalanan sendirian 10 tahun terakhir. Apalagi dibarengi rute saya yang masih sekitar SE Asia karena keterbatasan jatah cuti dan susahnya izin dari tempat bekerja. Pfiiuhh.

Dari perjalanan-perjalanan 2013, saya ingin mengenang 10 momen paling memorable versi on the spot :

10. Songkran 2013

Ini 2 kalinya saya menyaksikan Songkran di Bangkok. Atmosfernya sih sudah gak semenarik yang pertama. Walaupun begitu Songkran tetap aja seru dan menyenangkan (setidaknya buat yang gak takut basah ya). Di perayaan Songkran tadi saya pun sempat bertemu dengan teman akrab semasa kuliah sebelum dirinya berangkat melanjutkan studi ke NYC.

Songkran...Songkran
Songkran…Songkran
9. Piknik ke Bukit Lawang

Kedatangan teman dari luar kota yang hendak cuti ditambah libur lokal Pilkada Gubernur membuat Tesa, teman saya yang paling bisa diandalkan kalau jalan-jalan, berinisiatif mengajak kami berpiknik ke Bukit Lawang. Lokasi yang tidak terlalu jauh dari Medan jadi alternatif liburan murah-meriah dan mendadak.

8. Singapore's Off The Beaten Path

Menghindari lautan manusia di Downtown SG, saya dan Lidah Naga pun lebih memilih menghabiskan pagi hingga siang hari di Southern Ridge dari Henderson Wave hingga Alexandra Arch. Pemandangan Selat Malaka di ujung sumateraaaa dua hati kita dalam satu cinta, rimbunnya pepohonan, dan suara berbagai jenis burung menghibur hari daripada memaksakan diri berdesak-desakan di Orchard saat long weekend.

Forest Walk at Southern Ridge
Forest Walk at Southern Ridge
7. Ha Long Bay Cruise

Biarpun dalam posisi jadi obat nyamuk, saya sih asik-asik aja keliling Ha Long Bay. Berlayar sehari-semalam mengelilingi tebing karst menjulang dari air laut berwarna zamrud dalam cuaca 1 digit sungguhlah memberi kesan tersendiri walaupun seluruh penumpang berpasang-pasangan. Hiks.

Berpasang-pasangan di Ha Long Bay :(
Berpasang-pasangan di Ha Long Bay 😦
6. Mindanao Interior

Untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Filipina seorang diri. Tak tanggung-tanggung, tujuannya adalah Mindanao yang reputasinya kurang baik. Namun Mindanao tidak sesangar reputasinya di Media. Matahari hangat, wilayah yang jarang terkena taifun, dan orang-orang lokal yang ramah justru membuat perjalanan saya lancar jaya selama di General Santos, South Cotabato, dan Cagayan de Oro.

Highlight perjalanan di Mindanao adalah mencoba zipline tertinggi di Asia (200 m dari permukaan tanah) di Lake Sebu dan dual-zipline terpanjang di Asia (840 + 240 m) di Bukidnon. Jantung rasanya copot ke bawah sewaktu mencoba kedua atraksi tadi. Di perjalanan kali ini untuk kali pertama saya terkena dampak taifun. Taifun Santi yang sudah menyerang Central Luzon dari Manila hingga Baguio membuat acara keliling Manila pada malam hari batal dan 2 teman saya hampir ketinggalan pesawat ke Jakarta karena macet yang berkepanjangan di EDSA.

Highest Zipline in Asia : 7 Falls Zipline at South Cotabato
Highest Zipline in Asia : 7 Falls Zipline at South Cotabato
5. Ranah Minang Road Trip

Infrastuktur jalan raya yang dimiliki Sumatera Barat ditambah luasnya yang tidak terlalu besar dibanding provinsi tetangga seperti Riau dan Sumut menjadikan Sumbar ideal untuk dijadikan tempat road trip. Selama 3 hari, saya dan 2 teman kantor ditambah bapak supir melakukan perjalanan ke sejumlah kota di Sumbar yakni Bukittinggi, Pariaman, Padang Panjang, Solok, Batusangkar, Payakumbuh, dan ditutup di Padang.

