Capsule by Container Hotel

Kata iklan kecap: “usia, memang gak bisa bohong“. Yang dulunya ‘bangga’ ngemper di bandara, kini gelisah kalau diantara waktu transit 8 jam tidak disisihkan jam tidur di atas kasur. Yang dulunya sanggup keliling bandara dan dari gelanggang ke gelanggang terminal ke terminal, sekarang cuma keliling tempat makan untuk ganjel perut dan toko obat buat cari obat pegal-pegal.

AK-395. Nomor penerbangan yang paling berjasa dalam kegiatan berjalan-jalan saya terutama untuk rute internasional. Jadwal keberangkatan pukul 9.30 malam dari Medan ke Kuala Lumpur membuat saya gak perlu mengorbankan jam kerja. Biasanya, saya akan melanjutkan penerbangan ke tujuan utama di pagi harinya. Tiba tengah malam di Kuala Lumpur dan berangkat lagi esok paginya rasanya sayang untuk menghabiskan Ringgit di full-service hotel. Semasa AirAsia masih di LCCT (yang berarti waktu saya berusia kepala 2 dulu), saya memilih ngemper dari Marrybrown, Starbucks, hingga Musholla. Namun sekarang di KLIA2, ada fasilitas untuk untuk kita yang ingin tidur-tidur ayam beberapa jam atau sekadar meluruskan badan di atas kasur menjelang petualangan berikutnya.

Continue reading “Capsule by Container Hotel”

MIDWEST CHINA 2015

IMG_3285

A journey to Lijiang, Chengdu, & Xi’an. Home of Naxi Tribe, home of Giant Panda, and home of 10 dynasties. Traveling Run : Jan-Feb 2015, 9 Days. Countries Visited : 2 (China & Malaysia)

Continue reading “MIDWEST CHINA 2015”

Market Value : Armcorp Mall’s Flea Market

Kalau ditanya berapa kali saya terbang ke Kuala Lumpur, mungkin jumlah jari-jari di kedua tangan ini gak cukup menunjukkan jumlah penerbangan saya ke kota yang lazim disebut dengan KL. Coba pertanyaan tadi diganti : “berapa kali saya pernah menjelajah Kuala Lumpur?”. Tak sampai jumlah jari di tangan kanan. Penerbangan terakhir di pukul 9.30 malam dari Medan biasanya saya sambung dengan penerbangan pagi buta ke tujuan lain. Tak jarang petugas imigrasi memberi rolling-eyes melihat stempel imigrasi Malaysia di paspor saya.

Continue reading “Market Value : Armcorp Mall’s Flea Market”

Gono-Gini Pilipinas Trip

20121202-224644.jpg
Uang Kertas Peso

Perjalanan 10 hari ini berawal saat sedang menunggu teman-teman kumpul makan siang tepat pada liburan Imlek awal tahun ini. Saat sedang browsing sembari bengong, tertengok lah ada promo 1 Peso (Piso Fare) di halaman Facebook dari Cebu Pacific Air yg berbasis di Manila. Di sini lah perjalanan dimulai.

Continue reading “Gono-Gini Pilipinas Trip”

In Transit: Kuala Lumpur

Well, sebenarnya bingung mau cerita apa tentang transit kali ini. Tahun kemarin sebelum ke Filipina, sempat transit di Singapore dan melakukan beberapa hal menarik seperti raon-raon di Chinatown dan mampir ke pameran Singapore Biennale. Tahun ini pun saat transit menuju Bali, saya cuma singgah di Changi Airport. Biarpun hanya di bandara, tapi aktivitas yang dilakukan bisa bermacam-macam dan lupa waktu. Mulai dari nonton di bioskop terminal 2, mengunjungi taman-taman cantik antar terminal, maupun merasakan gimana jadi penumpang first class di entertainment deck Terminal 2.

Berbeda dengan 2 momen tadi, kebiasaan saya saat transit di Kuala Lumpur adalah ngendon di bandara. Biasanya saya nyampe dengan pesawat terakhir dari Medan pukul 11 malam waktu setempat dan berangkat dengan pesawat paling pagi ke tujuan utama saya. Kali ini berbeda karena penerbangan AirAsia dari Medan jam 10 pagi sudah mendarat di LCCT dan jadwal penerbangan Cebu Pacific Air ke Manila pukul 1.30 pagi, sehingga saya punya hampir 14 jam waktu transit.

Batu Caves

Continue reading “In Transit: Kuala Lumpur”

Mabuhay (again), Pilipinas

Route

“Philippines? again? ada apa di sana emangnya? bukannya Manila kotanya semrawut?”… yah, begitulah reaksi beberapa teman yang tahu saya bakal liburan lagi ke Filipina. Gak salah juga sih, karena sebagian besar kalau bukan semuanya belum pernah menginjakkan kaki ke sana. Referensi yang beredar, seperti film dan berita, memang tidak seindah promosi negara lain yang sering wara-wiri di TV. Buat saya, selama pinter milih-milih tempat yang disinggahi ya gak bakal rugi kok. Metro Manila sebagai contoh. Kota metropolitan sebesar DKI Jakarta ini terdiri dari 17 kota pendukung. Makati, Taguig, dan Mandaluyong sebagai pusat bisnis maupun Manila dan Quezon sebagai sumber sejarah pastinya lebih menarik dari sekedar kota pemukiman seperti Caloocan, Valenzuala, atau Malabon. Sama seperti Jakarta juga kan, pasti banyak yang berpendapat Kebayoran Baru atau Menteng lebih menarik daripada Marunda atau Cilincing. Bahkan menurut saya, kawasan Makati CBD adalah salah satu kawasan terbersih dan paling rapi di seluruh Asia Tenggara, berasa gak sedang ada di Asia mengingat nama jalan, demografi, dan suasananya.

Selain Metro Manila sebagai gerbang masuk Filipina, saya juga mengunjungi Kepulauan Calamian di wilayah utara Palawan gara-gara beberapa tahun lalu membaca artikel Mbak Trinity tentang daerah ini di artikel Philippines Summer Escape di web majalah Jalan-Jalan. Perjalanan dilanjutkan ke Cebu. Tahun lalu saya cuma transit 10 jam di Cebu sebelum ke Pulau Bohol tetapi kali ini saya ambil 2 malam di Cebu dan pastinya singgah lagi di Sky Adventure dong. Tujuan terakhir saya adalah Pulau Boracay. Pulau kecil di utara Pulau Panay ini adalah Philippines’ crown jewel. Para Filipino pasti bangga dengan White Beach atau Pulau Boracay yang selalu wara-wiri masuk daftar pantai terindah dan pulau terbaik dunia. Alhamdulillah, selama perjalanan gak banyak gangguan berarti dan lancar secara keseluruhan. Beberapa hal yang direncanakan terwujud semua walaupun di perjalanan ini menyadari diri sudah semakin tua karena siang harinya banyak diisi dengan aktivitas… Tidur Siang :p

Continue reading “Mabuhay (again), Pilipinas”