Gono Gini Songkran Trip

Kuala Namu Airport…kapan berangkatnya dari sini?

Enaknya punya teman yang udah ngerti cara jalan saya dan mereka pun sering juga flashpacking adalah ketidak-engganan untuk saling berbagi info. Entah itu mengenai biaya perjalanan, tempat-tempat yang menarik, maupun akomodasi serta transportasi. Dan biasanya, pesan atau pertanyaan yang dilontarkan gak jauh-jauh dari “foto-fotonya mana?” atau “jangan lupa brosur atau petanya ya?”, beda dengan teman semenjana yang mendadak jadi teman baik yang selalu nanya “oleh-oleh buat gue mana?”… lah ngobrol aja jarang minta oleh-oleh. Lah kalo gue anggap temen baik mah, tanpa dipesan juga pasti dibawain oleh-oleh versi saya sendiri. Emang enak jalan-jalan bawain pesanan umat?. Hear hear!!!

Continue reading “Gono Gini Songkran Trip”

Bye Penang, Hello Phuket

Firefly ATR 72-500 aircraft #unedited #nekcoyo #kacafilmnyaburem #EnoughWithThisSillyHashtag

Hari ke-4 dan waktunya meninggalkan Penang untuk menuju pulau selanjutnya, Phuket. Tapi karena penerbangan kita dijadwal ulang dari pkul 1 siang menjadi 2.15 siang, maka kita masih punya waktu sedikit menjelajahi Penang. Tapi teman saya, Ari, harus mengejar penerbangan jam 11 pagi ke Medan. Maka setelah sarapan, saya dan Ombolot pun mengantar Ari untuk mencari angkutan ke Bandara.

Lagaknya sih mau jalan kaki dari Hutton Lodge ke Weld Quay. Tapi kok ya, kita tersesat di lorong-lorong Kota Tua Georgetown. Hiks. Karena mengejar waktu, Ari pun menyegat taksi ke bandara dengan hasil nego ongkos RM 35. *dadah-dadah ke Ari, semoga next trip ketemu B&G lagi, Eymen*.

Continue reading “Bye Penang, Hello Phuket”

Penang Tropical Spice Garden

Spice (without Girls)

Hits kunjungan ke Penang kali ini adalah Penang Tropical Spice Garden. Datang ke sini tanpa harapan apa-apa kecuali ngadem di tengah hari yang terik di Penang. Untuk menuju ke sini, kita bisa menggunakan beberapa alternatif mencapai kebun ini yaitu dengan menggunakan bis Rapid Penang 101  berangkat dari Jetty (Weld Quay) ke Teluk Bahang atau 102 langsung dari Airport ke Teluk Bahang. Sebut saja Tropical Spice Garden, dan si supir bakal menurunkan kita tepat di depannya. Apalagi pintu masuknya tepat berada di pinggir jalan sehingga mudah dikenali

Route Map

Continue reading “Penang Tropical Spice Garden”

Melenggang di Penang (Day 3)

Menginjak hari ke-3 dan masih di Penang juga. Pukul 6.30 pagi, Inggrid sudah beranjak ke bandara mengejar pesawatnya pukul 9 waktu setempat (ada perbedaan waktu 1 jam antara Jakarta dan Penang, terima kasih!). Sempat was-was sih karena dia diantar oleh supir hostel yang keturunan India dan bodinya guede banget. Takut-takut aja entar disasar kemana gitu.

soon-to-be newlywed

Perjalanan hari ketiga ini sama dengan jadwal hari pertama saya, keliling Georgetown. Kenapa demikian? karena waktu hari pertama Ombolot dan Ari belum sampai di Penang sedangkan hari ketiga Inggrid sudah balik ke Jakarta. Jadilah subtitusi pemain pengganti di hari itu. Dimulai dari naik bis Free Shuttle CAT keliling dari halte di depan 7-11 Jalan Penang hingga pemberhentian terakhir di Jetty (Weld Quay). Selepas itu baru lah kita berjalan kaki menyusuri jalan dan lorong kota tua Georgetown. Gunanya Free Shuttle CAT ini adalah menyisir inti kota tua Georgetown yang ingin kita jelajahi. Jadi coba aja naik 1-2 kali putaran, baru memutuskan berhenti di mana untuk memulai petualangan.
Continue reading “Melenggang di Penang (Day 3)”