Petualangan mencicipi kuliner pun lebih mudah dengan road trip. Bika Si Mariana di Padang Panjang, Gulai Itik Lado Mudo di Ngarai Sianok, Sate Mak Syukur di Padang Panjang, Dendeng Batokok di Payakumbuh, dan pastinya Pasar Atas Bukittinggi tak terelakkan lagi untuk dijelajahi.

IMG_1161
Mordor?
4. Santai-Santai Keliling Chiang Mai

Kota tua yang laid-back, area nongkrong nan hip di Nimmanheiman, night bazaar, dan pasar makanan halal dijelajah bersama 2 Other Asians : Lidah Naga dan Om Bewok. Kontrasnya kota tua Chiang Mai dengan industri kreatif yang tersebar di seluruh kota membuat saya jatuh hati kota yang dikelilingi oleh pegunungan di utara Thailand.

Sepeda santai keliling Chiang Mai
3. Hanoi On a Shoestring

Hanoi sejatinya adalah lokasi transit sebelum kami ke Ha Long Bay, namun 2 malam di Hanoi justru membuat saya jatuh cinta dengan musim dinginnya yang sejuk namun tidak terlalu menusuk tulang. Hanya sedikit menusuk hati aja melihat 2 teman jalan di depan bergandengan tangan!. Hahahaha.

Rindangnya Hoan Kiem Lake, megahnya bangunan-bangunan di French Quarter, serta uniknya lorong-lorong serta denyut kehidupan di Old Quarter membuat saya selalu berpikir : kapan lagi bisa ke Hanoi menyaksikan dan merasakan pemandangan kota yang terkenal dengan Phó ini.

Around Hoan Kiem Lake
Hanoi Old Quarter
2. 10 Days around Philippines

Inilah perjalanan paling penuh drama tahun ini. Mulai dari deg-degan pengajuan cuti diikuti oleh kabar dari teman seperjalanan yang batal ikut karena cutinya ditolak. Kemudian ada drama nunun ketinggalan barang-barang di bis Caticlan-Kalibo, dan yang paling bikin greget adalah Supertyphoon Haiyan/Yolanda yang menyerang Filipina dari tanggal 7-10 November.

Gara-gara si Taifun Yolanda tadi, seluruh penerbangan ke Visayas dan yang melewati Visayas seperti rute Mindanao-Luzon dibatalkan. Seluruh penerbangan dari Coron (Palawan Utara) pun dibatalkan dan hanya maskapai yang nekad berani mengambil risiko terbang dari ibukota Palawan di Puerto Princesa ke Manila. Hanya rute inter-Mindanao dan inter-Luzon yang bisa beroperasi selama taifun menyerang.

Di luar tragedi dan kenununan itu semua, saya bersyukur bisa balik lagi ke Filipina untuk kesekian kalinya. Menyempatkan mengulang perjalanan ke White Beach di Boracay dan menyusuri food bazaar di Metro Manila adalah aktivitas favorit saya jika ingin bersosialisasi. Saat menyendiri, berkeliling Intramuros dan mengagumi bangunan kolonial Spanyol di pusat kota Manila pastinya tidak boleh dilewatkan. Yang paling menyenangkan dari perjalanan 10 hari ini adalah sempat menginjakkan kaki di El Nido, tujuan wisata yang sudah saya idamkan sejak 2 tahun terakhir. Kota kecil dengan ratusan tebing karst dan pantai yang sunyi berhasil membuat saya merindukan El Nido untuk kembali lagi.

San Agustin Church & Museum
San Agustin Church & Museum
Big Lagoon, El Nido
Big Lagoon, El Nido
1. Raon-raon ke Lombok & 3 Gili

Tak elok rasanya jika tak menempatkan perjalanan ini di peringkat pertama. Dimulai dengan delay dan diakhiri dengan delay oleh Kharuda Endonesia bisa jadi judul perjalanan bersama 3 orang teman yang tahun 2012 bersama mengunjungi Penang.

Menghabiskan 2 malam di Gili Trawangan dan Gili Air, saya terkesima dengan pemandangan dramatis pantai-pantai Gili yang indah dan dihiasi siluet Rinjani sebagai latar. Di Lombok pun petualangan kami tak kalah seru. Dari Pantai Tangsi dan Tanjung Ringgit di timur hingga Selong Belanak dan Mawun di selatan kami jelajahi dengan panduan guide Mas Bowo dengan koleksi lagu-lagu 80-an dan 90-an yang membuat kami berempat sing along sing sing so sepanjang perjalanan. Mas Bowo bahkan menawarkan CD lagu koleksi tadi, sayangnya pada tengsin mau ngambil nih yeee.

CoV
CoV
Beautiful Gili Trawangan
Beautiful Gili Trawangan

Tahun 2013 yang saya rencanakan menjalani 4 trip dari jauh hari ‘terpaksa’ berkembang menjadi beberapa trip karena ajakan, godaan, dan paksaan beberapa pihak. Pastinya hal tadi didukung lemahnya iman diri ini untuk menolak bisikan-bisikan maut tadi. Hasil akhirnya bisa ditebak : bobolnya rekening konsumsi bahkan sedikit banyak mengambil dari rekening cadangan. Semoga tahun 2014 nanti tidak tergoda untuk melakukan banyak perjalanan dan hanya mengeksekusi perjalanan seperti yang direncanakan terutama perjalanan bersama keluarga. Amen.

Hanoi on a Shoestring

Hanoi. Mungkin namanya kalah pamor dengan Ho Chi Minh City (Saigon), saudarinya di selatan. Statusnya sebagai mantan ibukota Vietnam Utara yang menganut paham komunis sebelum tahun 1976 membuatnya lebih tertutup daripada Saigon. Alhamdulillah, sejak Vietnam bergabung di akhir 1970-an, Hanoi pun turut merasakan pembangunan dan keterbukaan terhadap dunia luar.

DSCN0393
The Huc Bridge

Modernisasi tampak di beberapa distrik di Hanoi. Hebatnya, modernisasi itu gak lantas merusak peninggalan budaya di Hanoi. wilayah sekitar Hoan Kiem Lake masih tampak asri dengan bangunan tua peninggalan kolonial Perancis. Sementara Distrik West Lake dan Hai Ba Trung sudah tampak modern dengan tampilnya pusat perbelanjaan, bioskop, dan jaringan hotel internasional. Sejauh ini, Hanoi berhasil mempertahankan pesona masa lalu dan masa kininya dengan beriringan. Mudah-mudahan tahun-tahun mendatang, bangunan-bangunan tua di sana tidak serta-merta dihancurkan dan digantikan bangunan modern yang glossy *batuk sampai Kesawan*.

Continue reading “Hanoi on a Shoestring”

Senja Terakhir di Hanoi

Tortoise Tower on Hoan Kiem Lake
Tortoise Tower on Hoan Kiem Lake

Sepulang dari Ha Long Bay, ternyata saya dan Ari masih ada waktu 1 malam lagi di Hanoi. Sedangkan Nenny masih pulang lusanya lewat Singapore. Tiba di Hanoi pukul 4 sore, tanpa banyak ba-bi-bu lagi, kami menelusuri jalanan inti kota Hanoi untuk menikmati hari terakhir di sini setelah sebelumnya check-in di Indochina Queen II Hotel dan menukarkan ringgit saya ke mbak-mbak hotel dengan rate yang lebih baik daripada di bandara.