Melenggang di Penang (Day 2)

Hari kedua di Penang, formasi sudah lengkap khob (woy! belum nyampe chapter Thailand!). Agenda pertama yang udah disepakati lewat kirim-kiriman email itinerary beberapa minggu sebelumnya adalah melipir ke Bukit Bendera (Penang Hill). Tahun kemarin saya gak singgah ke sini karena Funicular di Penang Hill masih dalam proses renovasi dan penggantian jenis kereta ke armada yang lebih modern.  Jadilah ini kunjungan kita semua yang pertama ke area tertinggi di Pulau Penang ini. Agak sakit hati melihat harga tiket yang berbeda antara orang lokal dengan turis asing. Untuk turis asing dewasa dikenakan RM 30 (Rp 90 ribu) untuk perjalanan PP, sedangkan pemegang MyKad hanya dikenakan RM 8 (Rp 24 ribu). Hiks.

Funicular Ticket (RM 30/US$9)

Karena berangkat pagi (jam 8), diperkirakan di Bukit Bendera belum terlalu ramai sih. Eh, ternyata udah banyak aja anak sekolah yang tur di mari. Btw, kita kemari naik bis Rapid Penang No 204 (Jetty-Penang Hill) dari Komtar dan ketemu rekan seperjalanannya Inggrid di pesawat , yaitu sepasang insan manusia yang kami duga sedang memadu kasih walaupun berbeda usia cukup jauh. *Oh, so sweet*. Sebut saja oknum B dan G.

Perjalanan dengan funicular yg belum berumur setahun ini hanya memakan waktu 5 menit untuk sampai di stasiun terakhir. Sewaktu menanjak ke atas, kita bakal disuguhi pemandangan kota Georgetown, Selat Malaka, dan jika beruntung hari cerah maka akan terlihat Jembatan Penang dan Semenanjung Malaya. Terlihat juga ada trem yang digunakan sebelum armada baru ini. Sebuah trem berwarna merah yg cukup  legendaris.

Sesampainya di atas bukit, malah terasa kurangnya atraksi di atas bukit. Hanya ada kantor pos, restoran, area meneropong, dan food court kecil. Kita sih gak menjelajah sampai ke belakang karena males melihat ramainya orang saat itu. Tentang food court kecil itu, ternyata beberapa areanya digunakan untuk tempat berdagang souvenir dan sebuah venue baru, OWL Museum, yang mempunyai motto Owl-some. Kirain pertama isinya koleksi burung hantu, eh ternyata berisi pernak-pernik terkait burung hantu. Mulai dari kerajinan, perhiasan, dan handicraft berbentuk burung hantu. Ada juga area penjualan souvenir. Berhubung ini museum ini (sepertinya) milik swasta, jadi tiketnya agak mahal yah, sekitar RM 10. Lumayan buat cuci mata dan… ngadem. Jalan-jalan kita di Bukit Bendera diakhiri dengan beristirahat sejenak di food court dengan minuman khas lokal seperti Ais Kacang dan minuman yg namanya sempet bikin memutar otak untuk sementara, ABC. Ais Batu Campur (silahkan memutar bola mata anda!).
Continue reading “Melenggang di Penang (Day 2)”

Switchback to Georgetown

Karikatur dari Metal

Kelang setahun dan saya kembali lagi ke Penang, tepat di liburan Paskah sama seperti setahun yang lalu. Kali ini saya membawa 3 orang teman yang tinggalnya di kota-kota yang berbeda dan baru pertama kali ke Penang. Jadi pemandu gini sih ceritanya.

Karena berasal dari kota yang berbeda dengan jam keberangkatan masing-masing, maka kita semua sampai di Penang di jam yang berbeda. Kebetulan, saya dan Inggrid dari Jakarta jadwalnya hanya selisih 1 jam saja di siang hari dan 2 teman lainnya di malam hari.  Tiba di bandara Penang, kita agak terheran-heran karena bentukannya yang rada aneh karena sedang direnovasi biar lebih modern dan chic.

Continue reading “Switchback to Georgetown”