Dimulai dari sebuah jalan bernama Chả cá. Dahulu, jalan ini dipenuhi oleh kios-kios yang menjual Chả cá, makanan khas Vietnam yang dibuat dari ikan goreng dengan bumbu kunyit dan dedaunan serta disajikan dengan cold noodle. Mie yang digunakan di Chả cá berbeda dengan yang digunakan di Pho. Mie di Chả cá lebih tipis, kenyal, dan disajikan dengan suhu yang agak dingin. Di Chả cá Street ada beberapa penjual makanan Cha Ca, namun yang paling terkenal adalah Chả cá Lã Vọng (14th Cha Ca Street, Old Quarter, Hanoi).

Continue reading “Senja Terakhir di Hanoi”

Semalam Bersantai di Ha Long Bay

Artificial Beach at Đảo Ti Tốp, Ha Long Bay
Artificial Beach at Đảo Ti Tốp, Ha Long Bay

Di pariwisata Vietnam, Ha Long Bay ini ibarat Bali-nya Indonesia atau Boracay-nya Philippines. Tempat yang indah namun nuansa wisata massal yang kental banget. Niat utama saya waktu berburu tiket hampir setahun yang lalu juga sebenarnya untuk menyambangi teluk yang dihiasi ribuan pulau dari limestone (karst). Sejak tahun 1994, Ha Long Bay masuk ke dalam daftar UNESCO World Heritage Site… yah lumayan nambah-nambah daftar yang dikunjungi jadi 9.

Ha Long Bay terletak di Provinsi Quang Ninh dan berjarak 140 km dari Ha Noi atau sekitar 4 jam berkendara. Banyak operator yang menyediakan paket wisata ke Ha Long Bay mulai dari Day Trip yang melelahkan, 2 Hari 1 Malam, atau 3 Hari 2 Malam. 2 paket terakhir menyertakan paket menginap di atas kapal di tengah perairan Ha Long Bay. Romantis banget buat yang lagi dilanda asmara *menatap tajam 2 teman seperjalanan*. Cocok juga buat honeymoon. Ehhh, tapi gak juga ding, karena kapal terbuat dari kayu, kan gak enak lagi  “hu ha hu ha” kedengeran tetangga sebelah (enak enak aja, tetangga yang gak enak).

Continue reading “Semalam Bersantai di Ha Long Bay”

Ain’t No Sunshine in Hanoi

Karena letak geografisnya yang lebih ke utara dibanding rekan-rekan ibukota sesama Asia Tenggara, Hanoi memiliki 4 musim dalam setahun. Bukannya tropis seperti Bangkok, KL, Jakarta, dan Manila. Hal ini menjadi keunikan sendiri bagi Hanoi. Walaupun tak disinggahi salju, hawa musim dingin di Hanoi cukup menusuk tulang dan bikin merindu pelukan *eh*. Tercatat, suhu terendah yang pernah terjadi di Hanoi saat musim dingin adalah 3 Derajat Celcius, dan rata-rata berkisar 10-15 Derajat Celcius.

Around Hoan Kiem Lake
Around Hoan Kiem Lake

Continue reading “Ain’t No Sunshine in Hanoi”

Good Morning, Vietnam

Laid-back Hanoi
Laid-back Hanoi

Frase ini cukup terkenal di Vietnam. Diambil dari judul film yang dibintangi Robin Willliams dan Forest Whitaker, kemudian mewabah menjadi semacam sebutan yg menggema menggema di sepanjang Vietnam. Frase ini pun bisa dilihat di poster propaganda, kaos oblong, bahkan grafiti di tembok tengah kota.

Good morning, Vietnam. Sapa saya saat pesawat AirAsia dari Kuala Lumpur mendarat tepat pukul 8.15 pagi di Bandara Internasional Noi Bai, Hanoi. Cuaca dingin dan berkabut menyambut saya. Ms Phuong, staf Hanoi Guesthouse, sudah mewanti-wanti saya lewat email bahwa Hanoi saat ini sedang memasuki musim dingin dengan suhu bisa mencapai 10 Derajat Celcius. Berbekal informasi tadi, saya pun sudah menyiapkan diri untuk gak salah kostum pas datang kemari. Jaket tebal pun sudah siap sedia menemani perjalanan kali ini.

Continue reading “Good Morning, Vietnam”